
Kegaduhan masih tersisa meski senja telah tiba, Tiara yang membabi buta berhasil di takhlukan saat Abian melayangkan tamparan di wajahnya. Bagaimana tidak, wanita gila itu berkali-kali menampar wajah sang putri, tersudut di muara pintu membuat Jena tidak mampu membalas amukan Tiara.
Wanita itu seperti kerasukan setan, tiga orang pria kewalahan menahan dirinya saat menyerang Jena. Hingga Arkan mendorong tubuh Tiara, barulah ada celah untuk melindungi Jena. Tamparan Abian bergema, membuat Tiara terhuyung dan terjatuh ke lantai.
Rio menarik tubuh Jena agar menjauhi Tiara, namun Arkan lebih dulu menarik Jena kedalam pelukannya.
"Kau gila! seperti hewan membabi buta menyerang putriku. Aku akan membawamu ke ranah hukum".
Mendengar ranah hukum, seketika nyali Tiara menciut. Kekecewaaanya terhadap Jena membuat hatinya buta, termakan emosi hingga menyerang tanpa berpikir panjang.
Ujung jemarinya bersimbah darah, dengan kuku tajam itu Tiara menarik rambut Jena. Berniat mencakar wajahnya, namun Jena sempat menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Punggung tangan wanita itu bagai di cakar harimau, berdarah sebab cakaran dari kuku panjang Tiara.
"Bruk!", Jena mendorong tubuh Arkan. Tidak sempat membela diri, melihat Tiara sudah tidak berdaya, Jena berniat membalas semua perlakuan Tiara.
"Jangan Jena! dia sedang hamil", Rio mengingatkan. Cukup dia saja yang menanggung masalah ini, biarlah dirimu murni sebagai korban. Jika dia keguguran, kau akan mendapat masalah", pria itu berbisik. Beruntung, emosi Jena mereda saat mendengar bisikan Rio.
Dengan napas tersengal-sengal, Arkan meraih gawai dan menelpon polisi. Segera melaporan kejadian itu, di hadapan mereka semua termasuk Tiara. Sontak wanita itu kembali menggila. Dia berlari kembali ke mobil untuk mengambil sesuatu.
"Kau sudah melaporkanku ke polisi, aku tidak bersalah, Jena yang terus menjadi duri dalam pernikahanku, Jena yang terus menjadi batu dalam perjalanan hidupku, Jena yang terus mengusik hati suamiku, semua ini salah Jena. Jika aku harus masuk penjara karena hal ini, akan sangat pantas jika aku menghabisi Jena sekalian".
Sebuah pisau mengacung kepada Jena, Abian sedikit mundur karena tidak menyangka hal ini akan terjadi.
"Tiara, sadarkan dirimu", teriak Arkan.
"Aku sadar, aku melakukan ini karena kesalahan Jena", balasnya berteriak
"Letakan benda itu, kau bisa melukai orang lain".
Tiara menatap Rio yang perlahan mendekatinya"Aku hanya ingin melenyapkan Jena, kalian tidak akan kusakiti", nampak putus asa, wanita itu terlihat sangat putus asa.
"Tiara, buang pisau itu. Kita bicarakan baik-baik".
__ADS_1
"Telpon kembali polisi itu, katakan hal ini tidak benar-benar terjadi", pinta Tiara.
Abian mengangguk"Baiklah, aku akan mengurusnya, sekarang buang benda itu".
Entah apa yang terjadi pada mentalnya, Tiara meletakan pisau itu di tanah. Beberapa menit Tiara terdiam, menatap Jena dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Maafkan aku Jena, selama ini aku sangat merasa bersalah padamu. Maukah kau memelukku sebentar", ujarnya hampir berbisik.
Sikap itu sangat mengundang tanya di benak mereka. Apa wanita ini benar-benar gila, dalam sekejap sikapnya berubah.
Jarak dirinya dan Tiara hanya beberapa langkah, melihat keadaan Tiara sesungguhnya membuat hatinya sedih. Bagaimana pun Tiara pernah melewati suka dan duka bersamanya.
"Jangan Jena, dia sudah gila", Arkan menahan Jena saat wanita itu hendak maju.
