
Kebahagiaan yang tengah di rasakan Arabella, juga menular kepada sang suami, Akhtar. Pria paruh baya yang sangat mirip dengan sang putra itu, terus saja bergumam memikirkan akan di beri nama apa sang cucu kelak.
"Habiskan dulu sarapanmu, mas! kau selalu mengoceh di sela-sela waktu makanmu, itu tidak baik," tegur Arabella saat mereka sarapan bersama.
"Apa aku terlihat sangat banyak bicara?," tanya Akhtar ingin menyuapi makan kepada sang istri.
Menerima suapan itu, kemudian berucap"Ya! sangat-sangat banyak bicara!," ujar Arabella dengan mulut penuh nasi.
"Apa itu tidak baik?, maksudku, makan sambil mengoceh?."
"Hem!," angguk Arabella pula.
"Arabella yang manis, kau pun makan sambil bicara," pria itu tertawa karena berhasil mengajak sang istri berlaku sama sepertinya.
Lantas, Arabella tak kuasa melawan ucapan suaminya lagi, toh ternyata mereka berdua sama-sama melakukan hal itu.
"Baiklah," ucapnya setelah mengambil minum"Mas, kau terlihat sangat bahagia setelah mendengar kabar kehamilan Jena."
kedua mata Akhtar membesar, dan kedua alisnya terangkat naik"Tentu saja! dia datang membawa kebahagiaan dalam hidup kita, terlebih untuk putra semata wayang kita. Dan sekarang, dia di nyatakan sedang mengandung, bagaimana aku tidak terlampau bahagia? coba kau bayangkan, jika cucu kita laki-laki apakah dia akan setampan putra kita?," begitu panjang, ocehan Akhtar seperti rentetan gerbong kereta api.
"Apa kau yakin dia akan setampan Agam?, bagaimana jika dia perempuan?," Arabella balik bertanya.
"Tentu saja dia akan setampan Agam, dan akan secantik Jena jika dia perempuan," lagi, Akhtar kembali berceloteh dengan wajah riang gembira.
Sikap sang suami, membuat Arabella terkekeh. Ternyata bukan hanya dirinya yang sangat berbahagia, sang suami pun juga merasakan hal yang sama.
Usai menikmati sarapan di halaman nan asri, Akhtar tidak jua beranjak dari tempat duduknya. Biasanya, dia akan segera beranjak untuk berangkat ke kantor. Eh sebentar, Arabella baru menyadari bahwa sang suami tidak mengenakan setelan jas nya hari ini, apakah dia akan pergi keluar kota lagi? atau??.
"Kau tidak ke kantor?."
Menggelengkan kepala, Akhtar meminta sang istri untuk mengambilkan laptop di ruang kerja.
"Apa kau akan ke luar kota siang ini?," tanya Arabella lagi, saat telah menyerahkan laptop yang di minta sang suami.
"Tidak, aku mengambil libur hari ini."
Jawaban itu, membuat Arabella kembali melontarkan tanya"Mengambil libur di awal minggu? bukankah biasanya kau akan libur di akhir minggu, mas," mengambil piring kecil, Arabella mengupas jeruk untuk mencuci mulut.
"Aku....," nampak mulai serius, Akhtar menggantung kalimatnya.
__ADS_1
"Aku sedang...," jemari pria itu mulai menari di atas keyboard, nampak sangat serius membuat Arabella berpikir bahwa sang suami mulai sibuk bekerja.
"Aha!, ini dia!," serunya, sedikit mengejutkan Arabella yang mulai menikmati buah berwarna orange tersebut.
"Mas! kau membuatku terkejut!," pekik sang istri.
Akhtar tertawa, senyumnya sangat mirip dengan senyum lebar seorang Agam"Hahaha, aku mengambil libur untuk mencari dan menelaah nama yang bagus untuk calon cucu kita kelak.
Hah! Arabella menatap sang suami dengan kedua mata mengerjap berkali-kali, seperti bola lampu yang hampir putus.
"Liburmu hanya untuk mencari nama calon cucu kita," tanya Arabella ingin lebih memastikan.
Akhtar mengangguk begitu polos.
"Ya Allah mas, itu terlalu cepat! Jena bahkan belum merasakan ngidam yang sebenarnya. Sementara kau, sudah sibuk mempersiapkan nama untuk bocah orok itu."
Menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali, Akhtar tertawa seperti seorang bocah yang ketahuan memakan banyak permen.
...☘️☘️☘️☘️...
Ketika Agam mulai belajar memasak dengan racikan aneh Kanaya, saat itu pula selera makan Jena berubah kembali. Dia tidak lagi menginginkan hidangan ala Kanaya, dan berpindah pada bekal si kecil Enda yang di masak Khair.
