
Buntut dari amarah seorang Lisa, gadis itu menjalankan aksi mogok makan. Sungguh, kecintaan terhadap Arkan membuatnya tak akan sanggup menerima pernikahan pria itu dengan wanita lain. Baginya, hal itu hanya sebuah lelucon belaka.
Aksinya tentu saja membuat Arkan khawatir, dirinya baru saja melewati masa-masa kritis, dan tubuhnya sangat membutuhkan asupan nutrisi. Lantas, jika gadis itu selalu menolak segala jenis makanan yang di suguhkan kepadanya, bagaimana tubuhnya akan pulih kembali?
"Prang!!," bahkan saat Arkan hendak menyuapkan bubur hangat kepadanya, Lisa menolak niat baik seorang Arkan.
"Berhenti, aku ingin kalian pergi dari sini," sentak Lisa kepada para pengawal yang akan membereskan mangkuk pecah itu.
"Tapi nona, kami di perintahkan Tuan Jake untuk selalu menjagamu," ujar salah satu pengawal.
Lisa terdiam sejenak, gadis itu nampak memijat pelipisnya"Setidaknya biarkan aku bersama Arkan saja di sini, kalian boleh berjaga di luar pintu."
"Baik nona," dengan patuh, para pengawal itu keluar satu persatu dan menuruti perkataan Melisa.
Sementara Arkan, pria itu memandangi mangkok bubur yang telah pecah, dengan isinya yang berceceran mengotori lantai rumah sakit, kemudian menatap Lisa nanar"Aku sudah lelah membujukmu untuk makan, tak mengapa jika kau marah kepadaku, tapi setidaknya sayangilah dirimu."
"Kau terlihat begitu khawatir kepadaku."
"Tentu saja!," tukas Arkan segera.
"Jika kau mengkhawatirkan diriku, mengapa tak kau tolak saja rencana pernikahan gila itu!," pekiknya putus asa.
Arkan menunduk, teringat sosok Yasir yang menyeretnya dengan susah payah malam itu"Dia menggantikan kita menuju alam kematian, keputusan untuk menggantikan dirinya menikah tidak sebanding dengan nyawanya."
Sungguh, hal itu juga mengusik pikiran Lisa, namun tetap saja, dirinya tidak rela jika Arkan harus menikahi Zafirah"Arkan, tak mengapa jika kau tidak mencintaiku, tak mengapa jika kau tidak bisa aku miliki, tapi jika kau harus menikahinya, aku tidak bisa menerima kenyataan itu," bulir air mata telah jatuh menggenangi pipi Lisa. Mencengkeram ujung piyama yang dia kenakan, Arkan tahu gadis itu teramat sangat tersakiti.
Arkan tak bisa berkata-kata lagi, kerongkongan nya terasa serat, tercekat oleh keresahan yang mendongkol di hati. Zafirah adalah sosok wanita yang baik, dan suatu kebanggaan jika menyandang status sebagai suaminya. Tapi, entah mengapa getar cinta itu tidak terasa, terlebih perasaan rindu yang menggerogoti hati.
Lisa menangis tersedu-sedu, dan Arkan tak mampu sekedar meredakan air mata kepedihan itu. Duduk di tepian ranjang dengan posisi membelakangi Lisa, nampak kegelisan tengah memeluk erat pria tinggi tegap itu. Sementara, semua keluarganya telah setuju dengan rencana pernikahan dirinya dan Zafirah, bahkan dua keluarga telah bertemu. Tapi mengapa sang hati begitu sulit untuk di ajak bekerja sama? begitu juga dengan rasa tersakitinya seorang Melisa, membuat hatinya semakin tidak tenang saja.
"Maaf nona, siapa anda?."
Sosok wanita berkerudung panjang tengah berdiri di depan pintu kamar Lisa"Saya kerabat bang Arkan," ujar Zafirah. Wanita yang tengah mengobati luka hati itu akhirnya setuju untuk menikah dengan Arkan, baginya pria itu juga cukup baik, dan perhatian kepadanya.
Namun, keinginan hati untuk bangkit itu harus terkubur dalam-dalam. Melalui kaca dari pintu kamar rumah sakit, dia menyaksikan Melisa yang menangis tersedu-sedu memeluk tubuh Arkan dari belakang.
"Astaghfirullah, ternyata bang Arkan sudah ada yang memiliki," gumam sang hati yang menahan kepedihan.
"Nona!," panggil salah satu pengawal Melisa.
Wanita itu tersentak"Maaf, anu.... bolehkan saya menitipkan ini untuk bang Arkan," tangannya sedikit bergetar saat memberikan rantang makanan bertingkat dua.
"Baiklah," ujar sang pengawal. Dia bahkan tak menawarkan Zafirah untuk masuk dan mengantarkan benda itu sendiri.
