Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Kenangan kelabu


__ADS_3

Hari menjelang petang saat Agam dan Jena meninggalkan perkotaan menuju pantai, langit pun mulai menjingga saat itu. Membuka jendela mobil lebih besar Jena menyilangkan kedua tangan di tepian jendela mobil, menopang wajahnya di sana dan menghirup udara sejuk yang membuat hatinya sedikit nyaman.


" Apa kau sangat menyukai senja?"


" Hem" gumamnya melirik kaca spion kemudian mengeluarkan tangannya" Hujan, akhir-akhir ini hujan sering datang saat malam hari"


Agam juga membuka kaca mobil dan mengeluarkan tangannya, rintik sang hujan mulai terasa jatuh di telapak tangan.


" Apa kau juga menyukai hujan?"


" Ya" sahut wanita itu lagi.


" Boleh tahu alasannya?"


" Kita tidak sedekat itu untuk kau tahu semua yang ku suka dan tidak ku suka"


Garis senyum melengkung kecil di wajah Agam, semakin wanita itu membangun benteng di antara mereka semakin ingin dia meruntuhkan benteng pemisah itu.


" Orang seperti apa yang bisa lebih dekat pada kak Jena?"


" Tidak ada"


Sebuah jawaban yang cukup menyentil sang hati, nampaknya pria satu ini harus berusaha lebih keras demi meluluhkan hati sang wanita.


" Kenapa?"


" Entahlah"


Agam menepikan mobil" Jawaban apa itu,kak Jena? aku bertanya tentang dirimu, bukan tentang orang lain"


" Bagaimana aku bisa memberikan jawaban, aku sendiri tak ingin memiliki seseorang yang lebih dekat dengan ku"


" Apa karena perpisahanmu dengan Dewa?"


" Ya" jawab Jena cepat.


Mendengar nada bicara Jena sepertinya Agam membuat kesalahan saat ini. Rasa penasaran membuatnya menanyakan perihal Dewa, pria yang berhasil menghancurkan kepercayaan Jena. Agam, seperti tak mengerti betapa kecewanya Jena pada pria itu dan sekarang dia justru mengungkit nama yang sangat jengah untuk didengarnya.


" Cepat jalankan mobilnya" pinta Jena.


" Baiklah, kak Jen___"


" Agam, aku lelah, aku ingin memejamkan mata sejenak"


Keadaan menjadi sepi, Jena menutup jendela mobil dan membuang muka dari Agam. Baginya yang ingin sembuh dari patah hati, seharusnya bukan apa-apa saat Agam mengungkit kembali sebuah nama itu, hanya saja dia belum bisa mengendalikan diri untuk bersikap biasa saja saat nama itu di sebut.


Terlambat menyadari kesalahannya Agam hanya bisa menggigit bibir, perlahan rasa bersalah menyelimuti dirinya.


" Maaf" ujarnya akhirnya.


" Sudahlah"


" Aku_____"


" Diamlah Agam, jangan menyulut emosiku" teringat Agam yang selalu berbicara lembut padanya Jena menahan diri agar tak membentak pada Agam. Jena, menarik topi di jaket jumpernya dan menenggelamkan kepala di sana, seolah tak ingin berhadapan dengan Agam saat ini. Sikap itu semakin membuat Agam takut, dia tak ingin membuat hati wanita pujaannya sedih dan terluka.


Hujan semakin deras, hati yang resah dengan perasaan bersalah yang kian membesar membuat Agam kurang berhati-hati. Karena di guyur hujan jalanan menjadi licin dan mobil itu nyaris saja kehilangan kendali.


" Cekiittt!!"


" Agam!!!" teriak Jena, itulah untungnya menggunakan sabuk pengaman. Masing-masing dari mereka nampak terkejut.

__ADS_1


" Apa yang kau lakukan??" pekik Jena" Aku masih ingin hidup. Jika sedang tak bisa menyetir kau bisa memintaku menggantikanmu"


" Maaf kak, maaf. Aku kehilangan kendali"


" Apa yang kau pikirkan?? cepat sadarkan dirimu, aku sangat ingin segera sampai di rumah"


" Maaf ka" Agam terus meminta maaf, dia tak tahu sehebat itu dampak dari kemarahan Jena pada dirinya.


" Berhentilah meminta maaf, sekarang kita bertukar posisi aja. Sepertinya kau kelelahan, aku saja yang menyetir"


Di depan jalan tak jauh dari mereka Agam melihat sebuah mushola, teringat sudah waktunya melaksanakan kewajiban dia pun meminta pada Jena untuk singgah sejenak di sana.


Tanpa banyak tanya, Jena pikir ada baiknya mereka berhenti di sana. Hujan semakin deras dan rasanya tak begitu baik jika melanjutkan perjalanan.


Tak berniat menunaikan kewajiban seperti Agam, Jena hanya diam di dalam mobil yang terparkir di halaman mushola. Dari dalam mobil dia dapat melihat pria itu tengah sibuk mengambil air wudhu bersama beberapa pria lainnya. Tak banyak orang di saat itu, mungkin karena derasnya hujan hingga para warga sekitar memilih menunaikan kewajiban mereka di rumah saja.


