
Kabar kehamilan Jena, semakin di perkuat dengan keterangan dari dokter. Ya! tanpa membuang waktu, Arabella langsung mengajak menantu kesayangan itu untuk pergi ke dokter kandungan. Di sepanjang perjalanan, Agam tak henti-hentinya mengumbar senyuman. Meski Jena meminta kepadanya untuk jangan banyak berharap dahulu, namun pria itu sangat yakin bahwa sang buah hati akhirnya datang jua.
"Aku mohon, jangan menyimpan harapan terlalu besar kepadaku, mas," ucapnya begitu takut melihat kebahagiaan di wajah Agam.
"Kenapa? bahkan jika kita tidak ke dokter pun, aku sudah sangat yakin kau telah mengandung, sayang."
"Ayolah mas, kita belum sampai ke klinik, dan kau sudah sangat yakin dengan kehamilanku."
Agam menarik jemari Jena, dan menggenggam nya erat"Lihat saja, dokter pasti akan memberikan kabar baik saat kita telah di sana."
Menghenyakkan diri di kursi mobil, Jena menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan, mencoba menenangkan hati yang sedang jumpalitan karena resah.
Namun, rasa resah yang berkepanjangan itu akhirnya berlalu. Arabella yang sudah menunggu mereka di klik dokter kandungan, bergegas mengajak Jena untuk memeriksakan diri. Dan, senyuman di wajah wanita lembut itu pun mengembang, sama seperti senyuman di wajah sang putra.
Mengusap pucuk kepala Jena sembari berucap "Sayang, selamat ya, tidak lama lagi kamu akan menjadi seorang ibu."
Betapa terharunya Jena, manik cantik wanita itu terlihat berkaca-kaca. Jika dia sempat ragu akan kehamilan dirinya sendiri, namun hasil dari pemeriksaan tidak bisa terbantahkan.
"Bunda, semoga Jena bisa menjaga amanah ini," ucapnya lirih.
"Tentu, kau pasti bisa sayang. Dan kau Agam," tukas Bunda berganti menatap Agam"Ingat ya, kau harus menjaga menantuku ini 25 jam dalam sehari."
Agam memiringkan kepala, menatap bunda"Di mana-mana dalam sehari hanya ada 24 jam, bunda ku yang manis."
"Bunda tahu! oleh karena itulah bunda meminta kau untuk menjaga Jena 25 jam dalam sehari. Kau harus selalu berada di dekatnya, selalu bersamanya, kau harus selalu melayaninya, dan ingat! kau harus segera memijat menantuku ini jika dia mengeluh nyeri di punggung, atau di seluruh tubuhnya."
Wanti-wanti bunda, di angguki Agam dengan tubuh bergetar, terkekeh geli"Iya bunda, iyaaaaa," ujarnya menarik pelan kedua pipi sang bunda.
"Hei!! bunda sudah tidak muda lagi. Jangan kau tarik-menarik pipi mulus bunda ini, bunda takut akan meninggalkan kerutan di wajah bunda."
Jena tertawa, ocehan bunda terdengar lucu baginya.
"Tidak ku sangka, bunda bahkan takut dengan kerutan di wajah. Bukankah bidadari tidak akan pernah terlihat tua? apalagi adanya kerutan nakal di wajah ini."
__ADS_1
Arabella, membenamkan wajah di dada bidang sang putra. Meski telah memiliki wanita lain, yang sangat dia cintai, putra semata wayangnya ini tetaplah pria bertutur kata manis dan bersikap manis terhadapnya.
Melihat ibu dan anak itu berpelukan, Jena merentang kedua tangan, meminta untuk masuk jua ke dalam pelukan sang suami.
"Waw, lihatlah bunda, aku sudah sangat dewasa, bahkan lenganku sudah bisa memeluk kalian berdua secara bersamaan," ucapnya sembari memeluk Jena untuk bergabung bersama Arabella.
Jena sangat tidak menyangka, jalan hidup yang sempat berliku kini telah sampai pada dermaga yang begitu hangat. Tanpa terasa, ada genangan air mata yang hampir saja lolos dari kelopak mata, namun segera di tepis agar tidak mengacaukan kebahagiaan mereka saat ini.
"Kau bukan hanya sudah sangat dewasa, sebentar lagi kau akan menjadi ayah."
"Dan bunda akan menjadi nenek," sahut Agam menimpali.
