
..."**Keadaan bahwa kau tidak menyukaiku......
...Aku bisa menerimanya....
...Tapi, kenyataan bahwa kau memberikan perhatian lebih kepada orang lain......
...Aku sungguh tidak bisa melihatnya."...
...(Arang and The Magister**)...
...🥀🥀🥀🥀...
Susana semakin tegang saat pria dengan sepasang lesung pipi itu berbicara. Kiayi Bahi menatap Agam lekat, anak muda yang sempat di inginkannya menjadi pendamping putri semata wayangnya.
"Jadi, inikah alasan Agam menolak menikahi Zafirah?," bisik hati kiyai Bahi.
Melihat kedekatan Zafirah dan Jena, melihat betapa Zafirah menyukai Jena, akankah hati yang semula hangat perlahan memercikan api kemarahan?.
Sepasang mata sendu kiayi Bahi, menatap teduh pada anak gadisnya yang kini menunduk sedih. Tak dapat di pungkiri, hati siapa yang akan baik-baik saja saat lelaki idaman menaruh hati pada wanita lain. Begitu pula dengan takdir yang seolah bercanda, Zafirah telah menarik diri dari kehidupan Agam, demi menjaga harkat dan martabatnya sebagai wanita. Namun, langkah kecil Jena menuju kepadanya, dengan segala kelemahannya hingga Zafirah merengkuhnya dari pedihnya pengkhianatan.
"Aku tidak menyangka, sejauh apa aku melangkah, masih engkau jua yang aku lihat, Agam," lirih hari kecil Zafirah.
"Punya modal apa kau ingin menikahi putriku?," Adila berucap. Di pandanginya tubuh tegap Agam, bukan tak pernah berjumpa dengan anak muda ini sebelumnya. Hanya saja, dia tergolong muda, teman sepermainan Gibran. Meski sangat ingin menikahkan Jena demi mengusir kesialan itu, entah mengapa Adila seolah sangsi akan kebahagiaan Jena kelak.
Seringai tawa terbit di wajah Arkan"Apa aku tidak salah dengar? bukankah ibu akan menikahkan Jena dengan siapa saja, ada apa dengan pertanyaan ibu? bukankah ibu sudah tahu mata pencarian Agam."
Nampak kikuk, Adila mengusap wajah. Wanita itu terlihat menggigit bibir, Abian menyadari Adila tengah dilema dengan apa yang harus dia putuskan. Jemari besar Abian mengusap pundak sang istri, seolah memberi kekuatan agar segera melepas Jena untuk Agam.
"Bahkan Gibran masih meminta uang jajan kepada kita mas," bisik Adila.
"Itu mama sendiri yang memberiku uang, sebagai anak yang baik dan patuh kepada orang tua, Gibran hanya bisa pasrah menerima uang jajan dari mama dan juga papa," sungguh, si bontot Gibran tak ingin menjadi batu sandungan untuk sahabatnya Agam. Dia yang sangat tahu tentang perasaan Agam, dia yang sangat tahu watak seorang Agam. Dengan penuh keyakinan, Gibran mendukung penuh pernikahan Agam dengan kaka kesayangannya.
Celotehan Gibran sedikit mencairkan suasana, nampak kiayi Bahi tersenyum kecil kepada Gibran. Dan tak segan-segan, Gibran tersenyum lebar hingga nampaklah barisan gigi kelincinya.
Sementara Zafirah, gadis itu masih terdiam menatap ubin. Kedua matanya terasa panas dan perih, mati-matian menahan genangan air mata yang akan jatuh saat dia berkedip sekali saja. Segera membawa ujung kerudung dan menyeka anakan air mata, Zafirah mengangkat wajah kembali dan menatap Jena.
__ADS_1
Pandangan sahabat barunya itu terlihat kosong, dengan kedua mata yang sembab, Zafirah dapat merasakan betapa sakit dan hancurnya hati kecil di dalam sana.
"Kak Naira, bagaimana tanggapanmu tentang lamaran Agam," tanya Zafirah dalam suara lirih.
Gibran yang juga tahu tentang perasaan Zafirah, tidak menyangka gadis itu akan berkata lembut kepada Jena, wanita yang selalu menduduki tahta tertinggi dalam hati lelaki pujaannya.
Jena tak bergeming, seolah hanyut dalam dunianya sendiri.
"Kak Naira," panggil Zafirah lembut.
Kiyai Bahi merasakan sakit di dalam dada, betapa besar hati yang di miliki putrinya. Di saat seperti ini dia masih bisa menahan mimik wajah bahagia.
Sebab Jena yang masih bungkam, Abian melontarkan tanya kepada Agam.
"Bagaimana tanggapan kedua orang tuamu?."
"Mereka memberi restu om, Agam akan segera menghubungi mereka jika om ingin bertemu langsung dengan mereka."