Meninggalkan kamar yang di huni Arkan dan Melisa di rumah sakit, dengan langkah gontai, Zafirah menyusuri taman rumah sakit. Hatinya terasa sangat sesak, dia bahkan tak melakukan aktivitas berat namun tubuhnya terasa sangat lelah. Mengambil duduk pada sebuah kursi di taman itu, sembari menarik napas dan membuangnya perlahan, Zafirah sedang bertikai dengan sebuah rasa yang di sebut ikhlas.
...🥀🥀🥀🥀...
Rencana pembukaan cafe tepi pantai kembali harus di tunda. Awalnya, karena bertepatan dengan hari pernikahan Zafirah dan Yasir maka mereka pun memutuskan untuk mengadakan acara pembukaan itu esok harinya. Namun ketika para manusia telah mengatur rencana yang begitu matang, jalan takdir itu tetap berada di tangan sang maka pencipta. Yasir telah berpulang kepangkuannya, acara pembukaan pun kembali di undur setelah 3 hari kemudian. Namun, lagi-lagi ketentuan sang maha pencipta tidak bisa di rubah sekelompok manusia, karena cincin yang di titipkan Yasir pada Arkan membuat para orang tua memutuskan untuk menyatukan dua insan itu. Tentu dengan persetujuan Zafirah dan Arkan sebelumnya.
Karena adanya rencana pernikahan, pembukaan cafe pantai kembali di tunda, sebab tempat itu akan di gunakan untuk menggelar acara pernikahan Arkan dan Zafirah.
Di ruang tamu nan besar, Gibran tengah sibuk berselancar jemari di atas gawainya. Akun media sosialnya di singgahi banyak followers baru, dan dalam sekejap dirinya menjadi idol dadakan.
"Apa prestasimu? sekarang pengikutmu lebih banyak dari pengikutku," melipat kedua tangan di dada, Jena menatap sosok Gibran dari atas hingga ke bawah.
__ADS_1
Sudut bibir pria itu terangkat naik"Aku tampan, dan itulah prestasiku."
"Kau terdengar begitu bangga, sedangkan aku masih harus mencuci dan menyetrika pakaianmu."
Gibran menatap Jena dengan tawa"Hihihihi, kesepakatan harus tetap berjalan kak Jena, meskipun aku menjadi terkenal karena menggantikan mu menerima trofi itu," jari telunjuknya mengarah kepada sebuah lemari kaca nan besar, tempat di mana trofi-trofi kemenangan Jena di simpan.
"S!alann!," umpat Jena menggeplak ujung topi yang di kenakan Gibran, dengan santainya wanita itu melenggang menuju dapur.
"Yak!!! kau memukulku!," sentak Gibran membenarkan topi di kepalanya yang menjadi miring karena ulah sang kakak.
"Aku hanya membenarkan letaknya saja," kilah Jena membuka kulkas dan menuang jus ke dalam gelas.
"Katakan saja kau sirik padaku, aku tahu betul diriku sangat tampan saat mengenakan topi."
Ya Allah, jarak yang lumayan jauh membuat Jena tidak bisa untuk kembali memukul kepala pria narsis itu. Alhasil Jena hanya bisa kembali meledek adik laki-lakinya"Kau sungguh narsis, demi mempertahankan ketampanan, kau pun memakai topi itu di dalam rumah. Cih! kampungan!."
Awh!! hati kecil Gibran bagai tertusuk duri, kata-kata itu sungguh membuat hatinya meringis"Dasar wanita pahit lidah."
"Masa bodoh!," decih Jena hingga menambah kekesalan di hati Gibran.
Demi kewarasan dirinya, Gibran memilih untuk mengalah, dari padanya ujung-ujung Jena akan membatalkan kesepakatan untuk mencuci dan menyetrika pakaiannya.
Melihat Gibran mengambil langkah mundur, Jena tersenyum kecil"Tumben si bocah tengil itu mengalah," gumamnya menyesap jus buah sembari menatap laut nan luas.
Saat itu, di kejauhan dirinya melihat Agam sedang berbincang bersama kakek nelayan. Bahkan di bawah terik matahari pun kulit putih pria itu tak jua menghitam, Jena sebagai seorang wanita menjadi insecure.
"Onti," suara halus Enda membuat Jena mencari keberadaannya. Ternyata Enda sedang mengintipnya dari tepi pintu.
"Sayang, kenapa bersembunyi di situ," Jongkok sembari mengulurkan tangan pada bocah itu, dan Enda pun langsung menghambur kepelukannya.
"Tidak sembunyi," ujar Enda memegang gelas Jena.
"Oh ya, apa kau mau jus ini?."
