Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Cinta buta.


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar nan besar, di atas ranjang berukuran king size tubuh kecil Jena nampak bergetar. Ketakutan akan sosok di hadapannya membuat wanita itu hampir menangis, bagaimana bisa pria yang dahulu di kenalnya sangat baik melakukan tindakan tak terpuji ini.


"Kau adalah jodohku!, kau adalah cinta mati ku Jena."


Memandangi pria itu lekat-lekat, sungguh tidak di sangka sebuah rasa yang dia sebut cinta telah merubah dirinya.


Mengatur napas perlahan"Lepaskan aku, kita sudah tak lagi berjodoh," ujar Jena kembali bersuara.


"Tidak! apa kau lupa janji yang kita ucapkan dahulu, sampai maut memisahkan kita akan tetap bersama. Tidak mengapa jika kau telah terlanjur menikahi bocah itu, anggap saja kita impas sebab aku telah menikahi Tiara," sorot mata itu tak lagi seperti dahulu, entah kehidupan seperti apa yang dia lalui sejak berpisah dari Jena, Dewa yang sekarang bukanlah Dewa yang dahulu dia kenal.


Berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya, Jena tak menghiraukan ucapan gila dari seorang Dewa yang juga mulai gila.


Tertatih, pria itu kembali naik ke atas ranjang, memegang pipi wanita itu dengan sangat lembut "Sayang, aku tahu kau masih mencintaiku. Kau pun tahu aku juga masih mencintaimu. Ingatlah betapa bahagianya rumah tangga kita dahulu."


Jena membuang pandangan, menolak ajakan pria itu untuk beradu pandang. Jika saja tangan dan kakinya tidak terikat, sangat ingin dirinya menampar bahkan menendang Dewa saat ini. Otaknya telah rusak, mungkin dengan sedikit tamparan dari Jena maka pria itu akan sadar akan tindakan gilanya.


"Lepaskan aku Dewa! kau gila!, aku bahkan sudah tak punya perasaan terhadapmu."


"Jena!!! lihat aku!," memegangi kedua pipi Jena dengan sedikit paksaan.


"Kau sudah datang dengan gaun pengantin ini, jika bukan cinta, lantas atas dasar apa kau datang dengan penampilan seperti ini, sayang?," lanjutnya dengan seringai tawa.


"Aku tidak datang dengan sendiriku, kau menculik ku!! sadarlah Dewa. Kau melakukan sebuah kejahatan!," Sumpah mati, Jena benar-benar muak dengan tingkah Dewa. Perlakuan pria itu sukses membunuh sisa-sisa cinta yang masih bersarang di jiwa. Perlahan menabur benih kebencian dan kekecewaan.


"Kau menjijikan Dewa, cinta itu telah mati," desisnya berontak coba melepaskan diri.


Kata perkata itu menggores hati yang memang telah terluka, keinginan untuk kembali mengarungi bahtera rumah tangga dengannya semakin menjadi-jadi.


"Aku menjijikan??? apa sikapku yang membuatmu merasa jijik?," kembali menarik paksa tatapan Jena, tangan pria itu akhirnya memegang erat pipi Jena.


Menatap Dewa nyalang"Ya! aku muak denganmu. Aku membenci mu Dewa, kau merusak pesta pernikahanku," suara itu mulai meninggi. Emosi di dalam dada semakin melonjak naik, mengundang bulir air mata menampakan diri di kedua pipinya.


Nampak frustasi, Dewa mengacak rambutnya hingga semakin terlihat berantakan"Aku melakukan ini demi cinta kita, demi kebahagiaan kita Jena."


Jena memicingkan kedua mata"Cinta?? cinta seperti apa yang engkau miliki Dewa? kau sudah membuangku, dan saat Tiara gagal memberimu anak kau pungut kembali diriku? kau sangat kejam Dewa," cecarnya dengan napas beradu. Mengatakan hal itu menyibak kembali luka lamanya, sekuat dan setegar apapun dirinya, jika teringat hal itu maka semangatnya akan segera sirna.


Mendapati wanita itu menangis, hati kecil yang terluka semakin terasa sakit. Tak ingin berlama-lama menyakiti hati wanitanya, Dewa meraih ponsel dan berbicara pada seseorang.


"Sayang jangan menangis, ayolah, lupakan masa-masa kelam kita dahulu. Kita bisa memulai semuanya dari awal," ujarnya sebelum panggilan tersambung.


Menggelang cepat"Tidak Dewa....," ucapan Jena tercekat saat terdengar suara seseorang dari ponsel Dewa.

__ADS_1


Wanita itu lantas berteriak"Tolong!!!," teriak Jena. Berharap seseorang di ujung telepon itu dapat menolongnya.


Beranjak dari ranjang, Dewa menghindar sebelum melanjutkan percakapan dengan seseorang itu.


"Siapa saja tolong aku!!!," teriak Jena lagi. Menggulingkan diri dari atas ranjang, Jena menyeret tubuhnya menuju pintu. Dewa hanya memandanginya, fokusnya tetap tersita pada percakapan mereka di sambungan telepon.


Usai menutup panggilan, terpincang-pincang Dewa melangkahkan kaki mendekati Jena"Hehehe, pertolongan itu akan segera datang sayang, pak penghulu yang akan menikahkan kita akan segera hadir dalam 5 menit kedepan," tawa yang dahulu selalu mengundang desir di hati, terasa menakutkan kali ini.


...🥀🥀🥀🥀...


Sampai pada sebuah bangunan rumah yang usang, halaman yang besar di penuhi tumbuhan liar dan pohon-pohon nan besar. Suasana itu sangat membantu pengintaian Agam, mengendap-ngendap dia masih mengawasi pergerakan tiga pria di beranda rumah.