Membuka kedua tangan kepada Jena "Jenaira sahabatku, aku hanya ingin memelukmu. Beban di dadaku sangat banyak, aku sangat merindukan pelukan hangatmu".
Mendengar perkataan Tiara, rasa iba sungguh membuat akal sehatnya hilang. Tanpa curiga Jena menepis tangan Arkan dan berjalan mendekati Tiara.
Sedikit lagi mereka berdua berpelukan, tatapan Rio yang tak luput dari Tiara menangkap gerak cepat tangan wanita itu.
"Jena!!", Dewa berlarian. Mobil itu sampai bertepatan dengan tangkisan tangan Rio. Jena dan Rio jatuh bersamaan, membuat Dewa mengira Jena telah berhasil di lukai Tiara.
"Jena! akh! kau terluka", pekik Dewa mendapati darah di baju Jena.
Arkan mendorong tubuh Dewa, sementara Tiara dengan tubuh bergetar kembali terjatuh ke tanah.
...πΈπΈπΈπΈ...
Kediaman Dewa masih saja gaduh, Jelita mengomel sebab tidak di hiraukan Dewa dan Tiara. Para pelayan bingung harus berbuat apa, mereka pun tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara Tiara dan Dewa.
"Apa yang membuatmu terus mengoceh, Jelita?", Bagas telah kembali dari bekerja, melepaskan jas dan duduk bersandar di sofa.
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak mengoceh, anak dan menantu kita sepertinya sedang bertengkar. Mereka bahkan tidak perduli kepadaku".
Seulas senyum mengembang di wajah Bagas, pria paruh baya itu mendunduk agar senyumnya tidak terlihat oleh Jelita.
"Lantas kemana mereka? bukankah jika ada orang berkelahi rumah kita akan ramai, rumah ini hanya terdengar kegaduhan sebab omelanmu".
Sembari berkacak pinggang, Jelita berbagi cerita pada suaminya "Tiara berlari dengan penampilan seperti orang gila. Kemudian Dewa juga berlari menyusulnya. Akh! semoga cucuku tersayang baik-baik saja dalam kandungan Tiara".
"Jadi mereka tidak ada di rumah? lantas, kepada siapa kau mengomel tadi? lihatlah, mereka begitu tegang sebab ocehan tidak bertuan", tukas Bagas menunjuk para pelayan yang tertunduk.
"Bruk!", Jelita menghenyakkan tubuh di sofa"Kau seperti tidak mendukung ku, aku sedang mengkhawatirkan anak-anak kita, juga cucu kita. Jangan membuatku terlihat tidak waras di depan para pelayan".
Bagas pun tertawa"Jika tidak ingin di katakan tidak waras maka bersikap baiklah, Jelita".
Ucapan itu membuat para pelayan menahan tawa. Mati-matian mereka menahan diri agar tidak tergelak tawa, masalah akan semakin besar jika Jelita memergoki mereka mentertawakan dirinya.
"Ck! kau selalu saja begitu. ash! kau sungguh menyebalkan", protesnya dengan wajah memberengut.
"Hei, jangan cemberut seperti itu. Anak-anak sudah dewasa, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Lebih baik kau urus aku yang lelah usai bekerja ini saja".
Jelita menatap Bagas malas, ada-ada saja keinginan lelaki tua ini"Kau ini, bukankah setiap pulang dari kantor kau akan langsung mandi. Segeralah naik ke kamar, aku akan menyiapkan makanan untukmu".
Lantas, Bagas kembali tertawa"Nah, beginikan lebih baik. Usia kita sudah tidak muda, lebih baik menjaga mimik wajah agar tidak menambah kerutan di wajah".
"Hah!! apa kerutan di wajahku bertambah???" Jelita menjadi panik, urusan penampilan adalah nomor satu baginya
"Pelayan, apa wajahku terlibat bertambah tua??".
Para pelayan bingung memberikan jawaban. Jika berkata iya, maka Jelita akan marah. Jika berkata tidak maka mereka akan di katakan berdusta.
Gelagat mereka membuat Bagas kembali tertawa. Hahaha, sungguh sore yang menyenangkan. Kabar perkelahian Tiara dan Dewa sungguh sangat menggembirakan bagi Bagas. Tidak sia-sia dia mengutus orang untuk mengirim amplop itu ke kediaman mereka.
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€π€