Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Benang merah di ujung cincin


__ADS_3

...💫"Mungkin engkau hanya pemeran pendukung dalam hidupku,...


...Tapi kau akan tetap ku cinta di dalam hatiku....


...Andai kau bisa memelukku kembali satu detik saja,...


...Ku kan menunggu kedatanganmu untuk selamanya"💫...


...🥀🥀🥀🥀...


Ternyata, kehadiran Gibran ketika menggantikan Jena di acara penghargaan itu banyak menarik perhatian khalayak ramai. Wajah tampan rupawan, tubuh tinggi tegap, tutur kata sopan, dan senyum yang menampilkan gigi kelinci, Gibran sungguh membuat para wanita berdecak kagum dan gemas kepadanya.


Ketika di sapa, tak segan-segan Gibran singgah sebentar untuk menanyakan nama orang yang menyapa tersebut.


"Bella," ujar wanita yang di kerumuni teman-temannya sembari menikmati ketampanan Gibran.


"Wah, Bella ya! hemmm," Gibran menopang dagunya dengan dua jemari"Dalam bahasa spanyol, Bella itu artinya cantik."


Rona merah seketika terbit di wajah wanita bernama Bella itu. Interaksi mereka menyita perhatian para wartawan, bukan apa-apa, ternyata Bella adalah salah satu pemain FTV yang sedang naik daun. Melihat hubungan dirinya dan Gibran, tentu sebuah hidangan yang sangat menggiurkan bagi para pemburu berita.


Menepuk pelan dada bidang Gibran sembari tertawa manja, entah sudah berapa kali kamera para wartawan mengabadikan kebersamaan mereka yang terlihat manis.


Bukan hanya para wartawan, juga para artis yang kerap berakting di layar kaca, sutradara yang melirik beberapa novel karya Jenaira pun mulai mendekati sosok Gibran. Sempat terkejut, namun akhirnya Gibran mengekor langkah sutradara Han saat beliau mengajaknya untuk lebih banyak berbincang. Sementara Bella, wajah gadis itu nampak kecut saat Gibran melangkah undur diri dari hadapannya.


"Sudah cukup lama aku mengenal Jenaira, tapi aku tidak tahu bahwa dia memiliki adik lelaki yang sangat tampan."


Gibran tersenyum santun, pria itu tertunduk seperti malu-malu. Padahal, lubang hidungnya kembang kempis karena begitu banyak menerima perhatian, pujian, dan sebutan tampan itu....oh sungguh dirinya tidak dapat menghitung sudah berapa banyak kata-kata tampan itu terselip untuk dirinya.


"Lihatlah, senyummu sangat menawan," sutradara Han berdecak kagum, begitu tampan pahatan sang illahi pada rupa seorang Gibran.


"Aduh, saya tidak setampan itu pak sutradara," ujarnya mengulum senyum.


"Aku bukan orang yang mudah melemparkan pujian."


Hati kecil di dalam sana di buat mengembang seperti balon, bahkan dia sudah melayang pada dinding rongga dada Gibran, sangat tersanjung.


"Begini nak Gibran," sutradara Han menepuk pundak Gibran"Apa kau berniat menjadi artis?."


Sepasang mata boba Gibran di buat semakin bulat, ucapan sang sutradara tidak pernah terlintas sekalipun dalam pikirannya.


"Seperti mereka," ujarnya menunjuk para artis-artis muda yang juga hadir di sana."


Gibran menggeleng, rasa percaya dirinya menciut melihat orang-orang sukses itu, sedangkan dirinya hanya seorang pebisnis kecil.


"Ayolah, jangan seperti kakakmu yang suka bersembunyi. Seharusnya dia hadir di sini bersama para rekan penulis terkenal bukan," kali ini pak sutradara menunjukkan meja bundar nan besar.


Tak satu orang pun yang Gibran kenali di sana. Namun setelah melihat Rio, berjalan dan bergabung bersama orang-orang di meja itu"Apa mereka para penulis terkenal?."


"Ya! dan nama-nama mereka sudah wara-wiri menghiasi scene penghujung drama FTV, bahkan pada film-film di layar lebar.


"Waw!," Gibran terperangah. Begitu menariknya dunia profesi sang kakak. Tapi wanita galak itu justru menarik diri dan memilih hidup di tepian pantai, alih-alih mereka para penulis handal yang mungkin memiliki hunian mewah di tengah kota.

