Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Teman di masa lalu


__ADS_3

Mentari mulai menampakan diri meski malu-malu. Sembari berayun di beranda belakang, Jena menikmati hari-hari yang mulai terasa manis dan menyenangkan, tentu bersama pria yang telah menggeser posisi Dewa di hatinya.


Agam, pria itu belum berniat sekedar menjenguk Angga yang sendirian menjaga konter, bisnis bersama mereka. Menggelar tikar dan menemani sang istri menikmati angin pantai terasa lebih menyenangkan bukan. Begitu pula dengan Gibran, kehadiran Agam sungguh suatu anugerah terindah baginya. Bagaimana tidak, selain berwajah tampan rupawan, Agam juga pandai memasak.


Sempat merutuki kegilaan pengantin baru itu tadi malam, hingga membuatnya tidur di ruang tamu lantai bawah, setidaknya siang ini Agam menyediakan menu makanan yang sangat memanjakan lidah.


"Jadi, apa aku harus memanggilmu dengan sebutan abang?," tanya nya mengambil sate kerang yang tak habis-habisnya di bakar Agam.


Bibir pria berlesung pipi itu terangkat naik"Tentu saja, lagi pula usia ku memang lebih tua darimu."


Gibran membulatkan kedua mata "Hilih! cuman tua 1 bulan saja."


"Tetap saja aku lebih tua," sahut Agam memberikan sepiring sate pada istrinya.


Ujung mata boba Gibran melirik piring milik Jena, mengapa banyak sekali sate yang di berikan Agam padanya? berbeda sekali dengan porsi yang di berikan Agam pada dirinya.


"Hei! mengapa porsinya lebih banyak!," protesnya.


"Aku istrinya, jika kau iri dengan porsi milikku, mengapa tidak kau saja yang menjadi istrinya?," sentak Jena. Hah! meski telah jinak saat berhadapan dengan Agam, sikap Jena tetap saja galak jika berhadapan dengan Gibran. Tapi, meski begitu, Jena tetaplah kakak tersayang Gibran.


Agam bergidik, begitu juga dengan Gibran.


"Aku masih normal, jangan berkata yang tidak-tidak," Gibran berpaling dari tatapan tajam Jena.


Agam ikut berkata"Kau pikir, hanya kau saja yang normal?."


"Iya, iya! aku tahu kau sangat normal," sambar Gibran"Jika kau tidak normal, aku tidak akan tidur di lantai bawah karena suara-suara aneh dari kamar kalian tadi malam," ujarnya melempar tusuk sate dengan perasaan kesal.


Ucapan Gibran membuat Jena menaikan kedua alisnya, wanita itu juga menggembungkan kedua pipi. Baru menyadari betapa lupa dirinya dia tadi malam.


"Telingaku rasanya gatal sekali, padahal aku sudah memakai headset.....," celotehan Gibran terjeda, sebab Agam menyuap paksa daun selada kedalam mulutnya.


"Kau....," ujarnya bernada protes.


"Aku akan berhenti membakar sate ini jika kau terus mengoceh," ancam Agam. Bukan hanya Jena, dirinya juga tengah menahan malu saat ini. Wajahnya terlihat memerah, dan konyolnya, Gibran tetap berceloteh tentang peristiwa tak terlupakan mereka. Tidak ada pilihan lain, menyuapi mulut pria berkulit gelap itu dengan sayuran adalah jalan keluarnya.


Tingkah mereka membuat Jena tertawa. Menatap Gibran, Jena jadi terpikir akan kakak laki-laki nya. Sedang apa pria itu sekarang?

__ADS_1


Di sebuah ruangan tertutup, Arkan tengah mengawasi gerak-gerik seorang Tian. Pria itu nampak berbeda akhir-akhir ini, menurut laporan seseorang, Tian sedang mencari pejabat pembuat akta tanah.


"Terus awasi dia, juga wanita simpanan nya. Jangan lupa, terus desak wanita itu untuk membayar uang tutup mulut."


"Baiklah, tapi apa kau tidak ingin bertemu dengan ku? setelah sekian lama kau datang padaku hanya ingin meminta bantuan, setidaknya mari kita minum bersama sembari mengenang masa lalu."


"Ck! terus terang saja, jika tidak kehabisan akal menghadapi pasangan menjijikan itu, aku tidak akan mencarimu dan meminta bantuan."


"Waw, kau sangat transparan sekali, apakah waktu membuat mu menjadi semakin pahit lidah, Arkan? juga, apa kau benar-benar datang padaku sebagai pelanggan yang memerlukan bantuan? bukan sebagai teman lama?."


"Anderson! jika kau terus mengungkit masa lalu lebih baik lupakan saja pengaduanku. Aku akan mencari pertolongan pada orang lain."


"Hahahaha," Anderson terkekeh.


"Apa kau yakin akan mencari pertolongan pada orang lain? selain kami, tidak ada yang bisa mengulik jejak kejahatan seseorang sedalam kami. Contohnya, kau yang satu ruang lingkup dengan Tian saja tidak menyadari kelicikan pria itu, jika tidak dari informasi kami bukan?."


