Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Susu jeruk yang manis


__ADS_3

Sayang sungguh sayang, perjalanan dari kediaman pantai menuju pondok tak semulus biasanya. Bukan hal yang berat, karena asik menyantap hidangan olahan Kanaya di dalam mobil, Jena merasakan pedas yang luar biasa. Entah berapa kilo gadis itu memasukan cabai ke dalam masakannya, tapi semakin di makan hidangan itu semakin nikmat, bagi Jena.


Wanita itu mencari-cari air minum yang biasanya tersedia di dalam mobil, namun hari itu mereka kehabisan stok air mineral. Dengan hidung berair, Jena meminta kepada Agam untuk singgah di minimarket, tempat mereka berbelanja untuk pertama kalinya dahulu. Mengambil air dingin dan segera meminumnya, Jena di tarik perlahan oleh sang suami hingga akhirnya duduk di meja pelanggan.


"Ingat, kalau mau minum jangan berdiri," tegur Agam.


Mengusap wajahnya yang memerah karena pedas, hidung Jena menyerngit saat dia menahan air dari dalam hidungnya"Pedas, sekali," ujarnya berbata-bata.


Agam mengusap dagu Jena yang basah karena air mineral"Iya tau, makanya jangan di makan lagi ya masakan Kanaya. Kalau sampai menyakiti diri seperti ini juga tidak baik, istriku."


"Tapi masakannya kali ini enak, enak sekali," cicit Jena memegang jemari Agam, merematnya agar tak marah. Sebab wajah Agam terlihat tidak suka saat dirinya menyeka air mata, karena menikmati hidangan olahan Kanaya itu.


"Enak tapi membuatmu menangis, itu tidak baik," ujarnya lagi.


"Sroot!," Jena menarik air dari hidungnya"Iya."


Agam meninggalkan Jena, membuatnya panik"Mas Agam!," serunya khawatir. Apakah kali ini Agam benar-benar marah? hanya karena makanan yang membuatnya sampai menangis?? ayolah! Jena bahkan tidak tahu akan hal itu. Dirinya hanya terlalu menikmati masakan itu, dirinya tidak bisa berhenti untuk memakannya, karena enak.


Agam melirik Jena sekilas, kemudian tetap berjalan di antara rak minimarket. Jena menekuk wajah, terlihat sedih. Isyarat Agam memintanya untuk tetap berada di meja itu, membuat Jena tidak berani menyusul langkah sang suami.


"Ya Allah, apakah mas Agam marah? baru kali ini aku melihatnya berwajah datar seperti itu," bisik hatinya kembali meminum air mineral dingin. Semakin dia minum, rasa pedas itu semakin menggigit lidahnya.


Jena mengipasi wajahnya dengan ujung kerudung, mendesis kepedasan dengan hidung berair.


Tiba-tiba Agam datang, memberikan sebotol susu jeruk yang sudah terbuka kepada Jena"Minum ini, semoga pedasnya segera hilang."


Jena melirik Agam seperti anak kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan. Sembari mengantupkan bibir wanita itu menerima minuman dari sang suami tanpa suara, takut Agam marah jika dirinya banyak bicara.


Rasa susu jeruk yang manis, Jena suka!. Dirinya merasakan pedas di dalam mulutnya sedikit berkurang, dan perlahan mereda.


Agam menarik tisu yang tadi dia beli, menyeka tepian bibir sang istri yang cemong"Aku curiga, tahun kelahiranmu di KTP salah cetak, kau sebenarnya adik Gibran, bukan kakaknya."


"Mas!."


Agam beralih menyeka hidung berair Jena, dengan tisu bekas menyeka susu di bibirnya.


"Heish!! kau memakai tisu bekas, mas!," seru Jena. Agam di buat tertawa, wajah tertekuk sang istri membuatnya terlihat menggemaskan.

__ADS_1


"Kau tetap cantik meski aku menyeka wajahmu dengan tisu bekas, sayang."


Syukurlah, Agam tertawa. Hati kecil Jena begitu lega melihat senyuman manis sang suami lagi.


"Gombal! kita sedang berada di tempat ramai, hentikan kata-kata manismu!."


"Kau istriku, dan bukan sebuah kejahatan jika aku berkata manis terhadapmu, sayang," Agam sengaja mengucapkan kata sayang sedikit keras. Membuat sebagian pengunjung menatap mereka.


Jena tertawa malu, mereka tidak seharusnya berlama-lama di sini. Pandangan orang membuatnya risih, juga...ah! pernikahan Zafirah!. Jena hampir melupakan hal itu.


Kembali membelah jalanan malam itu, pasangan Jena dan Agam sampai di pondok pesantren setelah sholat isya, tentu saja acara pernikahan telah selesai. Hanya di hadiri para kerabat Kiyai Bahi, para penghuni pondok pesantren dan para jamaah yang kerap menunaikan sholat di masjid Al-jannah, acara pernikahan itu berlangsung singkat. Acara di tutup dengan menunaikan sholat isya berjamaah kemudian menikmati sedikit hidangan yang telah di sediakan para ustadzah sejak sore tadi.


