Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Agam junior.


__ADS_3

Rasa tidak percaya menyelimuti diri Jena. Meski hasil dari testpack itu bergaris dua, tetap tidak berani untuk mengakui kehamilan dirinya.


Harapan itu memanglah besar, rasa ingin memiliki keturunan pun teramat sangat besar, namun apa jadinya jika semua ini bukanlah kenyataan? alih-alih membagi kabar baik ini kepada suaminya, Jena memilih untuk diam saja. Bersikap seperti biasa, seolah dirinya tidak pernah melakukan tes di dalam kamar kecil tadi.


Suatu hal akan berjalan dan mengalir dengan sendirinya, namun saat di sentuh, sebuah kejadian yang di ucapkan bagai mensugesti diri sendiri. Pertanyaan Arabella, tentang suatu makanan yang tidak di sukai Jena, kini mulai terasa. Kali ini bukan makanan, tapi sebuah aroma.


Kedua alis Jena berkerut, saat Agam bersiap melaksanakan sholat pada malam itu. Parfum yang selalu di gunakan Agam saat hendak menunaikan ibadah itu terasa memusingkan, tidak seperti biasanya yang mengalirkan perasaan nyaman pada dirinya.


Mencoba untuk bertahan, tapi aroma itu terasa sangat tajam, hingga membuat tubuhnya limbung.


"Sayang! kau kenapa?," dengan sigap, Agam menarik tubuh limbung sang istri, hingga tidak terjatuh di atas lantai.


"Aku hanya sedikit pusing," sahutnya. Berada dalam dekapan Agam, membuat kepalanya semakin berdenyut hebat. Jena segera membangun jarak di antara mereka, hingga membuat Agam merasakan adanya hal yang tidak beres.


"Kau kenapa? kau menepis tanganku, sayang."


"Aku hanya pusing mas," sahutnya lagi.


Agam maju selangkah, hendak mengusap kening wanitanya, namun lagi-lagi Jena mengambil langkah dan semakin melebarkan jarak di antara mereka.


Hatinya terasa perih, ini jelas ada sesuatu yang tidak beres kepada Jena. Di pandanginya wanita yang memijat pelipisnya itu, sudut bibirnya membentuk garis turun, menahan sakit.


"Kita ke dokter saja, sepertinya kau sangat kesakitan, sayang," ucap Agam. Kali ini dia masih diam di tempat, dia yakin Jena akan mengambil langkah mundur jika dirinya melangkah maju.


Memutar tumit dan berjalan menjauhi Agam, Jena meninggalkan balkon dan masuk ke kamar mereka.


"Jenaira," suara lembut Agam begitu menenangkan hati.


Jena sangat tidak tega melihat wajah bersedih Agam, saat dirinya membangun jarak di antara mereka. Wanita itu berdiri di depan pintu, menatap Agam yang berada sedikit jauh dari muara pintu kamar"Mas....," ucapnya lirih.


Sikap Jena membuat Agam semakin resah. Apakah dirinya telah berbuat kesalahan?? apa ini bersangkutan dengan merekrut para pekerja di cafe mereka? Agam bahkan tidak mempekerjakan seorang wanita di cafe mereka, meski Jena mengizinkan. Lantas, dimana letak kesalahan itu?.


"Mas, sepertinya aku tidak bisa menahannya lagi. Mari kita bicara, tapi sebelum itu bisakah kau mengganti pakaian?."

__ADS_1


Agam menunduk, melihat baju koko yang sedang dia kenakan. Tidak ada yang salah dengan baju itu, Jena sendiri yang memilih nya saat mereka hendak membeli baju itu.


Saat itu, iqomah mulai terdengar. Jena dan Agam diam sejenak, usai beberapa saat Jena kembali berucap"Maaf mas, apa aku boleh sholat sendiri saja di sini? kau bisa sholat di mushola."


Ya Allah, Agam merasa di tinggalkan. Dalam benaknya muncul bermacam dugaan, yang mungin bisa menjadi sebab dari sikap dingin Jena kepadanya saat ini.