__ADS_1


"Kau punya modal yang kuat untuk menjadi seorang artis nak Gibran," tangan sang sutradara turun naik memeriksa tubuh Gibran"Tinggi tegap, dan lumayan berotot, kau kandidat kuat untuk menjadi bintang selanjutnya di acara seperti ini."


"Anda terlalu memuji saya pak, saya bahkan tidak bisa berlakon di depan kamera."


"Model!," seseorang hadir tanpa di minta, namun sutradara Han tersenyum saat pria tinggi itu mengambil duduk bersama mereka.


"Kau juga melihatnya??."


"Tentu saja, bukan hanya kau yang bermata jeli di sini, sutradara Han."


Pria yang sedari tadi bersama Gibran terkekeh, sembari menawarkan minuman berwarna seperti teh kepada Gibran. Dengan sopan Gibran menerima minuman pada cangkir bertangkai panjang itu, namun tidak segera menenggaknya seperti apa yang di lakukan pak sutradara.


"Alih-alih menjadi artis sinetron, lebih baik kau menjadi model saja."


Heheheh, di dalam hati Gibran terkekeh geli. Menimpali ucapan orang tersebut, Gibran tersenyum dan kembali menggelengkan kepala"Model? berjalan di atas catwalk? saya terbiasa berlari di tepi pantai, jika harus berjalan dengan gagah di atas panggung rasanya tungkai saya tidak akan sanggup. Bisa-bisa keringat dingin akan membasahi sekujur tubuh saja."


"Hahahaha," tawa sang sutradara dan rekannya terdengar renyah. Bagaimana tidak, Gibran terlihat polos di mata mereka, namun pesonanya tidak bisa mereka abaikan.


"Begini saja, bagaimana jika kau mengikuti pelatihan untuk menjadi seorang model?," tawar pria tinggi itu lagi.


"Hei!! akan lebih menguntungkan jika kau langsung menjadi artis sinetron saja, kau akan mendadak menjadi superstar dalam waktu singkat, aku yakin akan hal itu. Wajah dan tubuhmu sangat mendukung."


"Ayolah Han, biarkan aku yang mendidik nya," pintanya pada sutradara Han.


"Tidak Jacob, dia akan menjelma menjadi artis tersohor jika membintangi sinetron di bawah garapanku."


Jacob?? apakah ini Tuan Jacob sang desainer kenamaan?? tukang jahit pakaian yang namanya terdengar hingga ke negeri paman sam? Gibran di buat tercengang dengan pikiran terbelah-belah. Han, seorang sutradara bertangan dingin, telah banyak karya-karya hebatnya di dunia perfilman. Dan Tuan Jacob, bahkan saat masih ingusan pun Gibran sudah pernah mendengar namanya, Adila yang galak pun akan bersikap manis ketika mengurusi pakaian hasil karya beliau.


Kedua orang penting itu menatap Yoga bersamaan. Dengan ekspresi penuh tanya.


"Tuan Gibran harus segera undur diri, kakak tertuanya di rumah sakit sedang mencari keberadaan."


Hal itu cukup membuat Gibran terkejut, sejak insiden kecelakaan itu, sang kakak sudah mewanti-wanti akan meminta pertolongan suatu saat nanti. Dan mungkin saat inilah Arkan sedang memerlukan bantuannya.


"Hubungi aku jika kau sudah siap menjadi model," Tuan Jacob memberikan kartu namanya sebelum berpisah dari Gibran.


"Hei, aku juga punya kartu nama. Ingatlah, kau harus menghubungi aku saja, bukan dia," sutradara Han tak hanya diam, dia pun menyodorkan kartu namanya kepada Gibran.


"Terimakasih, saya akan memikirkannya terlebih dahulu," ujarnya menyambut dua kartu nama itu sekaligus.



*


*


*


*


Pencarian pada cincin yang seharusnya di miliki Yasir berakhirnya tanpa hasil. Kiyai Bahi dan rekan-rekan tidak menemukan apapun di sana. Para detektif yang sedang mencari sumber permasalahan insiden naas itu pun tak menjumpai sebuah cincin yang mereka cari.

__ADS_1


"Kami hanya menemukan ini," ujarnya memperlihatkan sisa puntung rokok dengan merek luar negeri.


Agam yang juga membantu pencarian cincin itu meminta izin untuk mengambil foto, dia akan memperlihatkan foto itu kepada Arkan.


