Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Benang merah abadi.


__ADS_3

Berangkat menuju taman hiburan, Jena dan Agam sampai lebih dahulu ketimbang Zafirah dan Khair. Tunggu menunggu, sepasang kekasih itu tak jua nampak batang hidungnya. Jena menjadi resah, apakah terjadi suatu hal buruk terhadap mereka?


"Mas, coba hubungi Khair, mengapa mereka tak jua datang," ujarnya masih melirik pada sekitar, siapa tau saja saat itu Khair dan Zafirah tiba-tiba datang.


Agam mengambil ponselnya, dan segera menghubungi Khair. Oh, ternyata Khair berada pada panggilan lain"Dia sedang menelpon seseorang, sayang," ujarnya memperlihatkan layar ponsel pada sang istri.


Dan tepat di saat itu, ponsel milik Jena berdering. Rupanya Khair melakukan panggilan pada nomor Jena.


"Assalamualaikum, Khair kalian di mana?," tanpa banyak bicara, Jena langsung menanyakan posisi mereka berdua.


"Waalaikumsalam, ini aku Zafirah," sahut Zafirah di ujung telepon. Wanita itu menelpon Jena menggunakan ponsel sang suami.


Mereka pun terlibat percakapan singkat. Dan setelah panggilan selesai, Jena meminta Agam untuk menuju ke suatu tempat"Mas, kita susul mereka ke tepi kota. Di sana sedang ada pasar rakyat, di sana lebih menyenangkan daripada di tempat ini."


"Pasar rakyat??."


"Hemm," angguk Jena.


"Kata Zafirah, banyak jajanan murah namun berkualitas. Nanti jam 9 malam akan ada kembang api, yang di nyalakan di tepi jembatan."


Kening Agam terlihat berkerut"Kembang api? ini bukan perayaan tahun baru, bukan?."


Jena memutar bola mata, seperti sedang berpikir"Iya juga. Tapi Zafirah bilang seperti itu. Ayolah, kita ke sana saja," menggoyang lengan Agam, dengan manjanya.


"Baiklah," Agam berucap sembari melepas jaket denim yang dia kenakan. Dia memasangkan jaket itu kepada Jena"Bungkus tubuhmu rapat-rapat, udara malam tidak baik untuk dirimu."


Jena tertawa manja, ternyata pria lebih muda ini memiliki pemikiran yang lebih matang darinya"Kau manis sekali."


"Oh ya? kalau begitu apa kau tidak berniat memberikan ciuman pada pria manis ini?," sedikit mencondongkan pipinya ke pada sang istri, Agam tersenyum senang.


"Hei, ada banyak orang di sini. Kau tidak malu?," dan memang benar, hari masih sore dan pandangan orang-orang masih sangat jelas, meski mereka berada di dalam mobil adegan kecupan di pipi itu masih dapat terlihat.


Alih-alih menyerah"Cup!!," Agam mendaratkan ciuman singkat pada bibir Jena. Membuat Jena membulatkan kedua mata.


"Mas!!," hardiknya memukul lengan Agam. Yang kini telah berpindah pada kemudi mobil.


Seringai nakal terbit di wajah Agam"Hanya sekilas, dan itu tidak terlihat orang lain."


"Dasar nakal," tukas Jena tersipu malu.

__ADS_1


"Bukankah pria nakal lebih menarik."


"Ehei!! Tuan Agam Pratama! apa maksudnya dengan pria nakal lebih menarik??," lirikan tajam Jena, membuat Agam terkekeh.


Lesung pipi pria itu begitu dalam, dan selalu saja menambah kadar tampan di wajahnya"Maaf sayang, aku hanya bercanda. Pria ini hanya akan nakal terhadapmu," begitu erat, Agam meraih jemari Jena dan menggenggamnya.


Jena tertawa lagi"Baiklah, aku maafkan pria nakal ini. Tetaplah menjadi pria manis dan baik sepanjang masa sayang."


Seperti anak kucing, yang merasakan cinta dari sang majikan. Agam menggosok kepalanya di pundak Jena, meleleh karena usapan lembut sang istri pada pucuk kepalanya.


...❣️❣️❣️❣️...


Khair masih menggenggam erat jemari Zafirah, berjalan beriringan di antara para pengunjung yang memenuhi area tersebut. Setelah menemukan tempat yang lengang di ujung jalan, Khair mengajak wanitanya untuk duduk pada sebuah kursi, menatap sungai kecil di hadapan mereka.


"Tempat yang bagus," puji Zafirah.


"Tentu saja, dan di sinilah aku dan Enda kerap menghabiskan malam minggu kami."


Dua alis Zafirah terangkat naik"Bersama Enda? malam mingguan?? benarkah hanya bersama Enda?."