"Baiklah, aku akan segera ke mushola," ujarnya perlahan berlalu. Di ujung tangga, dirinya kembali menatap Jena, yang masih berdiri menatapnya.


Wanita itu nampak tersenyum, tapi juga terlihat raut kesedihan di wajahnya. Aduh! Agam sungguh tidak mengerti, semoga saja ini bukan hal buruk. Tapi melihat senyuman pahit sang istri, hati kecil Agam merasa gelisah sekali.


...πŸͺΆπŸͺΆπŸͺΆπŸͺΆ...


Salah satu mesin pencetak uangnya telah rusak, Jelita sangat geram memikirkan noda hitam yang Tiara lemparkan di wajah keluarga terhormatnya. Dirinya baru menyadari, mempertahankan Tiara adalah sebuah keputusan yang salah. Wanita itu bahkan telah membuat dirinya berpisah dari sang putra, yang tidak pernah lagi pulang ke kediaman mereka.


Di saat Tiara terlibat kasus memalukan, Gibran masih menjadi berita utama di laman selebriti hot. Meski belum menelurkan suatu karya di dunia hiburan, wajah tampan dan tubuh tinggi tegap, juga berotot bocah itu, membuat Jelita sangat sulit untuk bernapas. Bagaimana tidak, iklan yang sempat di berikan kepada Tiara, di batalkan karena sang artis terjerat kasus penggelapan dana arisan. Dan saat Jelita bertanya perihal artis yang akan menggantikan Tiara, mereka berucap sedang mengincar seorang pria bernama Gibran.


"Sialan!, bocah ingusan itu bahkan tidak perlu repot-repot mengantri untuk casting," gerutunya melihat wajah tampan Gibran di layar ponsel.


Ternyata, suara ketus Jelita terdengar oleh Bagas. Sang suami pun berucap"Tidak seharusnya kau mencaci bocah baik itu. Kau seharusnya bersyukur, selama ini kau selalu bersikap jahat terhadap kakak perempuan nya, namun tidak satupun dari mereka yang membalas perlakuan burukmu terhadap Jena. Jika aku adalah Gibran, aku pasti akan datang kemari, dan meminta pertanggungjawaban atas semua perlakuan kejam mu terhadap Jena."


Namun, Bagas yang sudah terbiasa dengan emosi Jelita yang seperti pelana kuda, hanya membuang napas jengah. Dia bahkan kembali berucap"Jika Jena tidak berguna, mengapa Nyonya Arabella terlihat begitu menyayangi dirinya? ada begitu banyak potret kebersamaan mereka di laman Insta keluarga Pratama, dan apa kau tahu, Jena terlihat begitu bahagia menjadi bagian dari mereka."


Gunung merapi di hati Jelita semakin bergejolak, hingga akhirnya meledak dan membuatnya semakin marah"Berhenti mas!!! kau tidak seperti lelaki yang mencintai ku! kau tidak pernah berpihak kepadaku jika itu urusan Jena."


"Jelita, seharusnya kau yang berhenti membenci Jena, juga keluarga mereka. Lihatlah keluarga kita Jelita, keluarga harmonis kita semakin tenggelam, aku bahkan tidak pernah lagi melihat putraku akhir-akhir ini. Bukan hanya itu, aku bahkan tidak tahu di mana dirinya, dia telah lama absen dari kantor cabang," kesedihan terlihat begitu dalam di wajah tua Bagas. Kerinduan pada sang putra, sungguh membuat nya sangat lelah berada di dalam kediaman yang tak lagi hangat ini.


Perkataan Bagas, sedikit menyadarkan Jelita. Wanita itu kembali duduk, setelah meluapkan emosi sembari berkacak pinggang di hadapan sang suami"Ya, Dewa ku bagaimana kabarnya sekarang," ucapnya lirih.


"Kau bertanya kepadaku? bukankah kau telah menyerahkan urusan Dewa kepada Tiara?."


Jelita menelan air ludah, terakhir kali dirinya membahas tentang Dewa, saat dirinya memohon kepada Tiara untuk bersedia bercerai saja. Namun Jelita yang mengetahui hal itu, meminta kepada Tiara untuk tidak memperdulikan permohonan putranya. Dia yakin, masih ada harapan dalam rumah tangga mereka.


