
Berkali-kali mengusap kedua mata, Agam kembali memasang kacamatanya demi memastikan apa yang telah dia lihat.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?!", gumamnya masih mengikuti langkah Tian dan Tiara. Perlahan namun pasti, pria muda itu tidak ingin kehilangan pandangan sedikitpun saat itu. Ini masalah keluarga orang lain, namun teringat tante Ane yang selalu ramah dan baik kepada mereka, apakah dia harus diam saja??.
Langkah kedua budak cinta itu sampai di depan hotel, mereka masuk ke sana dengan riang. Nampak beberapa belanjaan mengayun manja di lengan kiri Tiara sementara tangan yang lain melekat erat di lengan Tian.
Saat keduanya memasuki hotel, Agam memilih diam di balik mobil orang lain. Haruskah dia melangkah maju? atau memanggil Gibran untuk ikut menyaksikan pengkhianatan Tian???.
*
*
*
*
Dosa besar apa yang telah Kirana lakukan di kehidupan lampau, berniat menyelesaikan masalah, namun nyatanya Kirana kembali menambah masalah, gadis itu meminta bantuan Rio untuk membelikan es kopi pesanan Jena, sementara dirinya menuju resort ujung pulau untuk membeli cumi asam manis.
Bak gayung bersambut, Rio yang kesehariannya memang di penerbit Will merasa sangat beruntung. Usai menerima telepon dari Kirana, pria yang kerap menyita perhatian kaum hawa itu segera melesat ke cafe seberang, memesan es kopi pesanan Jena.
"Atas nama Jenaira, tanpa es", tutur Rio saat memesan minuman.
Sang pelayan menyerngitkan kening "Mas Rio, bukankah mbak Jena selalu memesan kopi ini dengan es?".
"Saya tahu, tapi Jena sedang berada di pantai, aku akan menambahkan es batu saat tiba di kediamannya".
Sontak pelayan itu tersenyum "Wah, mas Rio pengertian sekali terhadap mbak Jena. Sedang pendekatan ya mas?".
Senyum pria itu menukik naik "Kau sangat ingin tahu, atau hanya sekedar ingin tahu?".
"Hihihi, sejujurnya, kabar terbaru tentang mbak Jena sangat di nantikan banyak orang. Seorang penulis terkenal yang sangat minim informasi, jika mas Rio benar-benar sedang mendekati mbak Jena, hal itu pasti akan menjadi berita besar", celotehnya sembari meracik kopi pesanan Jena.
Hati kecil Rio sedikit tergigit, seandainya dia memiliki hak untuk mengakui Jena sebagai kekasihnya.
"Meski dingin, Jena teman yang mengasikan. Jika kelak hubungan kami bukan sekedar pertemanan, mungkin akan lebih mengasikan", tukas Rio akhirnya.
Sang pelayan mengerti perkataan Rio, bukan rahasia lagi bahwa Jena sangat sulit untuk di dekati, bahkan sekelas Rio yang tampan rupawan pun tidak mudah "Semoga keberuntungan selalu bersama mas Rio", ujarnya menyerahkan kopi kepadanya.
Barisan gigi putih nan rapi, senyuman itu sungguh memabukan "Terimakasih".
"Sama-sama mas Rio, terimakasih telah berkunjung ke cafe kami", pelayanan itu memberi hormat. Membuat Rio kembali tergelak tawa.
"Sebentar" Rio yang hendak berlalu kini berbalik, membuat sang pelayan kembali menatap Rio "Aku akan sangat berterimakasih jika kau melupakan obrolan kita tadi".
Mengerti akan permintaan Rio, sang pelayan berlagak menarik zipper di mulutnya "Saya akan hilang ingatan mas".
"Hahahha, kau lucu sekali. Apa aku harus memberikan uang tips kepadamu", ujarnya di sela tawa.
"Wah, sepertinya bintang keberuntungan sedang menerangi saya hari ini", serunya senang.
Dengan senang hati Rio memberikan uang tips kepadanya, membuat sang pelayan berjingkrak gembira.
Kini, pria itu telah sampai di kediaman wanita idamannya. Meski berwajah datar, Jena masih menerima kehadirannya. Benar saja, es kopi yang Rio bawa masih sangat dingin, begitu juga dengan cumi asam manis yang di bawa Kirana. panjangnya antrian menyita banyak waktu, hingga waktu yang Kirana habiskan untuk membeli cumi asam manis itu bertepatan dengan kedatangan Rio dari perkotaan.
