Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Bad mood


__ADS_3

Kedatangan Andara untuk menemui Enda di sekolah, ternyata untuk mengajak bocah itu kembali kepada sang mama. Enda, jelas tidak ingin kembali tinggal bersama sang mama, apalagi untuk kembali ke kediaman papa Frans, ayah sambungnya.


"Tidak nak, kita tidak akan kembali ke kediaman papa Frans, kita hanya akan tinggal berdua," ujar Andara. Karena kehadiran wanita itu, Zafirah dan Enda terlambat datang ke cafe, membuat Khair merasa khawatir. Dia pun segera menelepon sang istri, dan saat mengetahui bahwa mereka tengah duduk bersama Andara di sebuah restoran, Khair langsung bergegas menjemput mereka.


Ketika Enda menolak kehadiran Andara lagi, begitupula dengan Khair, pria itu sempat mematung saat bertemu dengan mantan istrinya, wanita yang pernah begitu merajai sang hati. Sementara Zafirah, dirinya bagai obat nyamuk, yang menjadi penenang suasana saat mantan keluarga kecil itu bertemu.


Ya, Zafirah hanya banyak diam namun baik Enda mau pun Khair, dua pria itu selalu fokus kepada dirinya, saat menolak kembalinya Andara.


"Tidak perlu mama, Enda sudah cukup senang hidup bersama umma," sepasang manik bocah polos itu menatap hangat ke arah Zafirah. Dan saat itu, barulah Andara tahu siapa Zafirah.


Sementara Khair, pria itu memegang erat jemari Zafirah, saat Andara menatap penuh harap kepadanya untuk kembali"Aku sudah beristri, kau sudah bicara banyak dengan Enda bukan, dia sangat menyukai istriku, sangat tidak mungkin jika dia tidak menceritakan siapa wanita ini."


Derai air mata tidak dapat di tahan lagi Andara menangis tersedu-sedu. Sebuah kesalahan indah di masa lalu, sukses membuat penderitaan begitu betah berteman dengannya. Alih-alih hidup bahagia bersama Frans, lelaki yang mencintainya dan juga kaya raya, ternyata uang bukanlah sebuah dari segalanya. Apalagi seluruh kehidupan Frans di genggam erat oleh sang ibunda, Andara sebagai seorang istri tak jarang menerima perlakuan tidak baik dari ibu mertua, salah satunya, membuat Enda terusir dari kediaman mereka.


Kehilangan Enda membuat Andara berubah menjadi wanita yang selalu murung, tidak bersemangat lagi. Wajah yang selalu bersolek tak lagi berseri, membuat semua orang di kediaman mewah itu muak melihatnya. Hingga, sang ibu mertua mencarikan wanita lain untuk di nikahi Frans, oh Andara... ternyata bukan hanya Enda yang terbuang, kau pun sama.


Di saat hati semua orang telah patah, Andara datang dan mengharapkan tempat di antara Enda dan Khair, yang dia kenal dengan nama Ben. Setelah semua yang telah dia lakukan, masih pantaskah dua pria itu menerima kehadirannya?.


"Ben, tidak mengapa jika aku hanya menjadi yang kedua. Asalkan kita kembali bersama."


Gila!! begitu putus asa kah Andara? hingga harga diri pun seolah habis dari dalam dirinya. Zafirah tidak bisa terus diam, dia akhirnya angkat bicara.


"Maaf Andara, tapi aku tidak bersedia jika harus di madu."


"Aku tidak bisa hidup tanpa mereka, aku mohon biarkan aku kembali kepada mereka," permohonan Andara, bagai sebilah belati yang mengiris tipis sebongkah daging di dalam dada. Rasanya perih, tepian bibir Zafirah bergetar menahan rasa sakit itu.


Katakanlah, Zafirah mengambil apa yang sudah tidak di butuhkan Andara. Dan saat Andara sudah tidak punya apa-apa lagi, dia datang kepada Zafirah, memohon untuk mengembalikan segala apa yang pernah dia buang itu"Ayolah Andara! ini kehidupan! bukan paggung sandiwara yang bisa kau atur jalan ceritanya sesuka hati."


