
Subuh perlahan datang, udara dingin membuat siapa saja semakin nyaman di bawah selimut nan tebal. Tubuh kecil itu pun demikian, hawa dingin membuat tangannya merindukan dekapan selimut hangat. Namun, menggapai dengan kedua mata tertutup rapat, Jena tak menjumpai benda yang sedang dia butuhkan itu.
Hampir saja wanita itu menyerah dan membuka mata untuk bangun, tiba-tiba tubuh itu terasa hangat. Selimut nan lembut sudah kembali memeluk tubuhnya.
"Apa itu kebiasaan tidurmu? kau menjatuhkan selimut ini, jelas saja kau merasa kedinginan," dengan lembut, Agam merapikan selimut yang telah sempurna menutupi seluruh tubuh istrinya.
Kedua mata coklat itu menatap lurus, dalam remang lampu kamar mereka kembali beradu pandang"Te... terimakasih," ujarnya terbata.
"Hem.... sama-sama," sahut Agam mengurai senyum.
Jena menarik selimut itu semakin tinggi, hingga menutupi hampir seluruh wajahnya. Menyisakan kedua mata yang masih menatap suami bocahnya"Apa yang kau lakukan di sini?."
"Sudah waktunya sholat subuh, aku berniat membangunkanmu namun ternyata kau sudah terbangun lebih dahulu," menarik sebuah kursi dan mengambil duduk di sana. Jena terpaksa mendudukan diri, dan dengan cepat menyisir rambut berantakannya dengan jemari.
"Ah!!! sungguh aku masih sangat mengantuk," pekik hatinya.
"Segeralah membersihkan diri, kita sholat subuh bersama."
"Membersihkan diri? mandi maksudmu?," cicitnya sangat pelan dengan suara serak.
"Ehem!!!," Jena berusaha menetralkan suaranya"Maksudmu aku harus mandi? di subuh yang dingin ini???."
"Tidak di haruskan, hanya saja akan lebih baik jika mandi terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat subuh," terangnya sembari mencari peci kesayangannya.
"Oooo," Jena hanya membulatkan mulut namun tidak beranjak dari tempat tidur.
Sadar tidak adanya pergerakan sang istri, Agam yang sudah mendapatkan apa yang dia cari mengambil duduk di tepian ranjang.
"Kenapa diam saja, kau tidak ingin melaksanakan sholat subuh bersamaku?."
Menelan saliva terlebih dahulu, Jena kembali berdehem sebelum bicara"Ehem....aku....,"
"Hem??."
"Aku sedang datang bulan," ujarnya dalam satu tarikan napas.
"Oh," seketika Agam menjadi kikuk, bukan hanya dirinya, Jena pun sama. Tidak menyangka hal seperti ini akan menjadi bahan obrolan mereka.
Sembari membenarkan letak pecinya"Ya sudah, kau kembalilah beristirahat," pria itu beranjak dari hadapan Jena. Kembali ke ruang pakaian dan menggelar sajadahnya di sana.
__ADS_1
Sayup-sayup Jena mendengar Agam melantunkan surah pendek, benar kata Zafirah, iramanya sungguh membuat candu. Teringat surah Ar-rahman yang mulai di sukainya, muncul keinginan untuk mendengar Agam melantunkan surah tersebut.
Kembali dalam posisi rebahan, Jena menanti Agam hingga selesai.
Usai melaksanakan kewajibannya, Agam kembali melangkah menghampiri Jena"Apa yang kau lihat?," tukas Agam mendudukan diri di tepian ranjang.
Kembali mendudukan diri, Jena juga kembali merapikan helai rambut yang di rasa berantakan baginya. Entah mengapa sejak pernikahan itu, dirinya merasa harus selalu rapi di hadapan Agam.
"Aku baru tahu.....kau memiliki suara yang merdu...a___aku mendengar kau membaca surah pendek saat sholat tadi," ujarnya sempat terkejut sebab pria itu membantu menyelipkan helai rambut menjuntainya. Menyelipkan rambut itu dengan lembut ke daun telinganya.
"Jadi, apa kau ingin mendengar suaraku lagi?."
Sungguh menggemaskan di mata Agam. mengangguk kecil, wanita galak itu mendadak jinak ketika berhadapan dengannya kali ini.
Tersenyum hangat"Setelah hadas besarmu selesai, kau akan lebih sering mendengar ku melantunkan ayat-ayat pendek itu dalam sholat berjamaah kita."
Menanggapi hal itu, Jena seolah larut dalam lamunannya sendiri. Entah kapan terakhir kali dirinya mendirikan sholat, entah apakah dirinya masih ingat dengan bacaan yang harus di lafalkan di dalam sholat. Mengetahui betapa baiknya Agam dalam beribadah, seketika Jena merasa kecil diri. Lantas, pantaskah dirinya bersanding bersama Agam???
"Agam, begini....," sembari bersila menarik napas berat, Jena menjeda kata-kata yang akan dia lontarkan kepadanya.
"Bukankah jodoh itu ibarat cermin??," lanjutnya.
"Kau, seorang pria dengan bekal ilmu agama yang kuat, sedangkan aku......," wanita itu terlihat menggeleng. Merasa malu dengan sikapnya yang menjauh dari Tuhan selama ini.
