Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Trip menyenangkan.


__ADS_3

Menaiki pikap di bawah langit pagi nan cerah, sungguh sebuah pengalaman baru yang membuat Jena terus tersenyum senang. Tinggi air di jalan raya mencapai lutut orang dewasa, pantas saja Yasir tidak yakin mereka akan mampu melewati banjir itu dengan berjalan kaki menuju dermaga. Anak-anak sekitar berenang kesana-kemari, tawa mereka begitu lepas hingga menular kepada Jena.


"Kau senang?", tanya Zafirah, wajah cantik Jena semakin cantik saat tertawa. Kedua mata indah itu menyipit saat garis bibir menukik naik.


Dengan polosnya Jena menganggung dalam tawa"Lihat, mereka berenang bebas meski airnya terlihat keruh".


Zafirah menyunggingkan senyum"Kau akan semakin senang saat kita tiba di tenda pengungsian, melihat wajah-wajah penerima bantuan, sungguh sebuah pemandangan yang indah dan membuatmu candu untuk kembali berderma".


"Ada apa dengan wajah mereka?", tanya Jena, sejatinya dirinya seorang pemula di dunia relawan, sedikit khawatir, Jena hampir berpikir yang tidak-tidak.


Gadis berkerudung hitam itu mengajak Jena menatap langit, jari telunjuknya melukis sebuah senyuman di atas sana"Mereka akan tertawa, hati mereka akan sangat bahagia saat bantuan yang kita bawa ini tiba".


Mengangguk kecil, Jena mengerti apa yang sedang Zafirah katakan"Zafirah, sejak kapan kau menjadi relawan?".


Wajah teduh itu begitu alami di terpa angin pagi, kerudung besar yang dia kenakan berkelebat seiring belaian sang angin"Belum lama".


"Alasannya?".


Wanita itu tak serta menjawab, nampak sedikit ragu akhirnya dia pun bercerita"Sejujurnya, niat awalku bergabung bersama tim relawan ini hanya untuk melarikan diri".


Kedua bola mata Jena membulat tak percaya"Kau jangan membual, seseorang yang ku kenal selalu mengatakan dosa jika berdusta".


"Jika dengan bersumpah kau akan percaya, aku mungkin akan bersumpah. Namun aku bukanlah orang yang dengan mudah mengucap sumpah, sebab dalam sumpah itu aku selalu menyertakan nama sang pencipta kita, Allah azza wa jalla".


"Terserang orang hendak percaya atau tidak, yang jelas aku selalu menjaga perkataanku agar tidak berdusta", lanjut Zafirah tegas.


Bibir Jena tersenyum ke bawah dengan bahu mengendik, perkataan Zafirah sungguh bukan main-main belaka"Baiklah, aku percaya padamu, lantas, kau sedang melarikan diri dari siapa?".


Melepaskan pandangan sejauh mungkin, gadis itu menarik ujung kerudungnya dan memainkannya"Aku menyukai seorang pria, namun pria itu tidak menyukaiku".


Jena memejamkan kedua mata, ternyata bukan hanya dirinya yang terjebak dalam perasaan yang di sebut cinta.


"Kau tidak berusaha untuk membuatnya jatuh cinta kepadamu?", Jena memandangi Zafirah lekat-lekat, wanita berkerudung itu sangat cantik di mata Jena, sungguh di luar dugaan bahwa dirinya pernah di tolak oleh seorang pria.


Zafirah menggeleng lemah"Dia menolakku sebelum aku benar-benar mencoba membuatnya jatuh cinta padaku, lagipula, aku tidak berani bertindak lebih untuk membujuknya menjadi pendamping ku. Abiku dan ayahnya sudah membahas perihal hubungan kami, dan tetap saja pria itu tidak bersedia hidup bersamaku".


"Kau harusnya berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan dirinya", Jena merasa gemas sebab Zafirah terkesan pasrah dengan pilihan lelaki idamannya.


Lagi-lagi Zafirah menggelengkan kepala"Aku harus menjaga harga diriku Naira, juga harga diri abiku, jika pria itu memang jodohku kami pasti akan bertemu suatu hari nanti", lirihnya terdengar pasrah.


"Kau wanita baik Zafirah, aku yakin pria itu akan menyesal telah menutup mata dari pesona kecantikan dan kebaikanmu".


"Tidak Naira, banyak wanita cantik di tempatku tinggal. Namun pria itu tidak tertarik sedikit pun. Ku dengar, dia menyukai wanita lain".


"Oh, begitukah. Aku jadi ingin tahu, kau mengatakan banyak wanita cantik di tempatmu, memangnya kau tinggal di mana? kampung wanita cantik??", sedikit bercanda, Jena berniat menghibur sahabat barunya yang terlihat sendu usai bercerita perihal kasih yang tak sampai.