Dengan polosnya Enda mengangguk.
Hati-hati Jena membantu Enda dengan menjaga gelas di tangan Enda agar tidak terjatuh"Bagaimana, apa sekolah mengajinya menyenangkan?."
Menjilat tepian bibir nya"Heem," sahut Enda. Wajahnya menciut karena rasa jusnya yang segar dan asam.
Jena terkekeh, wajah Enda menahan rasa asam sungguh mengemaskan"Apa kau mau lagi?."
Enda menggeleng"Tidak lagi, terimakasih onti," bocah itu bahkan menggerakkan kedua tangannya di dada, menolak tawaran Jena untuk kembali mencicipi jus asam itu.
"Heheheh, kecut ya?."
"Hemm," sahutnya menggelangkan kepala, rasa asam itu membuat dirinya sedikit terkejut.
"Enda....."
Doa bola mata bocah itu membesar, panggilan Ben membuatnya meminta untuk di turunkan dari atas meja.
"Enda yang cakep sudah mau berangkat mengaji ya? jadilah anak yang soleh ya, sayang," perlahan menurunkan Enda, Jena mengusap lembut pucuk kepala Enda, perlahan saja dan jangan sampai membuat rambutnya berantakan.
"Iya onti, bismillah Jadi soleh."
__ADS_1
"Sebentar, tante perhatian kamu terlihat sangat bersemangat saat ingin berangkat mengaji, apa kau mulai menyukai seseorang di tempat mengaji itu??," Jena menangkap rona kemerahan di wajah Enda saat menanyakan hal itu.
Dan benar saja, bocah itu menutup mulutnya dan tertawa gemas.
"Hei," Jena menjadi penasaran"Katakan, apa memang ada seseorang yang kau sukai di sana."
Enda menarik wajah Jena yang berjongkok di depannya, bocah itu membisikan nama seseorang yang membuat Jena tertawa.
"Enda, dia sudah dewasa!."
"Tidak mengapa onti, Enda pun akan banyak makan biar cepat menjadi dewasa."
Jena benar-benar di buat terpingkal, celotehan Enda membuat perutnya tergelitik geli.
"Saylendra, ayo cepatlah. Bus nya sedang di gunakan untuk menjemput ibu-ibu pengajian, jadi ayah harus segera mengantarkanmu ke pondok, nak," Ben muncul dengan helm berukuran kecil, tanpa aba-aba duda muda itu memasangnya di kepala Enda.
"Ayah! tidak bisakah meminta izin dahulu," gusarnya terhuyung. Namun, bukannya terlihat menakutkan, Enda justru terlihat lucu saat sedang mengomel kepada Ben. Jena dan Ben tak tahan untuk tidak tertawa.
"Maaf, ayah khilaf," cicit Ben mengakui kesalahannya.
"Hem, ayah sudah Enda maafkan," ujarnya lagi.
Ya Allah, Jena sungguh terhibur dengan adanya Enda di sini. Bocah itu membuat hari-harinya terasa lebih berwarna.
Menarik lengan Jena dan mencium punggung tangannya dengan khidmat"Enda pergi dulu onti."
"Cup," Jena mengecup lembut pipi mulus bocah itu"Hati-hati sayang, titip salam sama ustadzah Zafirah ya."
Seketika, wajah bocah itu bersemu"Baiklah onti."
Jena menghantarkan Enda hingga ke pintu utama, mereka juga saling melambaikan tangan sesaat sebelum Ben melajukan motornya.
Memandangi mereka hingga benar-benar menghilang, Jena lantas berbalik hendak kembali masuk ke kediaman itu. Tapi...
"Mas!!! kau membuatku terkejut," pekiknya. Tanpa suara, Agam tengah berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang.
Memegangi dadanya yang berdetak hebat"Kenapa menatapku seperti itu!!?," tatapan Agam menyiratkan sebuah rasa yang mengundang senyuman di wajah Jena.
"Kau selalu saja memanggil Enda sayang, juga mencium nya tanpa malu-malu."
Benar bukan! ekspresi itu kerap menghiasi wajah Agam akhir-akhir ini, hingga Jena langsung ingin tertawa saat menjumpai wajah memberengut manja sang suami.
"Agam sayang, jadi kau mau di panggil seperti itu??," Jena mengacak rambut lebat sang suami. Membuatnya berantakan dan menambah tingkat ketampanan pria itu.
"Heem," Agam mengangguk manja.
"Baiklah," ujarnya mengusap pipi sang suami. Hingga terciptalah sepasang lesung pipi di sana.
"Cup," Agam sayang, mau ku tuangkan jus jeruk?."
Kecupan sekilas itu membuat rona merah terbit di wajah Agam, dengan manisnya dia pun mengangguk.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1