Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Rindu tersayang


__ADS_3

Luka itu kembali berdarah, meski keyakinan telah sangat bulat, namun ikhlas amatlah sangat berat. Genangan air mata turun tanpa permisi, sungguh, segumpal darah di dalam dada terasa sakit. Bahkan, denyutnya tak lagi tenang dan damai, berontak memacu muncul nya emosi yang memanas.


Tangan yang spontan mengepal, kini di buka dengan harapan belenggu hati juga akan terbuka"Iklhas, Zafirah," gumamnya pada diri sendiri.


Sebelum semakin terluka, Zafirah yang telah memastikan dua insan itu berjumpa, memutar langkah untuk kembali ke tendanya.


"Kau sangat kuat," wanita itu berhadapan dengan Arkan saat memutar langkah. Wajah sendu itu di bawa tersenyum, senyum yang jelas terlihat pahit.


"Terimakasih, telah menjaga adikku. Maaf, aku tidak menyangka bocah itu begitu gemar melarikan diri," ujar Arkan sembari mempersilahkan Zafirah melangkah.


"Tidak mengapa, dia gadis yang baik," tutur wanita berkerudung panjang itu. Arkan sempat bertanya-tanya, bagaimana bisa Zafirah bergerak dengan leluasa, di tempat yang becek dan lembab ini. Juga kerudung panjangnya, sejauh ini Arkan tidak pernah menjumpai Zafirah mengenakan kerudung yang lebih pendek dari batas pinggang.


"Hemmm....., sampai kapan kalian akan di sini," tanya nya mensejajarkan langkah bersama.


"Sampai bencana reda," sahutnya singkat.


Arkan seolah kehabisan kata-kata. Alih-alih kembali melontarkan kata, pria itu berjalan bersama Zafirah tanpa kembali berkata.


Agam masih betah memeluk wanitanya, meski banyak pasang mata yang menyaksikan hal itu. Sungguh, jika saja mereka berada di tempat tertutup, Agam akan mencium wanitanya hingga puas.


"Maaf," terdengar lirihan kecil Jena. Wajahnya terbenam di dada Agam, menghirup aroma tubuh sang pria yang kini menjadi aroma kesukaannya.


Agam semakin menarik Jena ke dalam pelukan, memegang kepala istrinya hingga Jena semakin terhenyak di dada bidangnya.


"Apa kau marah? kau membuatku sulit bernapas," ujar Jena sedikit meninggikan suara.


Menyadari hal itu, Agam segera melerai pelukan mereka. Seperti telah menjadi kebiasaanya, Agam memandang wajah cantik itu sembari menyematkan anakan rambut ke daun telinga. Sebuah tindakan sederhana namun membuat iri siapa saja yang melihatnya. Juga mengelus lembut pucuk kepala istrinya, melakukan hal itu seolah menjadi tanda bahwa Jena adalah wanitanya.


"Jenaira, jauh sekali kau meninggalkanku. Dan....apa kau benar-benar akan memilih Zafirah ketimbang diriku?," ada nada kesedihan dalam kata-kata Agam.


Jena melingkarkan tangannya pada pinggang Agam, menengadahkan wajah dan memandang Agam dengan sangat lembut.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu, meski demi Zafirah. Apa kau tahu, gadis itu mengomel saat aku datang padanya. Sebuah sambutan yang sangat buruk," kini, Jena cemberut, masih memandang Agam.


Celoteh sang istri membuat Agam tertawa. Barisan gigi putihnya, juga dengan sepasang lesung pipi yang di milikinya, Agam sungguh sangat tampan saat tertawa.

__ADS_1


Tatapan hangat dari pria itu, juga belaian lembut saat dia memainkan ujung rambut tergerai Jena, membuat wajah cemberut Jena merona dan tertawa"Jadi, kau tidak akan memilih Zafirah?."


"Tentu saja," sahut Jena.


Suara berat Agam terdengar menahan tawa"Kau terdengar sangat percaya diri."


Ucapan itu membuat Jena melepaskan pelukan di pinggang Agam"Maksudnya??," kedua alis wanita itu saling bertautan.


"Entahlah, kau terlihat senang bermain-main di sini. Aku sempat berpikir untuk membiarkan kau lebih lama di sini, bersama Zafirah."


Lantas, wanita itu menahan getar pada bibir nya"Kau ternyata marah, kau tidak lagi menginginkan ku," dua bola mata cantiknya berkaca-kaca. Sungguh, Jena akan mengerti jika Agam memang marah padanya. Sikapnya sangat kekanak-kanakan kali ini, seperti apa yang di katakan Zafirah, seharusnya dia bersyukur memiliki Agam sebagai suaminya.


Alih-alih menanggapi celotehan Jena, Agam mengulum senyuman sembari memasukan kedua tangan pada saku celananya.