Menggunakan peci berwarna hitam polos, kenapa dia sangat menarik di mata Jena. Apakah ini yang di namakan kekuatan air wudhu?" Hais!!! duhai kedua mata, ingatlah kau akan kembali menangis jika kembali menjatuhkan hati pada seorang pria" begitulah cara Jena menyadarkan diri. Tak ingin terbuai dengan wajah Agam yang cukup menarik di lihat saat itu, Jena memilih meraih gawainya dan mengetik sebuah nama.


" Gadis pena "


seorang penulis wanita yang mulai terkenal sejak merilis novel berjudul "Melangkah bersamamu" di sebuah aplikasi novel terkenal. Belum di ketahui siapa sebenarnya sang penulis, sampai artikel ini di muat tak satupun media yang dapat mengungkapkan profil yang sebenarnya dari sang penulis. Selain novel berjudul " Melangkah bersamamu" gadis pena juga memiliki beberapa novel, namun bagi para pembaca novel " Melangkah bersamamu " lebih menggemaskan untuk di nikmati.


" Sialan, jelas saja novel itu lebih menarik. Itu karyaku, kau hanya merubah judulnya. Siapa sebenarnya orang yang bersembunyi di balik nama pena itu" tukas Jena kesal.


Jemarinya mencari-cari nama sang penulis di aplikasi yang berbeda wadah dengannya menulis. Melangkah bersamamu sangat di sukai di sana, Jena benar-benar kesal saat membaca 1 Bab. Kejadian, tulisan, bahasa yang di gunakan di sana sangat mencerminkan karyanya. Selain merubah judulnya, gadis pena juga merubah semua nama pemeran di dalam novel itu.


Emosi semakin melonjak naik saat dia membaca balasan dari sang penulis pada salah satu komentar pembaca" Terimakasih atas dukungannya, tidak sia-sia aku kerap bergadang demi menyelesaikan naskah novel ini"


" Ash!!!" Jena memukulkan lengan di pahanya. Andai saja dia tahu siapa penulis itu, dia sangat ingin melayangkan tinju padanya.


Dering ponsel membuat Jena menarik napas dalam-dalam, nama sang penelepon menambah rasa frustasi dalam diri.


" Kau sudah meminta maaf pada pihak penulis itu?"


" Untuk apa aku meminta maaf jika tidak melakukan kesalahan"


" Jenaira, lebih baik kita berdamai. Dia punya banyak bukti untuk membuktikan kebenaran pemilik novel itu. Novel itu akan segera di bukukan, kau menghalangi karir nya"


" Kau gila. Aku sudah membaca novel yang katanya miliknya. Itu tulisanku, hasil dari kerja kerasku"


" Mungkin kau salah ingat saja, kau sudah banyak menulis novel. Aku tahu sesekali kau mungkin saja kehabisan ide, aku pahami jika kau memakai karya orang lain dan menirunya"


Perkataan sang editor terasa sebuah hinaan baginya" Kirana, sekarang kau ada di mana?"


" Aku masih di kantor, masalah ini membuatku bekerja keras Jena"


" Apa kau sangat tertekan?"


" Ya tentu saja"


" Apa kau ingin masalah ini segera selesai?"


" Tentu" sahut Kirana di iringi suara lembaran kertas yang beradu. Nampaknya dia tengah memeriksa naskah usang miliknya dahulu.


" Aku akan segera menyelesaikan masalahmu"


Kirana terdengar menghela napas lega" Akhirnya kau mau meminta maaf pada mereka, terimakasih Jena. Semua akan selesai jika kau melakukan hal itu, kau tahu kita bisa kehilangan ratusan juta jika dia menuntut kerugian"


" Jangan senang dulu, aku tidak takut jika harus kehilangan ratusan juta. Dan tentang penyelesaian masalahmu....aku hanya akan membunuhmu dan mati bersamamu malam ini. Jadi masalah ini akan segera selesai bukan"


" Jenaaaaa, kau sangat menakutkan" teriak Kirana dari ujung telepon.

__ADS_1


" Apa kau takut? aku bisa melakukan hal itu dari pada harus meminta maaf pada penulis peniru itu"


" Jena, ayolah. Genre kalian saja sudah berbeda, hanya novel itu yang bergenre romansa sedangkan sekarang semua novelmu bergenre horor" rengek Kirana" Sejujurnya akupun merasa kau tak melakukan plagiarisme, tapi demi ketenangan bersama bisakah kau lupakan saja novelmu itu? sutradara sudah tak menginginkan lagi karya itu, dia melirik novelmu yang lain untuk di angkat ke layar lebar"


" Melupakan karya itu?? bagaimana aku bisa lupa, itu adalah karya yang ku tulis diam-diam saat masih menjadi menantu di keluarga Dewa, itu juga karya pertamaku meski saat itu tak begitu di minati. Melupakannya?? apa kau benar-benar gila?" tanyanya penuh amarah" Cukup lama hingga akhirnya karya itu terkenal, dan kau memintaku melupakannya? uang yang kau makan hasil dari karya itu Kirana!" sentak Jena tak mampu menahan emosi lagi.


