Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Semburat rindu.


__ADS_3

Cemburu seorang Agam, menambah daya tarik pria itu di hadapan Jena. Garis wajah yang di ukir sang maha pencipta, tak pernah di jumpai Jena dalam keadaan tidak sedap di pandang mata, baik itu ketika cemberut, apalagi tersenyum.


Usai mereka menutup cafe, Jena melepas penat di beranda kamar. Menikmati udara malam di tepi pantai alih-alih beristirahat masuk ke dalam kamar. Melihat sang istri berdiri menatap lautan, dengan kedua tangan memeluk diri sendiri, Agam yang merajuk tidak bisa menahan diri.


Sesaat kemudian, Jena merasakan pelukan hangat pria tampannya dari belakang.


"Masuklah, angin malam tidak baik untukmu."


Jena tersenyum, sembari mengusap lembut lengan kekar yang melingkar pada perut"Ku pikir kau sedang merajuk."


Agam membenamkan wajah pada ceruk leher sang istri, aroma manis Jena selalu saja membuatnya nyaman"Bagaimana aku bisa merajuk, ketika kau memakan masakan Khair dengan sangat lahap."


Lagi, Jena tersenyum, kali ini jemarinya membelai rambut lebat sang suami"Apa kau tahu, ketika menekuk wajah, kau telihat sangat menggemaskan."


Oho! kata menggemaskan itu kerap Jena tujukan kepada Enda, namun malam ini Agam mendapati kata mustajab itu keluar dari mulut sang istri, dan itu tertuju kepadanya.


Wanita itu dapat merasakan pergerakan pada dagu sang suami, dia tahu prianya sedang mengulas senyum.


Perlahan Agam menggerakan jemarinya, mengusap perut Jena yang belum membesar"Jadi, apakah ayah harus selalu merajuk nak, agar selalu di katakan menggemaskan oleh ibumu ini?."


Astaga! ini masih terlalu dini untuk berbicara pada sang buah hati, sepertinya bukan hanya Jena yang bertindak kekanan-kanakan, tapi Agam pun sama.


"Mas, jadi kau benar-benar cemburu terhadap Enda?."


"Tentu saja! jangan mentang-mentang dia bocah kecil, jadi cemburu ku hanya gurauan saja," mengambil duduk pada tepian pelataran tower air di samping Jena, posisi Agam membuat Jena bergeser sedikit dan mendongak ke atas.


"Dia hanya bocah kecil, mas," tukas Jena lagi, tertawa kecil.


"Tetap saja dia laki-laki, sayang."


"Ayolah, dia hanya laki-laki kecil yang usianya jauh di bawah aku."


"Aku juga laki-laki kecil bagimu, bukan? sebelum akhirnya kita menikah."


Oh Tuhan! celotehan yang keluar dari mulut pria ini, sukses membuat Jena terbahak. Bagaimana bisa bisa memandang Enda seperti dirinya, usia mereka terpaut puluhan tahun!!.

__ADS_1


Melingkarkan kedua lengannya di pinggang Agam, Jena sedikit bersandar pada pria itu, saling berhadapan"Agam ku tersayang, suami ku yang paling hangat sejagat halu, tidak akan ada pria lain yang mampu menaklukkan hatiku selain kamu. Bahkan bocah lucu dan menggemaskan seperti Enda pun, tidak akan bisa mengalahkan tingginya tahtamu di dalam hatiku."


Menunduk, menatap lekat manik cantik sang istri, Agam di buat tersenyum lebar oleh Jena"Benarkah?," ujarnya menangkup kedua wajah Jena.


"Hem!," sahut Jena begitu pasti.


Agam segera turun, dan memeluk Jena dengan begitu erat"Terimakasih, kau akhirnya membalas perasaanku. Aku sungguh tidak menyangka, bahwa takdir akan mempersatukan kita. Tetaplah bersamaku, sayang."


Kehangatan hati seorang Agam, membuat kedua bola mata Jena berkaca-kaca, rasa syukur Agam ketika berhasil meminangnya, membuat Jena merasakan betapa berarti dirinya di mata Agam.


"Terimakasih juga mas, kau begitu mencintaiku. Kau, membuatku merasa lebih berharga."


...☘️☘️☘️☘️...


Keraguan tengah hinggap pada hati Kanaya, apakah dia harus membicarakan tentang ajakan Adila kepada Gibran? apakah itu perlu?.


"Tante Adila tidak seperti orang yang akan menghabisi mu, bukan?."


