
Tanpa menunggu waktu yang lama, Salman segera bertindak. Bukti valid yang Jena miliki sangat mampu memporak porandakan karir yang di rintis Tiara dengan cara curang. Sebuah berita terbaru dengan judul "Gadis_pena, sang pencuri handal".
Dalam hitungan jam, beranda akun menulisnya di serang netizen, cacian dan makian mendarat dengan indah di kolom komentar, sebuah maha karya para netizen dalam hal hujat menghujat. Para penulis lain turut bersimpati atas bencana yang sedang menimpa gadis_pena.
Satu persatu pengikut setia di laman menulis itu meninggalkannya, dan bukan hanya itu. Gadis_pena harus membayar kerugian kepada admin, selain karya miliknya terbukti plagiarisme, karya yang sedang dia kerjakan berhenti di tengah jalan.
Namun, entah bagaimana cara sang Gadis_pena bersembunyi, profil dirinya sangat jauh dari jangkauan awak media. Hingga tidak satu pun identitas dirinya dapat terkuak.
Kehadiran Dewa membuat Jelita berjengkit "Ibu kan yang melindungi Tiara?".
"Kenapa? kau tidak terima?, istri mu sedang berduka, tentu saja aku tidak bisa hanya berdiam diri", sahutnya mengusap wajah, dirinya baru saja kehilangan uang dalam nominal tidak sedikit.
"Tapi, Tiara terbukti bersalah bu".
"Semua sudah teratasi, ibu sudah membayar kerugian yang di sebabkan Tiara kepada wadah menulis itu. Cih! hanya platform kecil saja, mereka mengancam akan mengungkapkan identitas Tiara jika tidak mengganti rugi", terdengar wanita paruh baya itu melengos kesal.
Kedua alis Dewa menukik naik, jelas dia tidak senang atas sikap sang ibu "Tidak seharusnya ibu melakukan hal itu, dia telah mencuri karya orang lain".
"Ibu tahu, sangat tahu. Ibu juga tahu siapa pemilik asli karya itu".
Dewa menatap Jelita tajam "Jadi, dari awal ibu sudah tahu bahwa itu karya Jena?".
"Tentu saja, wanita tidak berguna itu sangat tidak pantas menjadi seorang penulis".
"Ibu!!", pria ini tidak habis pikir, kesalahan apa yang telah Jena perbuata, hingga sang ibu sangat benci kepadanya. Seingat Dewa, Jena adalah menantu yang sangat baik saat masih menjadi istrinya.
Berkacak pinggang, Jelita bangkit dari duduknya "Apa??! jadi sekarang kau sudah berani meninggikan suara di hadapan ibu? apa bagusnya Jena si wanita mandul itu? kau seharusnya lebih memperhatikan Tiara, dia pasti sedang berduka sekarang".
"Berhenti memanggil Jena seperti itu".
"Berhentilah memikirkan Jena, jika kau ingin ibu berhenti memanggilnya seperti itu", sambar Jelita.
Dewa tidak mampu berkata-kata lagi, Jelita selalu saja begitu, memandang Jena dengan sebelah mata. Jelita tidak tahu betapa anak lelakinya ini sangat terluka atas perpisahan mereka, bagaimana anak lelakinya ini mencoba menerima Tiara untuk mengisi hatinya.
Hanya sekali, Dewa sangat menyesali satu kali kesalahan yang dia perbuat di masa lalu, hingga mengaramkan biduk rumah tangganya bersama Jena. Dan sialnya, hanya satu kali mereka berlabuh dalam kenikmatan sesaat, Tiara di nyatakan hamil. Mengingat itu sungguh Dewa sangat ingin membenamkan diri ke dasar bumi, seandainya waktu dapat di putar kembali.
__ADS_1
Di sudut kamar nan gelap, Tiara terduduk lesu dengan derai air mata. Beginikah impian indahnya berakhir? Tiara harus rela akun dengan nama Gadis_pena itu di hapus. Dan di saat seperti ini, Dewa tidak hadir di dekatnya.
Sembari terisak tangis, Tiara menghubungi seseorang "Aku ingin dia menghilang dari muka bumi ini"
"Ada apa Tiara sayang? aku sedang bersama istirku?".
"Aku ingin wanita itu menghilang dari dunia ini! kehadirannya di muka bumi sangat menggangu ku", ketus Tiara.
"Jena lagi??".
"Kau pikir ada manusia lain yang bisa membuatku kesal setengah mati??".
"Cobalah untuk tenang sayang, aku bisa memelukmu jika memang sedang bersamamu. Sekarang aku ada di rumah, istri ku sedang menunggu di meja makan".
