Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Sandiwara pengkhianat.


__ADS_3

Mentari pagi bersinar dengan terangnya, Ane yang telah kembali ke kediamannya tengah berjemur di bawah naungan sang mentari pagi.


Siluet wanita berwajah bulat itu nampak sendu, entah apa yang sedang mengusik pikirannya, nampak diam dengan pandangan kosong menerawang, membuat Arkan tidak mengerti betapa dungu tante kecilnya ini. Perselingkuhan Tian bukan lagi sebuah rahasia, seluruh keluarga sudah mengetahui kebenaran itu. Dampak dari perbuatan Tian pun bukan main-main, dia bahkan menitipkan benihnya di rahim wanita lain alih-alih istrinya.


"Nyonya, sup nya sudah siap", sang pelayan datang membawa kabar. Sikap dingin Ane membuat Tian mau tidak mau menjaga jarak dari istrinya, namun, meski menerima perlakuan pahit pria itu terus memantau perkembangan kesehatan sang istri. Nampak seperti suami yang sangat sayang istri bukan? Arkan merasa jijik mengingat apa yang telah terjadi, kedatangannya ke kediaman sang tante pun bukan tanpa sebab. Pria itu berusaha membujuk sang tante agar melepaskan diri saja dari Tian, pria licik yang bersembunyi di balik topeng kepalsuan.


Sepasang bola mata nan cantik, kali ini terlihat cekung dan sayu"Aku akan ke meja makan", sahutnya menoleh pada pelayang. Tatapannya sedikit terkejut mendapati Arkan berdiri di pintu balkon kamar.


"Apa yang kau lakukan, bukankah kau dan Tian harus memantau perkembangan pelaksanaan pembangunan jembatan".


"Tante masih mampu mengucapkan nama pengkhianatan itu?", alih-alih menjawab, Arkan tak menggubris pertanyaan Ane dan balik bertanya.


Langkah itu nampak gontai, Arkan segera mendekat dan memapah Ane bersamanya.


"Apa kau lupa Tuhan maha pengasih dan maha penyayang? dia maha memaafkan, aku hanya manusia biasa yang mencoba ikhlas dan memaafkan kesalahan suamiku".


Senyum miring terbit di wajah Arkan"Tante, untuk apa kau memaafkan seseorang yang bahkan rela meninggalkan Tuhannya? penciptanya saja bisa dia tinggalkan, bagaimana dengan tante?".


Ane menepis lengan Arkan kasar"Jika kedatanganmu kemari hanya untuk meracuni pikiranku, lebih baik kau pergi".


Tubuh kecil Ane terhuyung, segera Arkan memegangi kembali lengan yang nampak semakin kurus"Tante! aku hanya ingin menyelamatkanmu. Bedebah itu mengkhianatimu, memfitnah Jena, apa kau pikir pria seperti itu pantas untuk di maafkan?".


"Oh, jadi kau ke sini untuk membela Jena? gadis keras kepala yang tidak rela jika hanya pernikahannya yang kandas?".


"Tante", lirih Arkan dengan kening menyerngit"Sadarlah! Tian memecah keluarga kita".


Ane menggelengkan kepala berkali-kali"Tian ku hanya khilaf, Jena mengorbankan Tian untuk wanita selingkuhan Dewa", celoteh Ane dalam keterpurukan. Sorot matanya menatap Arkan dalam"Kau tahu bukan, betapa Jena sangat mencintai Dewa, aku tahu dia pasti akan melakukan apa saja agar bisa merebut Dewa kembali dari wanita sialan itu".


"Tidak tante!!! tante sudah termakan bujuk rayu Tian!".


"Arkan!!! panggil suamiku dengan sebutan Om! dia jauh lebih tua darimu, hormati dia!!", sentak Ane garang.


Rahang pria itu mengeras, begitu hebatnya Tian mempengaruhi pikiran Ane. Bahkan wanita itu mengharuskan dirinya bersikap hormat padanya, cih! seorang pengkhianat! pantaskan untuk di hormati?.


"Aku ingin beristirahat, lebih baik kau pergilah", tukas Ane bernada datar.


...🌸🌸🌸🌸...


Tiara berusaha memulihkan diri dengan cepat, kehilangan janin bukanlah sebuah kesedihan baginya, dirinya hanya ingin kembali mendapat tempat di dalam keluarga Dewa. Sikap Jelita yang berubah drastis sungguh membuat hatinya risau, beruntung atas dasar kemanusiaan, Jelita memberikan waktu kepada Tiara sampai dirinya benar-benar pulih. Setelah itu, perceraian Tiara dan Dewa akan segera di laksanakan.


"Kenapa tidak secepatnya saja bu, kita akan tetap bertanggung jawab sampai dia benar-benar pulih meski telah bercerai dari Dewa".

__ADS_1


Jelita yang tidak banyak bicara belakangan ini, nampak termangu saat Bagas mengajaknya bicara.


"Bu", panggil Bagas.


"Aku mendengarnya, mas", sahut Jelita lemah.


"Hei, kenapa kau begitu lemah, apa kau sakit?", telapak tangan Bagas mendarat di kening Jelita. Hangat, wajah wanita itu juga nampak pucat.


