Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Lumba-lumba di ujung senja.


__ADS_3

Bencana perlahan mereda, tempat pengungsian kini perlahan mulai di tinggalkan. Warga-warga mulai membersihkan rumah mereka dan kembali ke kediaman semula mereka.


Sama seperti mereka yang mulai kembali ke perkampungan, para relawan pun mulai kembali ke kota asal mereka, begitu pula Zafirah dan kawan-kawan.


Begitu banyak pelajaran yang mereka petik dari pengalaman kali ini, terlebih untuk Gibran yang tanpa sengaja bergabung dalam kegiatan mulia ini. Meski awalnya mengeluh, namun wajah-wajah ceria para bocah-bocah pengungsian saat mengucapkan terimakasih dan salam perpisahan kepada mereka, sungguh menggetarkan jiwa.


Beberapa hari meninggalkan rumah, Arkan jelas mendapat begitu banyak pertanyaan dari Adila. Arkan tak serta mengatakan kepergiannya kali ini demi menyusul Jena, sebab Adila pasti akan naik pitam jika mengetahui hal itu.


"Hanya jalan-jalan saja, ibu tahu kan selama ini aku selalu bekerja dan bekerja saja. Apakah aku tidak boleh melakukan hal itu?," menatap wajah Adila, berharap sang ibu akan melepaskannya dari banyak pertanyaan lainnya.


"Bukan tidak boleh, kau tidak langsung mengabari ibu, juga ayah. Kami khawatir hal buruk akan kembali terjadi padamu, nak."


Arkan mengerti, bahkan sangat mengerti. Bukan tanpa alasan ayah dan ibunya terlampau mencemaskan dirinya jika tidak kembali ke rumah, semua itu sebab kejadian di masa lalu saat dirinya sempat di nyatakan menghilang. Namun, apakah kecemasan sang ibu akan sama jika hal itu terjadi terhadap Jena??. Meski telah mengetahui acaran jalan-jalan yang dia katakan kali ini bersama Jena, Adila bahkan tak sekedar bertanya bagaimana keadaan Jenaira.


Tapi, setidaknya Abian menanyakan putri semata wayangnya itu"Jadi, apakah ini acara bulan madu Jena dan Agam?."


Sudut bibir Arkan terangkat naik"Entahlah, namun jika itu benar berarti mereka adalah pasangan unik. Bagaimana bisa mereka berbulan madu di tempat pengungsian bencana alam."


Perkataan Arkan membuat Abian tertawa"Benar juga, sepertinya aku salah bertanya."


Kedua pria itu tertawa, namun Adila justru meninggalkan mereka menuju kamar. Hingga detik ini perhatiannya terhadap Jena masih sama, tidak dapat di katakan sangat perduli terhadap anak perempuannya.


Di rumah pantai...


"Waaahhhh!!!! ranjang empuk! aku merindukan mu," pekik Gibran sesaat setelah membuka pintu kamar. Pria besar itu meloncat seolah dirinya seringan bulu ke atas tempat tidur.


Suara gaduh yang dia timbulkan membuat Jena berteriak"Gibran!!! apa kau ingin meruntuhkan bangunan tua ini??."


Menanggapi cuitan emosi Jena, Gibran melengos kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya"Dasar galak, bahkan di depan suaminya pun tidak bisa bersikap lembut."


"Jangan emosi, kita baru saja sampai di rumah, tenangkan dirimu, sayang," Agam coba meredakan emosi Jena yang mulai melonjak naik, untung saja Gibran tak balas berteriak lagi, demi keamanan kediaman tua itu.


Meletakan telapak tanhantdi dada, Jena menarik napas dalam-dalam, kemudian membuangnya perlahan.


"Bagaimana, apa kau sekarang sudah merasa tenang?," tanya Agam menghadang Jena yang hendak meraih knal pintu kamar.


Jena mengangguk"Hemm," sahutnya mendorong tubuh Agam agar segera menghindar.


