Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Duka dan tawa.


__ADS_3

...Kehilangan sang tambatan hati, membawa segala harapan yang tertinggal di sanubari....


...❣️❣️❣️❣️...


Merenungi nasib cinta dengan jalan yang penuh liku, berteman sebotol minuman beralkohol tubuh tegap itu telah luruh ke bumi.


Kesalahan demi kesalahan terus di torehkan di masa lalu, begitu yakin sang kekasih hati menyimpan maaf yang begitu banyak....tanpa di sadari gunung kemaafan itu telah bersemayam di dasar lautan nan dingin.


Bersusah payah mengambil duduk"Jenaira....kau bahkan tidak dapat ku hubungi lagi! aku hanya rindu suara lembutmu," melempar benda pipih itu ke sembarang tempat, terdengar dari suara jatuhnya....benda itu telah pecah berserakan di ujung tangga.


Kerap melalui waktu di tepian kota, tangga di bawah jembatan menjadi saksi betapa hancurnya seorang Dewa.


Kembali menenggak minuman keras hingga membasahi kemejanya, raga tak berjiwa itu perlahan kembali tumbang. Berguling bersama botol minuman hingga bergabung bersama pecahan ponselnya.


"Prang!!!!!!."


"Jenaira, kembalilah........,"terdengar rintihan pilu di tempat sepi itu, Dewa terjatuh d atas pecahan botol minuman.


Pagi yang cerah di kediaman Dewa. Meski hanya sejenak, setidaknya kedamaian sempat singgah di tempat itu. Teriakan Jelita menggema ke seluruh rumah, sebuah telepon memberi kabar bahwa putranya tengah berada di rumah sakit.


"Mas!!! mas Bagas!!! Tiara......," wanita itu menyusuri tangga sembari memanggil suami dan menantunya. Tiara yang masih terlelap terjengkit dari tempat tidur dan langsung menemui sang ibu mertua.


"Kau tidak mencari Dewa tadi malam??? apa kau tahu sekarang dia ada di mana???," tanya Jelita bak seorang detektif.


Jiwa yang masih tertinggal di alam mimpi membuat Tiara bingung, dan dengan ringan mulutnya berucap"Entahlah bu."


Menatap Tiara berang"Plak!!!!," amarah mengantarkan jemari lentih itu di pipi Tiara.


"Kau....., bukankah kau berkata akan lebih memperhatikan putraku?! sekarang dia sedang terbaring di rumah sakit, tapi kau....," pandangan Jelita seolah sedang menelanjangi Tiara.


"Kau bahkan tidur dengan nyaman di kediamanku!!!."


Sembari memegangi pipi yang terasa perih, Tiara mengumpulkan kesadaran hingga akhirnya mampu menguasai keadaan"Maaf bu, tadi.....ta....."


Geram dengan tingkah menyebalkan Tiara, Jelita kembali berteriak padanya"Kau sungguh tidak bisa di harapkan, apa kau sekarang menjadi gagap? kau sangat tidak becus mengurusi suamimu Tiara. Kau tidak ada bedanya dengan Jena!."


Jena!!!! wanita itu kembali di bandingkan dengan dirinya, emosi yang tertahan sungguh tak bisa terus di bendung"Jena!!! selalu saja Jena! aku tidak sama dengan Jena ibu, aku tidak mandul seperti diri nya," ujarnya balas berteriak.


Kegaduhan itu semakin menjadi, Jelita menatap tajam kepada Tiara, dan Tiara tak kalah gusar nya dengan Jelita. Menghadapi pria dengan perangai buruk seperti Dewa, sunggu sangat melelahkan. Di tambah ibu mertua yang selalu menuntut kesempurnaan dari dirinya, Tiara yang sekuat baja pun akan luruh karena lelah.


"Jadi, kau sudah berani meneriaki ku?," nada itu terdengar mengancam. Seketika memudarkan amarah hingga berganti rasa ketakutan pada diri Tiara.


Jemarinya mengacung tepat di hadapan Tiara"Jika bukan karena menikah dengan putraku, kau akan membusuk di panti asuhan kumuh itu. Ingat, siapa dirimu sebelum berhasil merebut putraku dari sahabatmu."


Bagai tersambar petir, seluruh tubuh Tiara menjadi kaku, relung hatinya menjerit, begitu rendah dirinya di mata Jelita. Kenyataan bahwa dirinya hanya seorang gadis yang di besarkan di panti asuhan, meski memiliki kepintaran tetap saja kebenaran itu sangat sulit untuk di terima, apalagi bagi dirinya sendiri.


Bagas datang dan mendapati dua wanita itu tengah berargumen. Tanpa berkata-kata pria baruh baya itu menarik sebuah kursi dan menyaksikan drama terbaru di pagi hari. Tak lupa, Bagas meminta secangkir kopi panas kepada pelayan yang sedang tegang menyaksikan keributan itu"Anggap saja kita sedang menonton opera," bisiknya pada sang pelayan.


