
Kemunculan seorang Jenaira Ahmad, membuat berpasang mata tersita hanya kepadanya. Meski sedikit gemuk, tapi Jena tetaplah terlihat cantik dan menarik. Justru tubuh sedikit gemuk nya terlihat sangat pas, dengan tinggi badan, menjadikan dirinya terlihat lebih bulat. Pipi yang biasanya tak terlalu berisi, baru di sadari terlihat begitu empuk untuk di pegang.
"Selamat malam, apa aku di terima di sini?."
Meletakan tas bermerek dengan harga selangit, juga dengan beberapa perhiasan yang di berikan oleh sang mertua, Jena berhasil membuat hati para pembenci nya hampil meledak.
Ada tiga buah meja budar nan besar, yang menjadi tempat berkumpul mereka malam itu. Jena sengaja memilih meja yang di isi para pembencinya. Melihat ada sebuah kursi yang masih kosong, menjadi melengkap dalam aksi mengipaskan hawa panas pada hati mereka.
Sasa sang pemilik acara, berucap"Jenaira, sebuah keajaiban kau hadir di sini," dengan mata berbinar. Sesungguhnya Sasa adalah seorang teman yang biasa, tidak pro kepada Jena juga tidak pro kepada para pembencinya. Namun tidak mengingkari, dirinya menyimpan rasa kagum kepada Jena, selain cantik dia juga pintar, terlebih dengan kesuksesan yang telah di raihnya.
Sementara Joy, pria itu masih sama seperti dahulu, memandangi Jena dari jauh saja sudah cukup baginya. Meski kini telah menduda, Joy tak berniat untuk mendekati Jena. Mencintai bukan harus memiliki. Mengingat Jena telah bersuami, nampaknya Joy sangat sadar akan hal itu.
Sejujurnya, Jena tidak nyaman berlama-lama di sana. Ini bukan perkumpulan yang dia sukai, bersama orang-orang asing baginya.
"Kau terlihat bahagia, juga sukses," ujar Clara, wanita dengan rambut yang di gelung ke atas seperti sanggul. Penampilan nya terlihat lebih glamor, ketimbang Sasa yang berulang tahun malam ini.
Jena tersenyum kecil"Ya! menjadi menantu dari pengusaha berlian, bagaimana aku tidak sukses."
Jena menatap para pembencinya satu persatu, membuat mereka menjadi risih"Hei! apa yang kau lihat. Kau ingin merendahkan kami?."
Jena kembali tersenyum, pada salah orang wanita yang tak lagi dia ingat siapa namanya"Tidak, aku hanya sekedar memandang. Apa itu salah?."
"Tentu saja salah!," sentaknya, lantas berdiri dengan berkacak pinggang.
Menyilangkan kedua tangan di dada, Jena terkekeh"Ayolah, baru beberapa menit aku di sini, tapi kau sudah kebakaran jenggot."
Sasa menghampiri wanita yang tersulut emosi itu"Naina, duduklah. Kita berkumpul untuk bersenang-senang, melepas rindu, bukan berdebat."
"Oh, aku baru ingat bahwa namamu Naina, terimakasih Sasa sudah mengingatkanku."
"Jenaira!!," Aish!! Naina menggeram bak banteng yang marah, seiring berjalannya waktu dia mengira Jena telah berubah. Ternyata tetap saja seorang Jena yang pandai memancing emosi.
Seorang pria, mengubah posisi duduk nya, lebih tepat menghadap Jena"Ku dengar kau sempat berdebat dengan Tiara, bukankah kalian sahabat baik?."
"Ahahaha, terlalu baik hingga mengambil suami Jena," sahut salah seorang wanita lagi. Perbincangan di meja ini semakin terasa panas.
__ADS_1
"Owh! kasihan sekali kau Jena, sepertinya kau kalah dari Tiara. Dia bahkan telah menjadi artis bukan."
Ucapan Clara, membuat Jena sulit bernapas. Mereka menyerangnya pada bekas luka yang belum kering dengan sempurna, terasa perih.
"Tiara di penjara sekarang, apa bagusnya?," seru Joy, dari meja berbeda.
"Ohoooo, sang pengagum bertindak lagi guys," Anton, pria yang pernah di tolak Jena berbalik menjadi pembenci. Sungguh cinta itu rumit, tak terima mendapat penolakan dirinya justru bergabung bersama para pembenci dan memusuhi Jena.
"Yah...aku hanya memberikan barang bekas pada orang yang tepat. Bukankah barang yang tidak bagus akan menjumpai pemilik barunya, yang sepadan dengan dirinya," usai menguasai sang hati, Jena kembali melawan ucapan mereka dengan lugas.