Agam tetap diam di muara pintu, seolah menahan Jena agar tidak masuk ke dalam kamar mereka. Hal itu membuat Jena menatapnya dengan tanya.


Mencoba kembali untuk meraih knal pintu, dan sangat jelas Agam menghalangi Jena untuk masuk ke dalam kamar.


"Kenapa? apa kau menyembunyikan sesuatu?."


Terlihat, Agam mengantupkan kedua bibirnya. Pria itu menjadi ragu"Awalnya aku yakin kau akan menyukainya, tapi entah mengapa sekarang aku jadi ragu."

__ADS_1


Kening wanita bersurai panjang itu berkerut"Agam, aku lelah. Setidaknya biarkan kau merebahkan diri di kamar."


"Bisakah kau berjanji dahulu? jika tidak suka, ku harap kau tidak akan marah padaku, dan aku akan segera memperbaikinya kembali."


Sungguh, sikap Agam mengundang rasa penasaran. Jena yang sangat tidak penyabar, langsung menganggukan kepala, setidaknya dengan begitu dirinya dapat langsung memasuki kamar mereka.


"Krieeettt," Agam membuka knal pintu perlahan.


Goresan mural pada dinding kamar mereka membuat Jena melepaskan ransel yang sedang dia jinjing. Berwarna jingga, sebuah lukisan langit senja di tepi pantai. Wanita itu seolah kehabisan kata-kata, dengan pandangan menyapu setiap goresan pada lukisan itu. Perlahan kakinya melangkah, memandang lebih dekat sebuah mahakarya yang membuat hatinya berdecak kagum.


Ekspresi itu membuat Agam khawatir, sebab tak ada senyuman yang membingkai wajah sang istri.


Tiba-tiba, Jena menemukan sepasang lumba-lumba yang di lukis dalam ukuran kecil"Kenapa ada sepasang lumba-lumba di ujung senja?."


Jena terlihat serius, membuat hati Agam berdebar menjawab pertanyaannya.


"Apa kau pernah mendengar kisah cinta seekor lumba-lumba dengan pelatihnya?."


Jena pernah mendengar kisah cinta tragis itu, kisah yang telah sangat lama pernah terjadi di buka bumi ini.Jena pun mengangguk"Ya, sebuah kisah cinta yang berakhir tragis."


Kemudian Agam berucap"Sebuah cinta tanpa logika, perasaan cintaku padamu mungkin bisa di artikan seperti itu," pria itu meraih ransel Jena di lantai. Menutup pintu kamar mereka dan menuntun Jena untuk duduk di tepian ranjang. Memandangi mural jingga yang dia persembahkan untuk istri tercinta.


"Hei, jadi, apa kau berharap kisah kita akan berakhir seperti lumba-lumba dan pelatihnya??," Jena meninggikan suara, sangat tidak rela jika cinta mereka akhirnya harus di pisahkan.


Lekas Agam menggelangkan kepala"Tentu saja tidak, sayang. Untuk itulah aku melukis sepasang lumba-lumba itu, aku berharap kita akan selalu bersama hingga akhir usia."


"Benarkah, tapi mengapa kau mengatakan cintamu padaku tanpa logika?."


Menarik tubuh Jena dan memeluknya erat"Jangan lagi kau tinggalkan aku, kau tidak tahu betapa putus asanya diriku saat tak bisa menghubungi ponsel mu. Aku hampir menjadi lumba-lumba yang berdiam diri di dasar lautan."


"Agam!! lumba-lumba akan mati jika tidak muncul ke permukaan," sentak Jena melepaskan pelukan.


Sorot mata itu menghujam begitu dalam ke jantung hati Jena"Ya!! terlepas dari cintaku kepada Allah sang maha pencipta, aku mungin bisa menggila dan perlahan mati jika kau tinggalkan diriku," suara berat itu terdengar serak, tergambar jelas betapa terpukulnya dirinya saat Jena pergi begitu saja tanpa pamit padanya.


