Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Firasat...


__ADS_3

Di sebuah taman kota.....


"Kau mengajak ku bertemu di sini? apa kau sudah gila?, aku sekarang sudah jadi artis, Tian," celoteh Tiara tersungut- sungut. Sungguh tidak di sangka, demi bertemu dengan lelaki tercinta, dirinya rela meninggalkan Jelita di studio kecantikan, tempatnya kerap melakukan siaran langsung saat mempromosikan produk yang di endors nya. Tak terbayang akan seperti apa marahnya Jelita, saat tahu menantunya itu telah pergi tanpa pamit padanya. Dan...saat dirinya telah bertemu kekasih gelapnya, mereka justru bertemu di taman kota, di semak-semak nan rimbun pula.


Mengusap lembut lengan Tiara, perlahan turun hingga menggenggam erat jemari lentik Tiara"Sayang, aku sungguh tergesa-gesa, bukan hanya kau yang mencuri waktu, aku pun sama."


Raut wajah itu terlihat sangat resah, apakah ada sesuatu yang genting?


"Seseorang menelponku, mengancam akan membuka kedok ku di perusahaan Ahmad."


Seketika manik Tiara mengerjap, ternyata bukan hanya dirinya yang sedang di teror. Wanita itu lekas meraih gawai di dalam tasnya"Mana nomornya? apakah sama dengan nomor ini?," ujarnya menunjuk nomor sang pria misterius.


Bersama, kapal haram itu mencocokan nomor yang masuk pada gawai mereka. Ck! nomornya berbeda.


"Berikan nomor itu, aku akan membuat perhitungan dengan orang usil itu," kesal, Tiara segera menyalin nomor orang yang mengancam Bastian.


Tak jauh dari mereka, seorang pria tengah terkekeh geli. Kegelisahan dan keresahan Tian dan Tiara menjadi sebuah tontonan yang sangat menarik baginya. Apalagi saat Tiara menggeram kesal, sebab nomor yang di telepon tidak dapat di hubungi.


Kembali pria bertopi hitam dengan jumper warna senada itu terkekeh. Sembari menghisap rokok, pria itu bersandar pada kursi taman sembari menonton kelanjutan opera percintaan sesat yang tengah di lakoni Tiara dan Tian.


Dering di ponsel Tian membuat ketegangan di antara mereka pecah, rupanya Tian berkilah sedang ke toilet demi segera berjumpa dengan Tiara. Sangat malang, Ane di tinggalkan begitu saja di sebuah restoran.


"Apa kau baik-baik saja? lama sekali kau pergi ke toilet, sayang," suara lembut Ane terdengar sampai di telinga Tiara.


"Aku baik-baik saja, sayang. Saat di toilet aku mendapat telepon, seseorang menawar tanah mu yang berada di tepian kota. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menemuinya," apa kau tahu, Tian adalah sepesialis dalam bidang kebohongan. Bahkan dengan raut wajah tampan itu dirinya mampu mempertahankan rumah tangga yang hampir hancur sebab ulahnya sendiri, tentu dengan terus berbohong kepada Ane, istrinya.


Dan dungunya, Ane sang dewi kepolosan itu dengan mudahnya kembali tenggelam dalam jerat cinta egois seorang Tian. Sempat berjanji akan memutus hubungan dengan Tiara, nyatanya sekarang mereka sedang bersama.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pulang sendiri," terdengar sedih, hati kecil Tian sangat tidak rela membuat Ane nya kembali ke kediaman mereka sendiri.


"Sayang, aku akan segera kembali. Tunggulah aku di sana. Hanya sebentar saja sayang."


Binar bahagia kembali terbit di wajah cantik Ane, wanita itu kembali tersenyum"Benarkah?."


Sembari mengangguk"Iya sayang, ah, orang itu telah datang. Tunggu aku sebenar lagi ya."


"Hem...baiklah, sayang," tukas Ane pula.


Tian melayangkan ciuman via telepon kepada Ane, dan terdengar wanita itu membalas ciuman sayang dari pria tersayang.


Tiara memutar kedua bola mata, sungguh, hatinya sedikit nyeri menyaksikan kemesraan lelaki gelapnya ini. Bahkan setelah rumah tangga mereka di goyang oleh pelakor, yang tidak lain adalah dirinya, sekarang hubungan Tian dan Ane kembali membaik. Lantas, bagaimana dengan hubungan rumah tangganya bersama Dewa??? ck! sudahlah!. Dewa tak pernah menampakkan batang hidungnya di hadapan Tiara setelah di bebaskan dari penjara, dan bebasnya Dewa tentu saja atas campur tangan seorang Jelita.


