
Sepekan telah berlalu, banyak hal telah Jena lalui. Orang yang kerap bertukar pesan dengannya adalah ayah Bagas, orang yang kerap bertemu dengannya adalah ayah Bagas, bahkan hari ini mereka berdua memiliki janji temu di cafe yang berhadapan dengan perusahaan Will. Jena sengaja memilih tempat itu, ada sesuatu yang akan ayah Bagas serahkan kepadanya dan alangkah baiknya jika benda itu langsung Jena bawa ke hadapan pak Salman.
Binder merah itu telah sampai pada tuannya, nampak lebih usang, namun mampu melukis senyum di wajah Jena. Membuka halaman demi halaman, wanita itu, sejenak berwisata tentang masa yang telah lalu.
" Ayah, aku tidak tahu harus dengan apa membalas baikanmu", ujarnya dengan pandangan tidak terlepas dari binder itu.
" Cukup menjadi wanita yang selalu bahagia, kembalilah menjadi Jena yang dahulu selalu tertawa".
Ucapan itu membuat Jena menundukan wajah, terdengar mudah namun sangat sulit untuk di lakukan.
" Nak Jena, apa kau sudah bisa memaafkan ayah?".
" Apa yang harus aku maafkan, jika ayah tidak melakukan kesalahan".
" Kau tidak menyalahkan ayah yang memberi restu kepada Dewa untuk menikahi Tiara?".
Wanita berbaju hitam itu menggelengkan kepala. Meletakan kacamata bacanya di atas meja, Jena menatap lurus pada ayah Bagas.
" Ayah dan ibu Jelita sudah lama menanti kehadiran cucu, saat Tiara mampu memberikan apa yang kalian inginkan, apakah Jena harus menyalahkan kalian?".
" Kau berhak marah Jena, kau bahkan berhak menolak pernikahan mereka".
" Dan saat aku menolak pernikahan itu, mas Dewa membuangku dari kehidupannya", kelopak mata cantik itu nampak sendu, mengingat kepedihan itu membuat air mata hampir jatuh di kedua pipi.
Tidak banyak yang dapat Bagas ucapkan kembali, telinganya menjadi tuli saat tahu akan segera menimang cucu, melupakan penolakan Jena dan dengan mantap merestui pernikahan kedua putranya.
" Ayah, sudahlah. Semua telah berlalu, ayah tidak bersalah, ini adalah takdirku".
Anakan sungai mulai menggenang dari kedua mata lelaki tua itu "Kau sungguh mempunyai hati seluas semudera nak, kau bahkan tidak membenciku".
" Kebencian itu hanya akan menambah sakit di hatiku, ayah, aku harus berdamai dengan keadaan demi kewarasan jiwaku".
"Benarkah kau mulai berdamai dengan keadaan?"
Jena mengangguk pelan.
__ADS_1
" Bagaimana jika Dewa ingin kembali kepadamu?", penuh harap, lelaki tua itu menatap Jena dengan penuh harapan.
" Saat dia masih bersama Tiara?".
Samar-samar Jena menangkap anggukan kecil Bagas.
" Hal itu sangat tidak bisa aku terima ayah, maafkan aku", wajah itu kembali tertunduk, entah mengapa memandang ubin di bawah sana lebih menarik dari pada beradu pandang dengan Bagas. Sangat tidak tega melihat harapan yang terpancar dari kedua matanya.
Bagas menarik napas perlahan " Ayah sangat mengerti nak, seharusnya ayah tahu diri sebelum menanyakan hal itu".
Jena mengambil jemari pria tua itu, menggenggamnya dengan erat "Tidak ayah, jangan menyalahkan diri ayah. Bagiku, menjalani kehidupan layaknya sedang menaiki kendaraan, aku harus menatap kedepan agar tidak terjadi kecelakaan".
" Bukankah kendaraan punya dua spion nak, apa kau tidak ingin menggunakan kaca spion itu?".
