
Kabar dari Agam, sungguh menyenangkan bagi Arabella. Dirinya cukup tahu tentang kehidupan menantunya itu di masa lalu, sempat di cap sebagai wanita mandul. Namun, jika berharap banyak takut mengecewakan, tidak ada salahnya berharap sedikit bukan.
Memesan pencok buah, dengan sambal kacang super pedas, juga dengan bumbu kacang yang tidak pedas, Arabella sengaja membawa makanan itu ke kediaman pantai.
Kehadiran wanita lembut dan humoris itu jelas di sambut hangat oleh Jena, sejatinya sikap dan kebaikan Arabella berbanding terbalik dengan sikap Adila. Jena akan menekuk wajah saat berjumpa dengan sang ibu kandung, namun akan tersenyum manis saat bertemu sang ibu mertua.
"Bunda," seru Jena saat sang ibu mertua yang manis itu turun dari mobil.
"Jena sayang," tukasnya sembari mengusap pucuk kepala Jena, saat wanita itu mencium punggung tangannya dengan takzim.
Fokus Jena langsung tersita kepada benda yang di bawa Arabella, sebuah rantang Tupperware tingkat dua"Bunda, apa itu?," ujarnya. Sungguh, sikap Jena tidak ada jaim-jaim nya di depan Arabella, terlebih rasa penasaran akan rasa suatu hidangan kerap singgah pada dirinya akhir-akhir ini.
Menarik Jena dan duduk bersama pada salah satu meja di halaman cafe"Jeng-jeng!!!," seru Arabella membuka rantang itu tepat di hadapan Jena.
Kedua mata sang menantu langsung berbinar"Bundaaaaa, kelihatannya segar sekali!," ah! air liurnya hampir menetes, sangat tergiur ingin segera mencicipi pencok buah yang di bawa Arabella.
Agam yang melihat interaksi mereka dari dalam cafe, mendapat senyum manis serta anggukan kepala dari sang bunda. Pria itu segera menghampiri mereka"Pencok?? Agam tidak suka yang masam-masam, bunda."
"Ini untukku," Jena menarik mangkok itu, seolah takut hidangan itu harus di bagi bersama sang suami.
"Sejak kapan kau suka buah-buahan masam? yang ku tahu, kau hanya menyukai jeruk masam saja, sayang."
"Sejak hari ini," tersenyum manis, Jena bagai seorang bocah yang mendapat hadiah begitu banyak di hari ulang tahunnya.
"Jika kau tidak suka, maka pergilah. Bunda ingin menyuapi menantu cantik ini."
Wajah sang putra berubah sedih, kedua alisnya turun seperti anak gukguk yang di buang majikan"Bunda, sekarang kau hanya menyukai Jena?."
"Ya! kau tahu bukan kedatanganku ke sini memang untuk nya."
Kening sang putra semakin di buat berkerut"Bunda! kau berubah. Padahal bagiku kau tetapkah bunda yang manis dan cantik, juga lembut dan anggun."
Arabella menepuk pundak Agam"Hei! hei! hentikan ocehan manismu. Kau ini, selalu saja berkata-kata manis kepada bunda, apakah kau juga seperti ini terhadap Jenaku."
"Jenaku?? dia Jenaku, bunda!."
"Ayolah! kau bahkan cemburu kepada istrimu sendiri? katakan! apakah kau selalu bersikap manis terhadap menantu cantik ku ini??," sentuhan lembut Jena rasakan di pucuk kepalanya, Arabella mengusap rambutnya.
"Dia wanita tersayangku, bunda. Tentu saja aku selalu bersikap baik dan manis kepadanya," ujarnya lagi, sembari menyentil ujung hidung Jena.
Wanita itu nampak mengusap hidungnya, dan kembali menikmati pencok itu tanpa banyak bicara.
__ADS_1
"Benarkah itu, sayang?."
Jena mengangguk, dengan senyuman lebar menanggapi pertanyaan Arabella.
"Baguslah, dan jika dia bersikap kasar, kau boleh menjambak rambutnya, atau bahkan membuat kepalanya botak."
Agam memegangi rambut lebatnya"Bund, itu bukan saran yang baik. Jangan ajari Jenaku untuk berbuat jahat."
Tingkah laku Agam, membuat Arabella tidak tahan untuk tidak mengusap rambutnya juga, seperti yang dia lakukan terhadap Jena"Agamku sayang, teruslah menjadi lelaki yang baik, sayangi dan jaga istrimu dengan sepenuh hati."
Merasa kembali di perhatikan, Agam pun akhirnya tersenyum, hingga terlihatlah sepasang lesung pipi di kedua pipi. Pria ini semakin tampan ketika tersenyum, membuat berpasang mata wanita yang berada di cafe itu terpana. Ck! sayangnya dia sudah ada yang punya, dan melihat pasangannya, cukup memukul langkah para wanita itu untuk mundur secara teratur, kecantikan Jena membuat mereka kecil hati.