Helaan napas berat terdengar di ujung telepon "Jika kau juga tidak bisa bersamaku sekarang, lantas, kepada siapa aku bersandar? karirku hancur, suamiku tidak perduli kepadaku, bahkan engkau yang selalu ada untuk ku, di saat seperti ini kau pun___", suara itu terhenti, berganti isak tangis yang membuat pria itu terenyuh.
"Mari kita bertemu di tempat biasa".
Wajah sendu Tiara berubah sedikit ceria "Benarkah, apa kau benar-benar bisa menemaniku saat ini?.
Terdengar knal pintu di putar, tanpa permisi Tiara memutus panggilan itu. Sembari mengusap air mata, wanita itu menoleh pada pintu yang kini telah terbuka. Di muara pintu, pria tinggi itu menatapnya datar.
"Sayang", ujar Tiara bergetar.
"Apa yang kau tangisi? bukankah kebenaran itu menyelamatkan engkau dari api neraka?".
Sakit! segumpal darah yang di sebut hati itu terasa sakit sekali. Dia tahu betul Dewa yang sekarang sangat pemarah, tapi, bukankah seharusnya dia menenangkan istrinya yang sedang menangis ini? ada apa dengan perkataan setajam sembilu itu?.
"Sejauh apa kerjasama kau dan ibu menutupi masalah mu?", sepasang mata itu kembali menatapnya datar.
Mencoba bangkit dari duduknya, bersusah payah wanita itu berdiri, namun tidak selangkah pun Dewa mendekat untuk sekedar meraih jemarinya.
"Dewa sayang, ibu melakukan hal itu demi melindungi ku, demi cucu yang sedang ku kandung. Apa jadinya jika statusku terungkap? keluarga kita terancam menanggung malu".
Seringai tawa Dewa membuat hati Tiara kembali tersakiti "Kau, sangat tidak tahu malu Tiara. Kau mencuri karya sahabatmu, ketika kau di nyatakan bersalah, mengapa kau masih berkulit tebal? kau sebagai pelaku, bukan korban. Aib yang hampir saja mencoreng keluarga kami karena ulahmu!".
__ADS_1
Dan, kata-kata itu sungguh membuat hatinya berdarah "Mas Dewa, apa sekarang kau membenciku?".
"Mas? sejak kapan kau memanggilku dengan sebutan itu? sangat menggelikan Tiara, jangan gunakan panggilan itu lagi".
"Mas Dewa!!".
"Tiara!" suara itu sedikit meninggi "Jika bertanya tentang benci, rasa benci itu mulai berkecambah dalam hatiku. Tak henti-hentinya kau menyakiti Jena...", Dewa menjeda sejenak.
"Lagi-lagi Jena, kenapa wanita itu terus mengusik hidupku!? apa hanya dia wanita tercantik yang engkau temui?", nampak gusar, namun emosi itu membuat Dewa semakin merasakan benci terhadap Tiara.
"Hei!! sadarkan dirimu, kau yang mengusik kehidupan Jena. Apa kau tidak pernah berkaca?", Dewa menarik paksa tubuh Tiara ke hadapan cermin.
"Lihatlah, kau wanita yang sangat cantik, kenapa kau selalu iri dengan kecantikannya? Kau juga berbakat menjadi penulis, lantas, kenapa kau merebut karya sahabatmu?".
"Terus saja kau menyalahkanku. Aku sadar, kesalahan terindah yang kita lakukan bersama telah menghancurkan kapal impian kalian, tapi apa kau lupa? aku tidak meraih kenikmatan itu sendiri? kita bercinta dan menikmatinya bersama".
Kejadian itu kembali berkelebat dalam ingatan Dewa, dadanya semakin sesak. Rasa bersalah kembali meraja dalam dirinya, menguras segala energi hingga tidak mampu lagi untuk berdebat.
Tangannya menepis pegangan Tiara "Kau sangat keras kepala, terserah apa yang akan kau lakukan", Dewa hanya berusaha menyadarkan Tiara akan kesalahannya, namun wanita itu membuka kesalahan fatal yang pernah dia lakukan di masa lalu.
"Mas Dewa".
"Sudah ku katakan jangan panggil aku dengan sebutan itu", ujarnya berbalik sekilas.
"Kenapa?".
"Cukup Tiara, kepalaku hampir meledak. Aku tahu kau dan ibu sangat dekat, pergilah kepada ibuku, tumpahkan segala keluh kesahmu, aku tidak bisa sekedar meminjamkan bahu untuk kau sandari. Aku sangat lelah berada di posisi ini".
Langkah gontai membawa Dewa menghilang dari balik pintu, meninggalkan Tiara yang semakin merasa kesepian.
"Jenaira, sampai kapan kau membayangi hidupku", desisnya kembali berlinang air mata.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1