
Keluarga Ahmad, selain terkenal sebagai keluarga pengusaha nan sukses, juga di kenal dengan keluarga yang penuh dengan visual. Jika kecantikan Jena saja mampu memantik api iri dengki pada hati wanita lain, tidak menutup kemungkinan ketampanan dua saudaranya mampu menghipnotis hati para wanita.
Bella, yang lebih mengenal Gibran hanya karena iklan yang akan pria itu bintangi, mendadak berdecak kagum saat melihat kedatangan Arkan. Oh ayolah, pria dewasa itu terlihat sangat menggoda dengan setelan jas yang dia kenakan. Di tambah, pembawaan Arkan yang tenang, oh sungguh membuat gemas hati Bella, untuk bisa lebih dekat dengannya.
"Bang Arkan ya?, perkenalkan saya teman dekat Gibran," wanita itu datang tanpa di undang, pada ruang lingkup terdekat Arkan.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Arkan menyambut uluran tangan Bella. Melihat hal itu dari kejauhan, membuat Adila tersenyum kecil, ternyata Bella juga berteman baik dengan Arkan, putra kebanggaan nya jua.
"Ayo sayang, kita jumpai Bella," ajak Adila. Gibran nampak ragu, sebab ada Kanaya yang begitu menempel kepadanya, seperti perangko.
"Ayo sayang, tante Adila mengajak mu bertemu Bella," alih-alih merajuk, seperti dugaan Gibran, Kanaya justru menarik lengan Gibran yang dia apit, untuk mengekor langkah Adila.
"Omo, kau sedikit manis Kanaya," tutur Adila, sembari melangkah sejajar dengan dua bocah itu.
Seutas senyuman, mengembang di wajah cantik Kanaya"Bukankah tante suka gadis yang manis?? aku bisa lebih manis lagi tante, hanya saja aku tidak ingin membuat tante diabetes."
Masih belum sepenuhnya menerima perubahan Kanaya, Adila menaikan sebelah alisnya, dan mendelik pada Kanaya sekila"Oh," ucapnya singkat.
Dan Gibran, pria itu bagai piala bergilir, di seret Adila kesana dan kemari, karena begitu senang akan pencapaian sang putra. Juga di bawa Kanaya kesana dan kemari, demi menghindari Adila yang terus mengajak Gibran untuk menemani Bella. Ck! ternyata main kejar-kejaran dalam langkah slow motion itu cukup melelahkan, juga senyuman palsu itu, oh!! Kanaya rasanya ingin muntah.
"Tahan Kanaya! tahan. Demi kemenangan dari cewek licik itu," ujar sang hati, saat menatap Bella, yang semakin dekat di hadapannya.
Dan benar saja, tingkah Bella benar-benar menyebalkan. Tanpa tahu malu, membanggakan diri di hadapan Adila, berkata bahwa semua filmnya mendapat rating tinggi, juga iklan-iklan yang sudah banyak dia bintangi.
Seringai tawa Kanaya, terbit sekilas mendengar ocehan gadis itu. Dirinya bukan tidak tahu bagaimana perjalanan karir seorang Bella. Film yang dia bintangi baru ada dua, sedangkan dia berkata telah banyak berlakon di berbagai macam genre film kepada Adila.
Juga iklan, Kanaya mati-matian menahan tawa, bisa di katakan dia membintangi 5 iklan di layar televisi, ups! 6 dengan ikan panas yang hanya tayang di tengah malam, hahahaha.
"Wah, kau ternyata artis yang sangat terkenal, jika iklan yang kau bintangi saja sudah tak terhitung, itu kan katamu barusan."
Mengangguk, dengan kedua mata berbinar"Iya tante, tapi meski begitu saya tetap rendah hati lho tante. Down to earth," ujarnya sedikit berbisik kepada Adila.
"Astaga! sok akrab sekali gadis ini," bisik hati Kanaya.
"Tante, bang Arkan apa sudah punya kekasih?," malu-malu kucing? bahkan segelintir malu saja Bell tidak punya. Di langsung menanyakan perihal pria yang sangat menarik perhatiannya kali ini.