Awalnya Kirana merasa senang, rencananya berjalan dengan sangat lancar. Namun kehadiran Rio membuat Jena menatapnya dengan tajam, apalagi saat dia tahu kedatangan Rio karena es kopi yang dia pesan. Sungguh, Kirana tidak pernah belajar dari apa yang telah terjadi di masa lalu, entah karena terlalu polos atau memang terlalu dungu.
Jena tidak dapat menikmati hidangan itu dengan nyaman, sebab Rio terus memandanginya lekat-lekat. Paham dengan kebiasaan Jena yang tidak suka berbicara saat makan, pria itu hanya diam sembari menikmati wajah cantik pahatan sang maha pencipta.
"Apa kau tidak ingin makan?", Jena akhirnya bersuara.
"Tidak, nikmati saja hidanganmu".
"Baiklah", wanita itu melanjutkan aktivitasnya.
"Apa kau juga tidak ingin makan?", tanya Jena kepada Kirana.
Kirana menarik napas pelan "Aku belum merasa lapar".
"Oh", Jena kembali menyantap hidangannya.
Gadis itu berdiri di samping Jena, mencari-cari cara agar bisa menyampaikan pesan yang di katakan kepala pimpinan.
Tidak berapa lama, Jena telah usai dengan aktivitasnya. Meski sempat merasa risih, Jena bersikap acuh dengan tatapan lembut Rio kepadanya.
"Sampai kapan kau akan terus memandangiku?", tanya itu terlontar usai menyesap es kopinya.
"Jika aku boleh bersikap egois, aku ingin selamanya dapat memandangmu seperti ini".
Menghela napas jengah "Hantikan, sebelum aku memuntahkan cumi-cumi dari dalam perutku".
"Aku benar-benar ingin bersamamu Jena, sampai hari tua, sampai rambut kita sama-sama memutih", penuh penekanan, Rio berharap ada sedikit ruang di hati wanita itu untuk dia tinggali.
Namun hal itu sangat jauh dari harapan "Aku tidak ingin menua bersamamu, berhentilah berharap Rio", sahutnya tidak berperasaan.
Pria itu kembali menatapnya lembut "Bahkan, aku pun tidak mampu menghentikan diriku sendiri".
"Cari wanita lain, bukan aku seorang wanita di dunia ini".
"Tapi hanya kau seorang yang mengisi hatiku".
Stok kesabaran Jena mulai menipis "Cukup, cacing di dalam perutku mulai protes, bukan karena lapar. Kau mengertikan maksudku?", tangannya mengarah kepada Rio, agar pria itu sadar betapa dirinya tidak bisa menjadi milikinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan berhenti merayumu, meski sebenarnya aku tidak merayumu", ujarnya akhirnya.
"Sekarang, apa yang kau inginkan? aku harus menghubungi pak Salman, ada hal yang ingin aku sampaikan" sebuah penolakan halus, Rio sangat tahu bahwa Jena tidak menginginkan kehadirannya.
Pria itu memutar otak, dengan cara apa agar dirinya bisa lebih lama di kediaman Jena.
"Anu, bolehkah aku menyela", mendengar nama kepala pimpinan, Kirana merasa inilah saatnya menyampaikan pesan sang bapak kepala.
Tanpa menatapnya, Jena pun bertanya "Kenapa?".
"Sebelum memesan makanan untukmu, kepala pimpinan menghubungiku".
Jena memutar diri, menghadap kepada Kirana langsung.
"Besok malam adalah malam penghargaan___"
"Aku tidak bisa!", seperti seorang dukun. Jena dapat menebak apa yang akan Kirana ucapkan.
Seketika wajah gadis itu berubah masam "Sekali ini saja", ujarnya mengacungkan jari telunjuk memohon kepada Jena.
"Tidak, kau saja yang mewakilkan aku", ujarnya tidak peduli, menyesap kopi itu lebih nikmat dari pada harus memikirkan untuk hadir di acara itu.
"Ini permintaan pimpinan Jena".
"Aku masih ingat, di tepi pantai tadi ada yang sangat jelas mengatakan bahwa dirinya masih menjadi editor ku, selain mendesakku untuk segera menyelesaikan naskah, bukankah dia juga harus menggantikanku menghadiri setiap acara?", sorot mata itu kembali Kirana dapatkan. Mengintimidasi, Kirana kehabisan kata-kata saat hal itu terjadi.
"Aku bisa menemanimu Jena, aku juga akan hadir di acara itu".