Tian mendaratkan ciuman di pucuk kepala Tiara"Apa kau marah," ujarnya menyadari wanita itu tak lagi bicara usai menyaksikan kemesraan mereka via telepon.


"Tidak!," kilah wanita itu.


Tian mengeratkan pelukannya pada Tiara"Bersabarlah sebentar lagi, aku sedang berusaha memindahkan hak tanah milik Ane atas namaku."


Seketika senyuman manis terukir naik di wajah Tiara. Menengadahkan kepala mengejar tatapan Tian"Kau sudah menemukan cara untuk mengambil alih harta wanita itu?."


Tian tersenyum lebar"Tenanglah sayang, seperti aku yang bersabar dalam rumah tangga bersama Ane, kau juga harus bersabar dalam rumah tangga bersama Dewa. Jadilah artis ternama yang sukses, perlahan ambil alih perusahaan kosmetik keluarga Dewa, dengan begitu kita akan hidup bersama bergelimang harga di hari tua kita."


"Lantas, bagaimana dengan Ane? bukankah kau sangat mencintainya?," selidik Tiara mengusap lembut rahang tajam Bastian.


"Hanya kau, selamanya cintaku," ujarnya meraup wajah Tiara dan mencium lembut bibir manis wanita itu.

__ADS_1


...🌼🌼🌼🌼...


Seperti bermain kucing-kucingan, Zafirah kembali menghilang dari jangkauan Jena. Usai menghadiri makan malam bersama di kediaman Jena dan Agam, nomor ponsel wanita itu kembali tidak dapat di hubungi.


"Menjaga perasaan Zafirah," kata-kata itu begitu melekat dalam pikiran Jena. Ucapan Yasir kala itu tertangkap Indra pendengar nya dengan sangat jelas, hingga timbul sebuah tanya, Ada apa dengan perasaan Zafirah, mengapa berhubungan dengan Agam, suaminya?."


Tidak bisa menghubungi nomor Zafirah, Jena tak kehabisan akal. Wanita itu menanyakan keadaan sahabatnya melalui Syabila, yang bisa di katakan sebagai pengawal Zafirah sang anak satu-satunya kiyai Bahi.


"Untuk apa kau menanyakan keadaan Zafriah? sungguh, aku tidak bisa lagi menahan semua ini Jena," ucapan Syabila membuat Jena tertegun. Syabila memang pecicilan, namun nada bicaranya kali ini seolah menyimpan amarah terhadapnya.


"Syabila, kau kenapa? apa aku membuatmu marah?," tanya nya dengan hati ketar-ketir. Jalinan persahabatan antara dirinya dan Zafirah, juga membangun jalinan persahabatan antara dirinya dan Syabila. Pernah di khianati dan di tinggalkan oleh seseorang yang pernah di sebut sahabat, membuat Jena resah akan sikap Syabila kali ini. Apakah dirinya akan kembali kehilangan sahabat???


Dari pada menjawab pertanyaan Jena, Syabila menggigit ujung jemari di ujung telepon, sangat jelas wanita itu sedang bimbang saat ini.


"Syabila....," panggil Jena, nada lembut itu menyentil kesadaran seorang Syabila. Bukankah Zafirah sudah melarangnya untuk menggiring Jena mengetahui rasa yang bersemayam dalam hatinya terhadap Agam??? lantas, akankah Zafirah marah padanya saat mendapati dirinya melakukan hal ini?


"Kami sedang melaksanakan tugas relawan, kota yang dahulu kita datangi kembali terkena banjir," ujarnya akhirnya. Berharap Jena akan melupakan sikap menyebalkan dirinya barusan.


Namun, Jena yang perasa terlanjur penasaran dengan sikap Syabila. Juga dengan ucapan Yasir yang tertangkap indra pendengar nya.


"Bolehkah aku menyusul kalian?," aku juga ingin bergabung bersama kalian membantu para korban banjir."


"Tidak perlu, ku dengar banjir di kota Mentaya lebih besar dari kota seribu sungai ini."


"Oh, begitukah," ucapnya lirih.


"Lagipula, kau akan berangkat bersama siapa? rombongan terakhir sudah berangkat, lebih baik kau nikmati saja masa-masa bulan madumu bersama Agam," tanpa di sadari, ucapannya membuat Jena semakin yakin ada yang tidak beres antara suaminya dan para wanita itu, Syabila dan Zafirah tentunya.

__ADS_1


To be continued....


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2