
Kesibukan di cafe mulai mengisi hari-hari khair, Gibran dan juga Agam. Sementara Jena, wanita itu hanya sesekali membantu di cafe, dan kebanyakan kemunculannya di cafe hanya ingin menagih kopi.
Hari demi hari pelanggan yang datang semakin bertambah, bisnis mereka semakin menarik perhatian khalayak ramai. Selain nikmat, hidangan di sana juga tergolong murah, masih mampu di gapai anak-anak muda yang belum berpenghasilan tinggi. Di tambah dengan informasi bahwa salah satu pemilik cafe itu adalah Gibran, daya tarik dari tempat itu semakin bertambah.
Dan, lagi-lagi sutradara Han datang mengajak Gibran untuk bekerja sama"Ada proyek film yang sangat cocok denganmu," ujar sutradara Han.
Dan lagi-lagi juga Gibran menolak"Saya tidak mengerti dengan dunia film, dan sejenisnya sutradara Han. Lagipula, anda terlalu berharap kepada saya, sedangkan saya bukan siapa-siapa di bidang ini."
Pria tua itu, memandang Gibran dengan seksama, membuat Gibran merasa tidak enak hati karena selalu menolak tawaran kerjasama mereka.
"Bagaimana dengan iklan?," sungguh, sangat pantang menyerah sekali Tuan Han ini.
Melihat Gibran yang tak jua berkata-kata, kemudian dia melanjutkan perkataan"Iklan pasta gigi? iklan krim pelindung matahari? iklan peninggi badan?? kau boleh pilih hendak mensponsori produk yang mana."
Gibran tertawa canggung, usaha sutradara Han membuatnya sangat berat untuk terus menolak kerjasama di antara mereka.
"Bolehkah saya memikirkannya terlebih dahulu? saya janji akan segera memberikan jawaban," ujarnya akhirnya.
"Jawaban tentang iklan ya, bukan tentang penolakan kerjasama di antara kita."
Dalam hati Gibran, hanya kali ini saja. Hanya sekali ini dia akan bekerjasama dengan sutradara Han, sebab akan sangat tidak sopan jika dia terus menolak tawaran dari sutradara terkenal itu.
Dengan senyuman lebar, Gibran pun menjawab"Iya, tentu saja tentang jalannya kerjasama kita."
Akhirnya, usaha Sutradara Han membuahkan hasil. Pria itu nampak menghela napas lega, incarannya akhirnya jatuh ke tangannya.
Usai kepergian Sutradara Han dari tempat itu, terlihat Agam dan Khair sedang berdiskusi di konter minuman. Mereka saling menyapa dan bertukar senyum saat sutradara Han melewati mereka.
Setelah pria itu benar-benar pergi, Gibran bergabung bersama dua rekannya, dan kembali membahas rencana mereka. Karena cafe sudah mulai ramai, tentu mereka membutuhkan beberapa pekerja yang dapat membantu mereka di cafe.
"2 orang?," tanya Khair.
"3 orang," sahut Gibran.
"Hemmmm, apa tidak sebaiknya 4 orang saja? cafe kita cukup besar, dan semakin hari semakin ramai. Jika hanya 2/3 orang, aku yakin itu tidak cukup membantu," Agam berucap sembari meletakan jemarinya di bawah dagu, mengedarkan pandangan pada setiap sudut cafe.
Membenarkan ucapan Agam, dua pria itu mengangguk.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana cara kita mencari pekerja?."
"Kita ambil dari para pemuda penduduk pantai saja," tukas Agam menanggapi pertanyaan Khair.
Lagi, Khair dan Gibran mengangguk.
Keputusan dari musyawarah tiga pria itu, di tunjuklah Gibran yang lebih akrab dengan penduduk tepi pantai untuk menyebarkan informasi lowongan pekerjaan tersebut.
"Cewek boleh bukan?," ujarnya ingin lebih memastikan.
Agam sedikit ragu, kalau masalah itu sepertinya harus di rundingan dahulu dengan istrinya. Meski tidak terlalu di sibukan dengan urusan cafe, tapi keputusan nyonya besar kediaman pantai ini sangat berpengaruh.
Hari menjelang sore, Zafirah dan Enda menaiki bus yang mengantar para santri, mereka sengaja singgah di cafe pantai untuk pulang bersama sang suami.
"Aku pulangnya habis isya, apa tidak apa-apa kalian menungguku di sini?," tanya Khair saat dua orang terkasihnya datang, tanpa memberitahu terlebih dahulu, sungguh menjadi kejutan bagi dirinya.
"Tidak mengapa Mas, aku juga sudah kangen dengan Jena, ingin ngobrol banyak."
"Kalau begitu kita akan makan malam di sini saja," tukas Khair lagi. Kali ini dirinya berbicara sembari memainkan jemari lembut sang istri. Membuat Agam mengerucutkan bibir dan bergegas menaiki lantai atas. Barulah Agam merasakan perasaan Gibran, saat melihat dirinya dan Jena sedang bermesraan.