Suasana pondok pesantren sudah mulai lengang, hanya tersisa para santri yang melanjutkan pelajaran di jam malam. Jena begitu resah, apakah kedatangan mereka yang sangat terlambat akan di maafkan Zafirah?.


Mendengar suara mobil, Yahya yang hendak mengambil kitab kuning milik ustadz Yunus di kantor, memeriksa siapa yang datang"Bang Agam," ujarnya berseru .


"Assalamualaikum," ujar Agam dan Jena bersamaan.


"Waalaikumsalam," sahut Yahya.


"Wah, terlambat bang, acara sudah selesai," ujarnya lagi.


"Alhamdulillah lancar bang," ujar Agam.


Saat itu, Syabila dan Yasmin hendak naik ke kelas atas. Karena kantor berada di bawah, mereka bertemu sebelum menaiki tangga menuju lantai atas.


"Kak Jena," seru Syabila.


Jena lekas menghampiri Syabila, sementara Yasmin menundukkan pandangan sambil berlindung di belakang Syabila.


"Ya sudah, saya lanjut ke kelas ya bang," ujar Yahya segera undur diri.


Agam dan Yahya akhirnya berpisah"Ben ada di mana?," tanya Agam kepada Syabila.


"Yang jelas bukan di kediaman Kiyai Bahi," jawab Syabila.


"Hus, kenapa judes seperti itu. Bang Agam kan sudah seperti putranya pak Kiyai," tegur Yasmin"Ben itu bang Khair ya? suaminya ustadzah Zafirah?."

__ADS_1


"Kalau sudah seperti putranya, kenapa terlambat datang ke pernikahan saudarinya, ustadzah Zafirah," ketus Syabila lagi.


Jena memeluk erat Syabila"Maaf! kami terlambat karen aku. Lihatlah, wajahku apa masih merah? aku tadi memakan makanan yang sangat pedas, jadi kami singgah ke minimarket dulu untuk membeli minuman."


Syabila memperhatikan wajah Jena, nampak seperti orang habis menangis"Benar kak Jena hanya kepedasan? buka karena bang Agam yang nakal kan?," pertanyaan Syabila di jawab Jena dengan gelengan kepala, juga dengan tawa. Membuat Syabila tak lagi menyalahkan Agam atas keterlambatan mereka.


Agam mentertawakan Syabila. Kemudian sedikit memiringkan wajah menyerapi pertanyaan Yasmin. Selama ini dia hanya tahu dengan nama Ben, Khair itu siapa?. Pria itu lantas bertanya"Memangnya yang menikah dengan Zafirah namanya Khair ya?."


"Khai Abdullah," ujar Syabila yang di angguki Yasmin.


Jena dan Agam saling berpandangan, jangan-jangan bukan Ben yang menikah dengan Zafirah??


"Ya sudah, kalian mau mengaji kitab kan? lekaslah ke kelas, kami akan ke kediaman Kiyai Bahi," tukas Agam meraih jemari Jena. Menggiringnya agar berjalan bersama menuju kediaman tersebut.


"Iya bang, assalamualaikum," ujar Yasmin dan Syabila bersamaan.


"Waalaikumsalam," sahut sepasang suami istri itu.


Seperginya Agam dan Jena, Yasmin mengekor langkah Syabila menuju kelas.


"Yas, kau sudah menghafal tugas shorof?."


Yasmin diam, dirinya terus menapaki anak tangga di belakang Syabila.


Syabila menoleh kepada Yasmin, gadis itu tak menjawab pertanyaan"Yasmin," panggil Syabila lagi.


Dan temannya itu lagi-lagi tak menjawab. Syabila pun berbalik untuk menghadang langkah Yasmin"Yasmin Al-adnan! kamu kenapa? aku bertanya! kenapa kau tidak menjawab?."


Yasmin terkejut, gadis itu hampir terjatuh jika tidak lekas memegang pagar tangga"Astaghfirullah, memangnya kau menanyakan apa? aku tidak mendengar."


Syabila memandang Yasmin dengan tatapan menyelidik"Hem....ada yang tidak beres. Kau pasti sedang memikirkan sesuatu."


Yasmin memiringkan tubuh saat Syabila maju menatapnya. Perlahan gadis itu menaiki anak tangga, melewati Syabila"Kau hanya menduga-duga, ayo cepat ke kelas, kau tidak ingin di hukum memacul di tengah lapangan kan."


Mendengar hal itu, Syabila langsung melirik jam di tangan kirinya"Astaghfirullah, kita hampir terlambat, tunggu aku Yasmin," serunya mengejar lari kecil Yasmin menuju kelas.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2