Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Perangai wanita berbadan dua


__ADS_3

Seorang gadis dengan surai panjang nan indah. Membawa langkah menuju perpustakaan setelah berhasil melepaskan diri dari jeratan teman-temannya. Perkumpulan mereka mengerjakan tugas itu di sebut tugas kelompok, namun bagi Jena itu lebih pantas di sebut bergosip kelompok. Secara terang-terangan mereka membicarakan Jena, yang menjadi salah satu anggota dalam kelompok tersebut.


"Srek!!," Jena merobek kertas berisi nama-nama para anggota.


"Hei!! apa yang kau lakukan?!," hardik salah satu dari teman kelompoknya.


Alih-alih menjawab pertanyaan yang di sertai dengan tatapan tajam, Jena menatap pada dosen di depan sana, yang juga sedang memperhatikan mereka"Bolehkah aku mengerjakan tugas ini sendiri?."


"Ini tugas kelompok, dan namamu sudah termasuk ke dalam kelompok mereka."


Jika saja, Jena mengungkapkan apa yang mereka lakukan alih-alih mengerjakan tugas. Tapi yah...Jena sangat lelah jika harus lebih banyak bicara pada siapa saja di dalam ruangan itu.


"Aku melepaskan diri dari kelompok mereka, dan sekarang aku akan mengerjakan tugas ini sendirian!," ucapan gadis ini penuh penekanan, sorot mata nan dingin, membuat sang dosen mengizinkannya untuk mengerjakan tugas sendiri.


"Sombong," desis mereka berjalan di belakang Jena saat keluar dari ruangan.


.... . . . . . . ....


Jena melepas pandangan pada laut nan luas. Mengingat segelintir kejadian di masa lalu, ternyata dirinya memang sombong. Tapi, bukan tanpa sebab dia begitu, ulah merekalah yang membuat Jena enggan berteman.


Sebuah pelukan hangat, membuat senyum terukir naik di wajah Jena. Dari aromanya saja Jena sangat tahu bahwa pria nya yang sedang memeluknya dari belakang.


"Apa kau tidak lelah, ku perhatikan dari tadi kau tenggelam dalam lamunan. Aku sekarang bersamamu, jadi sudahi dulu aktivitas melamunkan diriku, sayang."


Sambil berjalan menuju tempat tidur dua bola mata Jena berputar jengah, bisa-bisanya Agam begitu yakin dirinya sedang melamunkan dirinya"Mas Agam! jangan mengejutkanku!."


Dengan kedua tangan menangkup di depan dada, Agam memohon maaf"Duhai istriku yang cantik sejagat halu, maaf! kau sangat menggemaskan hingga aku selalu ingin menjahili dirimu."


Bukan rahasia lagi, bahkan sejak masih bujangan Agam memang bermulut manis. Terlebih kepada sang bunda dan kini semakin manis saat wanita idaman nya menjadi hak seutuhnya. Di masa-masa kehamilan ini Jena yang uring-uringan kerap tersenyum karena manisnya ucapan sang kekasih hati.


Menarik kedua kaki untuk bersila"Benarkah? aku sadar bahwa diriku mulai gemuk, masihkah aku terlihat menggemaskan di matamu?."


Mengangguk dengan polosnya, Agam kembali membuat Jena mengulum senyuman.


Sembari melirik langit nan biru, Jena kembali berucap"Baiklah, jika aku memang selalu menggemaskan di matamu. Maukah kau membantu memilih baju yang akan ku kenakan di malam reunian?."

__ADS_1


Malam reunian? Agam tidak ingat sang istri pernah membicarakan hal ini kepadanya. Mungkin saja dirinya yang benar-benar telah lupa, Agam coba menyelami ingatan, tapi sang istri memang belum pernah membahas masalah ini sebelumnya.


Menarik jemari sang istri, meletakannya di tepian ranjang sementara dirinya duduk bersandar di lantai beralaskan karpet berbulu"Jenaira cantik, apa kita membahas masalah ini sebelumnya?"


Manik cantik Jena membola, dan beberapa detik kedepan mulutnya terkatup"Oh...aku lupa meminta izin kepadamu."


Agam membuang napas, setidaknya dirinya tidak salah dalam hal ini. Tak terbayang akan seperti apa marahnya Jena, jika dirinya benar lupa dengan rencana menghadiri reunian di masa sekolah itu. Ingin rasanya Agam kembali menjahili Jena, dengan berlagak merajuk misalnya. Tapi... mengingat mood turun naik sang istri yang seperti pelana kuda, Agam mengurungkan niat tersebut. Bisa jadi bukan Jena yang membujuknya agar tidak lagi merajuk, tapi dirinya yang akan membujuk sang istri agar tak lagi marah padanya.


Sebutan istri selalu benar, selalu tertanam dalam pikiran Agam.