Andara segera menanggapi perkataan Zafirah"Jika aku punya kuasa untuk mengatur semua ini, sudah sejak lama aku ingin hidup bersama Enda. Tapi posisiku sangat genting, hingga dengan berat hati aku harus hidup berjauhan dengannya."


"Apa yang membawamu kemari?," Khair bertanya.


"Apa mereka juga telah membuangmu?, hingga kau datang kembali dan ingin hidup bersama kami?," ujarnya lagi.


"Aku pergi sendiri, Ben," sorot mata wanita itu penuh cinta, penuh kerinduan saat bersitatap bersama sang mantan suami.

__ADS_1


"Maksudmu??," pria itu kembali bertanya, dengan kening berkerut.


"Setelah sekian lama mengumpulkan keberanian, akhirnya aku berhasil meninggalkan Frans, kami sudah resmi bercerai."


Ya Allah! mengapa hati kecil di dalam sana merasa lega, saat Andara telah meninggalkan pria yang membuatnya tidak ada artinya sama sekali di mata Andara, dahulu"Tidak!! buang jauh-jauh pikiran sesat itu, dia hanya masa lalu. Kau sudah memiliki pendamping hidup yang sangat baik, Zafirah wanita yang hampir sempurna ini adalah istrimu," sisi lain dari sang hati di dalam sana, berontak saat sebuah rasa haru dan lega mendengar perpisahan Andara dan Frans.


obrolan dua insa yang pernah saling mencintai ini, mereka kedua orang tua kandung Enda, menimbulkan rasa kecil hati dari seorang Zafirah. Apalagi tatapan penuh cinta Andara, wanita berparas ayu itu jelas masih sangat mencintai suaminya. Zafirah memang wanita yang tegar, tapi....rasa sesak tetap saja memenuhi rongga dadanya.


Saat dirinya melangkah mundur, ingin undur diri dari hadapan Andara dan Khair, sang bocah kecil lantas memegang erat jemari tangannya"Umma, mari kita pulang."


Di sini ada ibu kandung yang melahirkan dirinya, tapi Enda seolah merasa tidak nyaman atas kehadiran Andara di antara mereka. Sikap sang putra, membuat Andara terlihat semakin menyedihkan. Dia begitu menempel kepada Zafirah, alih-alih Andara. Rasa iba di dalam dada, memancing rasa bersalah Zafirah.


"Ya Allah, apakah hamba telah menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil ini??," monolog sang hati.


...☘️☘️☘️☘️...


Merenungi perjalanan cinta Zafirah yang panjang dan berliku, Jena menduga pertemuan Zafirah dengan Khair adalah ujung dari ujian itu. Tapi ternyata Jena salah, masih ada badai yang berhasil mengobrak-abrik ketenangan hati Zafirah, yaitu kehadiran Andara kembali.


Setelah hari pertemuan itu berlalu, sungguh, hatinya tidak kuasa menahan semua itu sendirian, hingga akhirnya memutuskan untuk berbagi kisah kepada Jena.


"Apa aku telah merenggut kebahagiaan mereka?," tanya Zafirah, saat mereka akhirnya bertemu dan berbincang.


"Itu bukan kesalahanmu, Zafirah. Dia yang telah pergi meninggalkan Khair, lagi pula semua itu terjadi jauh sebelum kedatangan mu."


"Tapi sekarang dia telah kembali, Jenaira. Dia memohon kepadaku untuk mengizinkan dirinya kembali pada keluarga kecilnya."


Jena memijat pelipisnya. Andara ini, membuatnya teringat akan Tiara. Seorang mantan sahabat yang telah mendekam di dalam penjara.


"Yakinlah Zafirah, kau tidak salah," ujar Jena, terus meyakinkan hati seorang Zafirah.