Beberapa saat mengobrol, pencok yang di bawakan Arabella telah habis tak tersisa. Agam cukup terkejut, bahkan bumbu manis dan sambal kacang pedas itu pun tidak tersisa jua.
"Terimakasih, bunda," ujar Jena dengan dua bola mata bak bulan sabit, tersenyum lebar.
"Sama-sama sayang. Bunda mau bertanya, boleh?."
Jena pun mengangguk.
"Kapan terakhir kali kau datang bulan?."
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Arabella, membuat Jena dan Agam selain berpandangan.
"Apa kau kerap merasakan mual? di pagi hari misalnya?," alih-alih menjawab, Arabella kembali bertanya kepada Jena.
Bola mata Jena berputar ke kini dan ke kanan"Tidak, aku baik-baik saja."
"Apa ada sesuatu yang tidak kau sukai akhir-akhir ini?."
"Daripada yang tidak dia sukai, dirinya justru mendadak menyukai sesuatu yang aneh, bunda," kali ini, Agam yang menjawab.
Kedua alis bunda terangkat naik, seolah bertanya benda apa yang Jena sukai itu.
"Masakan Kanaya! rasanya aneh! dan dia sangat menyukainya sekarang," celoteh Agam lagi.
Jena mencubit paha Agam di bawah sana"Bukan aneh! kau saja yang aneh mas, masakannya sungguh enak."
Dan Agam memandang Arabella, meyakinkan"Lihatlah bunda, aku bahkan tidak boleh mencela rasa dari masakan itu."
Tingkah anak dan menantunya, membuat Arabella tersenyum, senang karena mereka hidup rukun. Meksi di awal pernikahan masih belum ada cinta yang bersambutan, namun sekarang terlihat jelas betapa dua insan ini sangat saling menyayangi dan mencintai.
__ADS_1
"Jenaira, bagaimana jika kau di nyatakan hamil?."
Baik Jena, atau pun Agam, masing-masing dari mereka langsung terdiam. Namun kemudian Jena terkekeh"Bunda, aku wanita yang tidak bisa mengandung."
"Kata siapa?," tanya Arabella menatap Jena lekat-lekat.
Jena tidak bisa memberikan jawaban pasti, sebab dirinya memang tidak pernah berkonsultasi langsung kepada dokter kandungan. Predikat wanita mandul yang di berikan Jelita, menjadi keyakinan yang tak terbantahkan di dalam diri Jena, bahwa dirinya mandul.
Diamnya Jena, membuat Arabella kembali berucap"Mari kita coba ke dokter kandungan."
Jena segera menggelengkan kepala, dirinya sangat takut membuat semua orang kecewa, sebab dirinya sangat yakin akan kekurangan pada dirinya sendiri.
Wajah panik Jena, nampak berkurang setelah Agam menggenggam erat jemari sang istri. Juga usapan lembut pada lengannya.
"Tidak perlu bunda, dari awal Agam sudah katakan, Agam tidak mempermasalahkan keturunan."
"Bunda pun begitu, tapi Jena menunjukan ciri-ciri wanita hamil, nak," penuh harap, Arabella menatap mereka berdua bergantian.
"Bunda hanya ingin memastikan, sayang," kali ini sorot matanya tertuju kepada Jena.
Jena masih tidak bisa berkata-kata, ketakutan itu datang lagi, kejadian dirinya di ceraikan dahulu teringat kembali. Wanita itu kini tertunduk, tidak kuasa beradu pandang dengan Arabella yang menyiratkan keinginan untuk menimang cucu.
"Bunda, Agam mohon. Kami cukup bahagia berdua," bukan hanya Jena yang cemas, Agam pun mulai merasa resah, dia sangat tidak ingin menyakiti perasaan istrinya.
"Jenaira," panggil Arabella.
Namun ,Jena tak jua bersuara.
"Jenaira, sayang lihat bunda," pintanya.
"Tidak perlu, Jena," Agam menarik Jena ke dalam pelukan, saat wanita itu nampak gemetar mengangkat pandangan.
"Agam minta maaf bunda, Agam mohon jangan memaksa Jena," penuh harap, Agam menatap lekat sang bunda, meminta agar tak perlu memaksa Jena pergi ke dokter kandungan.
Arabella diam, dirinya pun cemas melihat keadaan Jena. Apalagi saat melihat tangan menantunya mulai bergetar, hatinya sungguh terasa sakit.
Mengambil duduk lebih dekat dengan Jena, Arabella menggeram jemari sang menantu erat-erat"Sayang, maafkan bunda. Baiklah jika kau menolak, bunda tidak akan memaksamu. Namun, bunda hanya ingin kamu tahu, seperti apapun dirimu, bunda tidak akan pernah meninggalkan mu."
Ucapan Arabella menggetarkan hati Jena, namun rasa takut kehilangan masih memeluknya dengan erat.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗 🤗