Sakit!, segumpal darah di dalam dada terasa perih. Di balik kerudung yang menutupi dada, jemari kecil Zafirah memegangi dada dengan tangan mengepal erat.
"Jika semua menyetujuinya, kak Naira dan bang Agam bisa di nikahkan di sini, malam ini juga."
"Ini adalah ibadah Abi, apalagi yang kita tunggu jika semuanya telah sejutu," tukasnya dengan senyuman pahit.
Sorot mata Agam menatap lekat kepada Zafirah, sungguh dia sangat menyesali kejadian ini. Jika saja waktu dan tempat dapat di rubah, Agam tidak ingin kejadian ini terjadi di hadapan Zafirah.
"Jena, apa kau bersedia menikah dengan Rio?," tanya Adila. Sontak Agam menggigit bibir, khawatir Jena akan memilih Rio ketimbang dirinya. Rio seorang pria dewasa yang mapan, berbeda dengan dirinya yang kerap di panggil bocah ingusan oleh Jena, juga hanya seorang pedangan ponsel berpenghasilan ya.....cukup besar juga. Hanya saja, jika di bandingkan dengan Rio, nilai materi yang dimiliki Rio jauh lebih banyak ketimbang dirinya.
"Kak Jena, berikan tanggapanmu," desak Gibran.
"Kau harus segera memilih, kita sudahi amarah ibu yang tak kunjung usai kepadamu," tambah Arkan berbisik.
"Ini hidupku bang, kenapa begitu banyak orang lain yang campur tangan," manik coklat itu kembali berkaca-kaca.
Kembali berbisik"Jenaira, maafkan abang, tapi lebih baik kau segera menikah agar ibu tidak lagi mengusik kehidupanmu," meraih jemari kecil Jena, Arkan seakan mentransfer kekuatan pada jiwa lemah adik perempuannya.
__ADS_1
"Menikahlah dengan Agam kak," bisik Gibran pula. Jena yang di apit dua saudara lelakinya mendapat bisikan dari kubu kiri dan kubu kanan. Nampak kedua saudaranya itu tidak menganjurkan untuk memilih Rio, mungkin karena mereka sangat tahu sifat pantang menyerah Rio yang kerap memaksakan kehendak kepada Jena.
Memberanikan diri menatap Agam, kembali mereka beradu dalam pandangan. Nampak teduh dan lembut, kehangatan dalam sorot mata Agam membuat Jena merasa tenang.
"Jena, apa kau ingin berbicara berdua saja dengan ayah," Abian ingin lebih dalam menyelami hati putrinya, mencoba memperbaiki hubungan yang sempat rusak sebab kebodohan dirinya di masa lalu.
"Nak Naira, bicaralah dari hati ke hati dengan orang tuamu."
Jena lantas berdiri setelah mendengar perkataan kiyai Bahi. Sejatinya lelaki tua itu tengah berbesar hati demi kebaikan sesama manusia.
Saat Jena dan Abian di persilahkan ke ruangan lain untuk berbicara dari hati kehati, Adila mengekor langkah mereka. Hati kecil Jena sungguh merasa resah, Adila yang kerap di liputi emosi menggebu-gebu saat berhadapan dengannya, membuat tubuh kecilnya kembali bergetar.
"Jena, apa kau takut kepada ibu?," tanya Adila saat mereka kini telah duduk bersama.
Perlahan, Jena menganggukan kepala.
Terdengar ******* berat dari seorang Abian, kekecewaan semakin besar, dampak sikap kejam mereka membuat Jena sangat terpukul.
"Lihatlah, betapa kita telah gagal menjadi orang tua, Adila," lirih Abian penuh penyesalan.
Di ruang tamu, Agam di dampingi Yasir ambil duduk bersama mereka. Tak berani bersuara, Agam tahu kiyai Bahi tengah menatapnya dengan lekat.
Di saat semua terperangkap dalam diam, Syabila datang mengantarkan hidangan tambahan kepada mereka.
"Mana kak Naira," tanya wanita polos itu.
"Sedang berbicara dengan kedua orangtuanya, sebentar lagi kak Naira dan bang Agam akan menikah," lirih Zafirah dengan senyuman pahit.
Seketika kedua bola mata Syabila membulat sempurna.
"Hah!!! bang Agam!!!", pekiknya. wanita itu menatap Agam lekas-lekas"Bang!!! yang benar saja??? kau......," celotehan Syabila terjeda, sebab Zafirah membekap mulutnya dengan cepat.
"Bdhdjfjrhdkshdjdjdhd," seperti mengomel, mata bulat Syabila semakin membesar bak bola ping-pong menatap Agam.
"Maaf, aku harus membawa gadis cerewet ini kedalam", Zafirah menarik Syabila undur diri dari hadapan mereka.
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