
Tingkah seorang ibu hamil yang random, akhir-akhir ini kerap membuat Agam ketar-ketir. Jika kemarin dia mengamuk dan menuduh Agam berselingkuh, dengan wanita bernama Debora, padahal Agam tidak pernah mengenal wanita bernama Debora itu. Dan setelah keadaan memanas, Jena baru menyadari bahwa semua itu hanyalah mimpi. Ckckck, bukan hanya Agam, bahkan Khair dan Gibran pun di buat senewan.
Selain mood yang turun naik bak pelana kuda, selera makan yang sangat sulit untuk di kendalikan, sukses membuat Jena mengalami kenaikan berat badan yang....lumayan banyak.
Jika majnun begitu cinta mati terhadap laila, bahkan debu di telapak kakinya pun dia cintai, cinta Agam pun teramat sangat besar kepada Jenaira Ahmad ini. Tubuh yang tak lagi langsing, bukan menjadi tolak ukur akan kadar cintanya.
"Wah!! ide dari mana hingga kau membelikan ku pakaian ini?," seru Jena malam
itu. Kedua matanya berbinar senang setelah membuka tote bag di atas ranjang. Oleh-oleh dari Agam setelah menemani sang bunda berbelanja.
"Itu tambahan baju baby Jun," sahut Agam tanpa menoleh kepada sang istri. Dirinya sibuk mencari ponsel untuk mendownload aplikasi mengaji online terbaru yang di sarankan oleh Khair.
Kedua alis Jena berkerut, memandangi lingerie berwarna hitam yang dia ambil dari dalam tote bag"Sayang, bukankah bayi kita di nyatakan laki-laki oleh dokter. Kenapa kau membelikan dia pakaian seperti ini? lagi pula...ini jauh sangat kebesaran untuk nya nanti."
Meletakan ponselnya di atas meja, Agam tertawa menampilkan lesung di kedua pipi"Oh, ku pikir kau menanyakan tote bag yang itu," tunjuknya terarah pada kantong belanjaan yang teronggok di atas kursi, di samping lemari pakaian"Pakaian itu jelas untukmu, untuk siapa lagi?," dan senyuman itu di iringi kerlingan nakal.
Pakaian dalam dengan tali super kecil, berbahan dingin dan jelas menerawang, Jena memiliki beberapa jenis pakaian seperti itu tapi tidak terlampau seksi seperti yang di berikan Agam ini"Dengan perut buncit ini, kau ingin aku memakainya?," berkacang pinggang mematut diri di depan cermin. Wanita itu berlenggak-lenggok, sungguh terlihat lucu di mata Agam.
Dan ketika Agam mengangguk, dua bola mata Jena memelotot"Mas! kau ingin mengejekku?? aku sangat tahu bahwa diriku gendut. Tidak perlu kau sadarkan lagi!," pipi gembul itu terlihat bertambah empuk, ketika sang empu menekuk wajah.
Owh! sungguh aura wanita ini semakin bertambah saat sedang hamil. Agam tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk tubuh gembul itu. Segera memeluk Jena, Agam pun berbisik"Bahkan saat gembul pun kau semakin membuatku jatuh cinta, sayang," hembusan napas berat sang suami, menggoyangkan helai rambut panjang miliknya. Jena sedikit menelan saliva.
__ADS_1
"Baiklah, haruskah aku memakai nya sekarang juga?."
"Jika kau bersedia," pria itu mulai menenggelamkan wajah pada ceruk leher sang istri.
Menarik tubuh Agam agar kembali duduk pada sebuah kursi di tepi jendela, Jena hendak melangkah menuju kamar mandi.
"Sayang, berganti di sini saja."
Sebelah alis Jena terangkat naik"Oho! apa kau sangat tidak bisa menahan diri?."
Agam terkekeh, dan Jena pun segera masuk ke kamar mandi untuk mencoba pakaian itu.
Sementara Jena melakukan aktivitas di dalam kamar mandi, Agam kembali fokus pada layar gawainya. Untuk beberapa menit pria itu tenggelam aplikasi yang sekarang telah selesai di unduh. Namun... konsentrasi itu langsung pecah, saat Jena duduk di pangkuan membelakangi dirinya"Tolong tarik resleting nya, mas."
Apalah daya, sang gawai yang sempat menyita perhatian kini terlepas begitu saja dari tangan. Beruntung dia melepaskan benda tipis itu di atas meja, hingga tak meloncat dengan indah ke lantai dan mungkin berserakan di bawah sana.
"Sayang...," ucapnya menelan saliva.
"Hem...aku tidak bisa menarik resletingnya, tolong bantu aku," ucap Jena menggoyangkan kakinya yang tergantung, sebab berada di dalam pangkuan sang suami. Owh... wanita ini seperti tidak sadar bahwa sikapnya membuat Agam menggigit bibir.
Sedikit sisa rambut yang masih tergerai di punggung itu Agam sibak ke depan, menampilkan bagian punggung istrinya semakin terlihat jelas. Perlahan, menarik resleting itu hingga terpasang sempurna.
__ADS_1
Jena bersiap berdiri saat merasakan pakaiannya telah terpasang dengan benar, namun Agam menahan tindakan itu.
"Kenapa? kau bilang ingin melihatku memakainya?."
Meletakan wajah pada pundak sang istri, memeluk wanitanya denga kedua tangan, merasakan pergerakan pada perut besar itu"Akh! bagaimana ini. Kau membuat ku ingin mengarungi pulau kapuk, bersama mu tentunya."
"Bolehkah?," lanjutnya kemudian bertanya.
Jena tersenyum. Namun senyum itu perlahan memudar. Sementara Agam yang belum mendapatkan jawaban merasakan pergerakan yang lebih keras dari biasanya.
"Hei, baby Jun, kau lebih banyak bergerak malam ini."
Jena memegang jemari Agam, merematnya dengan erat"Mas... perutku rasanya tidak nyaman.
Mengingatkan kehamilan Jena sudah sampai pada bulan ke 9, sontak Agam menggendong Jena, meletakannya dengan pelan di tepian ranjang. Saat melakukan hal itu dia mendapati pakaiannya terasa basah, juga lingerie yang tengah Jena kenakan.
"Sayang....apa....," terbata, buka karena jijik, perasaan itu campur aduk memandangi rembesan air yang membasahi celananya"Apa kau akan melahirkan?," hanya terdengar ringisan menahan rasa sakit.
Kediaman pantai sudah sepi, Khair dan para karyawan sudah pulang, sementara Gibran sibuk menjalani syuting film pendek yang di angkat dari novel milik sang kakak. Tanpa membuang waktu, Agam segera membawa Jena ke rumah sakit, sembari memberikan kabar pada orang-orang terdekat mereka di perjalanan.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