Zafirah meletakan bekal Enda yang tidak habis pada salah satu meja kosong pelanggan, di toko buku. Sementara dia, menyibukkan diri dengan membantu di cafe, sebab salah seorang pekerja mereka sedang tidak masuk bekerja.
Seperti biasa, saat Enda hadir di cafe, maka Jena akan segera menghampiri bocah tampan itu. Dirinya bermain bersama Enda, mewarnai berbagai macam gambar dan bermain balok-balok.
"Onty, Enda haus."
"Enda mau minum apa? nanti Onty ambilkan."
Si kecil Enda menggeleng"Kata umma, tidak baik membuat orang lain repot. Kalau hanya minuman, Enda bisa meminta kepada ayah."
Akh! Jena mengerutkan kedua alis, tersentuh dengan celotehan si bocah Enda. Dia juga tersenyum memandangi punggung Enda yang mulai melangkah ke dapur cafe, untuk mencari minuman.
Seperginya Enda, indra penciuman Jena tersita pada bekal yang tidak di habiskan oleh Enda. Tanpa ragu, wanita itu membuka kotak bekal yang berada di atas meja kosong, tak jauh darinya.
Nasi goreng dengan toping keju, begitu menggiurkan bagi Jena. Dan tanpa sadar dirinya menelan air ludah, aromanya saja sudah menggugah selera, bagaimana dengan rasanya.
"Zafiraaaahhhh," seru Jena dari toko buku. Sikap itu membuat Zafirah sedikit terkejut, tidak seperti Jena yang biasanya tenang.
__ADS_1
"Lekas, lekas, lekas!!," seru Agam pada Zafirah. Bergegas Zafirah menghampiri sang sahabat di toko buku, juga Agam yang mengekor di belakangnya.
Di tempat itu, Jena nampak melingkarkan kedua lengannya di atas meja, dengan bekal milik Enda di dalamnya"Apa aku boleh menghabiskan bekal ini?," tanyanya sembari tersenyum.
"Sayang," lirih Agam. Dia merasa tidak enak hati akan sikap sang istri.
"Mas, aku mau makanan ini," ucap Jena menekuk wajah.
Zafirah, yang belum mengetahui kehamilan Jena di buat kebingungan. Sikap Jena benar-benar aneh akhir-akhir ini. Selain kekanak-kanakan, selera makannya yang berbeda dari biasanya juga membuat Zafirah bertanya-tanya, ada apa dengan Jena?.
"Tapi....,itu bekal Enda yang tidak habis," ucapnya sempat terbata.
"Tidak mengapa, apakah boleh aku yang menghabiskannya?," ujarnya kembali bertanya.
"Maaf Zafirah, jika kau tidak keberatan berikan saja kepadanya. Aku tidak ingin anak ku nanti lahir dengan liur yang terus menetes."
Ucapan Agam, membuat ekor mata Zafirah menatapnya tajam. Bukan gusar, terlebih karena terkejut akan apa yang di ucapkan oleh suami sahabatnya itu.
"Jena hamil?," tanya Zafirah mendekati sang sahabat.
"Iya," sahut Agam tertawa cengengesan.
"Alhamdulillah ya Allah!," seru Zafirah. Lantas, dia memeluk Jena begitu erat, dirinya begitu terharu mendengar kabar baik itu.
Setelah pelukan mereka terurai, Jena kembali melontarkan tanya"Sekarang, apakah aku sudah boleh menghabiskan bekal si tampan Enda?," benar kata Agam, air liurnya terasa sangat encer sebelum mendapatkan sisa makanan Enda itu.
"Ya! tentu saja. Tapi Jena, alangkah baiklah jika kau di buatkan hidangan baru saja. Nasi goreng itu di olah oleh mas Khair, dia pasti bersedia membuatkannya lagi untuk mu."
"Haish! tidak Enda, tidak ayahnya, mengapa mereka berdua yang membuat selera makan sang istri melonjak naik. Lantas, apa gunanya diriku belajar memasak seperti Kanaya, dengan resep acak-acakan dan tidak karuan? jika ternyata istriku hanya ingin mencicipi masakan yang di olah oleh Khair," memikirkan hal itu, Agam memutar bola mata, jengah.
"Tidak, aku hanya ingin yang ini. Besok-besok jika bekal si tampan Enda tidak habis lagi, kau harus memberikannya kepadaku, ya!," ucap Jena segera menyantap hidangan sedap di lidahnya.
"Iya, sehat-sehat ya ibu hamil," ucap Zafirah sembari mengusap punggung Jena.
"Enda lagi! Enda lagi! kenapa selalu dia yang di sebut Enda si tampan??," gerutu hati Agam.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1