
Keinginan Jena ternyata bukan main-main belaka, dirinya benar-benar menginginkan masakan yang di olah oleh Kanaya, tentu dengan resep yang asal masuk saja.
"Katakan dulu, bahwa aku pria tertampan di kediaman ini!," dasar Gibran! setelah Jena mengutarakan maksud sang hati, lekas saja dirinya meminta sebuah pujian dari sang kakak galak itu.
"Seluruh dunia bahkan sudah mengatakan kau itu tampan, hal apa lagi yang kau inginkan!?," sentak Jena saat di minta memuji ketampanan sang adik.
"Aku yakin, akan lain rasanya jika kau yang memujiku, kak Jena yang manis," senyuman lebar, dengan memamerkan gigi kelinci yang putih, Gibran memang tampan tapi Jena enggan mengatakannya.
"Ya sudah, aku tidak memaksa. Tapi lupakan saja masakan wanita tersayangku."
"Bruk!," Gibran kembali menjatuhkan diri ke tempat tidur, membuat Jena geram dan segera menarik paksa tubuhnya. Ckckck apalah daya, Jena yang kecil menarik tubuh Gibran yang besar, sungguh tidak membuahkan hasil.
Wanita itu semakin kesal, saat Gibran menyeringai melihatnya begitu tak berdaya menariknya.
"Hais! kau ini!," menghentak kaki seperti bocah kecil yang merajuk, Jena mendengus sebelum pergi dari kamar Gibran.
Dan, kekesalan itu semakin menjadi, saat langkah perginya di iringi tawa renyah Gibran.
"Mas Agaaaammmmm," pekiknya mengadu kepada sang suami.
Agam yang kala itu sedang menemani Khair menata kursi di halaman cafe di buat terkejut, lagi-lagi sikap Jena seperti anak kecil.
"Kenapa?? hemm, kenapa sayang?," ujarnya segera menarik sang istri yang sedang menutupi wajahnya, terasa malu telah bertingkah kekanak-kanakan di hadapan Khair.
"Bantu aku membujuk Gibran, agar membawakan masakan Kanaya untukku."
Kedua mata Agam berkedip cepat, di pandanginya sang istri lebih seksama.
"Kenapa hanya memandangiku! lekas buat dia pergi untuk menemui Kanaya! aku sudah lapar," rengek Jena sembari menggoyang-goyangkan lengan Agam, yang sedari tadi dia genggam erat.
"Ada apa denganmu, sayang? kau sangat berselera dengan masakan Kanaya, kita semua tahu masakannya sangat tidak bercita rasa."
"Enak sayang! cepat atau lambat Kanaya pasti akan peka dengan rasa masakannya yang tidak tentu arah, dan kemarin saat aku merasakan masakannya, itu sangat nikmat sekali."
__ADS_1
Ocehan Jena membuat Agam menyerngitkan kening, jelas-jelas masakan Kanaya masih sama seperti biasanya"Sayang....," ucapnya pelan.
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Lekas bujuk Gibran untuk membawakan masakan Kanaya, atau Kanaya saja yang di bawa kemari, Agam kau bisa belajar memasak seperti dirinya."
Sembari mengusap tengkuk yang tidak gatal, Agam terhuyung-huyung di dorong Jena menuju kamar Gibran, untuk membujuknya. Selang beberapa lama, Agam kembali dengan senyuman.
"Sayang, apa salahnya mengatakan Gibran tampan?."
Jena sedang duduk di anak tangga, menatap Agam dengan mulut mengerucut"Dia pasti akan bahagia sekali, jika aku memujinya, mas."
"Jenaira sayang, membuat orang bahagia itu mendapatkan pahala, tidak ada ruginya juga."
"Tapi, dia hanya mengerjaiku mas Agam!," rengek Jena lagi. Dirinya menggerak-gerakkan kaki di anak tangga, ya! memang seperti bocah yang sedang merajuk.
Agam mengambil duduk berdampingan dengan Jena, menarik lengannya dan mengusap punggung tangannya"Sayang, masalah akan selesai jika kau bersedia mengatakan Gibran tampan, hanya itu saja, dan kau akan segera mendapatkan masakan yang di racik oleh Kanaya."
Wajah cantik itu masih tertekuk"Tapi dia menyebalkan, mas."
Agam terkekeh, sebenarnya kalian sama-sama menyebalkan," Agam berhenti sejenak saat Jena meliriknya tajam.
"Katakan, kau ingin makan masakan Kanaya tidak?," tanya Agam mengusap lembut pipi yang tadi sempat dia tarik.
