Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Topeng Bastian


__ADS_3

Berteman keterpurukan, Tiara menyadari hal buruk itu tengah singgah pada hidupnya. Ketidak berdayaan selepas proses kuretes membuatnya hanya bisa memantau dari anak tangga paling atas, betapa mereka bertiga tengah bertengkar atas ulahnya.


Ingin rasanya dia berteriak, kembali menyangkal perselingkuhan yang telah di ungkap Bagas, namun perut bagian bawah yang masih ngilu memangkas kekuatannya untuk melakukan hal itu.


Berjalan pun masih tertatih, bagaimana dia mampu meninggikan suara membela diri di hadapan mereka. Jelita tertunduk di meja makan, air mata sakit hati mengalir deras dari kedua katanya. Tiara tahu apa itu sakit hati, sebab selama ini hidupnya memang berteman dengan rasa sakit itu, tawaran Jelita untuk menjadi menantunya bagaikan air di gurun pasir, keinginan wanita itu untuk segera menimang cucu semakin membutakan mata hati Tiara, sebab cucu yang sangat Jelita inginkan sudah tertanam dalam rahimnya, meski pun itu bukan darah daging Dewa.


"Kau akan menjadi anak Dewa saat ibu resmi menjadi istrinya, maka, mari kita bekerjasama anakku", batin Tiara saat Jelita mengajaknya bersekongkol memisahkan Dewa dan Jena.


Ternyata, sang jabang bayi itu enggan bekerjasama dengan sang ibu. Kepergiannya menghancurkan semua rencana yang telah tersusun rapih. Menangkap gelagat tidak baik, Tiara merasa sudah tidak ada tempat lagi baginya di rumah ini. Tian, wanita itu teringat akan pria yang sama gilanya dengannya.


"Tian, bawa aku dari rumah ini", pintanya dalam panggilan ke nomor Tian.


Berbisik pelan, nampaknya Tian tengah bersembunyi dari Ane saat menjawab panggilan itu"Kau harus bertahan di rumah itu, sebisa mungkin kau harus menolak perceraian kalian".


"Kau gila!, Jelita sudah masuk ke dalam kubu mereka. Aku sendirian dalam markas musuh, kau pikir aku punya nyawa banyak seperti kucing?!".


"Tiara sayang, nyawaku juga terancam. Kau kira Dewa akan diam saja, dia pasti akan mengadukanku pada Ane. Sama seperti mu, aku akan tetap bertahan dalam rumah ini, dalam pernikahan ini. Sebaiknya kau bujuk dan rayu Jelita agar iba terhadapmu, akan lebih baik lagi jika kau bisa menaklukkan hati Dewa. Aku pun akan melakukan hal yang sama kepada Ane kelak".


"Kita tidak bisa pergi tanpa membawa apa-apa Tiara sayang", lanjutnya lagi.


"Sejauh ini, kau sudah memiliki berapa saham di perusahaan Ahmad?".


"Aku hanya punya 5%".


"Tian!!!!".


"Tiara!, kau kira akan mudah menguasai harta kekayaan mereka jika si tua Ahmad itu masih hidup?".


"Ayolah sayang, anggap saja kita sedang di goyah angin topan sekarang, kau dan aku harus tetap bertahan. Jika kita berhasil mendapat maaf dari mereka maka rencana kita akan tetap berjalan bukan".


Dengan pikiran yang berkecamuk, Tiara kembali menguras otak agar dapat mengais iba dari keluarga Dewa.


"Baiklah, aku akan bertahan sekuat tenaga. Aku harus segera pulih, perlahan menggerogoti keluarga ini dan menikmati kekayaan mereka dengan cuma-cuma", gumam Tiara.


Usai berbicara via telepon dengan Tiara, Tian yang hari itu sedang libur bekerja di kejutkan akan kedatangan Adila di kediaman mereka. Jantungnya berpacu cepat saat beradu pandang dengan kaka ipar, apakah Jena telah mengungkapkan perselingkuhannya?.


"Tian, apa kau tidak bekerja?", Adila memulai obrolan. Tanpa di persilahkan, wanita berlidah pahit itu duduk dengan leluasa di sofa ruang tamu.


