
"Tanyakan pada Tuhanmu, bolehkan aku bersimpuh di depannya? bolehkah aku ikut menjadi hambanya?".
"Apa alasan terbesarmu hingga berani meninggalkan tuhan mu?".
"Kau, Ane".
Ane menatap pria di hadapannya takjub, seperti itulah cara Tian membuktikan cinta kepadanya.____****
Relung hati menjerit histeris, masih lekat dalam ingatan sumpah dan janji setia Bastian ketika meminangnya. Ane menatap nanar pada dirinya sendiri, begitu dungu dirinya menaruh kepercayaan kepada Tian. Nyatanya, foto yang sempat singgah di brankas Dewa, kini berpindah tangan kepadanya.
Sama seperti apa yang Dewa terima, melalui amplop berwarna coklat muda, Ane mendapat kabar perselingkuhan yang di lakukan suaminya.
Hari menjelang petang, seperti biasa Ane di temani asisten rumah tangga tengah beraktivitas di dapur saat benda itu sampai padanya.
Pelayan dengan patuh menyampaikan benda itu kepada Ane. Yang sedikit membuat berbeda, amplop yang di terima Ane bertuliskan"Buka aku saat kau sendiri saja".
Kening wanita cantik berwajah bulat itu menyerngit, siapa pengirim amplop ini?. Seperti apa yang tertulis di atas amplop, Ane masuk ke kamar dan membuka benda itu di depan kaca hias.
Sebuah hati hancur berkeping-keping saat itu juga. Aliran dalam tubuh seakan berhenti, menghambat untuk bergerak hingga akhirnya terdiam seperti patung. Saat kehancuran menyapa, semua terasa sakit hingga terbitlah sang air mata.
Sesenggukan, adalah awal tangisan seorang Ane. Wanita itu terduduk memeluk kakinya di lantai, dunia seakan berlobang, memanggil dirinya agar melarikan diri saja ke dasar sana.
Cukup lama Ane mengurung diri di kamar, asisten rumah tangga sempat khawatir akan keadaanya. Beruntung Tian telah datang, karena tuan rumah sudah hadir, hal itu dia serahkan kepada tuannya.
"Ane sayang", panggil Tian di depan pintu.
Hening. Tidak terdengar ada pergerakan di dalam sana.
"Tok tok tok!!", Ane, buka pintunya sayang".
Sejenak menanti, namun Ane tak jua muncul dari balik pintu. Tian mulai khawatir, apakah hal yang dia takutkan telah terjadi?, berusaha bertemu Dewa, usaha pria itu sia-sia saja belakangan ini. Dewa sungguh sulit untuk di jumpai, dengan berbagai alasan pria itu selalu berhasil melarikan diri saat Tian hendak berjumpa dengannya.
Begitupula dengan Jena, keponakan dingin yang sejak awal selalu menjaga jarak dengannya, benar-benar sulit di ajak berkompromi. Bertandang ke rumah sakit, Jena bahkan tidak terlihat batang hidungnya. Entah pergi kemana Jena saat Tian datang mengunjunginya.
"Tuan, apa nyonya baik-baik saja?", tanya sang pelayan.
"Justru aku yang harus bertanya padamu, bukankah kalian yang bersamanya sejak tadi?", sorot mata lembut telah sirna dari wajah Tian, lelaki yang di kenal lembut itu berubah dalam sekejap.
Sang pelayan terdiam, baru menyadari betapa bodoh pertanyaan yang dia lontarkan kepada Tian.
"Ane!!", Tian kembali memanggil nama sang istri, dan lagi-lagi Ane tidak bersuara di dalam sana.
"Mundurlah dari hadapan pintu", titahnya pada pelayan. Segera melaksanakan perintah itu, sang pelayang melngkah mundur.
Memasang aba-aba, Tian pun mendobrak pintu kamar.
"Brak!!".
"Brak!!", dobrakan kedua pintu itu berhasil di buka paksa.
Ane tergeletak rak berdaya, berlarian Tian menyongsong tubuh sang istri yang teronggok di lantai.
"Ane", panggilnya bergetar. Wanita itu nampak lemah, keduanya mata indah itu tertutup rapat.
Butiran-butiran pil penenang berserakan di lantai, genangan air mata masih tersisa di kedua pipi Ane. Jemari nya memegang erat foto bukti perselingkuhan Tian dan Tiara.
...🥀🥀🥀🥀...
Kembali pada kediaman yang sunyi, betapa tenang dan damai hati Jena saat ini. Usaha untuk segera pergi dari rumah sakit akhirnya berbuah manis. kini, wanita itu melepas pandangan pada laut nan luas, di sapu angin pantai, tubuh itu terasa segar dan bersemangat kembali.