"Kau bahkan mendustai kami dengan kehamilan itu, kau bermain gila dengan pria lain, jika bukan karena janjimu untuk memberikan ku cucu, kau sudah ku tendang dari rumah ini Tiara."


"Maaf ibu......," lirihnya tertunduk.


"Maaf??? selalu itu yang engaku ucapkan. Aku bukan wanita murah hati yang selalu bersedia memaafkanmu. Bahkan ketika kau sudah menusuk ku dari belakang, aku masih menjadikanmu pendatang baru di dunia hiburan, menjadikanmu artis dengan segala fasilitas perusahaanku. Sekarang, kabar putraku pun kau tidak tahu? kau bahkan tidak perduli."


Oh, sedikit demi sedikit Bagas mengetahui awal mula pertikaian mereka. Mengetahui Dewa sedang berada di rumah sakit, pria yang telah lelah mengurusi putra semata wayangnya itu mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


Wanita itu bersujud di hadapan Jelita, dengan derai air mata Tiara memohon ampun atas keteledoran nya menjaga Dewa.

__ADS_1


"Aku janji hal ini tidak akan terulang lagi ibu."


"Cuih!!!," decih Jelita"Bukan aku tidak tahu janji seperti apa yang engkau miliki."


Menggeleng pelan dengan air mata yang terus jatuh, Tiara masih memegang erat kedua kaki Jelita.


Di sudut ruangan itu Bagas masih setia menjadi penonton, menurut laporan kaki tangannya, Dewa hanya sedikit cidera pada kakinya dan hal itu tidak membuat Bagas menjadi khawatir. Rasa lelah berada di antara manusia-manusia egois ini membuat Bagas jadi irit bicara, mendengar dan melihat apa yang sedang terjadi, jika itu bukan suatu hal yang genting maka Bagas tak ingin ambil pusing dengan keadaan mereka. Begitulah sebuah bentuk kekecewaan Bagas pada anak, istri dan menantunya.


"Sudahlah!!! cepatlah bersiap, kita harus segera ke rumah sakit."


"Mas, kau diam saja dari tadi. Cepatlah kita pergi ke rumah sakit," ucapan Jelita.


"Aku harus ke kantor," sahutnya menyesap kopi.


Tatapan nyalang Jelita tak di indahkan, Bagas masih setia pada kopinya.


"Mas!!!!," sentak Jelita.


"Ck.....sayang sekali kopi ini baru di sajikan. Tunggulah di mobil, aku akan segera menandaskan minuman ini."


Melenguh kesal namun Jelita tak berniat memancing pertikaian dengan suaminya.


Sedikit terdorong sebab Jelita menghindari pelukan Tiara pada kedua kakinya, dengan angkuhnya wanita itu hendak meninggalkan Tiara, tiba-tiba Jelita kembali menatap Tiara"Ah!!! ingat, nanti sore kau ada jadwal syuting iklan."


"Bukankah nanti sore aku sudah ada jadwal live di Insta bu?," ujarnya kembali berdiri sembari menyeka air mata.


"Kau harus menyelesaikan syuting iklan itu dengan cepat, agar kau dapat melakukan siaran langsung di insta setelahnya."


Sempat terdiam, Tiara mengangguk pada akhirnya"Apa aku sedang terjebak dalam kerja rodi?," waktu istirahat ku sangat berkurang akhir-akhir ini," keluhnya dalam hati.


...🌼🌼🌼🌼...


Lebih lebar dan besar dari beranda kediamannya di pantai, pada kursi panjang di tepi beranda yang teduh, di sanalah Jena duduk memandang langit biru.


Jika, pesta pernikahan itu benar terjadi, mengingat dirinya yang sempat viral sebab kasus plagiarisme, ketakutan itu perlahan merayap di dalam jiwa. Kabar hiatusnya sempat menarik kabar miring para netizen, tidak sedikit yang menuduhnya sedang bersenang-senang sebab berhasil membuktikan dirinya tidak bersalah. Bahkan jika hal itu benar, tidak ada salahnya bukan untuk merayakan sebuah kemenangan? lantas, mengapa para netizen yang terlanjur membencinya memandang buruk terhadap dirinya. Dan, kebanyakan para netizen itu adalah pembaca setia novel gadis_pena yang kini telah di musnahkan forum yang menaungi nya dahulu.


Kehilangan keberanian meminta pesta itu di batalkan, Jena tidak yakin kabar tersebut akan di terima dengan baik. Terlebih....usia Agam yang terbilang lebih muda darinya.


"Apa yang sedang kau renungkan?," suara itu membuatnya terkejut, sosok pria muda itu telah duduk di sampingnya. Terlalu dekat, belum terbiasa akan sentuhan fisik membuat jantung berdebar hebat.


"Tidak, aku tidak sedang termenung," kilah Jena. Alih-alih berbalas pandang, Jena memilih mengalihkan pandangannya pada burung-burung yang tengah berlarian di atas dahan.


Agam menyodorkan sebuah kotak kepada Jena"Bukalah."


"Apa ini?."


"Buka saja," ujarnya memandang kening sang istri. Syukurlah, tidak ada luka yang membekas di sana.


