Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Wisata masa lalu


__ADS_3

Meski hujan telah mereda, hawa dingin begitu erat memeluk raga. Di dapur posko, Arkan tengah memasak air untuk sekedar menyeduh secangkir kopi. Nampak canggung, dengan keadaan dapur yang ala kadarnya. Namun, pria yang kerap menjalani berbagai macam kondisi hidup itu terlihat menikmati aktivitas tersebut.


Sembari menghisap rokok dan mengepulkan asapnya ke udara, jemari pria itu berselancar di atas layar ponsel.


"Aku tahu keberadaan mu, jika kau masih enggan menjumpai ku, maka aku punya begitu banyak waktu untuk menghampiri mu."


Membaca pesan itu dalam hati, membuat lisannya berdecih, jengah.


Terdengar suara air yang sedang mendidih, lantas, Arkan menuang air panas itu ke dalam cangkir. Belum sempurna dia meletakkan teko berisi air panas, Zafirah datang sembari bertanya padanya"Apa air panasnya masih tersisa?."


Di balik cahaya malam yang berpendar, bayang gadis manis itu mampu mengusir resah usai mendapat pesan singkat itu.


"Mungkin hanya tersisa untuk secangkir saja," ujar Arkan menimbang-nimbang bobot dari teko itu.


"Tidak mengapa, aku hanya ingin membuat minuman hangat untuk ku," gadis itu segera mengambil alih teko yang telah sempurna Arkan letakkan. Sementara pria itu duduk pada kursi panjang sembari mengedarkan pandangan. Pohon-pohon nan rimbun, dengan sisa-sisa air hujan yang bertengger di atas daunnya, sungguh, suasana dan hawa dingin amat sangat terasa.


Nyanyian jangkrik menjadi irama yang menemani dua insan itu, masing-masing memegang cangkir berisi minuman hangat, mereka terlihat saling bertukar cerita.


"Maaf, pertanyaan ku membuka luka di hati kecilmu," Arkan menatap gadis itu dengan perasaan bersalah, dia telah menanyakan wanita yang telah melahirkannya, yang telah pergi ke surga saat setelah melahirkannya ke dunia.


Zafirah dengan senyum manisnya, menggelengkan kepala dan sekilas menatap dua manik elang Arkan.


"Aku sudah lama mengikhlaskan nya, kami memang menyayangi nya namun Allah lebih sayang kepadanya. Setidaknya, aku masih mempunyai abi yang selalu berperan sebagai ayah dan ibuku."


Entah mengapa, berbincang dengan Zafirah membuat hati terasa tenang. Tutur kata yang lembut, sikap yang dewasa, dan senyuman itu, terlihat sangat manis.


"Zafirah, apa definisi ikhlas bagimu??."


"Hemmmm," terdengar dengungan dari mulut wanita itu, dengan dua bola mata berlarian kesana-kemari, Arkan merasa gemas dengan tingkahnya saat sedang berpikir.


"Hanya satu kata, berat!," jawab Zafirah.


"Ya, sangat berat," sambung Arkan.


Zafirah melirik wajah Arkan sekilas, ucapan pria itu mengundang tanya dalam benaknya. Sepertinya hati pria itu tengah gundah-gulana.


"Sudah dua kali kau mencuri, Zafirah," tukas Arkan sembari mengurai senyuman.


"Hah? mencuri?," meletakkan cangkirnya di kursi panjang, seolah menjadi pembatas antara dirinya dan Arkan.


"Kau mencuri pandang padaku, dan hal itu telah kau lakukan dua kali," ujarnya melebarkan senyuman.


Spontan Zafirah menutup mulut, gadis itu tertawa"Tidak, aku hanya melirikmu, raut wajahmu terlihat sedih. Aku jadi bertanya-tanya apa kau sedang berusaha mengikhlaskan sesuatu??."


Arkan menarik napas, wanita kecil di sampingnya ini memang sangat peka, juga sangat pengertian"Apa kiyai mengajarimu ilmu membaca raut wajah? kau seolah tahu ada beban berat yang sedang menggelayuti hatiku."


