
Pertemuan yang di inginkan Jake, akhirnya terlaksana jua. Alih-alih di jemput, setelah pergulatan batin yang pelik, Arkan datang dengan kemauan sendiri menemui pria itu.
Saling bertatap muka di lantai paling atas bangunan tua, dengan penjagaan yang ketat, suasana itu seolah membawa Arkan pada kehidupan di masa lalu.
"Katakan, hal apa yang membuatmu datang kembali dalam kehidupanku," tanpa basa-basi, baru saja mendudukan diri di kursi itu, Arkan langsung melontarkan tanya kepada Jake.
Pria yang kerap mengenakan kacamata hitam entah siang ataupun malam, kali ini tak mengenakan aksesoris itu. Menampilkan guratan wajah yang...sangat jelas sedang tidak baik-baik saja.
"Kau, apa tidak ingin bertanya tentang kabarku dahulu," tukas Jake mengulurkan pipa rokok berbahan kayu gaharu pada salah satu pengawalnya. Dengan segera, sang pengawal memantik api untuk menyalakan rokok bos besarnya.
Meniup asap itu ke hadapan, membuat Arkan melengos demi mengusir sesak karena ulah Jake"Katakan, aku sedang sibuk."
"Aku tahu, sangat tahu. Tapi, kau tetap harus menolongku."
Kening pria itu di buat menyerngit, seorang Jake meminta pertolongan kepadanya?? hei!! yang benar saja!.
"Aku sungguh memerlukan pertolongan mu, Arkan," ujar Jake, tatapan sangsi pria di hadapannya membuat Jake kembali mengutarakan keinginannya.
Meski sempat ragu, Arkan menenggak minumam berwarna merah yang tersedia di gelas cembung bertangkai"Csshh!," rasa pahit itu telah lama tak dia rasakan. Dirinya merasa sudah tidak bisa lagi menerima minuman itu, meletakannya kembali dan menatap dalam ke wajah Jake.
"Hal apa yang membuatmu meminta pertolongan ku?," tanyanya.
"Jaga adikku."
Arkan terdiam. Teringat gadis kecil itu, malaikat kecil yang menariknya keluar dari muara pintu kematian"Nona Lisa?."
"Ya, aku hanya meminta kau untuk menjaganya," ujar Jake sembari mengangguk. Namun, sorot matanya terlihat sendu, nampak jelas ada sebuah kesedihan yang tengah dia rasakan.
"Dia masih punya kau, untuk apa aku harus menjaganya? kau sudah tahu bukan, aku sudah punya dua saudara.
"Menambah satu saudara lagi, bukan hal yang sulit bukan?," tandas Jake.
"Aku mohon," sambungnya dengan tatapan menghiba.
Arkan menelan saliva, sangat berat. Hal apa yang membuat seorang Jake sampai memohon kepadanya?"Setidaknya, kau harus memberikan alasan mengapa aku harus merawat nona Lisa."
Jake lantas bercerita, dan betapa terkejutnya Arkan. Orang yang dahulu mencelakainya, bahkan telah mati di tangan anak buah mereka, kini para komplotannya sedang mencari keberadaan Jake, juga Lisa.
Memandangi Jake dengan tatapan sangsi, suatu hal lucu saat mendengar Jake berusaha menghindari komplotan itu. Dirinya bukan pendatang baru di dunia kelam itu, bahkan namanya sudah terkenal bahkan sampai ke seluruh penjuru, juga pengikut yang menjamur di mana-mana. Memikirkan hal itu, membuat Arkan tertawa geli.
Tak ayal, gelak tawa Arkan pun pecah. Pria itu sampai menutup mulutnya demi meredakan tawa yang kian menggema.
Sementara Jake, pria itu tersenyum tipis. Mungkin, apa yang sedang di pikirkan Arkan juga sedang bersarang dalam benaknya. Namun, apa yang di katakannya benar adanya.
"Aku benar-benar akan menghindari komplotan itu," ujarnya menahan pengawal yang hendak memberikan pelajaran kepada Arkan, berani-beraninya mentertawakan Jake yang telah merawatnya saat di ambang kematian.
Arkan menatap sekilas pada pengawal itu, lantas kembali berucap kepada Jake"Katakan padaku, mengapa seorang raja rimba di hadapanku ini mengelak untuk bertemu segerombolan kucing hutan?."
Menyeringai sembari membuang muka, pria itu membuka topi berbentuk bundar yang sedari tadi menutupi kepalanya"Lihatlah, rambutku sudah mulai memutih."
"Hahaha, jadi, kau tak ingin berkelahi karena kau sudah tua?."
