
Menjadi seorang anak tunggal dari kedua orang tua yang kaya raya, tidak menjadikan Agam bertingkah laku arogan dan gemar mempertontonkan kekayaan itu. Sejak masih sekolah, sudah menjadi rahasia umum jika dirinya adalah anak tunggal orang kaya raya, namun memiliki sikap yang rendah hati.
Selain wajah yang tampan rupawan, dengan pemanis pada kedua pipinya, sikap rendah itu dan bertutur kata lembut itu membuat hati para wanita tertarik kepadanya. Baik itu yang mengungkapkan cinta secara terang-terangan, atau yang memilih memendam saja perasaan manis itu. Dan di antara para gadis yang menyukai Agam, seorang Fely yang merasa kedekatan mereka sudah cukup memuaskan hatinya, memilih untuk menikmati saja kebersamaan mereka yang sering terjadi, tanpa harus mengungkapkan perasaan cinta.
Menghibur diri dengan menganggap dirinya orang terdekat Agam, nyatanya bukan hanya dirinya yang kerap menghabiskan waktu bersama dengan pria tampan itu, toh anggota OSIS bukan hanya mereka berdua. Ge-er tingkat dewa, katakanlah penyakit memalukan itu sedang memeluk erat hati seorang Felysia saat itu.
Hingga sampai pada masa akhir sekolah, Agam tak jua menunjukkan rasa tertarik kepada gadis manapun, apalagi kepada Fely. Dan rasa sesal itu datang di penghujung masa SMA mereka, Fely menyesal tidak pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada Agam.
Semesta seolah gemar menarik ulur hati yang pernah berharap banyak, di usia matang ini Fely kembali di pertemukan dengan sang pria pujaan. Seiring berjalannya waktu raut tampan pria itu semakin bertambah, dan Fely tidak ingin membuang kesempatan kali ini. Tidak ingin kembali menyesal, Fely akan mengungkapkan cintanya kepada Agam. Namun, ternyata pria itu telah beristri!! owh!! apakah Fely akan menyerah?? tentu saja tidak!! cinta buta membuat akal sehatnya merosot, menjadi sosok Fely yang mengejar cinta Agam, tanpa rasa malu sedikitpun.
"Aku sudah punya langganan tetap, untuk menyuplai stok minuman bersoda di cafe ini," ujar Agam siang itu. Kebersamaan nya bersama sang istri harus terganggu, karena kedatangan Fely yang memaksa, ingin bertemu dengannya.
Wanita itu mengantupkan bibir"Hemm, baiklah, aku hanya ingin membantu bisnis baru temanku saja. Jika kau masih memerlukan penyuplai minuman itu segera katakan kepadaku, teman ku pasti akan sangat senang jika mendapatkan rekan kerja baru."
"Baiklah. Silahkan pesan menu yang engkau mau, aku harus kembali pada istri ku. Dia sedang hamil, dan tidak bisa berjauhan dariku," ujarnya. Agam sengaja mengatakan hal itu dengan jelas kepada Fely, agar wanita itu sadar bahwa tidak ada celah seujung kuku pun untuk seorang pengganggu seperti dirinya.
Memaksakan senyuman, Fely mempersilahkan Agam untuk meninggalkan dirinya. Sebenarnya kedatangan dia kemari, hanya ingin menemui Agam. Setelah menilik informasi tentang cafe ini, foto-foto tentang menu dan keberadaan cafe ini menjadi panduan Fely dalam menemukan keberadaan Agam.
"Baiklah, mari kita coba menu yang di jual pria tampan ini," ujarnya bergumam. Dia pun membuka buku menu, alih-alih segera pergi setelah mendapat penolak, menikmati hidangan di cafe ini tidak ada salahnya bukan. Sebab akan banyak waktu di kemudian hari yang akan dia habiskan di sini, tentu dalam misi mendekati sang Idaman hati.
Menjalani masa kehamilan yang tidak menyusahkan, Jena yang awalnya merasa resah kini dapat bernapas lega"Bunda baru menyadari kehamilan ketika dia sudah berusia tiga bulan, dalam kandungan bunda," ujar Arabella hari itu, saat menceritakan masa-masa mengandung putranya.
"Tidak ada muntah-muntah di pagi hari, tidak ada rasa pusing yang melanda, bahkan gangguan dalam selera makan," tutur Arabella lagi"Bunda hanya lebih gemar memakan yang manis-manis, apa kau tahu, berat badan bunda saat itu mencapai 70 kilo," ujarnya lagi.
__ADS_1
"Bayangkan, pipi mulus ini akan seempuk apa ketika berat badan bunda mencapai 70 kilo?," tampa permisi, Agam menarik sebelah pipi Arabella, membuat sang bunda tertawa.