Ane datang dengan nampan berisi teko teh, melihat sang istri membawa benda itu Tian bergegas mengambil alih pekerjaan Ane"Sayang, apa yang kau lakukan!, kau bisa memintaku membawa benda ini".


Sembari menyerahkan nampan itu dengan senyuman manis"Tian sedang libur kak, lihatlah, ujung bibirnya masih lebam setelah jatuh di toilet rumah sakit", dengan anggun Ane duduk di samping Adila.


"Hanya lebam begitu saja, kau sudah minta libur, Tian", celoteh Adila menatapnya tajam. sepasang bola mata coklat itu seperti melucuti pakaian Tian, membuat pria itu sangat tidak nyaman dan kikuk.


"Aku yang menyuruhnya libur kak, ayolah! kau tahu kan suamiku ini pekerja keras, apa salahnya sesekali mengambil libur".


"Ane sayang, turunkan nada bicaramu pada kak Adila".

__ADS_1


"Ck!", Adila berdecih. Terkadang, pasangan romantis ini membuat iri, namun terkadang juga membuat mual ulu hati. Sikap mereka terkadang berlebihan, terkesan lebay, sungguh Adila tidak suka saat mereka pada mode lebay seperti saat ini.


Mengusir Tian dengan punggung tangannya, Adila ingin di tinggalkan berdua saja dengan adik tercinta.


"Aku ke kamar ya sayang, meski libur aku masih harus memerika berkas pembangunan jembatan di tepi kota".


"Oh, proyek itu kau menangkan Tian?", tanya Adila sumringah.


Seketika senyum manis kembali mengembang di wajah Ane"Lihatlah, selain penyayang dia juga suami yang pintar. Katakan, apa kau iri kepadaku??", kedua mata cantik Ane berbinar terang.


Cahaya cinta sungguh mengilaukan netra Adila, membuatnya memicingkan mata menatap mereka bergantian"Kalian, apa tidak bosan berkata manis dan bersikap manis sepanjang waktu? ingatlah, kalian akan terkena diabetesi jika kelebihan gula".


"Hehehe, jika bersama Ane, aku tidak keberatan menanggung penyakit itu kak. Tapi cukup aku saja, Ane harus selalu sehat sepanjang masa", telapak tangan besar Tian mengusap lembut pucuk kepala sang istri. Membuat Adila melengos kesal, sikap Tian sangat berbanding terbalik dengan sikap Abian. Lelaki itu sangat menyebalkan dengan selalu mengatakan Adila gemar mengomel.


"Sudah cukup Tian, mataku sakit melihat tingkah kalian. Pergilah, aku ingin bergosip dengan Ane".


Tertawa renyah, Tian pergi setelah mengecup mesra kening sang istri, tentu di hadapan Adila. Melihat kedua bola mata Adila yang membesar, Tian dan Ane di buat terkekeh senang.


Ane dan Adila benar bergosip saat Tian tiada, mereka membahas Tiara yang dengan ganas menyerang Jena. Tidak ada tema perselingkuhan yang Tiara lakukan pada obrolan mereka, Tian yang sedang mengintip di balik dinding merasa lega. Dirinya harus segera menemui Jena, memohon kepada wanita itu agar tidak mengadu kepada keluarganya.


"Juga Dewa dan Bagas, aku harus menutup mulut mereka, tapi harus dengan cara apa???!", dalam benak, Tian mencari cara agar rahasianya tetap aman. Jika harus ada yang di korbankan, Tian akan bersedia melakukannya asal rahasianya tetap terjaga.


...🌸🌸🌸🌸...


Langkah seseorang membuat kedua mata Jena terbuka, sekedar memejamkan mata, wanita itu merasa sangat jenuh di kamar inap itu. Dan si tengil Gibran, kemana bocah menyebalkan itu? bukankah katanya akan menemani Jena di sini? setelah semua orang pergi, batang hidungnya pun tidak terlihat. Bagaimana Jena akan percaya kepadanya jika sikapnya bertolak belakang dengan ucapannya.


