
...#Flashback#...
Hilang satu, tumbuh seribu. Begitulah ungkapan banyak orang tentang datang dan perginya cinta. Kali ini hal itu sedang terjadi pada ujian cinta para penghuni pantai. Jiaaka Bella yang berniat menggaet Gibran telah lari tunggang langgang karena sentilan manis Melisa, kali ini Agam yang sedang menjadi incaran seorang wanita nan cantik juga jelita.
Kemesraan Jena dan Agam di tepian pantai, menarik perhatian pengunjung yang lain. Pria tampan itu memperlakukan wanitanya dengan sangat lembut. Terlihat jelas, dia yang merasakan pedas tetap tersenyum demi memenuhi permintaan Jena"Aku senang melihat kau menikmati sate ini, mas," senyuman manis sang istri menghipnotis pria itu dalam sekali lirikan.
Tak tanggung-tanggung, Jena menambahkan dua sendok racikan cabai lagi ke dalam bumbu kacang di hadapan Agam. Pria itu sempat melongo, namun"Lekas habiskan, sebentar lagi jam 9, sepertinya akan lebih menarik jika melihat kembang api nya di barisan terdepan."
Ya! meski sempat keberatan, demi memenuhi keinginan sang kekasih hati, Agam berhasil menghabiskan hidangan tersebut. Beruntung Khair menyuguhkan segelas susu ke hadapan rekannya.
"Dari mana kau mendapatkan minuman ini?," tanya Agam sembari mengangkat gelas, dan meminum susu itu. Oh rasa pedas itu hampir membuat Agam menangis.
"Abang-abang pop es," jari telunjuk sang sahabat mengarah pada sebuah stan minuman, yang tidak jauh dari mereka.
"Terimakasih, kau perhatian sekali kepadaku, aku jadi malu."
Khair membuang muka, sementara Zafirah tertawa mendengar seloroh Agam"Jena, kau beri vitamin apa dia? kenapa menjadi seperti ini."
"Bawaan bayi," begitu lagi. Sang jabang bayi kerap menjadi alasan Jena saat dirinya dan Agam bertingkat agak lain.
Di bawah langit malam itu, mereka kembali bersenda gurau sembari menunggu waktu di nyalakannya kembang api. Dan di sela kebersamaan yang indah, ada sepasang mata yang sedang fokus menatap Agam. Begitu lekat dia memandangi pria milik orang itu, dan setelah merasa yakin, dia bangkit dari tempat duduknya untuk menyongsong Agam.
"Permisi, apa kau Abdilla Agam Pratama?," seorang wanita cantik dengan rambut panjang seperti Jena. Namun dirinya memiliki warna maroon pada surai panjang nya itu.
Sontak, perhatian mereka tersita pada seseorang yang baru barang, juga mengambil duduk di samping Jena pada kursi panjang yang mereka duduki.
"Ya," sahut Agam singkat.
Senyuman nan cantik terbit di wajah wanita itu"Wah! ternyata benar ini kau, Agam!," ujarnya berseru. Dan kali ini dengan tangan terjulur, ingin berjabat.
Agam tak serta menyambut uluran tangan itu. Pria itu berwajah datar, kemudian berucap"Kau siapa?."
Khair memperhatikan sosok yang bergabung tanpa di undang itu, akh! pakaian yang dia kenakan terasa tidak nyaman untuk di pandang. Dia pun segera memalingkan wajah setelah memastikan tidak mengenali orang tersebut.
"Aku Fely, kita sama-sama menjadi anggota OSIS saat masih SMA, semudah itu kah kau melupakan diriku?."
__ADS_1
Jena memutar bola mata, perasaan jengan tiba-tiba menyinggahi nya.
Agam diam sejenak, sedang membuka memori lamanya, oh ya! setelah di ingat-ingat barulah menyadari bahwa wanita ini adalah Fely, teman masa SMA nya.
Melihat Agam yang masih diam, Fely lantas mencoba membantu mengingatkan Agam"Hei, kita cukup lama bekerja sama, kita bahkan kerap menghabiskan waktu bersama di ruang kelas saat menyelesaikan tugas kita."
"Ya, aku ingat sekarang," sahut Agam. Dan tak ingin membuka celah sedikitpun di antara dirinya dan Fely, Agam segera memperkenalkan Jena sang istri, juga Khair dan Zafirah kepada Fely.
"Ohhhh, jadi kau telah menikah."
Agam hanya mengangguk.
"Kau tidak mengundangku!."
Duhai sang hati di dalam sana, bersabarlah! meski saat ini kau sedang terbakar teruslah bersikap tenang. Jena memejamkan mata, menata sang hati agar tak langsung meledakkan lahar amarah.
"Bahkan orang terdekat ku saat sekolah pun tidak ku undang, alih-alih engkau," owh!! Khair menyerngit kan hidung saat mendengar perkataan lugas Agam. Sementara Zafirah mengetuk kaki Jena di bawah meja, dengan senyuman ringan.
Fely nampak biasa saja mendengar hal itu, alih-alih merasa malu akan sindiran yang di lontarkan Agam.
