Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Kepergian Zafirah


__ADS_3

Akhtar abdillah, dia adalah seorang ayah penyayang. Usai mengulik lebih dalam tentang rasa cinta yang bersarang di dalam dada sang putra, Akhtar berniat membantu sang putra mendapatkan sang wanita pujaan.


Arabella yang awalnya sedikit tidak rela atas keinginan Agam, akhirnya memberikan restu dan dukungan usai mendapat nasehat dari suami tercinta.


Meski telah mendapat restu dari kedua orang tua, Agam harus menelan pil pahit karena sang pencipta tak memberikan hal yang serupa. Gerak Agam di salip dengan mulus oleh Rio, bersama sang ayah, pria itu lebih dulu menyampaikan niat hati meminang Jenaira pada ayah dan ibunya.


Sebuah kabar baik bagi Adira, meski dialah wanita yang telah melahirkan Jena, pengaruh sang peramal di masa lalu masih menghantui pikirannya.


"Terima saja lamaran Rio, ayah. Agar ada seseorang yang menjaga Jena, agar Arkan dan Gibran berhenti mengkhawatirkan Jenaira lagi"


Hati seorang Abian ternyata sedikit melemah ketimbang Adira, kenyataan membuktikan sang peramal adalah penipu, membuka mata hati yang selama ini buta akan rasa sayang terhadap sang putri tunggal mereka. Perkembangan kasus peramal itu sangat cepat, sebab pelapor terus berdatangan membawa bukti kebohongan yang telah di lakukan wanita gila itu. Ya! peramal itu dinyatakan gila.


Sang peramal hidup dalam dunia khayalan, semua yang peramal lakukan adalah tipuan belaka, semua yang di ucapkan sang peramal hanyalah igauan belaka. Kasus itu bermula saat sang pelapor menyadari begitu banyak hal yang tak berjalan seperti apa yang peramal itu katakan, alih-alih mendapat keuntungan, sang pelapor justru kehilangan banyak uang karena ulah sang peramal.


Kesuksesan yang di raih keluarga Ahmad adalah hasil jerih payah mereka sendiri, bukan karena menjauhkan Jena dari hidup mereka. Mengetahui kabar sang peramal, Arkan juga berniat melaporkan peramal itu, namun cepat-cepat di tahan Abian. Sudah cukup kebodohan yang mereka lakukan bertahun-tahun, jangan sampai orang lain tahu betapa dungunya mereka saat itu.


Kehidupan baru, Abian berharap dapat membantu Jena meraih kehidupan yang baru, lebih baik, bersama pria yang baik. Rio bukanlah orang asing di mata Abian, ayah pria itu berteman baik dengannya. Mereka dari keluarga baik, dan profesi Rio juga menjadi alasan mengapa dia lebih di terima oleh keluarga Ahmad.


"Aku berharap Jena akan bahagia bersama pria yang satu profesi dengannya"begitulah Abian beranggapan. Sebelum menerima lamaran Rio, Abian berniat menyampaikan hal itu lebih dahulu kepada Jena, di kesempatan ini Abian tidak ingin bertindak tanpa persetujuan sang putri.


"Menikah??"


Jena terdiam, kedatangan sang ayah dan ibu cukup mengejutkan, kabar lamaran itu sukses menambah keterkejutan pada diri Jena.


"Apa dia laki-laki pilihan kalian?", tanya Jena memandangi kedua orangtuanya bergantian.


Lantas, Abian mengulas senyum kepada Jena"Tidak nak, hanya saja Rio, pria yang baik di mata ayah"


"Juga ibu",tambah Adira.


"Di mata ayah, belum tentu di mata aku", ujarnya menahan diri. Entah mengapa dadanya terasa sesak, ini kali pertama mereka berdiskusi tentang kehidupannya.


"Jena, ayah harap kau segera menemukan pengganti Dewa"

__ADS_1


"Apa aku mengusik kedamaian kalian?".


"Tidak nak, kami hanya mengkhawatirkan keadaanmu",gurat kesedihan tergambar di wajah Abian, Jena tidak yakin itu benar-benar kesedihan ataukah topeng belaka.


"Terimakasih, tapi aku baik-baik saja",ujarnya bernada datar.


"Begini, apa pendapatmu tetapi Rio?", Adira menimpali.


Abian pun menambahkan "kami pikir, dengan profesi yang sama, kalian dapat saling mendukung, saling memahami, dan kehidupan rumah tangga kalian pasti akan bahagia".