"Tidak, terimakasih".
"Jenaira, kau seorang penulis terkenal, sesekali hadirilah undangan seperti besok malam. Kau akan bertemu banyak rekan seprofesi, kau akan menjumpai banyak orang terkenal, dan fans mu, mereka pasti senang saat kau hadir di sana", Rio mencoba membuka pandangan Jena tentang bersosialisasi.
Wanita itu menyahut singkat "Aku tidak suka sorotan".
"Kau akan menyukainya saat menerima banyak sorotan Jena, kau akan merasa menjadi ratu".
"Aku tidak ingin menjadi ratu", Jena masih tetap pada pendiriannya, membuat Rio sedikit kewalahan untuk membujuknya.
"Begini Jena____"
Jena mengisyaratkan Rio untuk berhenti berbicara, gawai di atas meja berdering. Menampilkan nama seseorang di sana.
"Hentikan celotehan mu, aku harus menerima panggilan ini", ujarnya sedikit menjaga jarak untuk menerima panggilan.
Beberapa menit tenggelam dalam obrolan di ujung telepon, Jena berkata akan pergi dari kediamannya.
"Aku akan menemanimu", lagi-lagi Rio selalu ingin menempel pada Jena. Membuat Jena sangat-sangat muak.
Untuk pertamakalinya seorang Jena meminta sesuatu kepadanya, tentu Rio tidak punya alasan untuk menolaknya. Dalam sekejap Jena mendapatkan kunci mobil milik Rio, membawanya naik menuju lantai atas untuk berganti pakaian. Tidak berapa lama wanita itu muncul dengan tas terselempang di tubuhnya, sangat jauh dari kata feminim, namun Rio selalu suka dengan gaya berpakaian Jena itu.
"Kau sebaiknya tetap di sini menemani Kirana", ujarnya sembari berjalan menuju mobil Rio.
"Apa yang membuatmu harus segera pergi dari sini? apa ada masalah?".
"Sedikit masalah, tapi aku bisa menyelesaikan nya".
"Jena, masalahmu masalahku juga".
"Apa kau bisa benerang", tanpa di sangka Jena melontarkan pertanyaan itu kepada Rio.
"Hem, aku cukup baik berenang di kolam renang", sahut Rio begitu yakin.
"Bagaimana jika aku melemparmu ketengah laut, apa kau yakin masih bisa berenang?".
Sebuah ancaman halus, Rio menggeleng cepat dengan bibir tertutup rapat.
"Baguslah jika kau akhirnya diam, mulai sekarang berhentilah merayuku jika tidak ingin ku tendang ke tengah laut".
Rio mengangguk pasrah, Kirana menahan tawa namun wajahnya berubah masam kembali saat ujung mata cantik Jena menatapnya.
Tanpa kata, Rio hanya bisa pasrah di tinggalkan Jena bersama Kirana. Sungguh hatinya tidak rela, namun perintah Jena merupakan sebuah keharusan baginya.
Megendarai mobil yang asing baginya, dengan pikiran berkecamuk, untung saja Jena masih bisa mengontrol diri. Dengan kecepatan di atas rata-rata wanita itu akhirnya sampai pada satu tempat.
Seorang pria sedang bersandar di pilar hotel, senyumnya mengembang saat Jena memanggil namanya.
"Agam".
Sembari menghampiri Agam, Jena melepaskan kacamata bacanya dan menyematkan benda itu pada leher kemeja. Merasa tidak tepat, Jena berbalik menuju mobil, mengambil tasnya dan memilih menyimpan benda itu ke dalam tas.
"Mobil baru?", hanya itu kata pertama yang mampu Agam lontarkan. Sungguh, beberapa hari tidak berjumpa dengan wanita ini membuat jantungnya berdetak abnormal.
"Mobil___", ucapan Jena terputus. Wanita itu menarik lengan Agam, membawanya bersembunyi di balik mobil-mobil yang terparkir.
"Hah!!!!!", pekik Jena menutup mulutnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya masih memegang lengan Agam dengan erat.
"Aku harus menyimpan bukti ini", ujar Jena. Melepaskan tangannya dari lengan Agam, kini wanita itu fokus memotret Tian yang sedang merangkul mesra Tiara.
"Pantas saja hatiku tidak bisa menerima kau dalam keluarga kami, ternyata ini yang kau lakukan di belakang tante Ane!!!", gerutu Jena kesal.