"Kau terlalu banyak berpikir Jelita", Bagas meraih jemari istrinya, mengelusnya pelan dan penuh kasih sayang.


"Mas, apa aku tidak di takdirkan memiliki cucu?".


Pandangan teduh Bagas tengah menghujani Jelita, di balik sikap arogannya, di mata Bagas, Jelita hanyalah wanita lemah yang sangat ingin menimang cucu.


Pria tua itu semakin erat menggenggam tangan sang istri"Semua perlu waktu sayang, bersabarlah".


"Ck! harus bersabar berapa lama lagi? jika saja anak itu memang anak Dewa", gumamnya teringat janin yang sempat di kandung Tiara.


"Ayolah Jelita, lupakan janin itu. Kau tidak sedang mengharapkan Tiara lagi kan".


Jelita tertunduk, apakah dirinya terlalu egois jika meminta Dewa tetap menerima Tiara?.


"Jelita", Bagas memainkan jemari Jelita di pangkuannya"Jangan menyalahkan Jena lagi. Dia sudah pada jalannya sendiri".


"Tidak mas, aku hanya tidak habis pikir. Cukup lama dia menjadi menantu kita, bahkan sekali pun dia tidak terlihat mual seperti wanita hamil kan".


"Apa yang sedang kau racaukan ini?!", Bagas tidak mengerti dengan ucapan Jelita. Wanita itu berbicara dengan pandangan menerawang. Apa dia mulai gila karena gagal menjadi nenek??


"Mas, setelah anak kita bercerai dari Tiara, dengan siapa lagi dia akan menikah?".


Pasangan senja itu saling bertatapan, dapat Bagas pahami betapa Jelita sangat ingin menimang cucu. Namun jika waktu itu belum juga tiba, mereka bisa apa?!.


...🌸🌸🌸🌸...


Di hantam berkali-kali, bangkit kembali meski tertatih, Jena harus menerima kenyataan siang itu sang ibu kembali mengusik ketenangan.


"Nanti sore kau harus ikut bersamaku".


Sembari mengetik balasan atas pesan yang di kirim Adelia, banyak bertanyaan berkecamuk dalam benak"Kemana?", balas Jena singkat.


Tak berapa lama benda pipih itu kembali menyampaikan pesan dari Adelia"Orang tua Rio ingin bertemu denganmu".

__ADS_1


Jena terdiam. Alih-alih membalas pesan itu, memandang lautan nan luas sungguh jauh lebih menarik.


Pergulatan batin kembali terjadi, apakah pernikahan akan menjadi jalan terbaik atas segala masalah dalam hidupnya? juga masalah yang katanya hadir dalam hidup keluarganya karena kesialannya? deru ombak memecah lamunan Jena, nampak di kejauhan banyak nelayan yang tengah bersiap untuk melaut.


Terbersit keinginan untuk ikut bersama pak nelayan, namun, ah____ cepat-cepat wanita itu menyadarkan diri. Bersemayam dalam samudera bukanlah pilihan terbaik.


Entah mengapa di saat seperti ini Jena justru teringat akan Agam, bocah berhati lembut dan selalu dekat dengan Tuhannya.


Dering sang gawai membuat jantung berdegup kencang, pasalnya, nama sang ibu tertera di atas layar. Penuh keraguan Jena menerima panggilan telepon dari Adila sembari menyalakan loudspeaker.


"Bersiaplah sekarang, jadwal pertemuan kita di percepat. Kita akan makan siang bersama Rio dan orang tuanya".


Ingin rasanya menjerit, namun betapa hati terasa sangat lemah. Sangat jauh di lubuk hati, Jena ingin memberikan yang terbaik untuk Adila, agar wanita itu sadar dirinya tidak terlahir dengan bekal kesialan.


Namun, apa harus dengan Rio??? bahkan secuil rindupun tak pernah singgah di hatinya, bagaimana dirinya akan hidup bersama pria yang tidak dia dambakan???.


"Ba___baiklah", sahutnya pasrah.


Gibran mematung memandang Jena, kerap tertekan karena sikap sang ibu, kakak keras kepala itu mendadak kehilangan taring.


"Kau, akan menerima begitu saja? aku sangat tahu, kau tidak memiliki rasa spesial terhadap Rio".


Manik coklat Jena memandang Gibran, kali ini sorot mata itu terlihat sendu. Sembari duduk di kursi"Mungkin, sebaiknya aku berdamai dengan keadaan. Jika Rio bisa mengusir kesialan ku, aku seharusnya bersyukur atas kehadirannya", menundukan kepala, kesedihannya terlihat jelas.


"Kau tidak membawa kesialan kak".


"Aku tahu, tapi di mata ibu aku tetaplah wanita pembawa sial".


"Ash!!!", sentak Gibran menahan amarah. Di satu sisi Adila adalah wanita kesayangannya. Di sisi lain, Jena juga wanita yang di sayanginya.


Sejenak terdiam, Gibran memaksa otaknya mencari jalan keluar untuk Jena. Saat sang kakak hendak pergi dari hadapannya, Gibran menarik lengannya dan menyeretnya ke kamar.


Tergesa-gesa Gibran menarik koper besar dari bawah ranjang.


"Kak Jena, pergilah!!!".


"Hah!!!?", Jena terperangah.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2