Cctv jalanan menangkap pergerakan sang penabrak, cukup pintar dengan menutupi plat mobil yang dia naiki, namun para pencari bukti tak melewatkan pergerakannya saat membuang dan menginjak puntung rokok itu.


Sama seperti Gibran, Agam juga di minta untuk segera menemui Arkan di rumah sakit. Sesampainya di sana, betapa terkejutnya Agam, para pria bertubuh tinggi tegap berpakaian hitam melakukan penjagaan di ruangan Arkan. Sehari yang lalu tak seorangpun dari mereka terlihat di sana, mengapa saat ini keadaan seolah di jaga begitu ketat??


Dan, sosok wanita yang mengalami kecelakaan bersama Arkan juga telah di pindahkan ke ruangan itu, ada apa ini?


Terlihat mengawasi sekitar, Agam segera mengambil duduk bersama Gibran yang nampak tegang, tatapan para pengawal membuat nyali mereka menciut.


Memandangi gadis yang belum sadarkan diri, Agam menatap Arkan yang seketika langsung berucap"Dia adik ketua gangster yang pernah aku ceritakan."


Ketar-ketir, mendengar kisah Arkan di masa lalu saja membuat Agam merinding, dirinya yang cinta damai sangat tidak tenang ketika berhadapan dengan sosok yang terlihat sangat berharga bagi para penjaganya. Hanya untuk menjaga seorang gadis, para pria tinggi tegap itu datang berbondong-bondong dan berjaga di depan pintu kamar, membuat para pasien dan pengunjung rumah sakit menjadi was-was.


"Lantas, kenapa kau memanggil kami? lihatlah, para penjaga kalian sudah sangat banyak," ujar Gibran. Untuk mengangkat kedua kakinya saling bertopangan saja Gibran tak kuasa, bukan karena terlalu takut, sorot mata mereka membuatnya sulit untuk bergerak.


Setelah mendapat arahan, seorang pengawal menuntun Arkan untuk mendekati Agam dan Gibran"Ini, Yasir menitipkan benda ini kepadaku. Aku tidak tahu harus melakukan apa pada benda ini."


Cincin itu tergeletak sejenak di atas meja, sebab sekarang sudah berpindah ke tangan Agam"Bang, ini cincin pernikahan Yasir."


"Ya, aku tahu, ada nama Zafirah terukir di dalamnya."


Gibran menggaruk kepalanya"Jika kau tidak tahu harus berbuat apa, apalagi kami, bang."


"Kiyai Bahi sedang mencari cincin ini," tukas Agam.


"Untuk apa? Yasir sudah meninggal, apa dia masih ingin menikahkan Zafirah? dengan Yasir yang sudah berbeda alam dengan kita?."


"Entahlah!, tapi jika cincin ini di titipkan Yasir kepada bang Arkan, aku menduga dia juga menitipkan Zafirah kepada Abang."


"Ya Tuhan! aku bukan tempat penitipan wanita! lihatlah, bocah ingusan itu menjadi celaka saat abangnya menitipkan dirinya kepadaku, jika menjaga satu bocah saja aku tidak bisa, bagaimana dengan dua bocah??," terdengar kesal, namun sorot matanya begitu sendu menatap Lisa yang masih menutupkan kedua mata.


"Ck! kecelakaan ini bukan salah abang!," sentak Gibran, bernada tinggi hingga mengejutkan seseorang.


Arkan yang langsung berbalik menatap Gibran menarik daun telinganya"Turunkan nada bicaramu! ini rumah sakit, bukan kediaman pantai yang selalu riuh dengan debur ombak."


"Aw! aw! baiklah! lepaskan telingaku!," menepuk tangan kekar Arkan, Gibran menggelengkan kepala demi menghindari serangan cubitan Arkan lagi.


"Bukan hanya menjaga bang," Agam memadangi cincin itu lekat-lekat.


"Lantas?."


Menanggapi pertanyaan Arkan, Agam membuang napas"Yasir telah menyelamatkan abang dan gadis itu dari maut, sepertinya Yasir ingin abang yang menggantikan dirinya untuk menikahi Zafirah."


"Hah!," pekik Arkan dan Gibran.


"Tidak! Arkan hanya akan menikah denganku!," Melisa, gadis itu terusik sebab suara tinggi Gibran beberapa saat lalu, dan emosinya melonjak naik saat mendengar pria idamannya harus menggantikan tugas seseorang untuk menikahi wanita lain.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2