Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Merajuk


__ADS_3

Merasa tidak di hiraukan, meski telah berkali-kali menyatakan cinta, membuat Melisa benar-benar kesal terhadap Arkan. Katakan saja dirinya sudah kehabisan rasa malu, sebagai wanita justru dirinya yang begitu keras kepala ingin menjadi wanita dari pria idamannya.


Uring-uringan di apartemen, tidak di ajak jalan-jalan karena Arkan pria yang sibuk, tidak memiliki pekerjaan karena Arkan memang melarangnya untuk kembali bekerja, bagaimana dengan teman?? ck! jangan tanyakan hal itu kepada Melisa! selain Arkan dirinya tidak punya orang lain. Ah! sebentar! jika Arkan tidak punya waktu untuk menemaninya jalan-jalan, masih ada pengawal yang lain bukan?


Sembari menikmati segelas susu, dan roti bakar yang hampir gosong, Melisa meminta kepada para pengawalnya untuk menemani dirinya jalan-jalan hari ini.


"Ingat! tidak perlu laporan kepada Arkan," titahnya di ujung telepon.


"Tapi nona, Arkan adalah pengawal yang bertanggung jawab penuh terhadapmu, aku tidak ingin menjadi sasaran amarahnya jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan," sahut Anderson"Aku juga tidak siap jika di kubur hidup-hidup oleh Jake, jika keselamatanmu kembali terancam," sambungnya penuh penekanan.


Bukan Melisa namanya, jika tidak membangkang"Ck!," terdengar decihan jengan Melisa.


"Apa kau menyumpahiku? kau ingin aku celaka? aku bahkan belum menikmati udara segar di luar sana, tapi kau sudah berpikiran yang tidak-tidak!," nada kesal itu membuat Anderson cemas, seperti biasa, Melisa selalu memaksakan kehendaknya"Segala sesuatu tidak perlu kau laporkan kepada Arkan, apalagi Jake. Aku sudah dewasa! aku bisa menjaga diri!."


"Halo?? Anderson! apa sekarang kau mengabaikan ku?," hardiknya lagi.


Anderson lekas berucap"Tidak nona, baiklah, aku akan mengirim Aron dan Ryung untuk menemanimu."


Seulas senyum terbit di wajah cantik Melisa"Nah! kenapa tidak dari tadi saja, kau ini gemar sekali berargumen terlebih dahulu padaku."


"Bukan begitu nona, aku hanya....," pria itu menggantung kalimatnya, sebab mendengar dengusan napas Melisa di ujung telepon.


"Katakan kepada Aron dan Ryung, berpakaian casual saja, aku bosan melihat mereka berpakaian serba hitam! seperti orang melayat saja," tanpa menunggu jawaban, Melisa langsung memutuskan panggilan, yah! begitulah kebiasaan nona Melisa ini.


Sementara di kediamannya, Arkan baru saja bergabung bersama Abian dan Adila di meja makan. Baru saja saling sapa, Adila sudah menanyakan keadaan Melisa, nampak sekali betapa senangnya dirinya saat bersama Melisa.


"Alih-alih menanyakan keadaan Melisa, kenapa ibu tidak bertanya tentang kabar Jena," ucapnya mengunyah makanannya dengan perlahan.


Ucapan pria itu seketika membuat mata sang ibu mendelik"Dia sudah punya suami! juga putra tersayangku, aku yakin dia pasti baik-baik saja!."


"Meski begitu yakin, setidaknya ibu bersikap sedikit lembutlah kepadanya."


"Arkan! aku bertanya tentang Melisa, bukan Jena!," ketusnya.

__ADS_1


"Adila," tegur Abian.


Suara berat sang suami, membuat Adila diam sejenak, dengan bibir mengerucut.


"Ck! kalian sangat cerewet! ya sudah! aku akan membuatkan bubur ayam untuk Jena," wanita itu langsung beranjak menuju dapur, di iringin tawa tertahan dari Abian dan Arkan.


Dengan penuh rasa bahagia, Arkan memberikan bubur olahan Adila kepada Jena. Agam tersenyum saat melihat Jena mulai memakan bubur tersebut. Namun, ekspresi Jena saat menikmati bubur itu nampak kurang sedap di pandang.


"Katakan, masakan ibu sungguh nikmat bukan?," ujar Arkan menunggu jawaban keluar dari mulut sang adik.


Jena memanyunkan bibirnya berkali-kali"Aku tidak yakin, apa kau memaksa ibu memasak bubur ini untukku? rasanya tidak seenak biasanya."