Senyum manis kembali terukir di wajah Zafirah"Aku tinggal di pondok pesantren yang di dirikan abiku".


"Waw, jadi kau putri orang besar", yang Jena tahu, seorang pemimpin pesantren pastilah bukan orang sembarangan. Berpendidikan tinggi di bidang ilmu agama dan berwibawa. Bertemu dengan anak seorang pak kiayi sungguh membuat hatinya gembira"Aku bangga padamu", ujarnya lagi.


"Bangga?? apa yang membuatmu bangga??", alis tebal Zafirah bertaut naik dan turun, perkataan Jena menyisakan tanya dalam benak.


"Kau, aku bangga berteman denganmu", ujar wanita bersurai panjang itu.

__ADS_1


Sontak Zafirah terkekeh geli"Naira, ku pikir ada hal lain yang membuatmu bangga. Aku dan kamu sama saja, kita sama-sama ciptaan Allah, apa yang patut kau banggakan atas diriku".


Kedua tangan Jena menarik bahu Zafirah agar lebih pas berhadapan dengannya"Kau pasti sangat paham dengan agama, kau juga sangat anggun dalam berpakaian. Kau sungguh wanita yang patut di banggakan Zafirah, aku benar-benar beruntung bertemu denganmu".


"Astaghfirullah, jangan berlebih memuji manusia, tidak baik Naira!", peringat Zafirah.


Kembali tertawa, Jena sungguh menggemaskan di mata Zafirah"Kau tidak jauh berbeda dengan Syabila, menggemaskan. Sangat halal untuk di pukul agar tidak berlebihan memuji sesama manusia".


"Hihihi, benarkah aku menggemaskan? lantas, apa kau tega memukul wanita menggemaskan ini??", tanya Jena di sertai gelak tawa.


Mencubit kedua pipi Jena dengan gemas, Zafirah kembali berucap"Pelankan suaramu saat tertawa, Naira!".


Sembari menutup mulut, Jena menahan tawa sebab kerlingan yang dia dapatkan dari Zafirah.


Mobil pikap itu akhirnya melaju di jalanan tak terendam banjir, memasuki simpang jalanan kecil dan tibalah mereka di sebuah dermaga.


Jena kembali di buat terperangah, dirinya sudah terbiasa melihat laut yang luas. Namun, ini kali pertamanya melihat sungai air tawar yang begitu luas, meski tak seluas lautan tetap saja membuat Jena melongo.


"Kau terkejut lagi?", tanya Zafirah.


Jena mengangguk dalam tawa. Giginya tak pernah kering dari awal mula menaiki pikap, selalu tersenyum dan tertawa. Sungguh berbanding terbalik dengan dirinya sebelum bergabung bersama rombongan ini.


Perahu-perahu besar bermesin dompeng dengan cat warna-warni, kedua mata Jena berbinar membayangkan akan segera naik ke dalam salah satu perahu itu. Sembari menunggu relawan lelaki mengangkut barang, Jena duduk di haluan perahu yang sudah siap untuk melaju. Gosong-gosong kecil terbentuk di tengah sungai, bagai pulai kecil yang tersebar luas di sepanjang sungai. Sepohon dua pohon tumbuh dan berkembang di gosong itu, kembali Jena terheran-heran dengan pemandang itu. Berniat mengambil foto akan pemandangan indah sekitar, Jena baru menyadari ponselnya kehabisan daya. Kembali memasukan ponsel itu ke saku celana, malang sungguh malang, sang gawai terjun bebas ke dalam sungai.


"Ponselku!!!", pekik Jena menggapai angin, nyatanya sang ponsel tiada.


"Innalilahi", seru Yasir yang kebetulan menyaksikan kejadian itu.


Wajah Jena tertekuk masam, apa yang harus dia lakukan. Ponsel itu telah hilang dari genggaman.


Menyelam? demi ponselnya? bukan bermaksud sombong, harga ponsel dengan logo buah tergigit itu tidak seberapa bagi Jena. Justru wanita itu takut merepotkan orang, bahkan mungkin akan membahayakan nyawa seseorang"Tidak perlu! aku akan membeli ponsel baru saja nanti", ujarnya berseru, sebab Yasir terlihat akan menyampaikan niatnya pada penduduk sekitar.


"Ku lihat, kau memakai ponsel mahal Naira".


Mencari alasan, Jena akhirnya berbohong"Ponsel itu sudah rusak, aku memang berniat akan membeli yang baru".


"Benarkah?".


"Hem", angguk Jena.


"Baiklah, kalau begitu maka kita akan segera berangkat", ujar Yasir yang di angguki oleh Jena.