"Kemana saja kau, kau bilang akan menemaniku, tapi kau menghilang saat semua orang juga menghilang. Dasar bocah sialan, apa kau sedang bersenang-senang dengan perawat cantik di rumah sakit ini?!", membelakangi sosok yang datang, Jena berkata-kata dengan cepat bagai seoang rapper.


"Maaf jika aku terlambat datang".


Jena terkejut bukan kepalang, Agam dengan senyum mengembang kini hadir di hadapannya. Dua lesung pipit itu sungguh mempesona, ada rasa hangat menyebar dalam hati Jena, namun netranya terperangkap pada benda yang sedang Agam bawa.


"Kenapa kau membawa banyak permen jeruk ke sini?", tanyanya berusaha menjaga mimik wajah, entah mengapa dirinya ingin tersenyum saat ini. Ck! bukankah dia harus bersikap santai dan berwajah datar seperti biasanya, mengapa sekarang bahkan jantungnya pun berdetak abnormal. Apa serangan Tiara juga berdampak pada jantungnya??.


"Ash!!!", Jena menggelengkan kepala berkali-kali. Mencoba membangun kesadaran hati yang tidak biasa di dalam sana.


"Kau kenapa? apa kepalamu masih sakit?".


"Aku bertanya, kenapa kau malah balik bertanya".


"Hah?".


"Itu", tunjuknya pada beberapa pak permen jeruk.


"Oh, bang Arkan menelepon ku. Katanya kau memerlukan benda ini".


"Dari mana dia tahu aku menyukai permen jeruk ", gumam Jena.

__ADS_1


"Aku menitipkan beberapa biji permen ini saat kau tertidur, di hari pertama kau masuk rumah sakit".


Jena mengangkat wajah, mengejar pandangan Agam hingga tatapan mereka bertemu"Kau, berapa banyak kau tahu tentang aku?".


Agam segera melepaskan pandangan dari nerta coklat Jena"Anu....,emh....", pria itu gugup hingga tidak bisa bicara dengan benar.


"Apa tengkukmu terasa gatal".


"Ah..., tidak kak", Agam menghentikan aktivitas itu. Aktivitas yang spontan dia lakukan saat terperangkap dalam kebingungan.


"Katakan, sebanyak apa kau tahu tentang aku", lagi, Jena mengulang pertanyaannya.


"Cukup banyak", sahut Agam pelan, namun dengan wajah yang tertunduk.


"Apa aku menakutkan? kenapa kau enggan menatap mataku".


"Wanita dan laki-laki yang bukan mahram tidak boleh melakukan hal itu Jena".


"Apakah laki-laki dan wanita yang bukan mahram boleh berduaan di ruangan tertutup seperti ini?", pertanyaan itu menampar kesadaran Agam.


Tiba-tiba langkahnya mundur, sedikit menjauhi Jena.


Knal pintu terdengar di putar, Agam dan Jena menatap arah pintu bersamaan.


Sepasang bola mata bulat seperti boba menatap Jena dan Agam bergantian"Ada apa ini? kenapa kalian terlihat tegang?".


"Kau!", sentak Jena. Telunjuknya mengarah pada Gibran di ambang pintu.


"Kenapa???", tanya Gibran bernada menantang.


Jena meninggikan suara"Kau kemana saja? kau bilang akan menjagaku".


"Aku sedang sarapan, kau kira aku tidak butuh makan? lagipula, aku sudah mengutus Agam untuk menjagamu sebentar kan kak".


"Hei, bang Arkan yang mengutusku", protes Agam.


Gibran menyenggol lengan Agam"Tidak bisakah kita bekerjasama, apa kau senang aku mendapat ceramah wanita pemarah ini?", setengah berbisik.


Sorot mata tajam menghujam jantung, Gibran merasa risih di tatap seperti itu oleh Jena.


"Baiklah, aku melakukan kesalahan. Sekarang apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkan ku, kau sedang sakit kak, kurangi sedikit porsi marahku, oke??", alis tebalnya bermain turun naik, dengan garis bibir melengkung naik.


"Aish, ingin sekali aku mencakar wajah itu", desis Jena kesal.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2