Di lantai atas, Jena belum mengetahui kabar kedatangan Enda dan Zafirah. Dirinya masih sibuk di depan laptop, mengetik naskah.
"Masih tentang horor?," tanya nya merangkul pundak Jena dari belakang, dengan posisi sedikit condong ke depan.
"Hem," sahut Jena mengangguk, jemarinya meraih helai rambut tebal Agam, membelainya dengan lembut.
"Tidak ada yang bersedia membacakan surah yasin untuk jenazah tersebut, karena sifat sombongnya di masa hidup," Agam mulai membaca sedikit naskah yang telah di ketik Jena.
"Sayang, jika tidak ada yang bersedia membacakan yasin, kenapa tidak kau suruh dia saja yang membaca yasin itu sendiri," ucapnya mencium pipi Jena sekilas. Kemudian segera menjaga jarak, karena dirinya yakin sang istri akan kesal mendengarnya berucap.
Dan benar saja, kedua alis Jena saling bertautan, menatap Agam dengan kedua mata berkedip-kedip"Maksudmu, mertua sombong yang sudah jadi mayat itu harus membaca yasin sendiri?."
Agam nampak tertawa.
"Mas Agam!," hardik Jena melihat tawa sang suami.
"Yang benar saja! mana ada orang mati yang masih bisa membaca yasin sendiri??," ujarnya lagi berdiri dari kursi, bersiap menerkam Agam.
__ADS_1
Dan tawa seorang Agam pun semakin pecah, sambil menghindari serangan bertubi-tubi Jena yang hendak mencubit perutnya.
Saat Agam dan Jena saling kejar-kejaran, suara teriakan Gibran di bawah tangga membuat mereka harus menghentikan adegan ala-ala filem india itu.
"Kak Jenaaaaa, Kanaya sudah dataaanngggg!," seru pria itu. Bukan main-main, seruan yang lebih tepatnya di katakan teriakan itu membuat para pelanggan tertawa melihat tingkahnya.
Dan Jena, mendengar kedatangan Kanaya langsung mengambil langkah cepat menyongsong sang koki idaman.
Rasa bahagia Jena semakin bertambah, saat melihat Zafirah dan Enda di lantai bawah.
"Waaahhhh, si ganteng datang!!," seru Jena. Alih-alih mendatangi Kanaya, dirinya justru memutar haluan kepada Enda.
"Hei!!! kakak ipar, aku di sini," sangat tidak terima dengan sikap yang di tunjukkan Jena, Kanaya langsung melayangkan protes.
"Ah! adik iparku yang cantik, tolong buatkan aku hidangan yang spesial," ujar Jena sembari mengedipkan mata. Melihat sikap Jena membuat Gibran geram ingin menjitak kening sang kakak.
Merasa di puji, pun dengan embel-embel adik ipar, membuat hati Kanaya berbunga-bunga.
Segera gadis itu mengambil alih dapur cafe, namun segera di tahan Khair"Maaf sebelumnya, ini dapur bisnis. Kau bisa meminta kepada Gibran untuk mengijinkanmu menggunakan dapur pribadi saja," sebagai chef, sangat pantang bagi Khair jika area memasaknya di pakai orang lain.
Kanaya sempat menekuk wajah karena kehadirannya di dapur cafe mendapat penolakan. Namun Zafirah segera menarik lengannya, dan mengajaknya ke dapur pribadi, dengan Gibran yang mengekor di belakang mereka.
"Maaf ya, jangankan kamu, aku saja tidak di perbolehkan menyentuh dapur itu saat dia bekerja."
"Oh," Kanaya mengangguk tanda mengerti.
"Ku dengar masakanmu sangat di sukai Jena. Aku jadi tertarik dengan resepnya. Boleh aku melihatmu memasak?," tanya Zafirah lagi.
Wajah Kanaya kembali tersenyum"Tentu saja, sebuah kebanggaan jika kalian menyukai masakanku."
Sementara Jena, wanita itu segera membawa Enda ke belakang cafe, atau kediaman mereka. Bocah itu sangat menyukai hewan air, dan Jena sangat tahu hal itu. Dirinya berniat mengajak Enda menyusuri tepi pantai, dan semoga saja mereka berjumpa dengan kepiting kecil atau hewan lucu lainnya.
Saling bergandengan tangan, Jena dan Enda nampak sangat menikmati suasana di tepi pantai. Tanpa mereka sadari, Agam yang sedari tadi mengikuti mereka, menatap tajam ke arah bocah kecil bernama Syailendra itu.
"Bocah! kau masih kecil tapi kau sudah merebut perhatian wanitaku?," gerutu Agam.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
*Maaf jika up nya tidak sesuai jadwal. Pangkalan Bun sedang tidak baik-baik saja, banjir besar tengah melanda kota ku 🥲 air terus naik dari tepi sungai sampai ke tengah kota. Air di rumahku sudah mencapai lutut orang dewasa, listrik di padamkan, dan sekarang aku telah mengungsi ke tempat sanak saudara. Mohon doanya 🙏 semoga banjir ini segera berlalu dan keadaan segera pulih kembali.