"Terimakasih kau sudah memanggilku ke sini Agam, aku akan mengungkapkan hal ini kepada tante Ane. Juga kepada Dewa", Jena terus mengoceh.
__ADS_1
"Apa kau tahu Agam, wanita itu dahulunya sahabatku! Dewa berselingkuh dengannya saat masih menjadi suamiku. Sekarang karma sedang singgah kepadamu Dewa, wanita itu sekarang berselingkuh darimu".
Agam diam saja memandangi Jena yang terus berceloteh. Sungguh tingkah wanita itu membuatnya gemas, teringat betapa cerewet dan banyak bicaranya Jena dahulu sebelum menikah dengan Dewa.
"Agam", panggil jena.
Pria itu tidak menyahut, hingga Jena berpaling kepadanya dan mendapatinya sedang menatap lekat padanya.
"Hei bocah tengil!!! dari tadi aku berbicara kepadamu", sebuah jentikan mendarat di kening Agam.
"Ah! iya kak Jena", seru Agam akhirnya.
"Iya, apa yang kau sebut iya!".
"Anu".
"Anu apa?", desak Jena.
"Itu, om Tian bersama wanita lain", ujarnya mencoba fokus kembali.
"Kau menunjuk ke arah mana? mereka sudah menghilang", protesnya saat jari telunjuk Agam mengarah ke dalam hotel.
Agam seolah ling-lung "Oh, begitukah?".
"Apa kau tahu siapa wanita itu?".
Dengan polosnya Agam menggeleng.
Jena tersulut emosi "Hais!!! aku memang tidak seharusnya bercerita kepada sesama manusia, perkataan panjangku tidak kau dengarkan. Sungguh membuang waktu".
"Maaf kak Jena, aku terkejut kau memegang lenganku".
Langkah Jena pun mundur, apakah salah memegang lengannya.
"Tidak bermaksud apa-apa kak, aku hanya tidak terbiasa bersentuhan dengan lawan jenis", Agam mencoba menjelaskan.
Jena menatapnya lekat-lekat. Tatapan itu seolah menguliti Agam, membuat pria berkulit putih itu berwajah merah merona.
"Ada apa dengan wajah seperti kepiting rebus itu?, apa kau juga tidak terbiasa di tatap oleh lawan jenis??".
Sembari memegangi kedua pipinya "Tidak apa-apa kak, udaranya terlalu panas".
Wanita itu mendongakan kepala, yah! langit di atas sama memang sangat cerah dengan matahari bersinar terang.
"Berapa lama kau menunggu di sini?".
"Sejak menelpon kak Jena", sahut Agam apa adanya.
"Mau ku traktir minuman?", wow!! sebuah hal yang sangat tidak terduga. Seorang Jena yang dingin menawarkan diri untuk mentraktir seorang pria.
Agam langsung menganggukan kepala "Mau".
Jena pun mengajak Agam ikut bersamanya. Pertanyaan tadi kembali Agam lontarkan "Ini mobil baru kak Jena?".
"Tidak, ini mobil Rio".
Bagaikan petir di siang hari, hati yang sempat berbunga kini gersang kembali. Wajah ceria itu kembali tertekuk lesu.
"Kau mau minum apa?".
"Apa saja", sahutnya tidak berselera.
Sikap Agam jelas menimbulkan tanya di benak Jena, bukankah pria ini tadinya cukup riang. Kenapa sekarang berubah sendu.
"Apa kau sakit?".
Agam mengangguk.
Jena menghentikan mobil yang sempat melaju "Kau sakit apa? apa perlu aku membawamu ke rumah sakit?".
Lelaki muda itu menggelengkan kepala.
"Lantas, apa yang harus aku lakukan kepadamu? kau sudah membantuku dengan mengungkap perselingkuhan Tian, setidaknya aku bisa melakukan suatu hal untukmu".
"Benarkah kau akan melakukan sesuatu untukku?".
"Jika aku bisa melakukannya, aku akan melakukannya untukmu".
"Bisakah kau menolak lamaran Rio".
Sorot mata Jena menatap Agam, ada apa dengan teman adik tengilnya ini??
"Sebenarnya kau sakit apa? kenapa bicaramu seperti itu?".
Seketika Agam memegang dadanya "Di sini kak, segumpal darah di dalam sini begitu sakit saat mendengar kau di lamar Rio".
Kedua bola mata Jena membulat sempurna "Apa-apaan ini?? jangan katakan bocah tengil ini menyukaiku!!!", pekik hati kecil Jena.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1