Beberapa perahu mulai meninggalkan dermaga, Jena bersama Syabila dan Zafirah berada di perahu yang sama. Syabila seperti bocah yang lepas dari pengawasan orang tua, meski hanya duduk, mulut gadis itu sangat heboh mengomentari apa yang dia lihat.


"Wuihhh, pohonnya banyak sekali", serunya, Jari telunjuknya berkelana kesana-kemari"Lihat Zafirah, ada monyet", serunya lagi saat melihat beberapa monyet kecil berjalan dan bergelantungan di dahan pohon.


"Syuuttt",Zafirah memberi isyarat agar gadis itu menurunkan volume bicara, namun Syabila tak mengindahkan peringatan Zafirah.


"Nai, ada hewan menyeberang sungai", pekiknya menarik lengan Jena agar satu pandangan dengannya. Benar saja, Jena melihat beberapa sapi hitam menyeberang di anak sungai.


"Heh, sapi berenang!!!", tak berbeda dengan Syabila, Jena pun terhanyut dalam pemandangan baru yang memanjakan mata.


"Nai!!!! ada monyet lagi!!", pekik Syabila. Kali ini monyet yang mereka lihat lumayan besar, bahkan wajahnya terlihat tebal, seperti di penuhi dengan surai nan panjang.

__ADS_1


"Foto Bil, foto!!", Jena berseru.


"Zafirah, kau tidak ingin mengambil foto binatang itu??", tanya Jena.


"Tidak, apa kau tidak menyadari, sikap kalian membuat mereka di belakang kita terkekeh-kekeh. Kalian seperti orang kampung yang baru merambah kota", bisik Zafirah di telinga Jena kemudian di dekati oleh Syabila.


Sontak kedua wanita itu menoleh ke belakang, dan memang, mereka di belakang sedang mentertawakan mereka.


"Teruskanlah, kalian sungguh menghibur", ujar mereka yang menonton tingkah Jena dan Syabila.


Jena menarik kerudung besar Zafirah yang menatap lurus ke depan, menyembunyikan wajahnya di balik kerudung sang sahabat.


"Kenapa kau bersembunyi", tanya Zafirah tertawa geli.


"Malu", cicit Jena. Sementara Syabila menarik ujung kerudungnya sendiri hingga membentuk seperti cadar yang menutupi wajahnya.


"Kau juga tahu malu?", tanya Zafirah berpindah pada Syabila. Gadis itu mengangguk, dan Zafirah semakin tertawa.


Kegaduhan itu sejenak mereda, mereka menikmati pemandangan dengan tenang. Hampir satu jam mengarungi sungai besar itu, namun dermaga selanjutnya tak kunjung terlihat.


"Kalian yang di haluan, merunduklah saat melewati bawah jembatan", seru Yasir yang berada di posisi paling belakang, berdekatan dengan sang pengemudi perahu.


Lagi, Jena dan Syabila di buat heboh dengan pemandangan di depan mereka. Air banjir dengan kedalaman tinggi membuat sungai melebar, membuat air semakin tinggi hingga hampir menyentuh jembaran transdaerah.


"Kya!!!! apa kita akan melintas di bawah jembatan itu???", jerit Syabila terkaget.


"Tenanglah, asalkan kalian merunduk, kepala kalian tidak akan tersangkut", seru Yasir berseru, suara pria itu beradu dengan suara mesin dompeng yang menggerakan perahu.


Zafirah segera merunduk serendah-rendahnya, laju perahu tidak dapat di prediksi, Zafirah tidak ingin mengambil resiko pulang ke pesantren tanpa membawa kepalanya.


"Masih jauh, kenapa kau lebih dulu merunduk", Jena bertanya.


"Aku tidak ingin pulang tanpa kepala".


"Glek!", Jena menelan saliva. Benar sekali, ucapan Zafirah tiba-tiba membuat bulu kuduknya berdiri.


Sedikit lagi mereka akan melintas di bawah jembatan"Merunduk ke depan apa ke belakang??".


"Terserah, asal kau merunduk", sahut Jena.


"Aku___", Syabila bimbang harus merunduk ke arah mana.


Cepat-cepat Jena menarik kerudung Syabila hingga gadis itu tertelentang namun dalam posisi duduk. Sementara Jena mengikuti posisi Zafirah, merunduk dengan sempurna.


Beberapa detik melintas cepat di bawah jembatan, para relawan bersorak lega berhasil melewati jembatan itu.


"Alhamdulillah", seru Zafirah bernapas lega.


"Akh!!", pekik Syabila masih dalam posis telentang.


Jena menatap Syabila di sampingnya"Kau baik-baik saja??".


"Pinggangku!!!", jerit Syabila yang di iringi gelak tawa para relawan.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2