"Yak! jaga ucapanmu?," sentak sang pengawal. Bagaimana tidak, Jake masih tergolong muda. Usianya tak terpaut jauh dari Arkan. Mengenai rambut yang mulai memutih itu, tidak semua orang yang sudah tumbuh huban dapat di katakan tua, bukan?? seperti mbak author misalnya 😅😅😅.
__ADS_1
"Sebentar," ujar Arkan. Pria itu memijat pangkal hidungnya, berpikir sejenak kemudian mengangkat wajah kembali"Bram! aku ingat namamu Bram bukan?."
Pertanyaan Arkan di jawab dengan anggukan oleh pengawal bernama Bram itu.
"Apa kau percaya seorang Jake memilih melarikan diri, alih-alih berbalik arah dan membantai habis komplotan itu? kau tahu bukan, dia bagai seorang singa bersurai lebat di dunia mafia, dan para musuh itu....mereka tak lebih dari segerombolan kucing hutan yang menggemaskan."
"Aku mempercayai hal itu," jawab Bram lugas.
"Kenapa?."
"Sebab, bos Jake tidak menyukai pertikaian."
Arkan kembali di buat tertawa. Sangat tidak masuk di akal, Jake yang tak segan-segan menghabisi musuhnya, Jake yang tak ragu menghunus pisau ke tubuh musuhnya, bahkan kepada seorang kakek tua sekalipun. Masih segar dalam ingatan Arkan, saat Jake menyumpal mulut seorang anak muda yang menjadi tawanan mereka dengan barang haram. Membuat anak muda itu overdosis, dia bahkan tertawa renyah saat anak muda itu kejang-kejang hingga akhirnya tewas mengenaskan. Jelas saja jawaban yang di lontarkan Bram tak membuat Arkan lantas percaya"Aku mohon, hentikan lelucon kalian," ujarnya mulai jengah.
Jake tak perduli dengan ocehan Arkan, dia lantas memberi kode kepada pengawal yang lain. Kemudian pengawal itu memberikan beberapa foto kepada Arkan.
"Itu Lisa," ujar Jake seolah mengerti dengan tatapan penuh tanya Arkan.
Berpakaian seksi, dandanan modis, gambaran Lisa sekarang sangat jauh dengan dirinya dahulu, saat Arkan masih bergabung bersama komplotan Jake.
Lagi, pengawal tadi menyusun beberapa foto ke hadapan Arkan. Kali ini Arkan merasa tidak asing dengan gadis di dalam foto itu.
Pakaian rapi dan sopan, juga mengenakan kacamata minus berbingkai hitam nan besar. Tidak salah lagi, dia adalah gadis yang beberapa waktu lalu begitu gencar mendekati dirinya di kantor.
"Apa lagi ini?," tanyanya kepada Jake.
"Itu juga Lisa."
Seketika kedua bola mata Arkan membulat. Mensejajarkan dua foto berbeda penampilan itu, kemudian memandanginya lekat-lekat. Ya! mereka orang yang sama, namun berbeda versi saja"Yang aku tahu, gadis ini bernama Melisa," ujarnya mengetuk foto Lisa dalam versi cupu.
"Lisa," lirih Arkan. Kini dia tahu siapa gadis yang selalu berusaha mendekatinya itu. Dialah malaikat kecil yang dahulu menyelamatkan dirinya. Tidak di sangka, dia sudah menjelma menjadi wanita dewasa sekarang.
"Besok aku akan pergi keluar negeri, segala urusan di sini aku serahkan kepada Anderson. Yah...katakan saja aku mewariskan kepemimpinan ini kepada Anderson. Dan masalah Melisa, aku menyerahkannya kepadamu."
"Mudah sekali kau berbicara, kau pikir adikmu anak kucing, dan aku tempat penitipan kucing?."
Sangat tidak di sangka, Jake bahkan menangkupkan kedua telapak tangan kepada Arkan"Hanya kau yang bisa menolongku. Aku tidak ingin dia hidup dalam dunia kelam, aku mohon."
Arkan menggaruk tengkuknya, tidak gatal! hanya saja melakukan hal itu seolah mengurangi beban pikirannya.
"Kau tidak perlu memikirkan masalah uang."
"Bukan masalah uang!!!," sentak Arkan memutus kata-kata Jake.
"Hal ini sangat sulit untuk ku terima," berwajah masam. Arkan sangat berharap Jake menarik kembali permintaan mustahilnya.
"Pelan-pelan saja, lambat laun kau akan bisa menerima keadaan ini," ujar Jake tanpa beban.
"Ash!!! kepalaku berdenyut. Kau.... sangat pemaksa Jake!!!," pekik Arkan memegangi kepalanya.
...💮💮💮💮...
