Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Lagi, pesona bocah lelaki


__ADS_3

Berbeda dengan Kirana dahulu, yang begitu patuh dan bersedia jika di utus untuk menggantikan Jena menghadiri berbagai pertemuan. Editor baru ini memang tersekan santai jika menyangkut masalah naskah, namun tidak begitu penurut jika di pinta untuk menggantikan kewajiban Jena.


"Rubahlah kebiasaanmu, tidak selamanya bersembunyi itu berdampak baik. Lagipula, wajahmu cukup terkenal di mana-mana, untuk apa lagi kau menghindar muncul di depan khalayak ramai sebagai seorang penulis."


Ucapan sang editor ada benarnya, tapi jadwal yang bertepatan dengan hari pernikahan Zafirah, sungguh membuat Jena tak ingin melewatkan momen bahagia itu sekejap saja.


Menaikan satu jemarinya"Sekali ini saja, aku mohon," ujarnya penuh harap.


"Di hari itu, aku ada jadwal menemani istriku menemui dokter kandungan," cukup sudah, jika sudah berurusan dengan suami, atau istri dari rekan kerjanya, Jena tidak bisa lagi untuk memaksa.


"Lantas, aku harus bagaimana?," ujarnya tertunduk sedih.


Di ruangan itu, pada meja paling ujung tempat sang editor bekerja, Jena memainkan jemarinya dengan wajah tertunduk lesu.


"Jena, ku perhatian sikapmu tidak sedingin yang orang-orang bicarakan," ujar sang editor.


Jena menopang wajahnya"Kenapa? apa yang mereka katakan padamu?."


"Bukan hanya mereka, sejujurnya rumor tentangmu sudah tersebar di dunia online sekalipun. Kau, di kenal sebagai seorang penulis dingin dan irit bicara. Tapi, setelah bekerja sama denganmu aku tidak mendapati sikap yang dingin darimu, dan juga....kau justru terlihat sedikit kekanak-kanakan," mengukur tingkat kedewasaan Jena dengan ujung jarinya.


"Baiklah, karena kita sekarang adalah rekan kerja, aku akan sedikit bercerita kepadamu."


Memperbaiki duduknya, sang editor bernama Yoga itu memasang telinga lebar-lebar.


"Apa kau pernah mendengar istilah lain istri lain rejeki?," tanya Jena terlebih dahulu.


Yoga mengangguk pertanda pernah mendengar istilah itu.


"Hal yang terjadi kepadaku, lain suami lain pribadi," lanjutnya tersenyum kecil.


Senyum yang mengembang di wajah Jena membuat mereka yang ada di sana terpana, sebuah pemandangan yang hampir tidak pernah mereka saksikan secara langsung.


"Kau tertawa?," alih-alih menanggapi ucapan Jena, Yoga justru mengomentari senyuman Jena.


"Kau kira aku patung, tidak bisa tersenyum?."


"Hahaha, aku hanya bercanda. Jadi, bersama suami baru kepribadian mu juga ikut baru," tukas Yoga menelisik wajah Jena.


Jena mengangguk singkat"Katakanlah seperti itu."


"Hem," Yoga memiringkan kepalanya sekilas"Sejauh ini kita kerap berkomunikasi lewat video saja, sepertinya aku harus lebih mendekatkan diri kepadamu. Agar hubungan pekerjaan kita menjadi lebih baik."


"Buang jauh-jauh pemikiran itu, jika bekerja melalui video saja sudah cukup baik, untuk apa kita bertemu secara langsung. Buang-buang waktu saja."


"Awh!!! kau membuat hatiku sakit Jena," Yoga berlagak kesakitan dengan memegangi dadanya.

__ADS_1


"Cih! kau berlebihan rekan kerja baru!."


Yoga tertawa canggung, Jena tetaplah Jena yang menakutkan jika sedang serius.


"Lantas, kau akan menghadiri acara penghargaan itu, bukan."


"Tidak! jika kau tidak bisa menggantikan ku maka biarkan saja. Toh trofi nya tetap akan di kirimkan kepadaku."


Memanyunkan bibirnya, Yoga nampak tidak setuju dengan ucapan Jena.


"Jena, sejujurnya jika kau datang di acara itu, aku akan senang hati ikut bersama mu."


Ekor manik coklat Jena melihat sosok Yoga"Kau bilang akan menemani istrimu ke dokter kandungan pada hari itu."


"Acara itu di gelar malam hari, jadwal temu istriku dengan sang dokter siang hari," sahutnya cengengesan.


"Bagus! jadi kau saja yang mewakiliku. Oke?," Jena menepuk meja sebab semangat yang seketika berkobar.


Yoga sedikit berbisik kepada Jena"Aku belum pernah menggantikan seseorang untuk menerima penghargaan."


"Kau hanya tinggal menerima trofi itu ke atas panggung, berbicara sebentar dan selesai," sambar Jena.


"Nah, bagian berbicara di depan orang ramai itulah yang tidak bisa aku lakukan," Yoga memukul lututnya dengan keras"Tungkaiku akan bergetar. Jika aku pingsan bagaimana? aku akan masuk laman berita terheboh, tentu namamu juga akan terseret."