Kedua tangan gadis itu mengibas di udara"Tidak!!! abi tidak punya ilmu aneh seperti itu, apalagi sampai mengajarkan nya kepadaku."


Terlihat, dia juga tertawa. Mungkin perkataan Arkan terasa lucu baginya.


"Tapi, jika memang sedang bimbang, kau bisa bercerita kepadaku. Jika tidak bisa membantu, setidaknya aku bisa menjadi pendengar setiamu."


Menyugar rambutnya, dan mematikan rokok yang telah semakin pendek, pintu hati pria itu terbuka dengan mudah untuk sekedar berbagi cerita pada Zafirah.


"Begini......"


Beberapa detik kata pria itu terjeda, membuat Zafirah menatapnya dengan kedua alis terangkat naik, meminta Arkan segera melanjutkan kata-katanya.


"Sejujurnya, ini kali pertama ku akan berbagi kisah dengan seseorang."


Dua bola mata Zafirah berbinar"Wah! terimakasih sudah percaya kepadaku."


Sembari memperbaiki duduknya"Apa kau tahu, di dunia ini ada sebuah perkumpulan yang memiliki peraturan sendiri, misalnya, jika seseorang berlaku curang, maka mereka tak segan-segan untuk menghabisi nyawanya."


Mengerjapkan kedua mata, Zafirah nampak terkejut. Menghabisi nyawa?? membunuh maksudnya????


"Maksudnya.....," lirih wanita itu perlahan.

__ADS_1


"Ah, ini baru permulaan, namun wajah mu sudah pucat pasih," keluh Arkan menjadi ragu untuk melanjutkan cerita.


Mengalihkan pandangan, Zafirah coba menenangkan diri. Hidupnya terlampau damai selama ini, tidak pernah menjumpai hal-hal keji barang sedikitpun, dan sekarang Arkan berbicara tentang melenyapkan nyawa seseorang dengan mudah, hati lembut wanita itu lantas terhenyak ke dasar bumi.


"Maaf, aku hanya sedikit terkejut," ujarnya berkilah.


"Sudahlah, aku tidak yakin kau akan sanggup mendengar ceritaku lagi," Arkan menyesap minumannya, dan hendak kembali menyalakan rokoknya.


"Lanjurkan, aku akan mendengarkan," pinta Zafirah. Mungkin beban di hatinya teramat berat, setidaknya dengan bercerita dapat membuatnya sedikit lega.


Memutar sepucuk rokok yang dia selipkan dia dua jemari, Arkan akhirnya menarik kembali benda itu, memasukannya kembali ke dalam kotaknya.


"Lambaikan bendera putih jika kau menyerah," ujarnya sedikit bercanda."


Zafirah tertawa, begitu pula dengan Arkan"Baiklah, lekaslah bercerita."


"Beberapa tahun yang lalu, sebuah tragedi menggiring ku menjadi anggota dalam kelompok itu."


Nampak diam menatap lurus ke depan, namun dua bola Zafirah membulat sempurna bak bola ping-pong.


"Apa kau tahu persaingan bisnis membuat seseorang rela melakukan apa saja. Termasuk saingan bisnis ku, dan karena ulahnya aku sempat di nyatakan hilang. Membuat keluarga ku sangat berduka, bahkan aku telah di nyatakan mati sebab pihak kepolisian menemukan mobilku dalam keadaan hancur."


Arkan terus melanjutkan kisahnya, kisah awal mula pertemuannya dengan adik perempuan Jake, wanita yang menjadi malaikat penolongnya kala itu.


Meski di kenal kejam, kelemahan Jake terletak pada adik semata wayangnya, juga satu-satunya keluarga yang di milikinya di muka bumi ini. Gadis itu meminta kepada Jake untuk merawat Arkan, lelaki yang di temukannya terdampar di tepi pantai.


"Bahkan, jika dia telah mati, kau harus menghidupkan dia kembali."


Titah gadis itu sangat tidak terbantahkan, membuat kepala Jake berdenyut, bahkan kepalanya terasa hampir pecah. Bagaimana caranya menghidupkan orang mati? jika hal itu mampu dia lakukan, pasti sudah lama sang ibu di dalam tanah sana dia hidupkan kembali.