Pertanyaan Melisa ini, membuat Kanaya menepuk keningnya"Apa-apaan pertanyaanmu itu? tante Adila tidak punya riwayat kriminal, bukan?," dan kali ini giliran Kanaya yang bertanya.


Melisa menggelengkan kepala, langkah pendekatan yang di lakukan Adila, membuat gadis itu bertandang ke kediaman Kanaya, demi memberikan wejangan kepada sahabat barunya ini.


Kanaya mendelik ke arah Melisa, yang sedang berayun di beranda kamarnya"Aku merasa tersanjung karena kau melindungiku seperti ini."


"Bukan apa-apa Kanaya, jika saat ini kau menjadi korban tante Adila, tidak menutup kemungkinan hal itu juga akan menimpaku suatu saat nanti. Demi keamanan kita berdua, lebih baik kita lenyapkan terlebih dahulu bahaya yang akan menimpa kita, bukan."


"Maksudmu tante Adila itu berbahaya?."


"Mungkin, ini hanya kemungkinan."


"Owh! aku tidak mampu menerka, akan segusar apa bang Arkan jika mendengar ocehan mu ini,", Kanaya melangkah menuju beranda, mengambil duduk pada sebuah kursi, berdekatan dengan Melisa.


"Semua akan baik-baik saja, jika kau tidak buka suara," ujarnya melirik nakal kepada Kanaya.


"Ini mulut, Melisa. Bukan tong bocor yang suka menyebarkan gosip kemana-mana," gadis itu mengerucutkan bibir ke arah Melisa, sangat sadar bahwa Melisa tengah menyindir dirinya.

__ADS_1


Gadis di hadapan Kanaya terkekeh"Baguslah jika kau sadar dengan mulut normalmu. Akan lain ceritanya jika mulutmu beralih fungsi menjadi tong bocor."


"Akan kau apakan??."


"Lidahmu akan ku bikin rendang," sahut Melisa semakin tergelak tawa.


"Sialan!! kau kira aku sapi?," Kanaya melempar roti dalam kemasan ke arah Melisa, membuat gadis itu semakin tertawa renyah.


"Jika sudah puas tertawa, bantu aku memilih pakaian yang pantas untuk menemani tante Adila ke acara arisan."


"Wowowo!!," Melisa berseru"Yang aku tahu, geng arisan tante Adila dari kalangan berduit 9 digit, bahkan ada bos besar yang tingkat kekayaannya mencapai 12 digit. Kau seharusnya tidak boleh salah kostum."


Kanaya justru menyeringai menatap Melisa"Kau ini, bukankah tingkat kekayaanmu juga mencapai 12 digit."


Melisa mendekati Kanaya, kemudian berbicara pelan di telinganya"Aku memang punya uang dengan nominal 12 digit, tapi itu uang haram. Uang yang bersumber dari bang Jake."


Bisikan Melisa membuat raut wajah Kanaya berubah, dia hanya bercanda saat menyinggung kekayaan yang di miliki Melisa. Tapi ternyata gadis itu benar-benar kaya raya, untung saja Kanaya sudah tahu siapa Jake, dan apa pekerjaan.


"Wajahmu tegang sekali, ayolah Kanaya, apa kau pernah mendengar bahwa seorang mafia miskin?."


Memutar kedua bola mata, Kanaya terlihat Jengah"Iya! iya! aku sangat tahu tentang itu. Tapi aku hanya tidak menyangka kau memiliki kekayaan sebanyak itu."


"Jadi, kau merasa aku hebat karena kekayaan itu?."


"Hemmm, bisa jadi. Sebab dengan kekayaan itu kau bisa membeli semua yang engaku mau."


"Tidak semuanya, Kanaya!," tukasnya menyambar kata-kata Kanaya.


"Cinta bang Arkan? hal itu memang tidak bisa di beli," ucap Kanaya lagi. Namun bukan itu yang Melisa maksud, dia pun kembali menggelengkan kepala.


Kanaya kembali bertanya"Lantas apa?, kau sudah mempunyai segalanya."


"Kebersamaan," sahut Melisa, wajah gadis itu terlihat muram, seperti langit yang sebentar lagi akan menurunkan sang hujan.


Kanaya terdiam, sejatinya sikap acuh Melisa terhadap sang abang, hanyalah untuk menutupi rasa rindu yang selalu curang kepadanya. Semakin Melisa menahan keinginan untuk bertemu dengan Jake, semakin besar pula rindu itu bersemayam di dalam jiwa.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2