Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Mas suami.


__ADS_3

"Hentikan memanggilnya, Agam, Agam, Agam!! kau harus memanggilnya dengan hormat. Dia suamimu! bukan sekedar teman saudaramu seperti dulu."


...💫💫💫💫...


"Hup!" Agam memojokkan Jena di daun pintu. Perjalanan dari ruang tamu menuju kamar di warnai dengan senyuman. Bagaimana tidak, kedatangan Adila menyisakan senyuman di wajah Agam. Mertua galak itu menekankan kepada Jena untuk berhenti sekedar memanggilnya Agam.


"Coba, ulangi panggilanmu kepadaku."


"Agam," ujar Jena.


Agam mendekatkan wajahnya, hingga ujung dari hidung mereka bersentuhan"Bukankah tadi ada embel-embel manis di depannya, sayang."


Mendorong tubuh suaminya yang begitu tinggi, Jena nampak memanyunkan bibirnya kemudian berkata"Mas Agam."


Air muka Agam sungguh terlihat ceria"Lagi, ulangi lagi," pintanya dengan senyuman tertahan.


Oho! begitu senangnya pria ini mendapatkan panggilan baru, Jena yang sempat kesal karena di pojokan ke daun pintu berniat menggodanya"Maaasss Agaaammm," ulang Jena melirik pria itu dengan tatapan nakal.


Pria itu tersipu malu, ada rona bersemu merah yang perlahan merayap hingga pada kedua telinganya. Begitulah Agam, saat malu, saat senang, saat tertawa riang, wajah pria berkulit putih itu akan lekas bersemu. Pemandangan itu kerap memancing jiwa-jiwa nakal Jena untuk semakin mengerjainya, dengan menggelitik perutnya, seperti saat ini.


"Eheyy, apa kau begitu bahagia?," jemari kecil itu menyerang perut sang suami secepat kilat.


Tak sempat berkilah, Agam justru tergelak tawa sebab Jena mulai menggelitik tubuhnya.


"Jena!!! kau membuatku tak berhenti tertawa!!," pekik Agam mencoba menahan pergerakan jemari kecil sang istri.


Baiklah, wajah prianya sudah sangat merah, Jena tak ingin membuat pria itu tertawa hingga pingsan"Hanya embel-embel Mas, kau sudah terlampau senang, Agam," ujarnya lagi.


Agam menggiring sang istri untuk duduk di tepi ranjang, mengatur napasnya sejenak, Agam mengusap wajahnya kemudian menyugar rambutnya"Ehem!," ujarnya menetralkan suara usai tertawa terbahak-bahak.


"Sayang, panggilan itu cukup membuatku terdengar seperti pria dewasa. Apalagi jika kau yang memanggilku dengan sebutan itu."


Sebelah alis wanita itu menukik naik. Jadi, Agam terlampau gembira karena panggilan itu membuatnya terdengar lebih dewasa, seperti pria yang berusia lebih tua darinya. Lantas, hati kecil Jena pun menyadari, betapa mudah menciptakan kebahagiaan dalam hubungan mereka, terlebih kepada Agam.


"Hem....," jemari kecil itu memegang lengan Agam, perlahan mengapit lengannya pada lengan suaminya"Jika dengan sebutan Mas saja kau sudah sebahagia ini, aku jadi ingin memanggilmu dengan sebutan, Agam suamiku," sepasang manik coklat nan cantik, berkedip manja pada prianya.

__ADS_1


Menggembungkan kedua pipinya, dengan rona wajah yang kembali bersemu, sudah sangat jelas bahwa Agam telah salah tingkah di buat Jena. Pria itu bahkan tak kuasa berlama-lama memandang manik coklat istrinya, sungguh sang jantung sedang berdetak begitu cepat di dalam sana. Sang kaki di bawah sana di buat mengetuk-ngetuk lantai, Jena menyadari hal itu, dan suaminya sangat lucu saat seperti itu.


"Ayolah, kenapa kau tidak ingin beradu pandang? apa panggilan itu kurang memuaskan? atau.....apa aku harus memanggilmu, Agam cintaku??."


"Jenaira Ahmad....," lirih Agam, akhirnya pria itu bersuara, setelah kehabisan kata-kata karena istri jahilnya.


"Hei! aku hanya ingin membuatmu senang. Cepat katakan, kau ingin ku panggil dengan embel-embel apa? Mas? sayang? suamiku? cintaku?," Jena membuka ruas jarinya satu-persatu, sembari menunggu Agam menentukan ingin di panggil dengan sebutan apa.


"Agam saja," ujarnya mengulum bibir.


Jena berlagak cemberut"Tidak boleh, ibu akan langsung memarahiku jika masih mendengarku memanggilmu hanya dengan nama."