"Byur!!," sebuah gelas di tangan seorang gadis, tidak sengaja tersiram pada gaun yang Bella kenakan.
"Awh! maaf, aku sedikit oleng karena lelah," Melisa, gadis itu muncul di antara mereka, dengan sedikit terhuyung.
"Oh Tuhan! kau menyiram gaunku?," pekik Bella, langsung mengibaskan gaun yang terkenal jus milik Melisa.
Menangkupkan kedua tangan"Maafkan aku! aku sungguh tidak sengaja!," tandas Melisa dengan muka penuh penyesalan.
__ADS_1
Kanaya ambil bagian, berlagak baik dengan memberikan tisu kepada Bella.
"Melisa! sayang! apa kau sakit?," nampak khawatir, Adila bahkan belum menjawab pertanyaan Bella.
"Tidak apa-apa tante, aku hanya kurang tidur, sebab tadi malam bang Arkan terus-menerus menelponku, kami berbincang dan bercanda hingga dini hari," ucapan Melisa ini, membuat emosi Bella semakin melonjak naik, oh! jadi wanita ini teman dekat Arkan!?.
"Arkan itu, apa tidak bisa menahan diri, bagaimana kau akan beristirahat jika mengajakmu bicara sampai tidak ingat waktu," menarik Melisa agar berdiri sejajar dengannya.
"Tidak mengapa tante, aku tidak keberatan," ucapnya berlagak berbisik, namun ucapannya terdengar sangat jelas di telinga Bella.
Adila tersenyum nakal, kemudian mengusap punggung tangan Melisa dengan lembut"Benarkah, kalian berdua ternyata sama-sama bucin ya!."
Bella membuang pandangan, namun segera tersenyum saat Adila berucap padanya"Bella maaf ya! Melisa jadi mengotori gaun mu."
"Dia tidak sengaja, tante," ucap Bella tersenyum pahit.
"Oh iya, perkenalkan, ini Melisa, calon istri Arkan."
Cuaca baik-baik saja, tapi terasa sangat panas bagi Bella, hingga membuat sang hati mendidih secara perlahan"Hai, aku Bella, teman dekat Gibran," melirik kepada Gibran, saat mengatakan bahwa mereka teman dekat.
Ingin rasanya Gibran meralat kata-kata Bella, namun Kanaya menahan pria itu, membiarkan Bella bersikap semaunya di hadapan Adila.
Menyambut uluran tangan Bella, dan menjabat tangganya sembari berucap"Aku Melisa, salam kenal ya," ketahuilah, wajah Melisa terlihat sangat amat manis, tersenyum begitu lebar. Tapi Bella dapat merasakan tekanan yang cukup kuat, saat mereka berjabat tangan. Bella sedikit memiringkan kepala, beradu pandang bersama Melisa dengan alis berkerut. Melisa membalas tatap penuh tanya gadis itu dengan mata mengerjap, kerlingan nakal dia kirimkan untuk terus menghujam tatapan Bella.
Seolah berbicara dengan telepati, tiga wanita itu saling tatap kemudian menyeringai. Dan setelah Adila pergi meninggalkan mereka, Melisa mulai angkat bicara"Bella ananta, seorang putri dari wanita malam yang sempat menjadi simpanan fotografer terkenal di jagat hiburan, aku melihat niat jahat pada dirimu."
Mimik wajah Bella seketika berubah masam, dirinya langsung menatap ke arah Gibran, yang nampak terkejut dengan ocehan Melisa.
"Ka....kau!," ujarnya terbata.
Melisa maju lebih dekat kepada Bella"Kau apa? gosip tentang kau dan Gibran, itu sangat mengusik ketenanganku! bualan menjadi artis dengan banyak film, oh itu sangat menggelitik perutku, juga bualan tentang iklan yang banyak! ayolah Bella, kau hanya punya iklan sebanyak jari lima!," tukas Melisa membuka ruas jarinya, tepat di hadapan Bella.
Keringat dingin muncul menghiasi kening Bella, dan Kanaya cukup terhibur melihat itu.
