
Rasa khawatir yang berdampingan dengan rasa penasaran, akhirnya terjawab sudah. Memang Ben yang telah resmi menjadi suami Zafirah, hanya saja Agam baru mengetahui bahwa nama sahabatnya itu bukanlah Ben, melainkan Khair Abdullah. Agam pun tak bisa menahan rasa ingin tahunya, tanpa berlama-lama menunggu, alih-alih menanyakan bagaimana rasanya menjadi pengantin baru, Agam justru menanyakan asal muasal nama asli mantan duda itu.
"Itu namaku waktu kecil, sebelum ayah dan ibuku memeluk agama Islam, mereka menamaiku dengan Benjamin, oleh karena itulah aku di panggil dengan nama Ben. Namun, setelah memeluk Islam, mendiang ayahku meminta pendapat paman Bahi untuk mencarikan nama yang lebih bagus untuk ku," jelasnya panjang lebar.
"Abi, bukan lagi paman," sanggah Kiyai Bahi.
Seketika Ben pun tersenyum simpul, sudah lama dirinya tak merasakan kebahagiaan seperti malam ini. Tapi, di sela kebahagiaan itu, terselip keresahan dan kegelisahan. Dirinya dan Zafirah hampir tidak pernah bertegur sapa, dan malam ini tiba-tiba mereka menjadi seorang suami istri. Keraguan itu masih saja ada, juga sebuah tanya yang sejak tadi bersemayam di dalam dada"Apakah Zafirah akan mencintaiku?," bisik hati Ben.
"Nama yang bagus, Kiyai. Jadi Kiyai yang memberikan nama itu untuk Ben?," tanya Agam.
Kiyai Bahi mengangguk sambil melempar senyum"Alhamdulillah, tapi sayangnya dia tak memakai nama itu. buktinya, kau yang sudah berteman lama dengannya sampai tidak mengetahui namanya itu, bukan?."
Ben merasa tidak enak hati. Dirinya hanya terlanjur terbiasa dengan nama masa kecilnya, bukan sengaja tidak ingin memakai nama yang sangat bagus itu"Maaf abi, saya hanya sudah tebiasa dengan nama itu," ujarnya segera meminta maaf.
"Bagaimana jika mulai sekarang kau memakai nama itu, baik dengan kami atau saat berkenalan dengan orang baru," tukas Jena. Dirinya kini duduk sangat rapat dengan Zafirah. Sesekali dirinya menyenggol Zafirah, menggodanya.
"Iya tentu, seharusnya aku tidak menyia-nyiakan nama sebagus itu," tukas Ben tersenyum. Semua orang juga tersenyum, sejatinya ketampanan Enda terwariskan dari wajah sang ayah, hingga saat dirinya tertawa sungguh indah di pandang mata.
Kiyai Bahi tersenyum, hingga kedua matanya menyipit . Begitulah takdir illahi, hatinya yang sempat jatuh hati akan kebaikan dan kepolosan seorang bocah bernama Ben, telah tiba masa dirinya di pertemukan kembali dengan bocah itu, dan menjadikannya pendamping yang akan selalu menjaga putrinya. Seperti keinginannya dahulu.
Kiyai Bahi, seorang pria tua namun masih berjiwa muda. Begitu paham dan mengerti dengan lingkup pertemanan para anak muda. Usai sejenak menghabiskan waktu bersama mereka, dia pun undur diri dari ruang utama"Abi pamit diri dulu, hendak berkeliling memeriksa para santri yang sedang belajar di kelas malam."
Merekapun mempersilahkan pria hangat itu berlalu, di temani ustadz Alif dia akan melakukan aktivitas rutin sebelum beristirahat di tempat tidur.
Ah! Enda! bagaimana dengan bocah yang sempat terbakar cemburu itu?
Selain Jena yang begitu menempel dengan Zafirah, Enda adalah salah satu orang yang juga menempel kepada Zafirah. Bocah itu tak membiarkan siapapun menciptakan jarak di antara dirinya dan Zafirah, wanita yang sangat dia sukai itu. Jemarinya begitu erat memegangi jemari Zafirah, seperti perangko.
__ADS_1
"Zafirah, kau di cintai Enda, tapi kau mendapatkan ayahnya. Apakah itu adil untuk Enda?," bisik Jena di saat para suami sibuk mengobrol kembali.
Zafirah tersenyum malu-malu"Kau tidak melihat drama sebelum akad nikah tadi, aku merasa menjadi gadis tercantik di dunia ini karena bocah ini," ujarnya melirik Enda dengah ujung mata cantiknya.
Jena meletakan tangan di mulutnya"Oh ya! drama apa? eh! lihatlah dia sudah mulai mengantuk," Jena hampir saja tertawa terbahak, melihat Enda yang mempertahankan kesadarannya di tengah rasa kantuk yang menggila. Kedua matanya mengerjap berkali-kali namun akhirnya tertutup dengan tubuh sempoyongan.