"Bunda masih punya fotonya, apa kalian mau melihatnya?," binar kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Sungguh, kehadiran Jena kerap membuatnya senang hanya karena hal-hal kecil.
Dan tawa seorang Jena pun pecah, tubuh gembul Arabella sungguh menggemaskan. Dengan perut besar Arabella muda tersenyum, sembari memegangi es cekek di tangannya"Bunda, es apa yang bunda minum itu? sampai tidak rela melepaskannya ketika hendak di foto."
"Es cendol," sahut sang empu foto itu"Dengan gula merah yang banyak."
Jena memicingkan kedua mata, menatap foto itu lekat-lekat"Maaf bunda, tapi bukankah es cendol harusnya panjang-panjang? sedangkan es yang bunda pegang hanya berwarna hijau."
"Saat itu aku lebih suka menikmatinya dengan di hancurkan, dan masih di dalam plastik seperti ini."
Penuturan Arabella membuat selera Jena tergugah. Malam itu juga dia meminta Agam mencarikan es cendol.
Kembali pada Agam dan Jena siang ini, usai menemui Fely, Agam kembali memijat kaki sang istri seperti yang sebelumnya dia lakukan. Jena tidak meminta hal itu, hanya saja Agam tidak bisa menonton saja saat melihat sang istri memijat betisnya sendirian.
"Apa dia menembakmu, mas."
Sudut bibir Agam terangkat naik, apakah Jena sedang cemburu? dia senang ketika Jena menunjukan rasa kesal saat ada wanita lain melirik dirinya.
"Duhai mas Agam Pratama, apa kau begitu senang setelah berjumpa dengannya? sampai senyum mu tak jua memudar usai perjumpaan kalian??!," hardik Jena menekuk kedua kakinya. Seolah enggan menerima pijatan nyaman dari sang suami, Jena meletakan sebuah bantal di atas kaki yang kini bersila.
"Duhai nyonya Pratama, apa kau sedang cemburu?," alih-alih menghindar meski melihat kilatan emosi pada kedua mata sang istri, Agam meletakan kepalanya pada bantal tersebut.
__ADS_1
Senyum dengan sepasang lesung pipi, bagaimana Jena akan marah jika di suguhkan pemandangan semanis ini. Sembari mengusap alis hitam tebal suaminya, Jena pun berucap"Sombong sekali pria ini. Apa kau tidak takut aku akan menyebarkan foto bugilmu di sosial media?."
Sontak Agam mengambil duduk"Sayang! apa kau rela membagi pemandang itu dengan orang lain? ayolah! hanya kau yang boleh melihat foto itu. Ash! ini salah ayah! mengapa tidak mengambil fotoku setengah badan saja!," gerutu nya mencoba meraih gawai sang istri.
Jena dengan gesit menjauhkan benda itu dari jangkauan sang suami"Hehehe, aku justru senang. Ayah sungguh hebat, mengambil foto dirimu dalam keadaan seksi begitu," ujarnya terkekeh.
"Ayolah sayang! ck!," Agam berdecih karena gagal mengambil gawai milik Jena, dia berniat menghapus foto aib di masa kecil itu. Entah apa bagusnya bagi ayah Akhtar, mengambil foto dirinya yang baru bisa duduk timun dalam keadaan telanjang. Sekarang foto itu menjadi ancaman baginya.
"Kau hampir sempurna, mas. Setidaknya foto ini membuktikan bahwa kau juga memiliki aib di masa kecil," tawa Jena tak jua mereda. Bocah di dalam foto itu memang sudah terlihat tampan sedari kecil, membuat Jena sangat suka menatap foto tersebut.
Mengingat malam saat dia mendapat foto tersebut, Jena jadi mengingat cendol kesukaan Arabella ketika sedang mengandung. Saat itu juga dia meminta minuman itu kepada Agam.
"Ini sudah siang, aku tidak yakin daun suji masih tersedia di pasar tradisional. Lagipula pasar tradisional itu adanya di kota sayang, aku carikan es cendol yang sudah jadi saja ya?."
Jena menggeleng"Tidak! aku hanya ingin cendol yang di buat langsung oleh mu. Bunda sudah mengajarkan membuat cendol kepadamu, bukan."
Yah... beginilah nasib calon ayah satu ini. Tidak seperti Jena yang malam itu bersedia menunggu esok hari untuk di buatkan cendol oleh sang ibu mertua, kali ini Jena ingin saat itu juga Agam membuatkan minuman itu untuk nya.
"Waduh! aku ragu, apakah akan berhasil membuat minuman itu?? aku harus segera menelpon bunda!," bisik hatinya sembari mengambil ponsel, untuk meminta kedatangan Arabella.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1