Wanita itu memalingkan tubuh membelakangi Agam, dengan wajah tertekuk Jena memijat lengan"Senang dari mana? punggung dan lenganku rasanya ingin lepas."


Agam melangkah kembali berhadapan dengan Jena, di pandanginya tubuh kecil sang istri lekat-lekat"Ada apa dengan lenganmu?."


"Aku memikul buah nangka jumbo."


"Hah?," sungguh, Agam tidak mengerti dengan maksud perkataan Jena.


Agam mempercepat langkah, menyambar lengan Jena dan menghentikan langkahnya"Bagaimana aku bisa marah, bahkan saat merajuk pun kau sangat menggemaskan, sayang."


Ujung kedua mata Jena melirik Agam, entah mengapa pria ini selalu bisa membuat emosinya mereda. Apalagi panggilan sayang itu, ck! sejujurnya Jena memang merindukan panggilan sayang dari pria nya.


Demi menjawab rasa penasaran seorang Agam, Jena bercerita sembari melanjutkan langkah. Pada awalnya Agam terlihat serius menyimak kisah sang istri, keningnya sesekali terlihat berkerut saat mengetahui betapa cerewet nya nenek gembul itu. Hingga saat sang nenek terjatuh dari perahu, dan menimpa tubuh sang istri, sebab itulah lengan istrinya terasa sedikit tidak nyaman.


Merangkul pundak Jena dan memijatnya pelan, Agam dan Jena berjalan bergandengan"Perasaanmu akan membaik saat memakan benda ini," Agam mengeluarkan beberapa permen jeruk dari saku celana, dan menyodorkan benda manis itu kepada Jena.


Tentu saja, Jena langsung menyambarnya, membuka bungkus nya dan segera menikmati permen berwarna oren itu.


"Bagaimana?."


Sebuah anggukan dengan senyum yang begitu cerah"Aku mulai merasa bahagia," ujar Jena membalas rangkulan pada pinggang Agam.

__ADS_1


...❣️❣️❣️❣️...


Di asrama para pengungsi, nenek gembul tengah berbaring. Wanita itu sangat terkejut saat seseorang tiba-tiba memijat kakinya dengan lembut. Lekas, sang nenek menoleh pada orang itu, seorang pria tinggi yang langsung tersenyum lebar saat pandangan mereka bertemu.


"Cucuku!!! apa yang kau lakukan di sini?," ujarnya balas tersenyum, kembali menampilkan pipi yang membulat pada sang cucu.


"Tentu saja untuk menjemput nenek, sudah berapa kali ayah meminta nenek untuk tinggal bersama kami, kali ini nenek tidak bisa mengelak lagi dari kami."


"Apa kau mencariku ke rumah?."


"Jika tidak ke sana dahulu, bagaimana aku bisa tahu keberadaan nenek sekarang," ujarnya tertawa, baginya nenek cerewet ini sangat menggemaskan.


Wanita itu mengusap lembut rambut lebat sang cucu"Terimakasih, kau selalu ada untuk nenek. Tapi, nenek tidak ingin meninggalkan kediaman nenek, ada banyak kenangan di rumah itu."


"Kenangan bersama kakek?," tanya pria itu masih setia memijat kaki sang nenek.


Wanita tua itu mengangguk.


"Tapi nek, nenek akan selalu kesepian, lagipula banjir kembali melanda perkampungan ini. Jika terus tinggal seorang diri akan sangat berbahaya bagi nenek."


Sang nenek beralih mengusap wajahnya perlahan"Beberapa hari ke depan banjir ini akan reda."


"Dan nenek akan kembali ke rumah itu, dan hidup sendirian lagi? nenek akan kesepian lagi!," kekhawatiran tergambar jelas di wajah pria tampan itu. Sungguh, membiarkan nenek tersayang tinggal sendiri membuat hatinya sangat-sangat tidak tenang. Apalagi dirinya dan sang ayah tinggal di kota yang berbeda dengan sang nenek.


"Kesepian?? hemmm, sepertinya sore ini hati nenek yang kesepian sedikit mendapat hiburan," celoteh nya mengumbar tawa.


"Katakan, hiburan seperti apa hingga membuat nenek tertawa begitu lebar."


Nenek itu menceritakan Jena yang kecil namun bertekad besar. Gelak tawa sang nenek begitu renyah menceritakan tubuh bergetar Jena saat menggendong nya.


"Astaghfirullah, nenek jahil sekali. Kasihan wanita itu," seloroh sang cucu.


"Heheheh, sejujurnya dia gadis yang cantik, sangat cantik. Tapi sikapnya sedikit tidak menyenangkan, jadi tidak mengapa bukan jika nenek sedikit bercanda kepadanya."


Sang cucu menggelengkan kepala, merasa tidak benar dengan apa yang telah di lakukan nenek gembulnya itu.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2