Beruntung, hanya tubuh yang terluka parah, namun jiwa masih begitu kuat untuk tetap hidup. Berbulan-bulan Arkan di rawat para komplotan itu, hingga akhirnya kembali sehat seperti sedia kala. Dan pelaku yang hampir menghabisi nyawa Arkan, terdeteksi sebagai salah satu saingan bisnis Jake jua. Atas perintah adiknya, orang yang berniat menghabisi Arkan justru mati di tangan anak buah Jake.


Zafirah terdiam bagai patung, tidak menyangka hal seperti ini benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Dan orang tersebut sedang duduk menikmati secangkir kopi bersamanya.


"Lantas, demi membalas budi kepada mereka, kau bergabung bersama mereka?," tanya Zafirah.


"Namun tidak lama, aku segera melepaskan diri setelah di manfaatkan oleh Jake."


Wajah tampan itu terlihat penuh penyesalan, sepertinya hal itulah yang menjadi momok menohok hati.


"Tumpahkan saja, kau tidak harus menahan semuanya sendirian, Arkan," ujar Zafirah menatap nya dalam. Sejauh ini, baru kali ini Zafirah menatapnya sedikit lama.


"Jake sangat membenci pelakor, sebab ibunya meninggal di tengah deritanya mempertahankan rumah tangga yang di goyang pelakor. Dan....wanita pelakor itu mengambil alih semua kekayaan mereka saat ayahnya meninggal, menendang Jake dan adiknya yang masih kecil kejalanan."


Zafirah masih mendengarkan, wanita itu mengeratkan pegangan pada cangkir kopinya yang tak lagi terasa hangat.


"Tanpa sepengetahuanku, Jake menggiringku merencanakan perampokan, dan korbannya adalah wanita pelakor itu.....," terdengar helaan napas berat seorang Arkan.


"Aku....aku membunuhnya Zafirah," ucapnya lirih.


Seketika tubuh yang sejak tadi bergetar kehilangan kendali, cangkir yang di genggam Zafirah terlepas dan terjatuh ke tanah.


Kedua mata Arkan memerah, nampak genangan air mata yang tertahan di sana.


"Bagaimana......, bagaimana kau....," tenggorokan Zafirah tercekat. Sungguh, hal itu sangat mengejutkan baginya.


"Wanita itu membawa kotak berlian keluar dari kediamannya, kami terus mengejar nya, meski melewati hutan belantara sekalipun. Aku tahu dia sangat ketakutan, dia berlarian menyeberangi jalan demi mencari bantuan, namun naasnya, dia tertabrak mobil. Aku juga tidak menyangka, jalanan yang biasanya sepi itu di lewati sebuah mobil malam itu."


"Berarti bukan kau yang membunuhnya! dia hanya kecelakaan,"


Arkan menggeleng keras"Tidak!! aku yang mengepalai perampokan itu, aku yang membuatnya mati, dan itu pembunuhan pertama dalam hidupku, Zafirah."


...🌼♥️🌼♥️...


Suara gaduh gitar di petik asal-asalan. Membuat telinga terasa pekak dan hati terasa gusar. Di tengah lapangan, Gibran bersama anak-anak kecil pengungsian tengah duduk mengitari api unggun.


Yasir segera mendekati mereka, nyala api itu membuat Yasir mempercepat langkahnya"Astaghfirullah!!! kalian ingin membakar pengungsian ini??? cepat matikan apinya."

__ADS_1


"Ya elah, apinya jauh dari asrama pengungsian, mana mungkin akan membakar tempat ini?," Gibran, pria itu di nyatakan sebagai ketua dari perkumpulan para bocah-bocah ini.


"Adit, cepat ambil air untuk memadamkan api nya," perintah Yasir pada salah seorang bocah lelaki, sepertinya bocah itu masih duduk di bangku kelas pertama.


"Siap bang," ujarnya pasrah mencari air untuk memadamkan api unggun itu.


"Ck! kita hanya ingin hiburan, kenapa apinya harus di padamkan," keluh Gibran menekuk wajah.


