
Apa kalian ingat, tentang iri dengki Jelita saat mengetahui bahwa Jena di nikahi putra semata wayang Arabella?, ternyata Jelita sangat mengenal siapa sosok Arabella ini. Ya! selain Jelita, para ibu-ibu arisan yang lain, yang kerap berpenampilan mentereng seperti Jelita, tentu sangat mengenal sang bunda baik hati itu.
Seorang istri pengusaha kaya raya, yang bergerak di bidang pertambangan. Selain batu bara, Akhtar merentangkan sayap pada bisnis jual beli permata. Dan Arabella, menjadi nyonya besar kepala arisan, yang kerap membuka arisan benda berharga itu.
Sempat ingin bergabung pada arisan permata yang akan di buka Arabella, namun Jelita harus memaksa diri untuk mengambil langkah mundur, setelah mengetahui bahwa Arabella adalah ibu mertua Jena, mantan menantunya.
Acara arisan para ibu-ibu sosialita itu kerap di lakukan secara online, maupun offline. Dan kali ini, karena ada beberapa rekan yang tidak bisa hadir, kelompok arisan yang di ketuai oleh Arabella ini menggoncang arisan melalui siaran langsung, dan Jelita menjadi salah satu orang yang menonton acara tersebut.
Dan kali ini, keberuntungan sedang berpihak kepada Arabella, ups!! ralat! keberuntungan sedang berpihak kepada Jena. Arabella sang ketua arisan mendapatkan arisan tersebut, karena riak bahagia yang tidak pernah ada habisnya, wanita itu langsung berseru"Alhamdulillah, ini rejeki menantuku. Karena dia sedang mengandung, aku akan memberikan perhiasan ini kepadanya!."
Ow!ow! ada sebuat hati yang langsung patah saat mendengar hal itu, dan itu adalah hati kecil Jelita. Tubuhnya panas dingin saat mendengar kabar bahwa Jena tengah mengandung, oh!! cucu yang sangat dia inginkan! mengapa datang kepada wanita itu setelah di tendang dari kediamannya??.
Benar yang di katakan Bagas, Jena adalah menantu yang sangat baik, memiliki sifat riang dan kerap menularkan keceriaan itu kepada mereka. Namun semua berubah saat kehadiran Tiara, yang membawa awan kelam ke dalam kediaman mereka. Sekarang, Dewa telah menjauh dari keluarganya, Tiara telah di penjara, sementara Jena tengah berbahagia.
Meninggalkan Jelita yang terjun bebas ke dalam jurang penyesalan, ada seorang Adila yang sempat terdiam mendengar Arabella berseru. Hem, bahkan dirinya, sang ibu kandung, tidak mengetahui kehamilan sang putri kandungnya sendiri. Segelintir rasa prihatin sempat bertengger dalam pikiran Adila, apakah Jena mengalami ngidam yang sangat sulit seperti dirinya dahulu? saat sedang mengandung dirinya?.
"Jeng, selamat ya! sebentar lagi kau akan menjadi nenek," seorang istri juragan minyak, menepuk pundak Adila, hingga pecahlah lamunan wanita paruh baya itu tentang sang putri.
Tersenyum canggung"Terimakasih Jeng," ujarnya menanggapi.
Tidak jauh dari Adila, pada meja bundar yang lainnya, terlihat Arabella tengah membanggakan Jena, dengan semangat menggebu-gebu. Kanaya melihat perbedaan yang sangat-sangat jauh, di sana Arabella sedang berbahagia, sementara Adila di hadapannya nampak sedang bingung.
Demi menjawab segala tanya di dalam dada, Kanaya mulai bertanya kepada Adila"Tante, kak Jena sudah hamil berapa bulan?."
__ADS_1
Tepian bibir Adila nampak tergigit, pertanda dirinya tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Kau diamlah di sini, jika ingin makan ambil saja makanannya, tapi kau harus memakan hidangan itu di meja ini," tukas Adila, kemudian beranjak sembari meraih ponsel dari dalam tas.
Menggaruk tengkuk, Kanaya sedikit bingung dengan sikap yang di tunjukkan Adila. Ekor matanya terus menatap punggung Adila, hingga akhirnya menghilang di balik bunga-bunga. Arabella yang memang sangat menyukai bunga, memilih menyewa sebuah taman yang di penuhi bunga-bunga nan cantik pada sebuah restoran ternama. Semilir angin nan sejuk, dengan aroma asli bunga, Arabella sangat menyukai suasana seperti itu.