"Nenek bidadari???," Jena ikut berkata.
Pertanyaan Jena membuat tawa mereka pecah, sungguh
betapa bahagianya mereka saat ini. Belum juga lahir namun Agam atau Jena junior, sudah memberikan kebahagiaan yang mendalam untuk orang-orang tersayang.
Sempat menarik diri dari sang kekasih, Kanaya tidak dapat menolak saat Adila mengajaknya untuk bertemu. Hem...ada apakah gerangan, calon ibu mertua galak ini mengajaknya bertemu?. Meski sedang dalam ritual merajuk, karena kabar kebersamaan sang kekasih dengan seorang artis cantik, Kanaya masih bersedia untuk menemui Adila.
Di sebuah restoran, Kanaya melangkah dengan mantap untuk memenuhi janji temu dengan Adila. Ternyata, bukan hanya dirinya yang ada di sana, tapi juga Melisa.
Kanaya bukan tidak tahu siapa Melisa, dia adalah gadis yang selalu di puji Adila dan bandingkan dengan dirinya. Dan sekarang, ada maksud apa Adila mempertemukan mereka?
Dan, batin Kanaya sontak bertanya, sebab ada beberapa pengawal yang terlihat berjaga di dekat mereka. Ada apa ini? apakah Adila sedang dalam bahaya? hingga harus di jaga oleh beberapa pengawal?.
Dengan batin bertanya-tanya, Kanaya yang telah sampai di hadapan Adila memberi salam.
"Kau ini, kenapa terlambat? pantaskah jika orang yang lebih tua menunggu dirimu? di mana letak sopan dan santun mu?."
"Maaf tante, ku pikir kedatangan ku tidaklah terlambat. Hanya tante saja yang datang lebih cepat dari waktu yang di tentukan."
"Ck! kau ini!," dengus Adila.
__ADS_1
Hayyyaaa~~~ belum juga satu menit, namun Adila sudah berkata pedas kepada Kanaya. Sementara Melisa, alih-alih menunjukan sikap yang sama seperti Adila, dia justru tersenyum dan mempersilahkan Kanaya untuk duduk.
Ini bukan kali pertama mereka bertemu, namun baru kali ini mereka benar-benar mengobrol bersama. Dan sepertinya Melisa cukup baik, di mata Kanaya.
"Terimakasih," ujarnya sembari mengangguk kecil kepada Melisa.
Gadis itu pun berucap"Sama-sama, meski kita sudah pernah bertemu, namun izinkan aku memperkenalkan diri, perkenalkan aku Melisa."
"Aku Kanaya," sahutnya membalas senyuman itu.
Usai saling menyapa, Adila segera membawa dua gadis itu mengekor langkahnya"Ayo, kita ke butik langganan Tante."
"Untuk apa tante?," tanya Kanaya, gadis ini memang di kenal tidak sabaran oleh Adila, entah mengapa Gibran selalu mengatakan bahwa kekasihnya ini adalah gadis yang lembut kepada Adila, toh sikapnya sangat bertolak belakang dengan apa yang di katakan sang putra
"Tentu saja membeli pakaian? kau pikir apa yang akan kita cari jika ke butik?," ujarnya balik bertanya.
"Seblak, atau cimol, atau cilok," sahut Kanaya tanpa beban.
Jawaban gadis itu membuat Melisa terkekeh, namun tidak untuk Adila. Dia justru menatap Kanaya dengan sinis, dan....Kanaya pun membalas tatapan Adila dengan sangat berani.
Jika saja sang putra tidak cinta mati kepada gadis di hadapannya ini, Adila pasti akan mencarikan pasangan yang manis dan penurut seperti Melisa. Ckckckck.
"Kau berani melawan tatapan ku?."
"Tante menatap ku, bukankah tidak sopan jika aku membuang pandangan??," balas Kanaya menyeringai.
Ah! Kanaya selalu saja membuat emosi Adila turun naik. Tidak ingin lagi meladeni ocehan Kanaya, Adila beralih kepada Melisa dan segera mengapit lengannya"Sudahlah, biarkan saja gadis cerewet ini, cepatlah masuk ke mobil."
"I...iya tante," terseok-seok, Melisa mensejajarkan langkah cepat Adila. Dan Kanaya menggelengkan kepala dengan hidung yang menyerngit, meledek sang calon ibu mertua.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1