"Kenapa aku harus terseret?," sungguh, ternyata editor baru ini banyak bicara juga. Membuat Jena yang berencana singgah sebentar saja di kantor ini, menjadi menghabiskan waktu yang cukup lama.


Jengah, Jena lantas mengusap telinganya yang lelah mendengar ocehan tak berguna Yoga.


"Ya sudah, aku akan meminta adik laki-lakiku saja yang melakukan tugas itu. Kau hanya harus mendampingi nya."


Menjentikkan jarinya dengan senyuman"Nah, coba kau katakan hal ini sedari tadi. Waktu kita tidak akan terbuang dengan berandai-andai."


Sudut bibir Jena memiring"Hei, kau saja yang berandai-andai."


"Baiklah, katakan saja seperti itu," tukas Yoga tertawa senang.


Selesai sudah satu masalah, Jena akhirnya dapat meninggalkan kantor itu dengan perasaan lega. Tapi, dirinya harus menyelesaikan PR baru saat sampai di kediaman pantai.


"Harus dengan apa aku membujuk Gibran untuk menggantikanku menerima trofi itu??," gumamnya sembari melajukan mobil milik suaminya.


Memandangi mobil yang di kendarai Jena hingga benar-benar menghilang, sosok Rio di cafe seberang kantor melenguh panjang. Ada perasaan hangat saat melihat wanita itu baik-baik saja, setidaknya meski tak jadi dengannya, kehidupan Jena terlihat jauh lebih baik ketimbang masih menyandang status istrinya Dewa.


...🌻🌻🌻🌻...


Zafirah menatap sosok Enda lekat-lekat. Bocah itu kini tengah hadir bersama ayahnya di kantor pengurus pondok pesantren Al-jannah.

__ADS_1


"Jadi, anakda Enda akan di antar dan di jemput di daerah pesisir ya," ujar salah seorang ustadz yang tengah mengurusi pendaftaran Enda.


"Iya, ustadz," sahut Enda. Logat bocahnya begitu menggemaskan, Zafirah di buat tersenyum memandangi nya dari mejanya.


"Anak pintar," sang ustadz mengusap lembut pucuk kepala Enda, namun kali ini tidak sampai membuat rambutnya berantakan.


"Baiklah, mulai besok nak Enda akan mulai belajar menulis dan mengaji di sini ya.",


"Iya pak ustadz," sahutnya lagi.


Sungguh, Zafirah tidak lagi dapat menahan diri. Benar apa yang di katakan Jena, Enda bocah yang sangat menarik.


"Jadi namanya Enda ya?," Zafirah ikut bersuara.


"Muhammad abdab Syailendra," ujarnya begitu lancar.


"Wah, nama yang sangat bagus. Kalau boleh tahu, apa arti nama itu, sayang."


Enda melirik pada sang ayah, seolah meminta izin untuk menjawab pertanyaan Zafirah.


"Ibu ustadzah bertanya yang baik kok, Enda jawab dengan sopan ya," ujar Ben mengerti dengan tatapan Enda.


"Kata ayah, artinya raja gunung yang rajin beribadah. Tapi Enda bukan raja ya, Enda hanya manusia biasa saja. Itu hanya nama saja ibu ustadzah."


"Oh begitukah," Masya Allah, Zafirah sangat ingin mencubit pipi bocah laki-laki itu. Selain tampan, dia juga sopan dan menggemaskan, tidak salah jika bocah ini berhasil merebut perhatian Jena pada awal pertemuan mereka. Ah! sepertinya bukan hanya Jena, Zafirah pun sama.


"Maaf sebelumnya pak, pada biodatanya nak Enda masih mempunyai ibu ya."


"Iya pak ustadz, Alhamdulillah dia masih punya orang tua yang lengkap," sahut Ben begitu ramah. Menyinggung perihal Andara, bukan suatu hal baru bagi dirinya. Urusan sang putra kerap menimbulkan pertanyaan tentang keberadaan sang mantan istri. Dan dengan santainya Ben mengungkapkan keberadaan Andara yang telah bersuami lagi.


"Jadi, jika ada keperluan pihak sekolah cukup menghubungi nomor saya saja," ujar Ben usai memperjelas segalanya.


Merasa tak enak hati"Iya pak Khair , maaf sebelumnya, kami menanyakan hal itu hanya ingin memastikan kewalian anakda Enda, sebab di sekolah ini anak yang telah kehilangan ibu atau ayah, atau keduanya, mendapat keistimewaan tersendiri."


Mengangguk, Ben mengerti tentang adanya perlakuan istimewa bagi anak yatim-piatu di sekolah itu. Cukup jelas, dan hal itu tidak sedikitpun menyinggung perasaan Ben.


Usai mengurusi segalanya, tibalah saatnya Ben dan Enda meninggalkan tempat menimba ilmu yang baru untuk Enda. Dan saat hendak menyalakan motornya, Ben di buat terkejut setelah beradu pandang dengan seseorang.


"Paman Bahi?," ujarnya dengan alis berkerut.


Senyum pria tua itu merekah sangat lebar"Khair abdullah??."


"Iya paman," seru Ben segera turun dari motornya. Menyongsong sahabat mendiang ayahnya yang menggiring keluarganya masuk ke dalam agama Islam.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2