Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Misi menggelikan


__ADS_3

Kebahagiaan itu sungguh sangat betah menyinggahi Jena. Setelah rumah tangga impiannya kandas, sang maha pencipta mengirimkan seorang pria muda yang membawa begitu banyak kebahagiaan untuknya. Rasa syukur tak henti-hentinya Jena haturkan dalam setiap doa, begitu pula dengan malam ini. Di sebuah masjid besar tepian sungai, Jena dan Zafirah bergabung bersama jamaah lain menunaikan sholat maghrib. Sementara Agam dan Khair berada di depan, pada barisan jamaah laki-laki.


Melihat begitu khusyuk sang sahabat memanjatkan doa, Zafirah ikut mengamini saat Jenaira mengakhiri doa.


"Apa kau tahu doa apa yang aku panjatkan?."


"Kau berdoa di dalam hati, bagaimana aku bisa tahu apa yang kau ucapkan," ujar Zafiah menyenggol tubuh Jena hingga sedikit terhuyung.


Namun lekas Zafirah memegangi pundak Jena"Ups!! maafkan aku, aku pasti membuat si kecil di dalam sana terusik," selain Agam, Zafirah pun kerap bicara dengan sang jabang bayi.


Jena terkekeh"Hentikan, kau membuat orang menatap kita."


"Oho! apa kau malu? lantas, bagaimana dengan teriakan mu tadi sore?," menyindir sang sahabat, dengan kerlingan nakal.


Jena menutup wajah dengan kedua tangan"Yah, aku juga tidak mengerti, mengapa akhir-akhir menjadi sangat aktif, seperti robot yang terisi daya penuh."


Zafirah kembali terkekeh, bahkan Jena sendiri pun merasakan perubahan pada dirinya.


"Ah! jika aku boleh tahu, doa apa yang kau langitkan dengan sangat khusyuk tadi."


Senyum di kulum Jena, juga wajah yang sedikit merona, Zafirah sudah tahu tentang siapa doa itu dia panjatkan.


"Oooooo," ujarnya setengah berbisik"Jadi...apa sekarang kau sangat mencintai bang Agam? seorang wanita hanya akan mendoakan lelaki pujaannya begitu khusyuk seperti kau tadi."


Jena menepuk pelan lengan Zafirah"Hentikan Zafirah!!," dan dua wanita itu tertawa kecil, sembari mengemasi mukena yang usai mereka kenakan ketika sholat.


Rencana selanjutnya, selepas ini mereka masih akan berada di tepian sungai itu. Menunggu kembang api yang katanya akan di nyalakan tepat di jam 9 malam.


Jika Jena dan yang lainnya menunggu kembang api itu dengan sangat antusias, lain halnya dengan Arkan. Niat hati, setelah pekerjaannya selesai dia akan mengantarkan Adila pulang kemudian menjemput Melisa untuk melihat kembang api tersebut.


"Arkan!! Ryung di sandera!," itulah hal pertama yang Melisa ucapkan, saat menyambut kedatangan Arkan di apartemen.


"Ryung? kenapa dia?."


"Bandit yang menyimpan dendam dengan Jake, mencari keberadaannya. Namun Ryung tidak buka suara, hingga akhirnya dia di sekap dan di siksa."


Arkan menghenyakkan diri di sofa. Meski hanya pengawal, namun Ryung adalah salah satu di antara mereka. Dia yang bersaudara sepupu dengan Aron di ketahui telah lama menjadi anak buah Jake, sejak mereka masih berusia belasan tahun. Bahkan saat Arkan dalam masa pemulihan di kediaman Jake dan Melisa, dua saudara sepupu itu juga ikut menjaga dan merawatnya.

__ADS_1


Anderson, keberadaan pria itu di pertanyakan Arkan. Dan ternyata dia sedang berada di luar negeri, mengurusi bisnis.


"Mereka tahu nomor ponselku, dan mereka mengirimkan video ini," Melisa memperlihatkan Ryung yang sedang tergantung dengan kedua tangan terikat di belakang. Oh sungguh malang, pria muda itu nampak babak belur.


Saat Arkan dan Melisa memperhatikan isi dari video tersebut, terdengar suara pintu yang di gedor dengan sangat tergesa-gesa.


Melisa hendak langsung membukakan pintu, namun dengan sigap Arkan menahan wanita itu. Dia mengintip pada lobang kecil di daun pintu, nampak sosok Aron yang bersimbah darah.


"Aron!!!," serunya, pria itu merosot ke lantai saat Arkan membuka pintu. Nampak jejak darah yang menempel di daun pintu apartemen Melisa.


"Tolong Ryung! aku mohon," lirihnya. Genangan air mulai terlihat di sudut matanya.


"Hei!! pria model apa kau ini!! jangan menangis!!," hardik Melisa. Dia tahu hidup Ryung sedang di pertaruhkan, tapi sikap Aron yang mudah menangis ini sangat tidak mencerminkan wajah seorang pengawal yabg tangguh.


"Dia satu-satunya saudaraku," ucapnya berusaha bangkit. Sungguh tidak berdaya, tubuh Aron begitu lemah, hingga untuk duduk pun dia tak sanggup.


Arkan mencengkeram lutut pria itu, membuatnya menjerit histeris"Apa itu sakit?."


