Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Benih-benih cinta.


__ADS_3

Pagi yang cerah di tengah perkotaan. Sebagai warga negara halu yang baik dan tahu diri, Angga, sang pemilik konter ponsel dengan modal paling minim itu, tak ambil pusing ketika rekan-rekannya tak menampakkan batang hidung sejak pesta pernikahan Jena dan Agam.


Menjalani beberapa hari sendirian menjaga dan melayani para pelanggan bukanlah hal baru baginya, mengingat dua sahabatnya itu memang kerap sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Kesepian?? itu sudah pasti. Berteman ibu-ibu dan bapak-bapak bahkan om-om yang juga memiliki toko di mall besar itu, meski terlihat akrab, tetap saja ada kesenjangan saat Angga bergabung bercanda dan bergurau bersama mereka ketika lengang.


Selaku satpam perusahaan Pratama, juga sahabat dekat Akhtar, ayah dari Angga bercerita tentang keinginan Akhtar menarik Agam untuk masuk ke perusahaan mereka. Mendengar hal itu, Angga sempat berkecil hati, nampak sekali berbedaan ekonomi antara dirinya dan para sahabatnya. Namun...setelah kerap memandangi diri di cermin, Angga seharusnya patut berbangga diri, dirinya yang hanya anak seorang satpam kini mampu menghasilkan uang dari hasil usahanya sendiri.


Membersihkan area konter sendiri, menyapu dan mengepel di lakukan sendiri, rak jarang Angga menjadi bahan olokan ibu-ibu pedagang di mall tersebut. Bukan mengolok untuk menghina, justru mereka melontarkan candaan dengan berkata ingin mengambil Angga sebagai anak menantu mereka. Angga yang selalu tersenyum, menanggapi gurauan dan candaan mereka dengan senyum maksimal.



Meletakan alat kebersihan, Angga sedikit meregangkan tubuh usai membersihkan tempat usaha nya. Meraih gawai di sakunya dan menghubungi seseorang.


"Apa kau tidak ke konter lagi hari ini?," seperti anak kucing yang sendirian, Angga mendapat pandangan iba dari om-om penjual sepatu di depan konternya.


"Aku sedang berkemas, hari ini aku akan tinggal di rumah pantai bersama Jena," terdengar suara Agam di ujung telepon.


"Apa ada acara makan? makan siang bersama mungkin?," tanyanya tersenyum kecil.


"Tidak ada, lagipula jika kau ingin makan siang gratis, nanti siang kau akan mendapatkannya."


Seketika kedua mata Angga membulat"Benarkah?? apa kau akan mengirimkan makan siang enak untuk ku?."


"Hemmmmmmmm," hanya terdengar dengungan Agam di ujung telepon.


Wajah ceria Angga seketika berubah masam"Apa kau mengerjaiku?."


"Tidak, berdoalah pada Allah agar makan siangmu terjamin."


"Dasar calon pak ustadz....."


"Sudahlah, nanti malam mampir saja ke rumah pantai ya, assalamualaikum," Agam memutuskan panggilan. Menyisakan kesal di hati Angga sebab belum selesai melontarkan perkataannya.


Usai menghubungi Agam, Angga berniat menghubungi Gibran. Dan baru saja nada dering berbunyi...."Aku lagi boker, nanti aku telepon balik."


"Ash!!! sangat tidak ramah," sembari menggeleng, Angga menyimpan kembali gawainya ke dalam saku.


❣️❣️❣️❣️


Siang menjelang, Arkan menerima kabar baik dari orang suruhan nya. Tanpa basa-basi, orang suruhan Arkan menyekap wartawan yang telah menyebar berita murahan tentang adik perempuannya.


"Interogasi wartawan itu, jika dia bertingkah, berikan sedikit sentuhan pada batok kepalanya," suara berat Arkan di ujung telepon yang di loudspeaker, membuat bulu kuduk sang wartawan meremang.


Usai mengakhiri panggilan, orang suruhan Arkan tersenyum miring pada sang wartawan. Berhadapan dengan orang bayarannya saja sudah membuat tulangnya bergetar hebat, bagaimana jika dirinya berhadapan langsung dengan pria bersuara berat itu.


"Ampuni aku, aku tidak menyangka telah berurusan dengan orang yang salah," lirihnya penuh penyesalan.

__ADS_1


"Kau, telah memercik api yang akan membakar tubuhmu sendiri. Segera hapus berita murahan itu, jika kau tidak ingin benar-benar mati hangus terbakar."


"Bekerjasama jika kau masih ingin hidup," bisiknya penuh penekanan.


"Ba...baiklah," sang wartawan tergagap.


Meninggalkan wartawan dungu yang telah salah mengambil langkah, Arkan di buat terkejut dengan kehadiran wanita yang selalu mengusiknya akhir-akhir ini.


Wanita cantik itu terlihat familiar bagi Arkan, namun entah mengapa otaknya tidak dapat menemukan di mana dia pernah menjumpai wanita agresif ini.


"Selamat siang pak Arkan, mau makan siang sama saya? saya yang traktir ya," mengurai senyuman manis, terlihat cantik namun tak membuat hati Arkan bergetar.


"Saya masih ada pekerjaan," dan seperti biasa, ajakan untuk makan siang dari wanita itu selalu saja di tolaknya.


Melisa menatap sedih punggung pria itu yang kian menjauh. Mencinta pria itu sejak dirinya masih duduk di bangku SMP, meski terpaut usia yang cukup jauh, hingga saat ini pria itu masih bertengger pada puncak hatinya.