Rasa kesal, kecewa, gelisah, khawatir, semua rasa itu bercampur menjadi satu dalam diri Adila. Jenaira Ahmad, putri semata wayangnya itu tidak memberikan respon pada teleponnya. Dirinya bahkan menelpon beberapa kali dan Jena tidak jua mengangkat telepon tersebut.
Gibran, wanita itu juga mencoba bertanya kepada Gibran, namun ternyata sang bontot sedang menjalani syuting iklan terbaru, dan yang mengangkat teleponnya adalah Angga. Setelah sekian lama, akhirnya Angga muncul kembali. Karena Gibran belum yakin sepenuhnya terjun ke dunia hiburan, alih-alih mencari manager handal, dirinya meminta kepada Angga untuk menjadi manager sementara, sebuah profesi yang sangat tidak pernah Angga sangka-sangka akan di gelutinya.
Berniat menghubungi Arkan, untuk menanyakan perihal keadaan Jena, Adila mengurungkan niatnya setelah sempat mencari nomor kontak sang putra"Ah, Arkan sedang meeting," ucapnya.
Karena kalut, Adila melupakan sang menantu, di saat teringat dengan posisi Agam yang berbisnis di rumah saja, dia pun segera mencari nomor kontak Agam.
Adila terkejut, nyaris saja benda pipih di tangannya terlepas"Aish! kau ini! kenapa muncul seperti hantu!."
Senyum jahat seketika terbit di wajah Kanaya, gadis yang membuat Adila terkejut"Jika aku adalah hantu, sudah sejak awal aku akan mengganggu malam-malam tante."
Kedua mata Adila memicing, tidak menyangka dengan ucapan Kanaya. Dirinya cemberut kemudian melanjutkan aktivitas hendak menelpon Agam.
Merasa dua kali pertamanya tidak mendapat jawaban, Kanaya melenggang meninggalkan Adila, dan mengambil beberapa kue di atas meja. Entah bagaimana rasanya, Kanaya hanya ingin memakan kue-kue itu demi menenangkan diri, dari pada emosinya meledak karena sikap acuh Adila.
Sendirian, di antara ibu-ibu yang kaya raya, meski juga kaya raya, Kanaya merasa sangat kesepian. Tentu saja, di sini bukanlah ruang lingkup pergaulannya, hanya dirinya wanita paling muda di sini, dan Kanaya tidak tahu harus berbicara apa kepada ibu-ibu sosialita itu.
__ADS_1
Sang hati pun mencoba untuk menenangkan"Sabar Kanaya, demi pelaminan."
Eh, kenapa demi pelaminan? kenapa tidak demi Gibran?. Bagi Kanaya, restu orang tua adalah yang utama, dia pun cukup tahu dengan cinta mati seorang Gibran, hanya Adila yang menjadi batu sandungan dalam langkah mereka menuju pelaminan.
Sementara di kediaman pantai, Jena memang mengatur dering ponselnya menjadi senyap. Dirinya ingin fokus yang mendalam saat mengetik naskah. Sementara Agam sedang bersama Khair di tepi pantai, menjumpai para nelayan yang baru kembali dari melaut.
Suara angin yang berderu, juga suara para nelayan yang membongkar hasil melautnya, membuat Adila sedikit terganggu saat menelpon Agam"Kau di mana? kenapa berisik sekali?."
"Agam sedang di kapal nelayan, bu."
"Oh! ibu hanya ingin bertanya, apa benar Jena hamil?."
Agam mengulum bibir, setelah mendengar pertanyaan Adila. Apa hendak di kata, lagi pula kehamilan Jena bukanlah sebuah aib, ini adalah anugera terindah di dalam hidup mereka, dan memang sudah seharusnya Adila mengetahui hal itu.
Agam pun menceritakan awal mula kehamilan Jena, juga hari-hari Jena dengan selera anehnya. Tidak seperti Adila yang biasanya, dia kerap bertanya tentang keluhan Jena, tentang pusing dan mual yang dia rasakan, apalagi tentang selera makan yang di katakan Agam aneh itu.
"Jangan biarkan dia memakan makanan yang pedas, meskipun gadis keras kepala itu memaksa, kau harus melarangnya untuk memakan makanan pedas."
Titah Adila bagi sebuah perintah dari sang ibu suri. Agam segera mengangguki segala saran yang di katakan Adila.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1