
Ketika hati yang keras itu mulai melunak, rasa kasih dan sayang yang selama ini terpendam menyeruak begitu saja. Sangat tahu dengan makanan kesukaan sang putri, pagi-pagi sekali Adila memasak hidangan itu untuk di berikan kepada Jena, putrinya.
Bukan di titipkan kepada Arkan, pun pada Gibran, Adila sendiri yang akan mengantarkan hidangan itu dengan sendirinya. Sedari mencari bahan pun wanita paruh baya itu melalukannya sendiri.
Udara sejuk dengan aroma asin, menyambut kedatangan Adila di area pantai. Wanita paruh baya itu datang tanpa supir, mengendarai mobilnya untuk menemui Jenaira, yang sedang mengandung calon cucunya.
Sesampainya di area pantai, wanita itu di sambut oleh Agam, sang menantu baik hati. Terlihat Agam sedang menyirami bunga-bunga milik sang istri yang terletak di tepi kediaman mereka. Kedatangan Adila di awal hari ini sempat membuat Agam terkejut, apalagi dengan membawa hidangan untuk sang istri. Sempat ingin bertanya, untuk siapa bubur manis itu, namun saat Adila langsung menanyakan keberadaan Jena, membuat Agam yakin bahwa hidangan itu untuk istrinya.
"Masih tidur bu, selepas sholat subuh dia masuk kembali ke dalam selimut," percuma jika berbohong, Adila pasti akan langsung menemui Jena dan kenyataan wanitanya masih tertidur pun akan terungkap.
"Masih tidur? seharusnya dia berjalan santai di pagi hari, bukan melanjutkan tidur."
Mungkin, Adila di bekali emosi dan lidah yang cukup pedas ketika hendak di lahirkan kedunia. Jika itu perihal Jena, selain marah dan berkata nyelekit, rasanya tidak ada hal baik lainnya. Melihat rantang bubur membuat pengecualian kali ini.
"Dia sering berjalan santai, ibu. Meski tidak pagi hari dia kerap melakukannya di sore hari. Lagi pula tadi malam dia menyelesaikan naskahnya lebih lama dari biasanya, sebab itulah dia masih ingin melanjutkan tidurnya," tukas Agam menjelaskan keadaan istrinya"Ibu masak sesuatu untuk Jena?," ujarnya melirik buah tangan Adila.
Sembari menyerahkan rantang itu kepada Agam"Coba kau nasehati dia, sudahi dulu pekerjaannya, ambil cuti kan bisa. Dia sedang mengandung, tidak baik jika terus bergadang. Atau, apa pekerjaannya itu tidak bisa di lakukan siang hari?," usai menyerahkan buah tangan, Adila mengambil jongkok, memperhatikan bunga-bunga milik putrinya"Wanita bermulut pedas itu pandai juga merawat bunga," gumam sang hati.
Agam tersenyum kecil"Setahu Agam, tadi malam adalah naskah terakhir, ibu. Jena memang ingin mengambil cuti," mencium aroma manis dari dalam rantang, Agam menjadi penasaran dengan apa yang di bawa Adila. Jika ini adalah bubur, mengapa aromanya manis?? bubur apa ini?.
"Ibu sudah sarapan?."
"Belum," sahut Adila"Aku hanya sempat memakan kue basah yang ku beli di pasar subuh, saat mencari kelapa parut dan daun suji untuk membuat bubur itu.
Batin Agam bertanya-tanya, bubur apa gerangan yang di olah Adila?. Dari pada rasa penasaran itu semakin membesar, Agam mengajak Adila masuk ke kediaman mereka, dia berniat segera membangunkan Jena untuk menikmati bubur itu, dan segera membuatkan sarapan untuk mertuanya itu.
"Aku masih ingin di sini," sahut Adila saat Agam mengajaknya masuk.
"Ibu mau sarapan apa? mungkin Agam bisa membuatnya."
__ADS_1
"Apa saja, aku tidak pemilih soal makanan," sahutnya lagi, berdiri dan mulai melangkah di atas pasir. Ingin rasanya Adila melepas alas kaki, merasakan butiran pasir menyapa secara langsung telapak kakinya.
"Sudah lama aku tidak menyusuri tepi pantai di pagi hari," lirih Adila. Teringat sudah cukup lama dia meninggalkan rumah ini, cukup lama dia menitipkan Jena pada kedua orang tuanya, hingga akhirnya mereka telah tiada, ada sebuah kerinduan yang Adila rasakan pagi itu.
Mendapati sorot kerinduan pada dua bola mata Adila, Agam pun berkata"Jika ibu ingin menikmati udara pagi dahulu, lakukanlah. Saat sarapan sudah siap aku akan memanggil ibu."