"Jika!," seru Melisa dengan nada sedikit meninggi.
"Kau ingin terus berada di dunia hiburan!," gadis itu terus condong ke arah Bella. Membuat Bella mengambil langkah mundur beberapa langkah.
"Jauhi Gibran! juga Arkanku!!!!!!," ucap Melisa dengan gigi bergerutuk.
"Melisa! kau menakuti anak gadis orang!," tukas Gibran.
Kanaya mencubit lengan Gibran"Oho! kau membelanya? apa kau sangat menikmati kebersamaan dengannya? melewati masa latihan dengan sangat mesra??," dua bola mata Kanaya, membulat dan siap meloncat bak bola ping-pong. Gibran diam kembali, sembari menelan saliva.
__ADS_1
"Memangnya kau siapa....be... berani mengancamku!," Bella ini! di saat terpojok pun masih ingin melawan. Melisa jadi tertawa menyaksikan hal itu.
Puas tertawa, Melisa kembali mendekati Bella, dengan kedua tangan terlipat di dada"Aku Melisa, bukankah kita sudah berkenalan. Aku hanya gadis biasa, tapi orang-orang suruhanku bisa menghancurkan karirmu sekejap mata."
Para pengawal Melisa, muncul satu persatu di hadapan Bella. Napas gadis itu tercekat, baru menyadari bahwa lawannya bukanlah orang biasa. Demi kelangsungan karirnya, yang susah payah di rintis dari bawah, Bella langsung angkat kaki dari kediaman Ahmad.
...πΊπΊπΊπΊ...
Di saat yang lainnya menghadiri pesta kecil-kecilan yang di gelar Adila. Khair memilih tetap berada di cafe, sebab keadaan cafe tengah ramai-ramainya. Di bantu sang istri, Khair menikmati masa-masa menyenangkan itu penuh suka cita.
Dua gelas kopi telah tersaji, Zafirah menyerahkan nampan berisi kopi itu kepada pelayan, agar mengantarkan kepada pelanggan.
"Sudah selesai mas? itu pesanan terakhir, bukan?," ujarnya bertanya kepada Khair.
"Hem, untuk saat ini itu adalah pesanan terakhir," pria itu nampak meracik sebuah hidangan, yang akan dia berikan kepada sang istri nanti.
"Aku ke toko buku ya mas."
"Iya, istriku."
Khair kerap memanggil Zafirah seperti itu, tidak perduli ada orang lain di dekat mereka. Terkadang Zafirah merasa malu, namun Khair tetap saja memanggilnya seperti itu. Para pelanggan kadang di buat tersenyum, mendengar Khair memanggil sang istri seperti itu, ada rasa iri, juga rasa gemas pada hati mereka melihat pasangan manis ini.
Melenggang perlahan menuju toko buku, Zafirah berniat membaca novel karya Jena, yang sempat di akui Tiara sebagai karyanya. Setelah di cari-cari, dan cukup memakan waktu, ternyata novel itu berada pada rak paling atas.
Tergopoh-gopoh, Zafirah menarik kursi tangga untuk mengambil novel tersebut, namun apalah daya, dirinya tercipta tidak tinggi menjulang seperti Gibran, atau Arkan.
"Ups!," zafirah nyaris saja terjatuh, jika Khair tidak segera menahan tubuhnya yang sempat oleng.
"Astaghfirullah, terimakasih mas!," lirih Zafirah memegangi dada.
"Kau tidak apa-apa?."
Zafirah mengangguk malu, ada beberapa pasangan yang menyaksikan mereka saat itu.
"Mau novel yang mana?."
Zafirah pun menunjukkan novel yang dia inginkan, begitu mudah untuk Khair mengambil novel tersebut. Mengambil duduk pada kursi tangga, pria itu menyerahkan benda yang di inginkan sang istri sembari mendekati wajahnya.
"Zafirah istriku, jika kau perlu sesuatu, katakan saja kepadaku."
mengambil novel yang di berikan kepadanya, Zafirah sedikit terbata karena tindakan Khair"I...iya mas."
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€