Betapa terkejutnya Jena, Agam memberikan ponsel baru untuk dirinya.


"Oh, jadi kau sedang pamer padaku, aku tahu kau adalah bos ponsel yang cukup terkenal di mall besar itu," ujarnya berceloteh sembari memperhatikan benda pipih itu.


"Semua itu tidak gratis," ujarnya tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat Jena memberengut.


"Jadi, aku harus membayar benda ini? aku bahkan tidak memintanya Agam," wajah itu terlihat menggemaskan saat merajuk. Membuat Agam spontan mengusap lembut pucuk kepala nya.


"Aku hanya meminta kau membayarnya dengan senyuman," ujarnya menatap Jena hangat.

__ADS_1


Raut wajahnya berganti senyum yang tertahan, di pandang dan di perhatikan seperti itu mengundang rona merah di sana.


"Tersenyumlah," pinta Agam meliriknya.


"Senyumanku terlalu mahal, tidak sebanding dengan benda yang kau berikan," ujarnya meletakan kembali benda itu di atas meja.


Agam tahu, Jena hanya sedang bercanda padanya. Terlihat jelas wanita itu tengah menahan raut wajah agar tak tersenyum bahkan tertawa.


Berpura-pura kecewa, Agam mengambil benda itu dan kembali memasukannya ke dalam kotaknya"Aku memilihkan model terbaru untukmu, aku juga sudah memesan softcase untuk ponsel ini dengan lukisan laut biru di kala senja."


Jena memasang telinga lebar-lebar, pria ini benar-benar tahu benda apa yang sangat di sukainya.


"Baiklah, aku akan mengembalikan ponsel ini ke konter."


Dengan rasa tidak rela"Softcase nya sudah kau pesan," tutur Jena tak kuasa menahan diri, beginikah rasanya ketika suara hati tak sejalan dengan tindakan.


Seulas senyum terbit beberapa detik di wajah Agam, cepat-cepat pria itu berpaling wajah.


"Aku masih bisa membatalkannya", ujarnya kembali berwajah kecewa.


Suasana menjadi hening. Jena tengah bergelut dengan batinnya, akh! bukan tidak mampu untuk membeli ponsel itu. Hanya saja dirinya yang sudah lama tidak mendapat hadiah terlampau senang saat itu, membuatnya gugup hingga berkilah menolak pemberian suaminya.


"Hem......,"


"Hem?," balas Agam dengan nada bertanya.


"Jika kau memaksa, aku akan menerimanya."


"Tapi, aku tidak berani memaksa padamu," tukasnya kembali memalingkan wajah. Sungguh Agam sangat ingin tertawa saat ini.


Jena memutar badan agar lebih tepat berhadapan dengan Agam"Aku akan menerimanya!," serunya.


"Tapi kau sudah menolak nya."


"Itu beberapa saat yang lalu, sekarang aku bersedia menerimanya," ujarnya lagi, kini rasa penasaran akan benda itu muncul begitu saja.


"Mungkin benda ini tidak sesuai dengan keinginanmu, lebih baik aku kembalikan saja ke konter," sungguh, celotehan itu membuat Jena semakin gemas.


Berniat merebut benda di dari tangan Agam, kecepatan Jena kalah cepat dengan pergerakan suaminya.


"Hei!!! kau mempermainkan ku!!?," sentak Jena sawt gagal meraih benda di tangan Agam. Pria itu berdiri dengan tangan menjunjung tinggi ponsel itu, ayolah!!! dirinya terlahir dengan tinggi tidak lebih dari 158cm. Sedangkan Agam di anugerah tubuh tinggi menjulang, tinggi pria itu mencapai 180cm, sebuah perbandingan yang sangat tidak adil bagi Jena.


Meloncat-loncat seperti anak kecil, untuk sejenak Jena lupa akan dirinya yang bersikap dingin di depan hampir semua pria.


Sebuah pemandangan yang sangat jarang terjadi, ini kali pertama Agam menyaksikan Jena mengejar dirinya sembari berlari kecil.


"Ayolah Agam, kau tidak bisa mengambil kembali barang yang sudah kau berikan," cicitnya penuh harap.


Pria itu tertawa"Ambilah, kau akan memilikinya jika berhasil merebutnya dariku," menarik ulur benda itu kepada Jena.


Merasa di permainkan, Jena akhirnya menyerah. Berpaling dengan wajah tertekuk"Huh, aku tahu kau begitu tinggi menjulang, sedangkan aku pendek. Lupakan saja benda itu," tak lagi berhadapan dengan Agam, melepas pandangan ke langit luas berharap hatinya tak lagi resah.


Angin bertiup lembut membelai helai rambut panjangnya, Agam melangkah mendekati Jena yang sedang merajuk dengan tawa.


Seketika, Agam memberikan benda itu sembari memeluknya dari belakang"Ambillah, meski pendek, kau memiliki segalanya dari pria tinggi menjulang ini Jenaira."


Deg!!!! duhai hati, apa kau sedang berdebar????

__ADS_1


To be continued....


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2