Adila mengangguk kecil"Hemm," bergumam tanpa menatap Agam. Sebab perhatiannya tengah tersita pada bangunan tua yang kini telah banyak di renovasi oleh kedua anaknya, juga menantunya. Jauh di dalam lubuk hati, Adila mengucap syukur, kenangan bersama kedua orang tuanya masih terjaga berkat anak-anak nya.
Meninggalkan Adila yang sedikit bernostalgia, Agam segera masuk ke kediamannya, meletakan buah tangan dari Adila di meja dapur pribadi mereka. Ah! rasa penasaran itu memuat Agam melangkah kembali mendekati meja makan, membuka rantang itu untuk memastikan bubur apa yang Adila bawa.
Aroma manis bercampur aroma daun suji, bubur berwarna putih itu menggugah seleranya. Apalagi di makan di pagi hari dan masih dalam keadaan hangat, Agam tiba-tiba menelan air liur.
Segera pria itu menjemput Jena ke lantai atas, membangunkan sang istri untuk bisa menikmati bubur itu bersama.
"Ada bubur beraroma manis, harum sekali. Aku yakin ini lebih nikmat dari cendol yang di buat bunda," bisikan Agam sukses membuat kedua bola mata Jena terbuka sempurna.
Seketika wanita itu duduk dan menelan saliva"Panas? apa dingin?."
"Buburnya?."
"Panas. Ibu yang membuatnya. Aku meletakannya di meja dapur...."
Bubur manis buatan Adila!! Jena sangat tahu dengan hidangan itu, dia pun langsung menyambar kata-kata Agam"Lekas bawa aku ke sana!! jika Gibran mencium aroma itu aku yakin dia akan menghabiskannya!!!," seru Jena mengulur kedua tangan kepada Agam. Seperti bocah yang merengek minta di gendong.
"Dia datang dini hari, dan sekarang aku yakin Gibran masih tidur....."
"Menggelengkan kepala"Tidak! apa kau membuka hidangan itu?."
"Ya, aku ingin memastikan bubur apa yang ibu bawa. Memangnya kenapa?," Agam terhuyung sebab Jena menarik lengannya sebelum benar-benar menyambut uluran tangannya.
__ADS_1
"Lekaslah. Bahkan di ujung dunia pun dia akan langsung terbangun ketika mencium aroma bubur itu."
"Istriku!! perhatikan langkahmu!."
"Kau seharusnya jangan membukanya? dalam keadaan pingsan pun, Gibran pasti terbangun karena aroma bubur itu!!," keluhnya sangat gemas ingin segera sampai di meja makan.
"Pelan-pelan. Sini, aku gendong saja," melihat Jena mempercepat langkah, Agam menjadi khawatir akan keselamatan sang istri. Apalagi mereka akan menuruni tangga, jangan sampai hal buruk terjadi dan merusak kebahagiaan mereka.
"Tidak perlu! aku gendut, aku tidak ingin menjadi beban mu di pagi hari."
"Kau bukan gendut, hanya bertambah empuk."
Dengan ujung matanya, Jena melirik Agam"Apa kau terlihat seperti bakpao?."
Agam tertawa, rasanya akan semakin rumit jika dia melanjutkan pembicaraan tentang berat badan ini. Wanita akan marah jika di katakan gendut, namun akan tidak percaya jika di katakan langsing. Hal itu sudah sangat Agam pahami.
Meraih jemari sang istri, pria itu menuntun Jena berjalan"Apa kau tahu, aku tergugah ingin mencicipi bubur buatan ibu," ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Jena memberengut"Sedikit saja, kau hanya boleh mencicipinya sedikit. Baik itu panas atau dingin, bubur itu selalu nikmat," celoteh Jena.
"Iya, iya cantik."
Suara sendok yang beradu, membuat hati Jena semakin gelisah, dia yakin Gibran telah menguasai bubur miliknya.
Dan...."Yak!!! itu bubur milik ku!," teriak Jena mendapati Gibran telah memakan separuh dari bubur di dalam rantang."
Alih-alih merasa menyesal, apalagi meminta maaf"Jorok! cuci dulu wajahmu!! lihatlah ada belek sebesar gajah di sudut matamu!," Gibran kembali memasukan bubur ke dalam mulutnya, terlihat jelas betapa dia menikmati hidangan yang di bawa Adila pagi itu.
Owh!! kenapa suapan itu sangat banyak!! Jena hampir menangis karena ulah Gibran pagi ini"Gibraaaannnnn!!! kau mencuri buburku!!!.
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