"Aduh, sepertinya aku harus segera membawanya masuk ke kamarku. Dia harus segera tidur," tukas Zafirah setengah berbisik kepada Jena.
Namun, pergerakan Zafirah yang hendak beranjak di tahan oleh Jena, dengan meremat ujung gamis yang dia kenakan"Hei, kau bahkan belum menceritakan drama sebelum akad nikah! jangan membuatku penasaran, Zafirah!."
Pundak sang sahabat sedikit bergetar, tertawa tanpa suara"Ya sudah, ayo kita ke kamar. Kita akan lebih leluasa bercerita di sana."
"Oho, baiklah, aku juga ingin mendengar kisah cintamu dengan Ben. Ah! Khair," Jena meralat kata-katanya yang masih sempat menggunakan nama masa kecil suami sahabatnya.
Zafirah sedikit memiringkan kepala, dengan tatapan yang sulit di artikan kepada Jena"Kau ini, apa sekarang kau merangkap menjadi seorang wartawan, alih-alih seorang penulis? rasa penasaranmu tinggi sekali malam ini, tidak seperti Jena yang biasanya," ujarnya kembali berbisik, dengan senyuman.
"Kenapa?."
"Sebab kau wanita hampir sempurna yang pernah aku kenal. Jika di dunia keartisan, katakan saja kau seorang artis besar yang tidak pernah di hinggapi gosip murahan. Bagaimana aku tidak penasaran jika artis idola ku itu tiba-tiba menikahi seorang aktor tampan, juga mendapatkan seorang putra yang tampan sekaligus," tutur Jena menyerang pinggang Zafirah dengan jemari kecilnya, menggelik sahabatnya.
Berkelit, hingga membuat tubuhnya bergerak"Kau ini! ku pikir kau seorang Jena yang tenang seperti danau, ternyata kau adalah Jena yang berisik seperti deru ombak di lautan."
Lagi, Jena meletakan jemarinya di depan mulut, demi menahan volume suaranya yang di buat tertawa oleh Zafirah"Hihihihi, aku ini gadis pantai, jelas saja rasa penasaranku selalu bergemuruh seperti ombak di lautan."
Punggung kedua sahabat itu bergetar, menahan tawa sembari menutupi mulut mereka dengan tangan masing-masing. Pergerakan Zafirah membuat Enda tersentak, tubuh bocah yang bergoyang-goyang itu kembali tegak dan kedua matanya terbuka, merah"Hoaammm," suara kantuknya terdengar.
"Apa kau sudah ingin tidur?," tanya Zafirah lembut.
__ADS_1
"Hem," sahutnya menggaruk kepala yang tak gatal.
"Ayo, umma antar ke kamar," ajak Zafirah.
"Hem," sahutnya segera bangun.
Jena segera meraih jemarinya, dan bergandengan tangan dengannya"Sama onti juga," ujarnya yang langsung di balas Enda dengan senyum.
Mereka pun pamit diri dari ruang tengah, masuk ke kamar pribadi Zafirah di kediaman Kiyai Bahi untuk menidurkan Enda di sana.
Khair melirik sang putra yang telah di bawa dua wanita itu. Dan ternyata lirikan itu di tangkap oleh Agam"Lihat, betapa putramu sangat menyebalkan. Dia begitu mudah menguasai wanitaku dan wanitamu," kemudian Agam menggeleng pelan"Aku tidak yakin kau akan mendapatkan hak mu malam ini, sebab dia telah lebih dahulu menguasai kamar pengantin kalian," setengah berbisik.
Khair menelan saliva, Agam seperti kompor yang sedang memanaskan air di dalam teko bersiul. Membuat otaknya yang adem ayem menjadi beruap hingga berteriak karena kepanasan"Cukup kau saja yang cemburu dengan bocah kekecil Enda, jangan hasut aku untuk menitipkan Enda kepada istri mu malam ini," tukasnya menenangkan diri.
Agam di buat cemberut, jika Khair menitipkan Enda kepada Jena, jelas sang istri akan senang bukan kepalang. Kalau begitu, Khair juga akan senang bisa leluasa bersama Zafirah, sedangkan dirinya tidak! kehadiran Enda di antara dirinya dan Jena jelas membuat dirinya bagai berada di dalam piringan neraca yang tinggi sebelah. mendongak iri pada piringan neraca milik Enda di atas sana, yang sedang di sayang oleh istrinya, ckckck sungguh, sangat tidak adil baginya.
"Aku harus segera mengajak istriku pulang, sebelum kau benar-benar menitipkan bocah itu kepadanya. Ah! aku sempat melupakan sebuah istilah....,", ujar Agam kepada Khair.
Pria yang baru saja melepaskan status duda itu tersenyum, sepertinya ucapan Agam akan kembali membuat geli hatinya"Katakan, apa istilah yang hampir kau lupakan itu."
"Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, pantas saja Enda menyebalkan, sebab kau juga sangat menyebalkan."
Khair tertawa geli, sebisa mungkin menahan diri agar tidak berbahak. Dasar Agam!
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1