"Kalian, kembalilah ke asrama, ini sudah larut malam," tanpa perduli dengan ucapan Gibran, Yasir justru meminta bocah-bocah lain untuk kembali ke asrama.


Memandang rekan-rekan nongkinya yang berbondong-bondong kembali ke asrama, Gibran mencibir kenapa Yasir"Dasar, manusia kaku. Apa kau tidak mengenal hiburan??? itu adalah cara menyenangkan hati! ayolah! sikapmu membuat hatiku yang mulai gembira menjadi resah kembali," celotehnya. Gibran mengambil batang kayu dan melerai bara-bara api, dari pada di padamkan lebih baik di redupkan saja bukan.


"Ini bang, airnya."


"Letakan di situ, kau kembalilah ke asrama."


Dengan patuh, bocah itu meninggal mereka. Sekilas pandangannya bertemu dengan Gibran, pria itu memintanya untuk tetap tinggal namun segera di balasnya dengan gelengan kepala.


"Sangat tidak menyenangkan," gumam Gibran, kini Yasir benar-benar membalas tatapannya.


"Di redupkan, atau di padamkan?," tanyanya.


"Jika kau mematikan api ini, kau juga memadamkan kehangatan dalam hatiku," ucap Gibran memeluk gitar.


"Huweekkk!!," Yasir berlagak muntah.


"Jangan bersikap menggelikan, aku bukan wanita yang akan luluh dengan kata-kata itu."


"Cih! dasar manusia kaku," decih Gibran.


Yasir meredupkan api itu, kemudian mengambil duduk di samping Gibran"Sini, akan lebih nyaman di dengar jika aku yang bermain gitar."


"Jangan! gitar ini ku pinjam dari bocah-bocah tadi, jika rusak apa kau akan mengantinya?."


"Kau pikir kukuku setajam belati?? aku akan memetiknya dengan lembut. Tidak seperti mu yang bermain gitar seperti orang kesarungan."


Gibran memelototi Yasir"Tadi itu kunci nada rock! kau saja yang tidak tahu," sangat tidak ingin menyerahkan gitar itu kepada Yasir.


Mulailah Yasir dan Gibran memperebutkan gitar itu, suara mereka terdengar gaduh kembali. Agam hadir di antara mereka, mengambil alih gitar tanpa banyak bicara.


Melakukan pemanasan dengan memetik gitar sekunci dua kunci"Apinya masih terlalu besar," ujarnya seolah meminta mereka berdua meredupkan nyala api. Meski cemberut, nyatanya Yasir dan Gibran bekerja sama untuk mengatur nyala api.


Mulai terdengar petikan gitar dari jemari Agam, juga suara merdunya saat mengiringi bernyanyi, lagu yang kerap dia nyanyikan di masa lalu. Suasana terasa nyaman di bawah langit malam meski tanpa bintang.


"Ponselku tertinggal di tenda, ingat! jangan kau besarkan lagi nyala apinya. Aku akan segera kembali dengan cemilan", tukas Yasir sembari berdiri.


"Hemmm," sahut Gibran setengah hati. Setidaknya Yasir akan kembali dengan cemilan.


Sebuah lagu berbahasa arab yang di nyanyikan Agam sangat indah di dengarkan. Meski tidak mengerti dengan arti lagu tersebut, Jena nampak tersenyum berjalan perlahan mendekari mereka.


Wanita itu duduk di samping Agam, hal baru yang dia ketahui tentang prianya, selain bersuara merdua pria ini juga pandai bermain gitar.


Sembari menatap Jena penuh kehangatan, Agam menyudahi bait terakhir dari lagu yang dia nyanyikan.


"Ini lagu kesukaanmu?."


Agam mengangguk"Bisa di katakan begitu."


Jena lantas membalas tatapan Agam"Apa arti dari lagu itu?," tanyanya.


Agam menyentuh pipi lembut sang istri"Duhai cahaya mata dan hatiku, semoga Tuhan menjadikan engkau milikku, sebab cintamu telah menjadi duniaku."


Lagi....Jena di buat tersipu malu oleh pria berlesung pipi ini.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2