Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Langkah merajut rasa


__ADS_3

Lama waktu berlalu, ikan yang telah di ramu hampir habis di bakar. Yasir, mendapat tugas mengambil baki tambahan untuk meletakan ikan yang telah selesai di bakar. Menyapukan pandangan pada setiap sudut ruangan, tidak nampak pasangan halal yang masuk bersamaan beberapa saat yang lalu.


Di tengah kegiatannya mencari letak baki, langkah seseorang turun dari lantai atas menyita perhatiannya. Agam, dengan rambut setengah basah sedang menuruti anak tangga. Meski mengenakan baju yang sama hitam, mata jeli Yasir dapat memastikan bahwa kaus yang di pakai Agam berbeda dengan yang semula dia kenakan. Juga rambut setengah basah itu, apakah luka bakar di ujung jari mengharuskan dia menjalani ritual mandi malam hari???


Segurat senyum terukir naik di wajah Yasir"Habis mandi ya?, setidaknya keringkan dulu rambutmu sebelum bergabung bersama mereka di luar. Selain menjaga prasangka dan perasaan Zafirah, kau juga tidak mau kan menjadi bulan-bulanan Angga dan Gibran."


Mendengar nama Zafirah, membuat Agam baru menyadari perasaan wanita itu yang mendapat penolakan darinya. Pria itu memeriksa keadaan rambutnya yang memang setengah basah, lantas, dia pun melirik Yasir yang kembali sibuk mencari baki.


"Apa yang kau cari?."


Jena datang ke ruangan itu, dan tentu saja dari lantai atas. Wanita bersurai panjang itu membuka kulkas dan mengambil air mineral di sana.


Sejenak, Yasir menghentikan aktivitas nya. Pria itu menatap rambut Jena yang nampak kering"Baki untuk menghidangkan ikan yang sudah di bakar."


Segera Jena menuju lembari besar, dengan postur tubuh yang mini wanita itu berjinjit ingin mengambil apa yang Yasir cari. Melihat hal itu, Agam segera membantu Jena, seperti sedang memeluk sang istri dari belakang Agam yang tinggi dapat dengan mudah meraih baki itu.


Yasir menatap pintu menuju beranda, khawatir Zafirah kembali menyaksikan interaksi manis dua insan ini.


"Terimakasih, aku mencari benda ini kemana-mana," tuturnya lekas mengambil alih benda itu dari tangan Agam.


Saat mereka berdua hendak mengekor langkahnya menuju beranda, Yasir seperti sedang menghalangi jalan mereka.


"Kau kenapa? katakan jika ada hal yang ingin kau sampaikan," ujar Agam mulai merasa risih dengan sikap menghalangi Yasir.


Yasir membalikan badan, berhadapan sempurna dengan Jena dan Agam.


"Maaf sebelumnya, entah apa yang telah terjadi di antara kalian tadi. Tapi Jena, biasakah kau keringkan dahulu rambut suamimu? mengingat hubungan kalian sebagai sepasang pengantin baru, mereka semua akan beranggapan kalian baru saja selesai......," Yasir menjeda kata-kata. Pria itu mengetuk ujung kakinya ke lantai, seperti sedang bimbang.


Wajah Agam telah merona, dan Jena....wanita itu segera membawa Agam kembali ke lantai atas tanpa berkata-kata.


"Terimakasih sarannya," tukas Jena di sela langkahnya.


Nampak canggung, Yasir membalas senyum nakal Agam sembari berkacak pinggang. Pria itu bahkan menggelengkan kepala sebab seringai tawa Agam semakin menjadi.

__ADS_1


Menyudahi pekerjaanya, kini giliran Zafirah menggantikan posisi Syabila bermain susun balok. Bersama Gibran, Syabila menatap piring dan hidangan lain di meja kayu.


"Lama sekali bang Agam dan Jena, apa mereka tidak ingin makan bersama kita," celetuk Syabila.


"Jena masih membalut luka Agam, sebentar lagi pasti akan bergabung bersama kita," ujar Yasir menimpali.


Gibran mendudukan diri di hadapan meja, dengan santainya menyantap seekor ikan tanpa banyak bicara.


"Hei, kau tidak menunggu mereka selesai bermain?," protes Syabila.


"Ayolah, aku lapar. Anggap saja aku seorang chef yang datang untuk menguji kelezatan hidangan kita."


"Chef dari mana?? Zafirah dan Angga yang membakar ikan-ikan ini," protes Syabila lagi.


Ck! Yasir kembali menengahi"Sudahlah, biarkan Gibran makan. Hanya satu ekor saja."


Menatap Gibran dengan bibir maju cemberut, Gibran tertawa saat menatap wajah Syabila yang kesal terhadapnya.


"Hihihi, jangan marah. Aku takut kau menyumpahi ku di dalam hati, ayo sini dedek manis ambil piringnya. Kita makan sama-sama," ajak Gibran coba membujuk rayu Syabila.