Wanita itu terenyuh,sepasang manik coklat Jena berkaca-kaca, perempuan itu lekas meraih jemari Agam dan mendekapnya di dada"Maaf, aku sangat kekanak-kanakan."


Mengusap lembut pipi wanitanya"Seharusnya aku yang meminta maaf, seharusnya aku menceritakan perihal perasaan Zafirah sedari awal."


Jena menunduk, kembali menggenggam jemari besar Agam yang masih singgah di pipinya"Lihatlah, kau memiliki hati begitu lembut. Sedangkan diriku sangat minim kesabaran, hal inilah yang membuatku sempat ragu dengan hubungan kita."


"Tidak......"


Lekas-lekas Jena menyambar kata-kata Agam"Ya! tidak seharusnya aku berpikir seperti itu. Kau, seperti pelangi yang datang setelah badai. Kau membantuku menata hati setelah di landa kesedihan karena di khianati. Kau juga mengajari ku untuk lebih dekat dengan sang maha pencipta," kini, butiran bening mulai muncul dari kelopak mata Jena. Dengan ibu jari, Agam segera menyeka genangan air mata itu.


"Kau membuat hidupku yang kelam menjadi ceria, kau membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Aku bersyukur bisa menjadi istrimu, Agam."

__ADS_1


Seketika itu jua Agam mencium wanitanya dengan sangat lembut. Menumpahkan segala cinta dan kerinduan yang begitu curang kepadanya beberapa hari terakhir.


"Apa sekarang aku telah benar-benar ada dalam hatimu," tanyanya meletakan wajah di pundak sang istri. Dirinya merasa begitu nyaman memeluk tubuh kecil itu, membuat segala beban berat sirna begitu saja dari dalam hati.


"Agam, kau sudah masuk kedalam hatiku sejak beberapa hari kita menikah," lirih Jena mengeratkan pelukan.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah," lirih Agam dengan penuh rasa syukur.


...❣️❣️❣️❣️...


"Tidak abi, maaf. Kali ini Zafirah kembali membuat abi kecewa."


Berhadapan dengan Yahya, santri senior yang akan di jodohkan kiyai bahi dengannya, pada kenyataannya Zafirah menolak pria soleh itu.


"Nak! bukankah kau sudah menyerahkan pilihan jodoh mu kepada abi? nak Yahya adalah pria pilihan abi," ujar Kiyai Bahi.


Pria bernama Yahya itu menggigit bibir. Sejujurnya, dirinya masih ragu akan maksud kedatangannya ke ruang tamu kediaman kiyai Bahi.


"Yahya, tanyakan pada hati mu! tuluskah kau datang ke tempat ini?."


Yahya bahkan tidak dapat langsung menjawab pertanyaan Zafirah.


"Yahya! jawab! pilihan masih berada di tangan kita," Zafirah kembali meminta Yahya menjawab dengan lugas, sebab dirinya tahu betul hati pria itu telah di isi seorang wanita.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


BN:


"Apa mural ini kau yang melukisnya?," tanya Jena yang masih betah memandangi mahakarya jingga nan indah itu.


Agam tersenyum kecil"Sayangnya tidak."


Jena melirik nya nakal"Hei!! kau mengelabui ku!!."


Agam semakin tertawa"Sayang, aku tidak pernah mengaku lukisan ini adalah hasil karyaku."


Senyum kecut terbit di wajah Jena"Ekspektasiku terlalu tinggi terhadapmu."


Lekas-lekas Agam menunjuk sepasang lumba-lumba yang di lukis sangat kecil itu"Jangan terlalu kecewa sayang, lumba-lumba ini hasil lukisanku."


Jena menatap lumba-lumba itu lekat-lekat"Eisshh!!! kenapa moncong nya tidak simetris?? ckckck sangat amatir."


Agam melenguh, melirik Jena yang terkekeh padanya"Jenairaaaaaa."

__ADS_1


...******...


__ADS_2