Arkan menarik napas dalam-dalam. Memang benar, komplotan Anderson bagai mata-mata bagi setiap orang, segala informasi seseorang dapat di ketahuinya dalam waktu singkat. Jaringan yang menjamur di mana-mana menjadikan mereka tempat yang tepat untuk mematai-matai Tian dan Tiara.


"Tenang saja, aku akan menyuruh seorang notaris untuk mengurusi keinginan Tian. Pertemuan mereka akan terjadi secara alami, dan tanah milik tantemu akan tetap aman meski berada dalam genggaman Tian."


"Setidaknya, biarkan dia berbahagia mendapatkan dulu tanah yang bukan hak nya itu," ujar Anderson lagi dengan seringai tawa.


"Tapi Arkan, masalah mu benar-benar belum di ketahui bos Jake."


"Dan jangan sampai kau membagi cerita ini padanya!," Arkan segera menekankan.


"Ayolah Arkan...."


"Sudahlah, jika kau memang masih ingin membantu ku jangan ungkit nama Jake di antara urusan kita."


Arkan segera memutus panggilan. Sungguh, jika tidak demi Jena, dirinya tidak akan kembali berurusan dengan komplotan yang dahulu pernah menaunginya.


...🌼🌼🌼🌼...


Masih di beranda belakang, Jena kini tinggal sendirian saja. Dua pria yang semula bersamanya telah berangkat menuju mushola. Mengamati suara seseorang yang mengumandangkan Adzan, Jena tersenyum lebar menyadari itu adalah suara Gibran, adik tengilnya.


Dan, senyum wanita itu kembali merekah, saat suara Agam begitu merdu mengumandangkan iqomah. Hatinya bagai taman bunga, dengan kupu-kupu yang berterbangan dengan riang kesana-kemari. Entah mengapa, hatinya terasa geli sendiri, mendapati dirinya masih saja tersenyum sebab mendengar suara dua pria itu.

__ADS_1


"Ck! ayolah Jena, apakah memakan sate kerang membuat senyum mu tak akan pudar," gumamnya memandang sisa-sisa dari sate kerang yang di hidangkan Agam untuknya.


Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, apakah Jena sedang berada dalam tahap menuai perasaan manis setelah tersakiti oleh keluarga Dewa dan Tiara. Sejatinya, hati kecil di dalam sana belum berani berharap lebih kepada Agam, kata-kata Yasir tentang Zafirah masih menyisakan tanya dalam benaknya.


Sembari berayun, wanita itu kembali berwisata akan masa lalu. Terkenang bagaimana Agam begitu sabar menghadapi dirinya yang di kenal galak oleh Gibran dan para sahabatnya. Meski kerap menaikan nada ketika bicara padanya, Agam selalu mengumbar senyum pada dirinya. Juga bersikap manis dan lembut padanya. Sungguh, Jena tidak menyadari perasaan cinta seorang Agam padanya telah tumbuh sejak lama.


Lama wanita itu tenggelam dalam kenangan, hingga kedatangan Agam dan Gibran tidak di sadarinya.


"Kau masih di sini?? sudah sholat Zuhur belum?," tanya Gibran membawa sekantong es krim.


Jena melirik pada kantong plastik yang di bawa Gibran. Seketika tangannya menjulur hendak mengambil alih.


"Udah sholat belum?," kali ini Agam mengulangi pertanyaannya Gibran.


"Belum."


"Es krimnya akan aku jaga, aku jamin tidak akan di habiskan Gibran. Sekarang kamu sholat dulu ya," ujarnya mengambil paksa sekantong es krim dari tangan Gibran. Membuat Gibran memanyunkan bibir sebab kalah mempertahankan cemilan kesukaannya itu.


"Oke, baiklah," ujar Jena begitu malas. Sungguh, dirinya belum terbiasa melaksanakan kewajiban itu, ckckckck....


Dengan langkah terseok-seok, Jena berbalik hendak meninggalkan mereka.


"Sebentar, jangan lupa dzikir nya ya," ujarnya menyerahkan tasbih yang kerap dia pakai kepada Jena.


Wajah Jena terlihat sangat terpaksa, namun Agam segera menarik kedua pipinya hingga terbentuklah sebuah senyuman, senyuman yang di paksa tentunya.


"Semangat sayang."


"Huewwkwkkk!!!," pekik Gibran.


Spontan Agam dan Jena menatap horor kepada Gibran.


Mengusap telinga dan matanya berkali-kali"Ash!! telingaku sakit sekali. Tolonglah, jangan bermesraan di depanku!," ujarnya dengan berani menatap Jena dan Agam bergantian.


"Ck! kau bawel sekali!."Jena segera mengambil tasbih di tangan Agam. Berlalu dari hadapan dua pria itu dengan tatapan tajam kepada Gibran.


To be continued....

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2