Terdengar helaan napas kasar, kedatangan Dewa sungguh mengoyak kembali luka di dalam dada, Jena sempat terbuai aroma khas seorang Dewa, pelukan pria itu membawanya mengenang saat-saat manis bersamanya.
Dan kedatangan Tian, hal yang sangat Jena hindari. Beruntung sesaat setelah Dewa pergi, Jena sedang berada di kamar mandi, menahan diri di dalam sana Jena terus menunggu hingga Tian pergi dari kamar inap nya.
"Lelaki dungu, kau bahkan tidak berpikir untuk memeriksa kamar mandi saat aku tiada. Ketulusanmu sangat tidak dapat di percaya, lihat saja, kau akan kelabakan setelah ini", gumam Jena teringat kebodohan Tian yang tidak bisa menemuinya.
__ADS_1
"Brak!!, Jena!!. Anak sialan!!", teriakan itu memecah lamunan Jena. Bergegas menuju lantai bawah, terlihat Gibran tengah memegangi sang mama yang tersulut emosi.
"Bu, jangan menyalahkan Jena!", Arkan datang menyusul.
Mata wanita itu memerah, menatap tajam kepada Arkan"Pergi Arkan, kau harus bekerja. Tidak perlu kau membela adik sialan mu ini".
"Mama! berhenti memaki kak Jena!", sentak Gibran.
"Kalian di butakan rasa sayang yang berlebihan pada Jena, kalian tertipu wajah datarnya. Sekarang, tante Ane terbaring lemah di rumah sakit karena ulahnya".
Tante Ane!!!!,
Jena mempercepat langkah, mendekati sang ibu namun cepat di tahan Gibran.
"Kenapa dengan tante Ane bu?".
"Kau sungguh licik, tidak perlu berpura-pura Jena, kaulah yang menyebabkan Ane kritis di rumah sakit", alih-alih menjelaskan, Adila terus menyalahkan Jena atas kejadian yang menimpa Ane, adiknya.
Langkah Jena spontan mundur"Tapi, aku tidak merasa melakukan sesuatu kepada tante Ane", suara itu terdengar bergetar. Bola mata wanita itu berlarian kesana-kemari, memaksa ingatannya apakah pernah berbuat kesalahan terhadap Ane.
"Itu bukan salahmu Jena, kau tidak perlu terbebani".
"Arkan! pergilah. Ibu tahu apa yang harus ibu lakukan terhadap Jena".
"Ibu!!"
"Mama!!",
Dua pria itu berseru serentak.
Geram terhadap sikap membela kedua putranya terhadap Jena, Adila menarik kasar sang putri yang tidak tahu apa-apa.
"Lebih baik kalian bawa wanita ini kepada Rio, nikahkan saja dia dengan Rio agar tidak merepotkan kita lagi".
Melangkah ke hadapan Jena, Arkan melindungi adik tersayang dari amarah sang ibu"Kita tidak bisa memaksanya untuk menikah, Jena bahkan tidak mencintai Rio".
Gibran menyela"Sebentar, kenapa langsung membahas pernikahan? jelaskan dulu kedatangan mama sambil mencaci kak Jena!"
Lagi, Adila mencengkeram lengan Jena, menyeret putrinya agar kembali berhadapan dengannya"Kau bersekongkol dengan Tian kan, kau menutupi perselingkuhan Tian dengan wanita lain. Kau kejam Jena!!! kau tahu betapa Ane mencintai Tian, dia menenggak banyak pil penenang saat keburukan Tian terungkap".
Jena terjatuh ke lantai, kabar itu telah sampai kepada Ane. Namun dia tidak menyangka akan di salahkan atas kesalahan yang di lakukan Tian.
"Aku____", wanita itu tergugu.
"Jawab dengan tegas Jena, kenapa kau menutupi perselingkuhan Tian. Apa jangan-jangan kau menyukai pamanmu sendiri".
Segera Jena menyangkal tuduhan itu"Ibu!!!, aku tidak pernah menatap om Tian dengan pandangan suka. Apalagi cinta".
"Lantas, kenapa kau bersekongkol dengannya?".
Arkan memegang kepala yang berdenyut hebat. Bencana apalagi yang menimpa keluarga mereka. Tian berselingkuh? suatu hal yang sangat tidak pernah terbayangkan. Bukankah pria itu sangat mencintai Ane? mereka selalu bermesraan tidak perduli berpasang-pasang mata menatap mereka.
Jena menggelengkan kepala, mentalnya kembali di hantam. Oleh wanita yang telah melahirkannya, Jena di tuduh menyukai suami pamannya"Bahkan berbincang pun aku sangat jarang dengannya, bagaimana aku bisa bekerjasama untuk mengelabui tante Ane".
"Apalagi sampai menaruh rasa kepadanya", sambungnya berharap sang ibu percaya.
"Hei, apa kau lupa. Kau kan sangat lihai dalam meluluhkan hati pria, Jena".