Benar juga! Agam kembali memikirkan ocehan ibu mertuanya. Wanita itu menekankan kepada istrinya agar tak lagi memanggilnya dengan nama saja"Terserah kau saja, hendak memanggilku seperti apa."


"Agam cintaku??," lagi, Jena mengedipkan kedua matanya menatap Agam.


"Hentikan sayang, kau terus menggodaku."


"Em......bagaimana dengan Mas Agam?."


"Boleh," sahutnya tersenyum kecil.


"Sayang, tolong jangan berikap seperti ini. Kau sangat menarik saat menggodaku."


Mengesampingkan surai panjangnya pada satu sisi, tengkuk indahnya membuat Agam menelan saliva"Benarkan, mas Agam," dasar wanita. Sudah tahu betapa lemahnya iman Agam saat bersamanya, Jena justru begitu senang melambungkan imajinasi liar suaminya. Menyelipkan helai rambut ke daun telinga, Jena menatap Agam dengan penuh cinta.


Agam mulai menggigit tepian bibirnya, leher mulus itu sangat menggoda, wajah cantik dengan tatapan nakal itu membuat napasnya terasa berat"Sayang, apa kau tahu hal ini sangat membahayakan dirimu?."


"Oh ya? apa sebaiknya aku pergi saja?."


Agam menarik lengan Jena saat wanita itu membawa diri, membuat tubuhnya limbung dan jatuh begitu saja ke ranjang nan empuk.


"Sudah terlambat, kau harus mendapatkan balasan atas segala perbuatanmu," dalam sekejap, Jena telah berapa di bawah kungkungan Agam. Dengan seringai tawa, Agam meremat ruas-ruas jemarinya hingga menimbulkan suara renyah.


Jena di buat berdebar, apa yang akan di lakukan suaminya kepada dirinya??

__ADS_1


Bukan adegan panas, namun juga menimbulkan keringat yang membasahi tubuh. Agam membalas jemari kecil Jena yang nakal menggelitik tubuhnya. Membuat wanita itu tergelak tawa hingga napasnya tersengal-sengal.


"Agaaamm!!! hentikan??," jeritnya dalam tawa. Tepian matanya berair, menahan geli yang membuat tubuhnya bergerak tak terkendali.


Kegaduhan itu terdengar hingga ke lantai bawah. Gibran yang sedang menonton televisi membuang napas kasar"Haish!! beruntung aku sudah pergi dari lantai atas. Berat sekali cobaan tinggal dengan pasangan bucin itu!."


...* * * *...


Ya Tuhan!!! Tiara menatap kesal kepada Tian. Bukan apa-apa, butuh perjuangan hingga akhirnya mereka bisa bertemu. Saat gejolak rindu menggerogoti sang hati, saat tubuh nan molek mulai menginginkan sentuhan lebih, sang Joni di bawah sana masih tertidur dengan sangat lelap. Segala jurus-jurus jitu sudah Tiara lancarkan, demi membangunkan sang Joni, namun....entah mengapa benda pusaka itu begitu enggan untuk bangun.


"Bastian, ada apa dengan mu? apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?," tanya nya dengan linangan air mata.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," sahut Tian hendak memeluk Tiara.


"Ck! kau bahkan tidak menunjukkan ketertarikan saat aku menjamah tubuhmu," menepis lengan kekar Tian, Tiara meraih pakaiannya yang berserakan di lantai.


Melihat Tiara mulai mengenakan pakaian, Tian kembali hendak menarik tubuh wanita itu.


"Ash! lepaskan. Sudahlah, ada pekerjaan yang sedang menungguku," ujarnya mempercepat aktivitas berpakaiannya.


"Sayang....," lirih Tian saat Tiara meraih tas nya.


"Ayolah, aku sangat merindukan mu," ujarnya lagi.


"Tian, kita atur jadwal bertemu di lain waktu," sangat di sayangkan, Tiara begitu rindu kenikmatan memadu kasih dengan Bastian, namun perjumpaan kali ini berakhir sia-sia.


"Maaf sayang, aku sungguh minta maaf. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, mungkin itu yang menyebabkan pusaka ku tak bisa bangun kali ini."


Kembali membuang napas kasar, Tiara mendekati Tian di atas ranjang, mencium kening pria itu dalam-dalam"Yah, aku memahami keadaanmu. Kau pasti sangat kelelahan, aku akan menghubungimu lagi nanti. Sekarang aku pergi dulu ya."


"Hem... hati-hati di jalan sayang," ujar Tian menggenggam jemari Tiara hingga akhirnya terlepas.


Seperginya Tiara, Tian beranjak menuju kamar mandi, dan betapa kesalnya sang hati di dalam sana. Sang pusaka berdiri dengan tegak saat dirinya mandi di bawah shower.


"Esh!!! ada apa denganmu, hah!!," gusar Tian pada diri sendiri.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2