Tepian pantai mendadak ramai saat malam menjelang. Sebuah pameran tengah di adakan di tempat itu. Para pengunjung yang biasanya hanya ramai di saat siang, malam ini terlihat begitu ramai memadati jalanan beraspal. Mereka memarkir kendaraan di muara gerbang menuju pantai, kemudian memilih berjalan kaki untuk menikmati pameran. Stan-stan makanan ringan menjadi tujuan utama pada malam itu, cemilan-cemilan khas masyarakat sekitar begitu banyak tersaji, dengan harga yang tergolong murah. Hampir semua stan menjual menu makanan berbahan dasar ikan-ikanan, kerang, udang, bahkan ada yang menjual sop belangkas.
__ADS_1
Bukan hanya stan makanan juga minuman, bermacam ragam hiburan untuk dewasa dan anak-anak juga tersaji di sana.
"Kau mau hadiah yang mana?," tanya Agam saat melewati stan lempar gelang.
Mengingat betapa sulitnya Agam mendapatkan boneka lumba-lumba dari mesin capit, Jena menggeleng menanggapi pertanyaan suaminya.
"Kenapa? bukankah kau menyukai permainan berhadiah seperti ini," ujarnya menahan langkah Jena yang hendak berlalu dari tempat itu.
"Tidak jika harus membayar banyak, seperti boneka lumba-lumba."
Jawaban Jena membuat Agam tertawa. Wajah tampan pria itu menyita perhatian para pengunjung pameran. Juga abang-abang penjaga stan lempar gelang, yang merupakan warga sekitaran pantai juga.
"Ayo, ajak main lempar gelang mbak Jena nya," ujarnya menoel lengan Agam. Untung saja dia laki-laki, Agam yang kaget karena di toel tidak jadi marah.
Pria itu mengusap lengannya pelan"Mau main lempar gelang itu?," setengah berbisik, usai melempar senyuman canggung pada abang penjaga stan, Agam lekas mendekati Jena sekaligus menjaga jarak dengan orang itu.
"Tidak! aku lebih tertarik dengan stan di sana?," tunjuk Jena pada stan melukis di seberang stan lempar gelang.
Agam, melihat ke arah itu sembari menarik napas panjang"Istriku sayang, itu tempat anak kecil melukis. Lihatlah, kursinya pun kecil begitu."
Tak perduli dengan ocehan Agam, Jena menarik lengan pria itu ke tempat melukis. Mendudukan dirinya yang mungil pada kursi yang di katakan kecil oleh Agam"Lihat, aku bisa duduk di sini, berarti ini bukan tempat melukis untuk anak kecil saja."
"Tapi, semua yang melukis di sini hanya anak kecil," ujarnya menyapukan pandangan pada sekitar. Jena pun mengikuti arahan Agam untuk melihat ke sekitar mereka.
"Kenapa kau perduli tentang hal itu? bukankah kau katakan akan menuruti segala keinginanku?," wajah cantik itu tertekuk, Jena punya jurus jitu untuk merayu suaminya.
Dan benar saja, wajah sedih sang istri membuat Agam menarik kursi di depan bingkai melukis. Mengambil duduk berdekatan dengan Jena, kemudian menarik kuas berukuran mini untuk memulai ritual melukisnya"Tersenyumlah, aku akan menemanimu melukis," meski terbilang kecil, nyatanya kursi itu masih bisa di duduki orang dewasa.
"Abang, kalian sudah dewasa, untuk apa melukis bersama kami?," celoteh seorang anak kecil.
"Abang sedang menemani adik cantik ini melukis."
Jena mendelik, adik?? Agam memanggilnya adik?
"Oh, jadi abang menemani kakak kecil ini. Baiklah, semangat melukisnya ya," ujar sang bocah sembari tersenyum riang.
Jena menyikut perut Agam"Adik?? aku lebih tua darimu?."
"Syuuuttt," Agam meletakan jari telunjuknya di depan bibir, meminta Jena untuk menurunkan nada bicaranya.
"Jangan berisik, bocah-bocah itu sedang fokus dengan lukisan mereka. Kau tidak mau di usir karena mengganggu ketenangan mereka, bukan?."
"Berisik???," lagi-lagi Jena bersuara dengan nada protes, namun kali ini sedikit tertahan sebab sang bocah melirik sekilas padanya.
"Baiklah kak Jena yang cantik, mari kita melukis saja," bisiknya meredam ocehan Jena. Hal itu membuat Jena tersenyum kecil, dasar lelaki bermulut manis.
Agam mengubah duduknya, meletakan kursi kecil itu di belakang kursi Jena. Duduk di sana sembari memeluk sang istri dari belakang, jemari mereka bersamaan menaburkan lem dan gliter di atas kanvas.
"Yaaa....pasangan itu membuat hati iri saja," desis Gibran yang melintasi stan itu.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1