"Jadi apa kau mengizinkan ku untuk hadir di acara tersebut?," tanya Jena mengibaskan rambut panjangnya ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya dengan belahan baju yang rendah, ckckck mengapa Agam merasa sedikit sulit untuk menelan saliva!.


"Tentu saja boleh," ujarnya setelah menguasai keadaan. Jena nya semakin cantik dan menarik saat berbadan dua, namun wanita ini seolah tidak menyadari hal itu, tak jarang gerak-gerik nya membuat Agam mengelus dada.


Sembari menunggu jawaban dari Agam, Jena merebahkan diri di ujung ranjang, menggeraikan rambutnya tepat di samping kepala Agam. Aroma manis sang istri, menggoda Agam untuk bergabung bersamanya di tempat tidur.


"Tapi, apa mereka baik?."


Jena menatap prianya yang kini bergabung bersamanya, merebahkan diri di tempat tidur"Tidak."


"Aku hanya ingin menjumpai mereka."


Mendapat tatapan lekat dari suaminya, membuat Jena terkekeh kecil"Aku hanya ingin melihat, sudah jadi apa orang-orang yang dahulu gemar membicarakan diriku."


Agam mulai memainkan ujung dress yang di kenakan Jena, pria itu terlihat seperti sedang menggodanya"Sayang...."


"Bukankah tadi malam kau sudah puas menjajalku, mas."


Perkataan itu lolos seringan bulu, meski hanya ada mereka berdua tetap saja Agam merasa malu dengan perkataan sang istri"Bukan itu."


"Lantas? pasti ada suatu hal yang ingin kau sampaikan," mengambil duduk, kini mereka saling berhadapan di atas tempat tidur.


"Meski aku bukan teman sekolah mu, maukah kau mengajak ku hadir dalam acara itu."


Jena menelengkan kepala, dan dia lantas menolak keinginan sang suami. Tuhan sang pemahat hebat, mencipta Agam dengan rupa dan tubuh yang hampir sempurna. Di tambah tutur kata yang manis dan sopan, juga saat dia tersenyum, kedua pipi nya akan berlobang hingga membuat kadar ketampanan nya melonjak naik. Akh!! Jena sangat tidak rela mempertontonkan suami brondongnya ini di hadapan para pembencinya di masa lalu.

__ADS_1


"Ayolah, aku bisa melindungi mu jika mereka bersikap jahat."


"Aku tercipta dengan kekuatan super mas Agam, kau tenang saja."


Kening Agam di buat menyerngit"Kekuatan super?."


Sedikit membuang napas"Yah...di mata mereka aku adalah gadis sombong yang memiliki tatapan setajam belati. Ku pikir itu berlebihan. Namun setelah di resapi, gelar yang mereka berikan cukup membantuku. Aku akan langsung menguliti mereka dengan tatapan, jika berani menyerangku nanti, bahkan jika hanya dengan kata-kata saja."


"Tapi...," Agam sangat tidak rela membiarkan wanitanya bertemu dengan para penggosip itu. Jika saja dia bisa melarang Jena, sayangnya dia sudah terlanjur memberikan izin.


Melihat kekhawatiran sang suami, sudut bibir Jena terangkat naik"Kau boleh menungguku di mobil."


Jena kira Agam akan tertawa, nyatanya sang suami brondongnya itu menekuk wajah.


Tak kehabisan akal, Jena memegangi kedua pipi Agam, mengusapnya pelan sembari menatap nya penuh kelembutan"Acaranya di kediaman Sasa, jika acara itu di gelar di sebuah restoran aku akan memintamu menunggu di meja yang tak jauh dariku."


Cinta Agam kepada Jena memang tidak main-main, dengan sorot mata nan lembut saja sudah membuat hati pria itu meleleh"Baiklah, ingat untuk segera menghubungiku jika ada hal yang tidak baik."


Jena melayangkan ciuman sekilas pada pipi suaminya"Iya mas Agam."


Drama pemilihan busana telah di mulai. Jena cukup sadar diri dengan berat badannya yang mulai bertambah. Katakan saja dia sedang beruntung, sebab saat hamil memiliki selera makan yang luar biasa bagusnya. Segala jenis makanan dia sukai sekarang, mungkin jika ada siluman lewat pun bisa dia makan, hehehe.


Agam sangat bersyukur sang istri tidak mengeluh dengan bertambahnya berat badan itu, namun saat ini sepertinya Agam harus mulai bersabar.


"Kenapa bajunya kekecilan! aku jadi sulit untuk bernapas!."


"Akh! celana ini membuatku sulit bergerak!."


"Mas! kau membelikan baju yang bisa mengecil ketika di cuci?."


"Mas Agam! aku bahkan tidak leluasa mengangkat lenganku!!."


Agam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, apa yang harus dia lakukan???.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2