" Tentu saja aku harus menggunakannya, aku akan menggunakan kaca spion itu sesekali, menatap kebelakang seperti mengambil pelajaran dalam kisah hidupku di masa lalu. Seperti apapun jalanan yang akan ku tempuh, aku tetap harus maju ke depan jika ingin mencapai tujuan dalam hidup. Dan tujuan hidupku sekarang adalah kebahagiaan. Bukankah ayah ingin aku bahagia", ujarnya mengingatkan keinginan Bagas setelah menyerankan binder merah padanya.
*
*
*
*
"Tunggulah sebentar lagi, aku sedang memimpin rapat".
Di saat para karyawan memilih rooftop sebagai tempat berkumpul, menyantap makan siang, cemilan atau sekedar menunggu seseorang, Jena memilih menunggu kehadiran Salman di perpustakaan. Tempat ternyaman dari perusahaan penerbit Will adalah perpustakaan, aroma buku-buku itu terasa nikmat untuk di hirup, menimbulkan semangat bahkan saat otaknya buntu mencari ide untuk mengetik naskah.
Rak-rak berisi ribuan buku menjulang tinggi, tubuh kecil wanita itu semakin kecil saat berada di sana. Kepalanya menengadah saat melewatinya, seandainya Jena di perbolehkan untuk tinggal di perpustakaan ini, tentu wanita itu akan sangat senang.
Usai melihat-lihat sekitar, tubuh itu merasa lelah, mungkin karena jadwal tidurnya yang sangat tidak teratur akhir-akhir ini.
Memasang headset di telinga, sembari duduk bersandar pada dinding rak buku Jena menikmati kembali murotal Al-Qur'an yang belakangan ini sering dia lakukan. Memejamkan kedua mata, rasa lelah itu perlahan berkurang, ada ketenangan yang tidak dapat di jabarkan. Cukup dengar dan rasakan, betawa jiwa yang rapuh itu merasakan kedamaian.
Di sudut lain, menikmati wajah wanita pujaan yang tengah memejamkan mata, Rio begitu terpesona akan kecantikan seorang Jena.
__ADS_1
" Dari apa Tuhan menciptakan engkau, Jena, saat memejamkan kedua mata pun kau sangat cantik" bisikan hati Rio tidak jauh berbeda dengan apa yang sering Agam pikirkan. Sungguh pesona seorang Jena tidak dapat di ragukan, bahkan dengan senyum yang hampir tiada, wanita itu mampu mengaduk-aduk hati para pria. Wajar saja jika Dewa sangat tergila-gila kepadanya. Dahulu, sebelum kesedihan membawa pergi kebahagiaan Jena, wanita itu selalu tersenyum dan tertawa, betapa indah makhluk ciptaan Tuhan itu.
" Ehem" Rio tidak dapat menahan diri. Pria itu mendekat kepada Jena.
Seketika sepasang mata cantik itu terbuka, menatap Rio yang sedang tersenyum padanya.
" Apa aku mengusik ketenanganmu?"
" Tidak" sahut Jena melepaskan headset, jelas saja kehadiran Rio sangat menggangu, sengaja mendengarkan murotal itu dengan volume kecil, tidak di sangka lain yang di tunggu, lain pula yang bertemu.
" Ada apa dengan wajah mu, kau terlihat tegang sejak melihatku".
Seperti biasa, Jena selalu mengajutkan Rio dengan kata-katanya " Jelas saja, tanpa aba-aba kau datang pada kedua orangtuaku, membuat mereka mendesak ku untuk menerima lamaranmu".
Seketika wajah Rio tersipu" Lantas, bagaimana tanggapanmu?".
" Apa kau tidak punya pertanyaan lain? ku pikir ayahku sudah memberikan jawaban kepadamu".
Sedikit tersudutkan, Rio menggaruk tenggkuknya sembari tersenyum masam " Siapa tahu jawabanmu akan berubah".
Jena menaikan kedua alis "Siapa sangka jawaban itu tidak akan berubah!".
" Ayolah Jena____"
" Pak Salman" Jena melambaikan tangan saat sosok Salman hadir tidak jauh dari mereka.
" Aku permisi, ada hal penting yang harus aku lakukan".
Meski jelas tertolak, Rio tidak akan menyerah begitu saja "Boleh aku menemanimu?"
" Tidak perlu, kita tidak sedekat itu hingga kau harus ikut bersamaku".
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1