"Nih, ikannya enak, lekaslah di makan," pria bermata boba itu menyerahkan piring kepada Syabila. Juga mempersilahkan gadis itu untuk duduk bersamanya. Beruntunglah Syabila hanya sekedar bercanda, hingga akhirnya dirinya pun lebih dahulu menyantap hidangan ketimbang yang lainnya.


...❣️❣️❣️❣️...


#Flashback On#


Apa kau tahu, berjalan menaiki tangga menuju lantai atas adalah hal biasa. Namun, jika menaiki tangga itu sembari berciuman....apa kau yakin semua akan baik-baik saja?


Entah mengapa, sentuhan lembut Agam begitu cepat menyerap kesadaran seorang Jena. Wanita dingin itu begitu lemah saat sang pria pertama kali memberikan sentuhan kepadanya, dan di balik kelemahan itu, Jena justru tidak ingin lepas darinya barang sekejap saja.


"Kriet", pintu kamar di buka perlahan, sama pelannya dengan ciuman yang masih menyatukan dua insan itu. Sejak kapankah lengan Jena memeluk erat pinggang suaminya, wanita itu tidak menyadari tindakan nya membuat Agam semakin candu pada dirinya. Keinginan untuk mendapatkan lebih semakin membuncah, membawa Agam menggiring perlahan tubuh sang istri menuju pembaringan.


"Agam...," ujarnya tengah berada di bawah kungkungan pria itu.

__ADS_1


Menarik diri menghentikan aktivitas yang mulai memanas"Hem?," tanyanya mengangkat kepada dari ceruk leher sang istri.


"Ini benar kali pertamamu?," sangat tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, mengingat Agam yang sangat menjaga diri dari wanita yang bukan mahram nya sebelum menikah. Caranya memberikan sentuhan sungguh membuat Jena merasa nyaman.


Mengusap lembut rambut sang istri"Tentu saja, sejak beranjak dewasa, hanya kau wanita yang menghuni hatiku. Juga peringatan dan ajaran bunda yang selalu mewanti-wanti ku agar menjaga diri dari yang bukan mahram, ini benar-benar kali pertamaku Jena."


Jena memberanikan diri menjulurkan tangan menyentuh wajah Agam, pipi berlesung pipi akhirnya di sentuh untuk pertama kalinya. Agam sedikit memiringkan wajah saat merasakan sentuhan lembut itu, kembali memutus jarak di antara mereka dan kembali mencium aroma manis sang istri pada ceruk lehernya.


Terdengar sangat jelas, napas pria itu kian menderu saat Jena juga melancarkan aksinya pada sang pria. Tiba saatnya Agam melepas baju yang dia pakai, kedua mata Jena hampir meloncat mendapati perut kotak-kotak nya. Mengapa pria kecil ini memiliki otot perut??? bukankah dia hanya bocah tengil yang sepantaran adiknya?Jiwa wanita Jena meronta, kini bahkan dengan lancarnya jemari kecil itu berselancar pada otot-otot perut suaminya. Hingga....saat tangannya mulai turun ke area bawah....


"Agam!," pekik Jena tertahan, wanita itu mendorong tubuh Agam hingga bertukar posisi. Jena merapikan kembali kancing kemejanya yang telah banyak terbuka, membuat tubuh berharganya telah terlihat bahkan di cium lembut prianya.


"Ada apa?," tanya Agam menghela napas berat.


"Aku masih belum bisa."


Agam bangkit mendudukan diri. Berhadapan dengan Jena yang duduk pasrah menatap dirinya.


Terlihat Agam mengatur napas, menenangkan diri hingga dapat mengendalikan diri kembali.


Mengacak rambut nya, frustasi"Maaf, seharusnya aku lebih bersabar."


"Kau terlalu menarik Jena, maaf jika aku telah membuat mu tidak nyaman," ucapnya lirih. Menatap Jena dengan perasaan sangat bersalah.


Di saat hati Agam tengah ketar ketir takut memancing trauma sang istri, Jena dengan santainya mendudukan diri dalam pangkuan pria itu. Memeluknya erat, meletakan wajahnya di pundak lebar Agam"Kau membuatku sangat nyaman, hanya saja aku belum bisa memberikan hak mu malam ini."


"Baiklah, aku akan kembali menunggu," suaranya terdengar serak, dengan paksa nafsu pria itu harus segera di redakan, ah!!! itu sangat menyiksa.


Mengeratkan pelukannya pada tubuh Agam"Hem, bersabarlah ,setelah mandi suci aku akan memberikan hak mu sebagai suami."


Sungguh, keresahan Agam seolah sirna dalam sekejap. Bukan apa-apa, Agam mengira Jena masih belum siap menerima dirinya sebab cinta yang masih bertepuk sebelah tangan, hingga menjeda kegiatan panas yang hampir membakar mereka. Ternyata, kegiatan itu hanya terhalang oleh suatu dan lain hal di bawah sana...🤭


To be continued....

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2