"Aku telah mengambil langkah yang salah, menyerahkan putraku pada wanita tidak berguna itu," gumamnya sembari mengepal tangan. Gelagat Jelita membuat Bagas menggelengkan kepala, tidak ada penyesalan yang dia dapati dari raut wajah sang istri.

__ADS_1


...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


Bukan hanya berganti pakaian, Jena meminta Agam untuk mandi kembali. Aroma parfum itu terasa sangat lekat di ujung hidung meski sang suami telah berganti pakaian.


Di suruh mandi malam-malam seperti ini, membuat benak Agam menyimpan begitu banyak pertanyaan terhadap sang istri. Namun, dirinya tidak jua kunjung bertanya, karena Jena terlihat sangat tidak nyaman saat memintanya untuk mandi.


"Dia sendiri yang bilang, bahwa aroma tubuhku manis, tapi mengapa dia memperlakukan ku seperti orang yang sangat bau!!," ucap Agam di dalam hati, sembari memakai sabun yang Jena berikan. Ah! wanita itu bahkan memintanya memakai sabun batang yang baru, dengan aroma yang baru pula. Bukan aroma jeruk seperti yang selalu dia sukai, tapi sabun dengan aroma melon, yang hampir tidak pernah di beli sang istri.


Usai mandi dan berpakaian, Agam mengambil duduk di tepian ranjang. Kali ini Jena tidak menghindar seperti tadi, dia justru tersenyum dan terlihat mencium aroma-aroma wangi yang menyebar dari tubuh Agam.


"Katakan, mengapa kau menyuruhku mandi? apa kau mencium aroma tidak sedap dari tubuh ku?."


Jena menggeleng"Bukan tubuhmu, tapi aroma parfum yang kau pakai tadi. Kepalaku berdenyut dan rasanya mau pingsan."


Agam menatap Jena, dengan kepala sedikit memiring"Ada apa denganmu, sayang? kau sangat menyukai aroma itu, kau pun kerap memakainya bukan?."


Begitu bimbang, Jena tidak tahu harus memulai dari mana untuk berbicara tentang keadaanya kepada Agam. Dengan polosnya dia hanya menatap Agam yang terus mengoceh perihal aroma parfum, juga aroma sabun yang baru itu.


Merasa hanya di pandang sang istri, Agam menghentikan ocehan, dan saling beradu pandang dengan sang istri"Jenaira, pasti ada yang tidak beres denganmu, Katakan sayang."


Terlihat menggigit bibir, Agam semakin yakin bahwa Jena sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dia menarik lengan kiri Jena yang sedari tadi berada di balik selimut"Sayang, jangan membuatku resah, aku mohon bicaralah jika memang ada masalah!."


"Aku tidak yakin mas, tapi aku sudah melakukan tes hingga empat kali," akhirnya wanita itu mulai berucap kembali.


"Tes? apa kau sakit? sayang! jika kau memang sakit aku akan mencari dokter di seluruh dunia ini untuk menyembuhkan dirimu! jangan patah semangat, kita akan menghadapinya bersama," sangat cemas, Agam sangat khawatir mendengar Jena telah berkali-kali melakukan tes.


Jena mengeluarkan tangan kanannya, ada sebuah kotak kecil di sana"Aku sangat tidak yakin mas, tapi jika ini benar, aku hanya bisa pasrah kepada Allah sang maha pencipta."


Sangat tidak sabar, Agam segera membuka kotak kecil itu. Di dalamnya ada 4 buah alat tes kehamilan, dan semuanya menunjukkan garis dua dengan sangat jelas. Belum begitu mengerti dengan benda itu, dengan ragu Agam bertanya"Ini alat tes kehamilan, bukan?."


Jena mengangguk.


Segera, dia melakukan panggilan video dengan sang bunda. Dan betapa bahagianya Arabella saat melihat alat di dalam kotak itu"Alhamdulillah, selamat nak, kau akan menjadi ayah!," serunya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2