Arkan mengambil sendok yang masih berada di tangan Jena, mencicipi bubur olahan Adila"Hei, ini enak sekali."


"Tidak," ujar Jena menggeleng.


Lantas, Agam pun segera mencicipi hidangan yang di olah ibu mertuanya"Ini enak sekali, sayang," tukas Agam.


Agam dan Arkan pun saling berpandangan, sebab Jena menolak rasa enak dari bubur itu.


"Sayang, bubur ini enak sekali. Rasa garamnya terasa seimbang."


Jena masih saja menggelengkan kepala"Masakan Kanaya jauh lebih nikmat."


Lagi, Agam dan Arkan di buat saling berpandangan. Ada apa dengan lidah Jena? kenapa mengatakan masakan Kanaya terasa nikmat? sedangkan mereka semua sudah tahu kekasih dari Gibran itu telah kehilangan indra pengecapnya.


Mengetuk-ngetukan sendol di atas meja"Ah~~~ teringat masakan Kanaya, aku jadi ingin menikmati hidangan yang di olah olehnya."


Kedua mata Agam berkedip dengan cepat"Sayang, kau tidak sedang bergurau kan?."


Wanita itu berhenti memainkan sendol, yang menimbulkan suara cukup berisik"Ini tentang makanan Agam sayag, kau tahu kan aku tidak suka bergurau tentang makanan. Aku ingin memakan masakan Kanaya," suara wanita itu mulai terdengar merengek.


Arkan lekas meletakan punggung tangannya di kening Jena"Kau tidak sedang demam."

__ADS_1


"Plak!," Jena memukul tangan Arkan dan menepisnya"Abang! kau pikir aku tidak sehat? aku baik-baik saja!.".


"Ayolah, aku ingin masakan Kanaya!," ujarnya merengek, menatap Agam dan Arkan dengan mata berkaca-kaca.


Sang abang beranjak dari meja maka"Kalau urusan Kanaya, kau bisa minta tolong kepada Gibran. Ya sudah, aku harus segera bekerja."


"Hem, hati-hati bang," ujar Agam.


"Ya, eh sebentar," Arkan berbalik setelah sempat melangkah"Nanti siang aku akan makan siang di sini."


"Bayar tidak?."


Pertanyaan Jena membuat Arkan terkekeh"Aku akan membayar lebih."


"Baguslah," tukas Jena tertawa jahat.


Agam menggeleng melihat Jena mengerjai saudaranya, dan Arkan justru mengacak pucuk kepala sang adik, membuat Jena menepis tangan pria itu dengan wajah cemberut.


...💫💫💫...


Mengawali pagi dengan mengurusi si kecil Enda, mengantarnya ke sekolah dan menungguinya bersama ibu-ibu yang lain. Zafirah merasakan keseharian yang jauh berbeda saat masih sendiri kemarin. Alih-alih mengendarai mobil, Zafirah justru meminta sebuah motor dari sang abi untuk di tukar dengan mobilnya.


"Mas Khair kemana-mana selalu menaiki motornya, Abi. Rasanya tidak pantas jika Zafirah kemana-mana menggunakan mobil, sedangkan mas Khair menolak untuk memakai mobil Zafirah," jawaban Zafirah saat Kiyai Bahi menanyakan hal itu, membuatnya menggelengkan kepala.


"Lagipula, mau di letakan di mana? kediaman kami cukup sederhana Abi, hanya punya halaman yang kecil, jika di parkiran di bahu jalan pasti akan menggangu tetangga yang melintas."


Kiyai Bahi menatap sang putri lekat-lekat"Nak, apa kau menyesal menikah dengan pria pilihan abi?."


Zafirah langsung menolak pertanyaan itu, bagaimana bisa dia berkata menyesal, sedangkan kebahagiaan yang dia dapat di dalam pernikahan ini. Khair dan Enda terbiasa hidup dengan sederhana, Zafirah merasakan ketenangan dan kedamaian masuk ke dalam keluarga kecil itu. Apalagi sikap lembut dan hangat Khair, juga Enda yang lucu, yang kerap bersikap seperti orang dewasa dalam menjaganya, mengingat hal itu saja sudah membuatnya senang.


Melihat senyuman di wajah sang putri, Kyai Bahi Kembali berucap"Kau bahagia?."


"Ya, abi. Sangat bahagia. Hidup dalam kesederhanaan cukup membuatku nyaman, sikap baik suami dan putraku cukup menghangatkan hatiku," wanita itu tersenyum lebar, membuat hati sang ayah ikut menghangat.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2