"Tak perduli akan sejauh mana engkau melangkah, aku akan tetap menapaki jejak-jejak langkahmu Arkan. Aku akan terus berjuang untuk bisa menjadi kekasih mu, meski hingga detik ini kau belum menyadari siapa diriku," gumam sang hati.


...🌻🌻🌻🌻...


Akhtar mengusap lembut pucuk kepala Jena, dan pelukan hangat dari Arabella menjadi salam perpisahan dua wanita itu. Meski berat, kedua orang tua itu harus rela hidup berpisah dari anak dan menantunya.


"Baik-baik di sana ya nak, jangan lupa kabari kami jika sudah sampai," pesan Arabella memeluk erat putra semata wayangnya.


"Sayangi istrimu, jaga dia baik-baik. Dan ingat, kalau bisa segera kasih bunda cucu ya," Arabella sedikit menurunkan nada bicaranya pada barisan kalimat terakhir, takut perkataan itu menyinggung perasaan menantunya.


Arabella tersenyum lebar pada putranya. Begitu pula dengan Akhtar yang mendengar bisikan istri cantiknya.


Sementara Jena, wanita itu tengah sibuk menekan nomor seseorang pada gawainya.


"Kau akan mengabari Gibran?," tanya Agam sembari memasukan koper mereka ke bagasi.


"Bukan, aku menghubungi nomor Zafirah. Kenapa tidak aktif? apa kau salah memberikan nomor?," ujarnya kembali mencoba menghubungi nomor sahabatnya itu. Ada begitu banyak protes yang akan Jena layangkan pada Zafirah, bagaimana bisa gadis itu tidak datang di pesta pernikahan mereka!.


"Nanti aku tanyakan pada Yasir," tukas Agam menarik perlahan tubuh Jena. Menggiring wanita itu untuk masuk ke dalam mobil.


Pasrah, Jena kini telah duduk manis di samping Agam.


"Jangan lupa hubungi bunda ya, sayang," Arabella nampak tidak rela berpisah dari Jena.


"Iya bunda, Jena juga akan selalu berkunjung ke sini jika ke kota," sahutnya merasakan belaian lembut jemari Arabella pada helai rambutnya.


"Ah!!! bunda menyesal mengijinkan kalian ke rumah pantai hari ini, bagaimana jika nanti malam saja kalian kembali ke rumah pantai nya??," sungguh, Arabella masih ingin berlama-lama bersama Jena. Setelah lebih dekat, ternyata menghabiskan waktu bersama Jena sangat menyenangkan. Menantunya itu juga suka merawat bunga seperti dirinya, mereka bahkan menikmati sore hari sebelumnya di kediaman Pratama sembari membahas bermacam jenis bunga.


Mendengar rengekan Arabella, Akhtar memeluk pundak sang istri "Jangan seperti itu sayang, mereka sudah berkemas. Jangan menghalangi jalan mereka."


Arabella masih merayu agar anak dan menantunya mengundur jadwal kepergian mereka, beruntung Akhtar dapat meredakan rengekan sang istri. Hingga akhirnya pasangan paruh baya itu menatap mobil yang mengantar anak dan menantu mereka menuju kediaman tepi pantai.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, Jena menatap sisi samping Agam yang nampak menarik.


"Curang sekali, bahkan dari samping pun kau masih terlihat menarik", gerutu hatinya.


Berkali-kali mendapati Jena mencuri pandang padanya, membuat Agam sedikit grogi saat menyetir.


Hening kembali hadir menyapa mereka, sejak meninggalkan kediaman Pratama, Jena dan Agam hanya berbincang sebentar membahas tingkah laku bunda yang menggemaskan.


Lagi.....Jena memandangi Agam yang sedang membayar uang bensin. Saat pria itu kembali melajukan mobil, perhatian nya tersita pada lengan Agam yang nampak berotot.


"Bisakah kau menepi sebentar," pinta Jena.


Dengan patuh Agam menepikan mobil seperti permintaan Jena.


Wanita itu menurunkan kembali lengan kemeja yang di gulung Agam saat berhenti mengisi bensin. Terselip tanya dalam benak Agam saat Jena melakukan hal itu, namun saat hendak bertanya Jena dengan segera memintanya melajukan kendaraan.


"Kau kenapa?," loloslah pertanyaan itu dari mulut Agam.


"Kenapa apa nya?."


"Apa aku tidak boleh menaikan lengan baju?."


"Hem....., tidak juga," sahutnya menatap jendela mobil.


Agam diam sejenak, memperhatikan tingkah Jena yang terasa aneh sejak mereka meninggalkan kediamannya.


Agam memergoki Jena yang kembali menatap pada dirinya, dan dengan cepat wanita itu memalingkan pandangan.


"Kau terus menatapku sejak tadi, apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?," tanya nya sembari berkaca.


Nampak menyibukan diri, Jena berkilah kembali menanyakan nomor Zafirah yang tidak bisa dia hubungi.


"Coba kau hubungi Yasir."


"Aku tidak punya nomor nya," sahutnya. Lagi pula itu kan ponsel baru, nomor para rekan editor nya saja belum dia dapatkan, apalagi nomor Yasir.


Agam menyerahkan ponselnya pada Jena, dan betapa hati kecil wanita itu di buat berdesir, potret dirinya di gunakan Agam sebagai wallpaper ponselnya.


Mencoba bersikap biasa saja, Jena kembali di buat berdebar saat menanyakan kode ponsel pria itu.


"Tanggal pernikahan kita," sahutnya menatap Jena dengan senyum tertahan.


Jena mengalihkan pandangan, kedua pipinya mengembung, ah! apakah dirinya sedang salah tingkah???


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2