Salah satu dari mereka berpakaian seperti seorang ustadz, lengkap dengan peci hitam di kepalanya. Suara mobil membuat Agam merunduk di antara semak-semak, kedua matanya mengintip untuk mengetahui siapa yang telah datang.


"Bang!," panggilnya dengan suara tertekan saat melihat Arkan menurunkan kaca mobil.


Memandu Gibran agar memarkir mobil di seberang jalan dengan aba-aba, Agam terus mengawasi pria-pria yang sedang berdiri di muara pintu kediaman itu.


Terlihat seseorang dari tiga pria itu menerima panggilan telepon, dan tak berapa lama sang penerima telepon mengajak pria berpakaian seperti ustadz itu memasuki rumah.


Kedatangan Arkan and the geng membuat pria yang tertinggal berteriak sembari masuk ke dalam rumah. Tak ingin membuang kesempatan, dengan sekali tendangan pintu yang hampir tertutup di buat rusak oleh Arkan.


Angga dan Gibran terperanjat, aksi kakak tertua bagai seorang aktor di film laga"Buset! pintu rumah orang bang," tukas Gibran spontan.


"Dari pada memikirkan pintu itu, lebih baik pikirkan cara melawan manusia-manusia besar ini Ngga," bisik Gibran sembari menelan saliva.


Tidak di sangka, tiga pria tadi hanya terlihat di luar saja. Sedangkan lima pria dengan perawakan besar berotot sedang berkumpul di ruang tamu. Kedatangan tamu tak di undang, tentu membuat mereka membuka kancing lengan baju dan menaikkanya hingga ke siku.


"Kalian mengganggu kediaman kami," ucap seseorang yang nampak seperti pemimpin di antara mereka.


"Kami datang bukan tanpa sebab, aku melihat istriku di bawa paksa masuk ke kediaman kalian," tukas Agam.


"Hahahahah," segerombolan pria besar itu tertawa lepas.


"Jadi, kau suami wanita yang cantik dan mulus tadi."


Ucapan itu membuat rahang Agam mengeras, ah tidak! bukan hanya Agam. Gibran melepas sabuk yang dia kenakan"Nampaknya, jalan damai tidak akan terlihat Gam. Lihatlah wajah menjijikan mereka, sudah jelas mereka tidak akan membiarkan kita membawa kak Jena pergi begitu saja."


Arkan memegang pundak Gibran"Katakan, di mana wanita itu. Kami hanya akan membawanya pulang," ujarnya menatap ketua dari kelompok preman itu.


"Pulang???? hahahahhaha," lagi-lagi mereka tertawa begitu lepas.

__ADS_1


"Ash!!! mereka meremehkan kita bang!," desis Angga.


Kehadiran seseorang di lantai atas menyita perhatian Agam, tatapan mereka bertemu, dan tanpa perduli teriakan para pria besar itu Agam berusaha naik ke lantai atas.


Memegang erat lengan Agam, salah satu pria besar menghalangi nya.


"Buk!!!," sebuah tinju dengan kekuatan maksimal membuat pria itu tersungkur.


"Brengs3k!! halangi pria itu," titah sang ketua.


Kegaduhan pun tak bisa di hindari. Arkan yang ahli berkelahi meregangkan tubuh sejenak. Sudah lama tidak melakukan olah raga menyenangkan ini, kini tiba saatnya jurus-jurus jitu dapat dia keluarkan kembali.


"Cepat naik Gam, serahkan mereka pada kami", seru Arkan.


Sempat ragu, serangan pria berotot memancing jiwa nekat seorang Angga mencuat naik. Dengan mengucap bismillah, pria yang selalu tersenyum itu menampakkan taringnya hari ini.


Gibran, bersenjata sabuk hitam yang sempat melingkar di pinggangnya, membabi buta memutar dan menyerang para preman itu.


Jatuh bangun tetap mereka lalui, meski berdarah mereka tak kan menyerah dengan mudah. Di lantai atas, perjalanan Agam mengejar Dewa masih di halangi pria besar lain. Berbekal emosi meletup-letup pria yang tak pernah berkelahi itu tak menyangka dirinya cukup kuat melawan pria yang lebih besar darinya.


"Tolong!!!," teriakan Jena dari dalam kamar membuat nyalinya semakin berani. Benda tajam yang di arahkan padanya tak membuat Agam takut sedikitpun.


Kehadiran Arkan membantu menyergap pria bersenjata tajam itu sungguh sangat membantu, hingga dengan segera Agam menerobos masuk ke kamar tersebut.


Di sudut kamar, dalam dekapan Dewa, Jena masih terikat kaki dan tangan. Wanita itu terus menangis ketakutan.


Tak jauh dari mereka, pria berpakaian seperti ustadz itu nampak bergetar.


"Cepat nikahkan kami!!," sentak Dewa padanya.


Nampak pucat, pria tua itu menggeleng"Maaf tuan, dari awal sudah ku katakan. Pernikahan ini tidak bisa di langsungkan."


"Kau benar, mereka tidak bisa menikah. Wanita itu istriku...."


"Bug!!," sebuah balok mendarat di pundak Agam. Membuat pria itu seketika merosot ke lantai.


Menggenggam jemari kuat-kuat, Agam berbalik dan menghantam pria besar itu dengan brutal.


Dewa menarik penghulu itu dengan paksa"Lupakan hal-hal tidak berguna, cepat nikahkan saja kami."


Jena meronta, bahkan kaki dan tangannya terlihat terluka. Ada rasa iba saat menyaksikan keadaan itu. Namun tekad menjadi suami Jena kembali membuat Dewa buta akan hal itu.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2