Khair tersenyum, isi dari perkataan Zafirah membuat geli hatinya. Apakah sang istri sedang cemburu? sehingga meragukan hal tersebut"Hanya aku dan Enda, hanya kami berdua" ujarnya mengangkat dua jari, di hadapan sang istri.


Sejenak suasana hening di antara mereka.


Kemudian, Khair kembali meraih jemari Zafirah, memperhatikan ruas-ruas jemarinya yang masih kosong. Ya! hingga saat ini cincin pernikahan mereka belum ada. Tanpa membuang-buang waktu, Khair mengeluarkan kotak perhiasan dari dalam sakunya. Sungguh, Zafirah sangat terkejut dengan hal itu.


Sepasang cincin, dengan ukiran nama mereka di balik cincin tersebut"Maaf, seharusnya benda ini ku berikan di malam pernikahan kita. Tapi karena pernikahan yang mendadak, aku tidak sempat membeli cincin ini.


Dapat Khair rasakan, jemari lembut itu bergetar"Zafirah, kenapa kau menangis," tukasnya mengusap genangan air mata dengan ibu jari. Kini, tangan besarnya singgah lebih lama pada pipi mulus sang istri, wajah merona ketika menangis, membuatnya semakin terlihat cantik.


"Bahkan saat menangis pun, kau sangat cantik."


Zafirah meraih tangan Khair di pipinya"Mas," hanya itu, dia tak bisa lagi melanjutkan kata.


"Istriku! jangan menangis. Apa kau tidak menyukai cincin ini?? ini masih bisa di tukar jika kau memang tidak suka."


Wanita itu menggelengkan kepala"Ini sungguh sangat bagus mas, sangat cantik. Terimakasih telah memperlakukan aku dengan sangat baik."


"Kau wanita terbaik, wanita berharga yang Tuhan berikan kepadaku."

__ADS_1


Zafirah memeluk erat lengan Khair, mendaratkan keningnya di pundak Khair"Terimakasih mas Khair," ucapnya lirih saat cincin itu tersemat pada jari manisnya.


Khair menyuguhkan cincin miliknya kepada Zafirah, wanita itu lantas menyematkan jua cincin tersebut pada jari manis Khair"Terimakasih zafirah, istri ku tersayang."


Kini benang merah di antara mereka semakin terlihat jelas. Adanya cincin yang melekat di jari manis mereka menjadi simbol bahwa merekalah pasangan abadi itu.


Agam nampak bingung mencari tempat untuk memarkir kendaraan. Area di sekitar jembatan itu nampak di penuhi kendaraan pengunjung.


Jena melirik ke seberang jalan, di sana berdiri tegak sebuah bangunan masjid besar, dengan halaman yang juga cukup luas.


"Di sana saja mas."


Agam mengikuti arah yang di tunjuk Jena. Dan senyumnya merekah saat melihat Masjid tersebut"Betul juga, kita jadi tidak repot mencari masjid untuk sholat nanti."


"Pintar bukan??."


Memiringkan kepala, Agam tersenyum saat Jena memainkan kedua alisnya"Iya, kau memang istri yang pintar," sebagai ucapan terimakasih, Agam mengacak pucuk kepala Jena.


"Betulkan lagi!," hardik Jena, sebab tatanan rambutnya nampak berantakan karena nakalnya tangan Agam.


Dengan lembut, Agam menyisir helai rambut lembut sang istri dengan jemarinya"Istriku yang cantik, kau semakin manja di saat mengandung. Juga semakin cantik."


Jena semakin tertawa, hingga hidungnya terlihat menyerngit.


Usai memarkirkan mobil, mereka segera melangkah ke seberang jalan, tempat keramaian itu di gelar.


Benar kata Zafirah, ada begitu banyak stan makanan di sana. Berjejer rapi, dari makanan manis, pedas, asin gurih, dan juga berbagai jenis minuman dingin. Sungguh, lidah Jena di buat berair, tidak sabar ingin segera mencicipi semua jenis hidangan.


"Apa kita tidak mencari Khair dan Zafirah dahulu?," tanya Agam, sebab Jena langsung singgah di stan makanan korea. Owh... gambar makanan yang telah tersaji pada banner stan tersebut sangat menggoda. Apalagi owner stan itu mengatakan bahwa rasa saosnya manis asam dan pedas menjadi satu, benar-benar menggiurkan!!.


"Hanya satu, selepas ini kita akan langsung mencari mereka," cicit Jena dengan alis menurun, memasang wajah bersedih.


"Baiklah, ayo tersenyum lagi. Aku tidak akan membelikan makanan ini jika kau menekuk wajah."


Aha! Jena langsung kembali tersenyum mendengar ucapan Agam"Terimakasih sayangku!!," serunya mengapit lengan Agam. Jena oh Jena, kau sangat berubah! di tempat ramai ini kau tidak malu bersikap manja terhadap Agam. Apakah ini yang di namakan bawaan bayi??.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2