"Jenaira Ahmad, apa kau sedang mencari celah di dalam pernikahan kita?."
"Bukan begitu, kau dan aku sangat jauh berbeda dengan. Kau, seorang pria yang sholeh, aku yakin kau tidak pernah meninggalkan sholat mu, kau juga pandai melantunkan ayat suci Al-Qur'an, pengetahuan mu dalam bidang agama juga cukup matang. Bagaimana denganku? aku bahkan masih terbata-bata membaca ayat suci Al-Qur'an. Dan surah-surah pendek itu, tidak banyak jua yang ku hapal di luar kepala."
"Lanjutkan," tukas Agam mendengarkan dengan seksama saat Jena kembali menjeda.
"Jujur saja, aku bahkan lupa kapan terakhir kalinya aku mendirikan sholat," cicit nya menekuk wajah.
Di pandanginya wajah cantik yang tertunduk itu"Jadi, sebab begitu banyak perbedaan di antara kita, kau meragukan pernikahan yang telah terjadi di antara kita?."
"Ya, pernikahan kita mematahkan istilah jodoh adalah cerminan diri itu," jawabnya masih pada posisi bersila di tempat tidur.
"Hem....cukup pelik, apa aku harus mencari tahu siapa yang menciptakan istilah seperti itu" ujar Agam membuat Jena menaikan sebelah alisnya.
Seolah mengerti dengan mimik bertanya Jena"Istilah itu membuat kau ragu dengan pernikahan kita. Ck! sungguh, aku tidak suka orang yang membuat istilah itu," ujarnya seperti seseorang yang sedang merajuk.
__ADS_1
"Hei, kau jangan menyalahkan orang lain."
"Baiklah, aku tidak akan menyalahkan sang pencipta Istilah itu, Tapi, apa kau juga tahu sebuah ungkapan bahwa cinta adalah saling melengkapi??."
"Ya, aku juga tahu akan hal itu. Lantas???."
"Begitulah seharusnya kau menafsirkan jodoh, kita tidak harus sama demi bisa menjadi bersama, kita hanya harus saling mengerti dan saling melengkapi. Bukan salahmu datang padaku dengan bekal ilmu agama yang belum matang, sebab itulah Allah menggariskan kita dalam lingkaran jodoh, bersandarlah kepadaku Jena.....aku akan mengajari semua hal yang belum kau ketahui atau sempat kau lupakan."
Perasaan hangat benar-benar telah sampai dalam jantung hati Jena, begitu menggebu-gebu pria itu meyakinkan betapa jodoh tak pernah salah arah. Namun...."Kau terlalu baik untukku Agam," desisnya bergetar. Ketakutan itu datang kembali, hampir merasakan jatuh cinta pada pria itu di hari pertama rumah tangga mereka, Jena sungguh takut kembali merasakan pedihnya di tinggalkan.
"Kau mungkin akan tertawa saat mendengarku terbata membaca kalam illahi itu," lanjutnya terdengar begitu putus asa.
"Bolehkah aku memelukmu, Jena?."
"Untuk???."
"Agar kau dengar detak jantung berderapku saat ini, aku sangat tulus mencintaimu. Jangan berkecil hati, sungguh aku menerimamu dengan segala kekuranganmu, Jenaira," sedikit membuka kedua lengan, pandangannya semakin masuk kedalam sorot mata wanita bermanik coklat itu.
Sempat meragu, bergerak maju agar lebih dekat kepada Agam, Jena akhirnya masuk dalam pelukan pria muda itu. Di tepian ranjang, dua insan itu saling berpelukan, meski sempat bergetar kini jemari besar itu mendekap tubuh kecil sang istri dengan sangat erat. Dan sungguh, degup jantung di dalam sana sangatlah keras, memancing rona merah pada daun telinga hingga menjalar pada wajahnya.
"Jadi, di balik wajah tenang ini ada degup jantung abnormal di dalam sana," ujar Jena melepaskan pelukan hingga mereka kembali bertatapan.
Agam hanya mampu mengantupkan bibir, membuat kedua lesung pipi nya kembali tercetak dengan jelas.
"Abdillah Agam pratama, mau kah kau menjadi pacarku?," sebuah tanya yang membuat Agam membulatkan kedua bola mata.
"Pernikahan kita terjadi begitu saja, aku bahkan belum begitu tahu tentang dirimu. Sebelum menapaki rumah tangga kita semakin dalam, bolehkah kita berpacaran dahulu? setidaknya aku ingin lebih mengenalmu sebelum benar-benar menjadi suamiku?."
Garis senyuman terangkat naik, dua bola mata itu memancarkan kebahagiaan yang teramat dalam. Bisa di katakan, hati Agam tengah berbunga sebab di tembak cinta oleh wanita pujaannya.
"Ya, aku bersedia menjadi kekasihmu Jena," kembali merengkuh tubuh kecil itu kedalam pelukan. Akhirnya Agam dapat bernapas lega, pintu hati wanita telah sedikit terbuka untuk nya.
To be continued...
**Kau bukanlah senja, tapi, entah mengapa aku menunggu kedatanganmu**
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1