Kedua manik cantik Jena menatapnya"Mau."
"Ya sudah, aku akan menemanimu menemui Gibran."
Dengan terpaksa, Jena mensejajarkan langkah bersama Agam, dengan mengapit lengan sang suami menuju kamar Gibran.
...💐💐💐💐...
"Ibunya Enda ya?," salah seorang wali murid, yang juga sedang menunggui anaknya bersekolah menghampiri Zafirah.
Dengan senyuman, Zafirah membenarkan pertanyaan wanita itu.
__ADS_1
"Baru lihat, kemarin-kemarin kemana aja?."
Zafirah sedikit terkejut, dengan pertanyaan itu"Saya baru menikah dengan ayahnya Enda," jawab Zafirah tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Lantas, wajah wanita itu terlihat sangat terkejut. Dirinya langsung menarik rekannya yang tak jauh darinya, mengajaknya mengobrol lebih dalam bersama Zafirah. Ah! lebih tepatnya menginterogasi.
"Kenapa kau mau menikah dengan ayahnya?," ujar rekan wanita tadi, mengambil duduk di sebelah Zafirah, sementara wanita yang pertama juga berada di sebelah Zafirah juga.
"Ya, karena memang sudah jodohnya," sahut Zafirah lagi. Sejujurnya, posisinya sedikit tidak nyaman, sebab dua wanita itu mengapitnya dengan sangat erat.
"Jodoh ya, hemmm,"mereka berdua saling bertatapan.
"Padahal ayahnya Enda bukan dari kalangan berduit, apa karena dia sangat tampan jadi kau bersedia berjodoh dengannya?," pertanyaan jenis apa ini?? kedua alis Zafirah sampai terangkat naik, karena terkejut mendapat pertanyaan seperti itu.
"Jodoh itu bukan karena rupa," sahutnya usai menenangkan diri dan kembali tersenyum.
"Oh," sahut dua wanita itu kembali saling berpandangan, nampak seringai tawa mengejek di wajah mereka.
Membenarkan duduknya, Zafirah membangun sedikit jarak di antara dua wanita yang mengapitnya itu"Ibu-ibu, saya menikah dengan ayah Enda, bukan karena wajahnya yang tampan. Dia pria yang baik, lemah lembut dan hangat. Meski pun dia bukan dari kalangan berduit, tapi dia pria yang cukup bertanggung jawab."
Penjelasan Zafirah membuat dua wanita itu mengulum bibir, sepertinya mereka salah hendak membully Zafirah.
"Dan yang pasti, suami saya pria yang sangat sopan saat berkata-kata. Terlebih kepada orang yang baru di kenalnya, ibu-ibu," ucapnya seraya bangkit dari duduk, menyongsong Enda yang sudah keluar dari kelas nya untuk beristirahat.
"Ibu-ibu, saya permisi dulu ya. Suami saya seorang koki yang sangat pintar memasak, dan masakannya juga sangat nikmat, berkat dia saya tidak perlu repot-repot memasak lagi. Seperti sekarang, saya hanya tinggal menyuapi anak saya makan, sebab bekalnya sudah di siapkan oleh ayahnya," dan masih dengan senyuman, Zafirah melenggang meninggalkan dua wanita itu yang tertegun menatapnya.
Meninggalkan Zafirah dengan kehidupan barunya, seorang Arkan tengah di buat pusing dengan tingkah laku Melisa. Gadis itu mewanti-wanti kepada Anderson, agar tidak memberi tahu kepada Arkan bahwa dirinya sedang jalan-jalan bersama Aron dan Ryung, namun sendirinya mengabadikan foto jalan-jalan mereka dan mengirimkannya kepada Arkan. Terngiang kejadian yang hampir merenggut nyawa mereka berdua, Arkan sungguh takut hal buruk itu kembali menimpa Melisa.
"Katakan, kalian ada di mana?," tanya Arkan kepada Ryung melalui panggilan telepon.
Sempat terbata, Ryung segera memberi tahukan keberadaan mereka.
Meninggalkan pekerjaan kantor, pria itu segera melesat mendatangi Melisa dan dua pengawalnya. Saat melewati pos satpam, sebuah tayangan di televisi menyita perhatian. Lagi-lagi Tiara menuai buah pahit atas perbuatannya. Wanita itu telah memakai seragam berwarna orange, dengan judul di bawah layar"Membuka arisan bodong, seorang artis pendatang baru telah di ringkus di kediamannya."
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