"Jawabanmu sangat mereka tunggu".


Nyanyian burung camar terdengar mengejek di telinga Jena, emosinya turun naik. Ada apa dengan kedua orang tua ini? angin apa yang membawa mereka sampai di sini?


Tidak mampu memberikan tanggapan, Jena hanya duduk terdiam di kursi balkon belakang. Sungguh, kehadiran mereka terasa asing, terlebih dengan maksud untuk bertemu dengannya.


"Bagaimana? apa kau bersedia menikah dengan Rio?", pertanyaan itu mendesak Jena untuk segera memberikan jawaban.


"Kau akan bahagia jika bersamanya, Arkan dan Gibran juga akan merasa tenang. Rio akan menggantikan mereka menjaga dirimu, menemanimu di sepanjang hidup".


Ujung mata wanita itu melirik sang ibu, ingin sekali Jena bertanya, apa hak wanita ini menyuruhnya menerima lamaran Rio??


"Kupikir hubungan kita tidak sedekat ini" gumaman itu terlontar perlahan, di sapu sang angin hingga Abian ataupun Adira tidak mendengar ucapannya.


"Cepat berikan jawabanmu Jena" kesabaran seorang Adira mulai menipis.


"Aku masih belum siap untuk menikah lagi, lagipula aku tidak mengenal Rio dengan sangat baik" tukas Jena akhirnya.


"Jika kau ragu, kalian bisa berpacaran dulu"tawar Abian.


"Entahlah"


"Jena, begitukah caramu berbicara dengan kami?" Adira mulai meninggikan suara.

__ADS_1


"Maaf, aku lelah. Aku belum tidur dari kemarin, bisakah aku undur diri dari sini?"


Adira memberengut, terbiasa mengabaikan Jena, wanita itu sangat tidak bisa mengambil hati sang putri.


Berbeda dengan sang ibu, sang ayah memberikan ruang untuk Jena"Ayah tidak akan menerima lamaran Rio, tapi ayah akan menyarankan dia untuk lebih dekat denganmu"


"Hem" sahut Jena beranjak dari situ.


"Hatiku bertanya-tanya,apa kau masih berhak menerima lamaran itu bahkan jika aku menolaknya" gumamnya menaiki tangga. Lagi-lagi suara itu tidak terdengar oleh kedua orang tuanya.


Masa bodoh dengan sikap Jena, Adira juga menaiki tangga menuju kamar sang putra. Adira sangat ingin tahu bagaimana reaksi Gibran saat dirinya membangunkannya.


"Mamaaaaa" teriak Gibran senang.


Jena membuang napas berat. Bisa-bisanya bocah tengil itu berteriak gembira, apa bertemu dengan sang ibu sangat menyenangkan? ck! tidak ingin membuang waktu, Jena membenamkan diri di balik selimut. Duhai alam mimpi, peluk erat tubuh lelah wanita lemah ini.


*


*


*


*


Ketika hati yang di miliki Agam tengah berduka, hati yang di miliki oleh Zafirah juga tengah berduka. Sudah cukup baginya mengejar cinta dunia ini, bersama hati yang meringis sedih Zafirah putuskan untuk menjauh dari kehidupan Agam.


Dunia tengah berduka, bencana di mana-mana. Berita sang peramal abal-abal berganti liputan korban bencana alam. Anak gunung merapi yang telah lama tertidur tiba-tiba terbangun, memuntahkan lahar panas yang meluluh lantakkan pemukiman warga di sekitarnya. Zafirah, bergabung bersama relawan yang memberikan bantuan pada para korban bencana alam itu. Membawa nama pondok pesantren sang ayah, gadis itu bersama sanak saudara para donatur pondok pesantren mengatur jadwal keberangkatan menuju lokasi.


Berbekal restu sang ayah, satu-satunya orang tersayang yang masih bersamanya di dunia ini, Zafirah berangkat sore itu. Lambaian tangan pak kiayi bahi mengiringi kepergian sang putri, gadis kecilnya telah dewasa. Tentu pak kiayi tahu betul alasan terbesar Zafirah memilih pergi menjadi relawan, seulas senyum pahit mengembang di wajah tua itu"Kau pergi dengan hati yang lara, mencoba mengukir senyum di wajah orang-orang yang tengah berduka. Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah SWT anaku"


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2