Kirana seperti kehabisan kata-kata, dia tahu usaha Jena menjadi penulis bukanlah hal yang mudah. Dia di cibir dan di hina saat ketahuan menulis sebuah novel oleh keluarga mantan suaminya, keluarga itu mengukur rendah kemampuan seorang Jena. Bagi mereka lebih baik menjadi seorang pengusaha ketimbang menjadi penulis" Berkhayal, apa itu bisa di katakan sebuah pekerjaan?" tanya sang mantan mertua kala itu pada Jena.


" Sudahlah Kirana, lupakan ide gilamu memintaku untuk meminta maaf" Jena memutus panggilan. Meletakan ponselnya di atas dashboard dan memejamkan mata.


Bagi Jena profesi sebagai penulis adalah sebuah impian, mengambil jurusan kuliah di bidang sastra adalah caranya agar dapat meraih impian itu. Sudut pandang Jena dan keluarga Dewa sangat jauh berbeda, dan itulah salah satu alasan kenapa Jena di tendang dari keluarga mereka.


" Menjadi ibu rumah tangga, sembari berhayal dan mencurahkannya dalam tulisan hingga menjadi sebuah novel, hahahah hatiku merasa di gelitiki"


" Lagi pula jika ingin menjadi ibu rumah tangga bukankah kau harus memiliki seorang anak, bagaimana seorang wanita bisa di panggil dengan sebutan ibu jika melahirkan seorang anak saja kau tak mampu"


Mengingat hal itu membuat hatinya kembali tercabik-cabik. Sejak keluar dari rumah itu dia tak lagi menetaskan air mata sebab hari-hari yang dia lalui di kediaman Dewa dahulu selalu di penuhi dengan tangis alih-alih tawa, malam ini bersama derasnya hujan air mata itu kembali berlinang.


" Sampai mati aku tak akan melupakan hinaan itu" tersungut-sungut Jena mengusap genangan air mata di kedua pipinya. Agam terlihat menuju mobil, dan sebisanya Jena meredakan air mata itu.


Melepaskan peci dan menyimpannya, rambut yang basah sisa terkena air wudhu membuat wajah teduh Agam semakin menarik hati.


Tarikan napasnya masih menyisakan tangis, mengundang perhatian Agam padanya" Kak Jena, kau menangis?"


" Ya, aku menangis karena hampir mati bersamamu" celetuknya tak ingin berterus terang.


Telapak kedua tangan pria itu saling menempel, memohon maaf untuk ke sekian kalinya kepada Jena" Maafkan aku kak Jena, aku janji akan lebih berhati-hati"


" Sudahlah, hujan masih deras apa kita akan tetap melanjutkan perjalanan?"


" Terserah padamu"


Jena menurunkan sandaran kursi mobil, membuatkannya bisa sedikit merebahkan diri di sana" Kita tunggu hingga reda saja, mataku terasa berat akan lebih berbahaya jika aku yang membawa mobil sekarang"


" Baiklah" Agam menyetujui perkataan Jena.


Hampir 20 menit Jena memejamkan mata, kedua tangannya memeluk diri dengan sangat erat. Wajahnya yang sedang terlelap kerap singgah di ingatan Agam, seperti saat ini dia selalu saja terlihat menawan saat sedang memejamkan mata.


" Aku dengar memandang lawan jenis berlama-lama bisa menimbulkan dosa" ucapan Jena membuat Agam salah tingkah.


" Aku hanya____"


" Hanya apa?" tanyanya masih dengan posisi semula, memejamkan kedua mata dengan kedua tangan memeluk erat dirinya sendiri.


" Hem__, hanya melihat sebentar"


" Untuk apa?"


" Itu___" tiba-tiba seorang Gibran melintas di otaknya" Untuk melihat apakah ada kemiripan antara wajah kak Jena dan Gibran" kilah Agam.


Jena mendecih dan membuka mata" Jangan kau bandingkan wajahku dengan si tengil itu"


" Bukan membandingkan, hanya mencari kemiripan saja"


" Jauh, sangat jauh" ujarnya melihat genangan air di kaca mobil" Lupakan si tengil itu, aku yakin dia tengah kekenyangan menikmati masakan gadis bernama Kanaya itu. Ah, aku ingin dengar lantunan ayat-ayat yang kau sebut bisa menenangkan hati tadi, dari tadi aku hanya memejamkan mata tapi tidak benar-benar bisa tertidur"


Di pikir-pikir Agam juga perlu mendengarkan murotal ayat-ayat suci Al-Qur'an itu, sebab bersama Jenasaat ini sangat dia inginkan tapi juga sebuah bahaya baginya. Ck! kenapa tidak dari tadi saja dia menyalakannya!


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2