"Mama, kak Jena putri mama, kenapa berkata seperti itu?", kembali Gibran menyela.
"Justru karena aku orang tuanya, aku sangat menyesal telah bersikap baik padanya. Kau bahkan berniat menghancurkan rumah tangga adikku", sorot matanya menghujam hingga ke jantung.
Pemandangan yang sangat tidak biasa, Jena akhirnya menangis di hadapan mereka. Hatinya kembali hancur, jiwanya kembali tergoncang. Di hantam makian dan cacian yang terus di lontarkan sang ibu kepadanya. Juga tuduhan itu, dia bahkan sangat jijik menatap Tian.
"Tuduhan ibu sangat tidak beralasan, Jena bahkan tidak tahu apa-apa".
__ADS_1
"Bohong!! jelas-jelas dia sangat tahu tentang perselingkuhan itu".
Menarik kedua tangan sang adik yang menutup kedua telinga, Arkan coba menenangkan jiwa yang hampir gila"Jena, apa kau benar mengetahui hal itu".
"Hick", di iringi isak tangis, Jena mengangguk.
Gibran menghela napas"Kenapa kak Jena tidak mengatakan hal itu kepada kami?".
Jena berkata lirih"Aku juga baru tahu".
"Kau hanya beralasan!", teriak Adila lagi.
"Bisakah mama tenang dahulu, biarkan kak Jena menjelaskan semuanya".
Adila menatap Gibran kesal, anak kesayangan membela putri yang selalu mendatangkan masalah. Adila sungguh geram ingin menjambak rambut Jena.
"Sejak kapan Jena, dan siapa wanitanya".
"Saat Tiara menyerangku bang".
"Tiara?".
Jena menyeka air mata yang mengalir deras, sekuat tenaga, membuat sang air mata agar segera mereda"Saat itu, Tiara ketahuan berselingkuh. Dia menuduhku membocorkan perselingkuhan itu kepada Dewa. Itulah sebabnya dia datang menyerangku. Dan teman selingkuhan Tiara adalah om Tian".
"Jadi, wanita itu bernama Tiara!", sentak Adila.
"Lihatlah ma, bagaimana kak Jena bisa bekerjasama dengan om Tian, wanita selingkuhan om Tian adalah wanita yang menghancurkan rumah tangga kak Jena".
Adila menatap Gibran kembali"Pantas saja!!".
"Pantas mengapa?", tanya Arkan.
"Kau", tunjuk Adila begitu dekat dengan wajah Jena"Kau sangat tidak rela rumah tanggamu hancur, lantas, kau mendekatkan Tian pada wanita itu bukan. Sekarang Tiara berhasil menggaet Tian, kau membuka jalan agar bisa kembali bersama Dewa".
"Tidak bu", pekik Jena kembali menangis.
"Jangan berbicara sesuka hati ibu, sudah cukup ibu menyakiti hati Jena", Arkan menarik Jena dalam pelukannya. Membenamkan wajah penuh air mata adiknya ke dalam dada, betapa rapuhnya Jena saat ini. Kehancuran hati sang adik menjalar pada hati Arkan jua.
"Kau sungguh telah di butakan perasaan sayang, ibu tidak asal bicara. Tian sendiri yang mengatakan bahwa wanita itu adalah sahabat Jena. Dan Jenalah yang mengenalkan mereka".
Terus terpojok, tangisan Jena semakin menjadi"Aku bersumpah, aku tidak pernah menjadi perantara mereka berdua bu", Jena melepaskan diri dari pelukan Arkan. Tangannya memeluk erak kaki sang ibu, berharap Adila percaya dengan apa yang dia katakan.
"Kak Jena", Gibran menarik Jena agar melepaskan diri. Wanita itu sedikit terseret saat Adila mencoba melepaskan kakinya yang di peluk erat oleh Jena.
"Hick, ibu____, bisakah ibu sekali saja percaya kepadaku", ucap Jena lirih.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jena merengek kepada sang ibu dengan penuh pengharapan.
"Kau memang membawa sial Jena".
Arkan sungguh sangat sakit hati, jika Adila bukanlah ibunya, sudah sejak tadi wanita itu terusir dari hadapan mereka.
"Mama, betapa kau sangat membenci kak Jena. Apa mama tahu, semua ucapan mama bukan hanya menyakiti kak Jena, tapi juga Gibran".
"Kau____", pekik Adila. Matanya kembali terpaku pada Jena"Pelet apa yang kau gunakan pada anakku Jena???!".
"Ibu!!, sudah cukup!!!!", teriak Arkan.
Dear reader, maaf baru bisa update. Beberapa hari ini kesibukan di dunia nyata sungguh menyita waktu. Bahkan kemarin baru pulang dari rapat aku harus segera keluar kota. Terimakasih untuk kalian sang pembaca setia, 🥰🥰🥰
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1