Usai saling berbincang, Jena dan Zafirah memutuskan untuks segera kembali ke rumah masing-masing. Meski sang hati belum begitu tenang, Zafirah tidak bisa mengabaikan kewajiban sebagai seorang istri dan seorang ibu yang harus selalu mengurusi anak dan suaminya. Sedangkan Jena, perihal Andara ini mengingatkan dirinya akan sikap Tiara.


"Aku mohon Jena, izinkah kami menikah. Aku telah mengandung anak Dewa."


Permohonan Tiara, kembali berulang-ulang memenuhi pikiran Jenaira. Membuat wanita itu termenung, duduk termangu di beranda belakang kediaman mereka.

__ADS_1


"Sayang, ini sudah larut malam. Segera minum susu ini dan mari kita kembali ke kamar," Agam menyerahkan segelas susu hangat, dan menunggui Jena menghabiskan susu tersebut.


Tanpa banyak bicara, Jena menghabiskan susu yang di seduh oleh sang suami. Usai menandaskan minuman tersebut, Jena meletakan gelas kosong itu di atas meja, dan mengajak Agam untuk sejenak berbicara.


"Duduk dulu mas, aku ingin bicara."


Gelagat Jena, membuat hati Agam bertanya-tanya. Dia pun segera mengambil duduk bersama sang istri.


"Mas....apa aku bersalah memutuskan untuk menolak Tiara menjadi maduku?."


Agam menatap Jena dengan alis berkerut. Ini tentang apa? mengapa membahas Tiara, dan juga madu?.


"Jangan marah mas, aku hanya ingin tahu pendapat mu," ujar Jena melihat emosi di wajah Agam.


"Kau menanyakan hal yang....," kata-kata Agam menggantung.


"Begini sayang, hal apa yang membuatmu kembali bertanya tentang masa lalu? tentang Tiara, dan ini pasti tentang Dewa," ujarnya dengan napas beradu, sepertinya Agam mulai marah karena Jena mengungkit masalah yang mengarah kepada Dewa.


"Bukan Dewa yang aku tanyakan, ini hanya tentang Tiara."


"Dan masalah yang terjadi di antara kau dan Tiara, itu karena Dewa!," oh Tuhan, suara Agam meninggi. Membuat Jena menahan napas, baru menyadari bahwa dirinya telah mengambil langkah yang salah.


Menggigit bibir, Jena mengatur napas agar tidak menjadi semakin panik"Aku...aku hanya memikirkan nasib Tiara mas. Sungguh," ujarnya sempat terbata.


"Dia adalah sahabat terbaik, orang yang dahulu sangat mengerti aku. Dia wanita yang baik, sebelum akhirnya bertemu Dewa, dan merubah segala kebaikan di antara kami menjadi keburukan. Aku hanya berpikir, apakah kekacauan di dalam hidupnya sekarang, karena aku yang sempat menolak untuk mengizinkan dirinya hidup bersama Dewa. Hanya itu saja...."


"Ada apa denganmu,Jena?," lirih Agam, menahan emosi agar tidak lagi meninggikan suara di depan Jena.


"Tiara yang baik, akhirnya berubah jahat. Aku terus berpikir, apakah perubahan nya karena aku, karena tindakanku menghalangi keinginannya untuk meraih kebahagiaan."


Ocehan Jena sangat tidak masuk akal bagi Agam. Dia terdengar seperti orang yang sedang meracau, dan Agam di buat kesal karena hal itu. Namun, paham akan kondisi sang istri yang sedang hamil, Agam menduga mungkin sikapnya hanya karena suasana hati yang berubah-ubah. Pria itu pun menepis segala amarah yang menyesakan dada, menenangkan hati dan menyikapi tingkah laku sang istri dengan lembut.


"Tiara hanya segelintir kisah di masa lalumu, sedangkan aku adalah masa depan mu yang tidak akan pernah berubah dalam mencintai dirimu. Lupakan Tiara, entah dia bahagia atau pun menderita."


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2