Lagi dan lagi, sikap angkuh Jena membuat hati mereka mendongkol. Juga tingkah nya yang berkali-kali menyelipkan rambut ke daun telinga, sengaja memamerkannya perhiasan berharga selangit yang di milikinya. Rata-rata dari mereka hanya memakai perhiasan biasa, melihat apa yang di miliki Jena bagaimana mereka bisa tenang!.
"Lihatlah, dia menyebalkan sekali!!," bisik mereka.
Sasa berseru"Sudahlah, mari kita mulai acaranya."
"Sebentar, Dewa juga akan datang. Alangkah baiknya jika kita menunggunya terlebih dahulu."
Oh! Dewa! mendengar nama itu membuat Jena menggigit bibir, sudah sangat lama pria itu menghilang dari pandangan. Haruskah dia menemui Dewa?.
"Bagaimana dia bisa merindukan mantan suaminya, jika dia memiliki aku sebagai suaminya saat ini!!."
Suara itu! sontak menyita perhatian siapa saja di ruangan itu, termasuk Jena. Suara menggema Agam, juga tampilannya yang selalu menarik, membuat rasa iri dan dengki para pembenci Jena semakin menjadi.
"Mas Agam," ucap Jena pelan.
Senyumannya mengembang saat melangkah menghampiri Jena, dan betapa lesung di pipi itu membuat mereka berdecak kagum, Agam sangat tampan!.
"Berikan hadiah ulang tahun untuk temanmu, kita harus segera pulang. Berlama-lama di sini tidak baik untuk calon anak kita."
Di dalam hati, Naina, Clara dan beberapa pembenci Jena sempat merasa senang melihat Jena yang sedikit gendut, namun saat mendengar kehamilanya, wajah mereka berubah masam, rupanya dia gendut hanya karena sedang hamil. Tubuh langsing Jena selalu menjadi idaman, meski bertubuh kurang tinggi tapi postur tubuh Jena selalu cantik.
Jena menyerahkan sebuah hadiah kepada Sasa, kemudian berjalan menuju meja yang di duduki Joy"Terimakasih sudah menjadi orang yang selalu berprasangka baik kepadaku. Setidaknya masih ada yang berhati mulia di sini."
Joy tersenyum sembari mengangguk. Bertatapan langsung begitu dekat dengan Jena, membuatnya tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Jenaira, apa kau benar-benar akan pulang? pestanya bahkan belum di mulai."
Jena kembali pada Sasa"Suamiku sudah menjemput, aku tidak bisa menolak ajakan pulangnya."
"Ajak saja dia bergabung bersama," Clara yang bicara, dan itu terdengar menggelikan.
"Seperti yang di katakan suamiku, aku sedang hamil dan angin malam tidak baik untukku," sahut Jena dengan nada datar. Apa-apaan! setelah melihat Agam Clara berubah menjadi lembut.
Di muara pintu nan besar, Dewa berdiri mematung. Di depan sana ada Jenaira, wanita yang masih bertengger di dalam hati.
...🍒🍒🍒🍒...
Di sebuah kamar yang cukup besar, namun di huni 3 orang gadis, Melisa yang menjadi salah satu dari penghuni kamar itu merutuki keputusan Arkan.
"Arkan gila!! bagaimana bisa dia membawaku ke tempat ini!!!," ujarnya menggeram.
"Sabar, bang Arkan pasti berniat baik membawamu kemari."
"Sabar! kau harus tahu! aku terlahir tanpa rasa sabar!," hardiknya pada lawan bicara.
Gadis lembut di hadapan Melisa menenangkan diri, alih-alih menenangkan Melisa yang kesal setengah mati.
Melihat lawan bicaranya memegangi dada, Melisa jadi sedikit khawatir"Kau sesak napas? apa karena aku terus mengomel sejak tadi?."
"Dadaku baik-baik saja," sahut gadis itu.
Mengusap wajahnya kasar, Melisa menelan saliva dan mencoba berpikir dengan baik"Siapa namamu? sejak tadi kau menemaniku tapi aku tidak tahu siapa dirimu."
"Aku Yasmin, penghuni kamar ini juga."
Melisa mengangguk. Menyapukan pandangannya pada sekitar, bermacam kaligrafi di tempel di dinding, juga buku-buku dengan tulisan arab teronggok di atas meja mereka. Meja yang tersedia di samping ranjang mereka.
"Dia bilang akan membawaku ke tempat yang aman, apa di sini tempat yang aman? Arkan!! awas kau!!."
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