"Bang Arkan!!! apa yang kau tanyakan!!," serunya berteriak.


Susah payah, Aron menyeret tubuhnya menuju sofa, dan menyandarkan diri di sana"Baiklah, aku masih sangat kuat untuk bertahan. Sudah bisakah kalian menolong Ryung?," ujarnya dengan napas menderu.


"Kalian?? hanya aku saja yang akan menolongnya, kau akan di temani Melisa di sini."


"Tidak!! bagaimana jika dia mati? orang pertama yang akan di hantuinya pasti aku."


Aron terbahak, namun dengan mulut mengeluarkan darah. Dasar nona muda ini, di saat seperti ini dia masih bisa bercanda.


"Panggil teman-temanmu ke sini."


"Nona Melisa," Aron berucap tertahan"Ponselku sudah remuk, bahkan aku tidak tahu apakah dia masih berbentuk ponsel atau tidak saat ini. Ayolah! jangan banyak bicara! bantu Ryung sekarang!!."


"Bawel sekali kau. Percayalah Ryung akan selamat. Dia jelmaan kucing dengan nyawa 9."


Setelah menyuruh dua pengawal menjaga Aron, Melisa dan Arkan segera menuju lokasi di sanderanya Ryung. Mendengar itu hanyalah bandit amatir, Arkan menolak pengawal yang lain untuk ikut bersamanya. Baginya itu hanya akan membuang tenaga, cukup di temani Melisa saja Ryung pasti bisa di selamatkan.


"Pakai maskermu," ucap Arkan memberi perintah. Dia juga memasangkan topi di kepala Melisa, hingga wajah gadis itu sulit untuk di kenali. Hati Melisa terasa hangat, saat Arkan memasang topi itu di kepalanya. Meski sedikit kasar, tetap saja membuat Melisa terbawa perasaan.

__ADS_1


Sebuah bangunan tua, gedung terbengkalai yang sangat luas. Di sanalah tempat para bandit itu menyekap Ryung"Pegangan yang erat," ujar Arkan pada Melisa. Yah..Melisa sangat menyukai saat-saat seperti ini, saat Arkan menjadi pria yang beringas.


Setelah memastikan nona mudanya berpegangan erat, Arkan menambah kecepatan mobil, dan menabrak pintu besar di hadapan mereka.


"BRAK!!!," suara yang sangat keras itu sukses mengejutkan mereka yang ada di dalam sana.


"Akh!!, abang!," lirih Ryung pada sisa-sisa kesadaran. Pengawal Melisa itu tergantung, di goyang dan di pukuli hingga hampir mati. Namun Melisa yakin, dia masih hidup, seperti yang dia katakan, Ryung adalah siluman kucing dengan 9 nyawa.


"Hoi!!! siapa kau!!," hardik salah seorang dari mereka. Seorang pria dengan pakaian cukup rapi, seperti seorang pekerja kantoran.


Alih-alih langsung adu jotos, Arkan keluar dari dalam mobil dengan ponsel yang sedang merekam kejadian itu.


"Lihatlah, mereka menyiksa teman kami," ujar Arkan sambil menyorot mereka bergiliran. Ah!! ini di luar dugaan Melisa, dia pikir akan terjadi adu otot, gadis itu sedikit merasa kecewa.


"Hoammm," ujarnya jengah"Ku pikir akan melihatnya beringas," gadis itu di perintahkan untuk diam saja di dalam mobil.


Melihat Arkan yang bermain-main dengan ponselnya, para bandit begitu gemas ingin segera menggebukinya, seperti Ryung.


Saat salah seorang mengacungkan sebilah belati ke arahnya...."Kau tinggal pilih, mendapatkan pengurangan hukuman atau tidak. Ingat, menyerang dengan senjata tajam itu akan membuat hukumanmu semakin berat."


"Kau sedang membicarakan hukum di pengadilan??."


"Tentu saja, di negara ini hukum pengadilan sangat berkuasa," ujar Arkan masih dengan ponsel yang merekam"Oh ayolah, hentikan saja semua ini. Wajah kalian sudah terlihat jelas pada video ini."


"Klontang!!," belati itu di jatuhkan"Heish!! kau mengancam kami dengan video sialan itu."


"Aku tidak mengancam, hanya ingin bernegosiasi. Lepaskan teman kami, maka video ini akan aku hapus."


Bandit yang lain terpingkal"Hahaha, jadi seperti ini kelakuan anak buah Jake? sang penguasa dunia malam melatih anak buahnya untuk bernegosiasi? jika kau takut berkelahi katakan saja di mana bos mu!! kami tidak akan melukai dirimu."


"Pasal 170 ayat 1, barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap seseorang, terancam pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. Katakan, apa kalian mau menghabiskan 5 tahun di dalam penjara? sedangkan orang yang kalian cari bukanlah dia," ujarnya menunjuk Ryung, yang terombang-ambing pada seutas tali.


Yah...memang dasar bandit amatir. Mendengar hukuman yang di katakan Arkan, sontak nyali mereka menciut. Di tambah suara sirine polisi yang mengarah ke tempat mereka, oh!! tanpa aba-aba mereka langsung lari tunggang-langgang.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2