Agam yang peka, menyadari kehadiran Fely sudah menggangu sedari awal. Pria itu berdiri dan meraih jemari Jena"Fely, kami akan segera pergi. Jika kau masih ingin di meja ini silahkan."
"Sebentar, berikan nomor ponselmu kepadaku."
"Untuk apa?," tanya Jena, kesabaran Jena sudah menipis, sudah tahu Agam telah beristri tapi Fely masih ingin meminta nomor ponselnya? Fely oh Fely, jangan bangunkan macam betina ini dari tidurnya.
"Untuk bertukar pesan, masih banyak hal yang ingin aku bagi dengan Agam," sahutnya begitu santai, berkata-kata seringan bulu.
"Maaf, aku tidak membagi nomor pribadi kepada orang yang tidak ku kenal baik."
"Agam! kita teman dekat," seru Fely, kali ini dia mencoba memegang lengan Agam, namun alarm alami pada tubuhnya yang anti di sentuh wanita selain Jena, membuatnya menghindar secepat kilat.
Melihat hal itu, Zafirah juga kesal, apalagi Jena. Wanita bernama Fely ini sangat kentara ingin dekat dengan Agam.
"Seingatku, kita tidak begitu dekat Fely. Dan bukan hanya kita berdua yang menjadi anggota OSIS, lagi pula hal itu sudah sangat lama. Bahkan jika kita memang teman dekat, kedekatan kita telah terkikis oleh waktu."
__ADS_1
Lagi-lagi Khair menyerngit kan hidung, serangan Agam tepat pada sasaran, membuat air wajah Fely sedikit masam.
"Maaf Fely, kami ada kepentingan lain. Senang bertemu denganmu," tukas Jena mengumbar senyuman.
"Baiklah, aku juga senang bertemu dengan kalian, terlebih dengan Agam. Lanjutkan saja kepentingan kalian, aku pun akan kembali ke mejaku," nampak tersenyum ramah kepada Jena, dengan sesekali menatap intens kearah Agam.
Khair mengantupkan kedua tangan saat Fely hendak bersalaman, dan uluran tangan wanita itu langsung di sambar oleh Zafirah"Semoga malam mu menyenangkan," ujar Zafirah.
Selain begitu kentara ingin mendekati Agam, lirikan mata Fely kepada Khair membuat Zafirah gemas ingin menggaruk pipi wanita itu.
Berlenggak-lenggok, cara berjalan Fely seperti di buat-buat. Alih-alih tergoda, Agam dan Khair bergidik ngeri akan pemandangan itu.
Setelah pertemuan dengan wanita bernama Fely itu, mereka berempat segera pergi ke lokasi strategis untuk melihat kembang api.
Jika sang hati sedikit merasa resah, karena kehadiran wanita cantik dari masa-masa sekolah Agam. Kebahagiaan setelah menyaksikan kembang api itu menghapus segala kegundahan hati. Berpisah dari Khair dan Zafirah, Jena dan Agam kembali ke kediaman pantai dengan keceriaan.
Keadaan cafe masih cukup ramai, padahal waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Hei!! ada apa ini? kenapa pelanggan seolah tak ada habisnya datang ke cafe ini?
Entah dari mana datangnya gitar listrik dan seperangkat alat musik itu. Setelah di telisik Angga bagaikan seorang bintang malam ini. Dia bernyanyi di sisi pelataran toko buku, sembari bermain gitar. Ada tiga lagi rekannya yang tidak di kenal oleh Jena, namun Agam nampak tersenyum dan melambaikan tangan kepada tiga pria itu.
"Ya!! sudah puas jalan-jalan nya? kalian sungguh keterlaluan!! menyiksa ku di dapur seperti ini!," emosi Gibran semakin meledak, saat suara omelannya tenggelam di sapu suara denting gitar dan alat musik lainnya. Sementara Angga, dia bernyanyi dengan suara yang memukau.
Tidak ingin mendengar keluhan Gibran, Agam memilih pergi ke area depan, sementara Jena mengambil duduk di kursi tinggi, konter minuman"Jadi kau benar-benar memasak?."
"Kau tidak lihat? aku yang tampan ini menjadi kusam karena terlalu lama di dapur," gerutu Gibran.
Jena terkekeh"Kau pintar sekali menjalankan bisnis. Selain memanjakan perut pada pelanggan kau juga memanjakan telinga dan pandangan mereka. Dari mana alat musik itu kau dapatkan?."
"Gila!! perhatikan ucapanmu! aku memesan alat itu untuk di letakan di kamarku, untuk kesenanganku sendiri, tapi Angga datang dan meletakkan benda-benda itu di sana."
"Kalau begitu Angga yang pintar, dia tahu cafe ini memang butuh hiburan seperti itu," tukas Jena lagi. Pandangannya tersita kepada Angga yang bernyanyi dengan sangat baik di depan sana.
"Itu miliku!! bukan untuk kepentingan cafe ini kak Jena!, ash!! Angga sialan! karena dia mencoba suaranya di sana, gadis-gadis jadi berkumpul dan memujinya," sungguh, hati Gibran sangat kesal, di sini dia adalah bintangnya, namun kenapa justru Angga yang unjuk gigi di depan sana? sedangkan dirinya berkutat di dapur dengan rempah-rempah menyebalkan ini!!."
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