
Entah mengapa, keinginan untuk sekedar mendengar kabar Zafirah terasa sangat sulit Jena dapatkan. Mencari tahu melewati Yasir, ternyata nomor pria itu juga tidak dapat di hubungi, ada apa dengan mereka berdua itu?
Rasa penasaran membuat Jena mengajak Agam mengunjungi kediaman Zafirah, sungguh, Jena sangat ingin bertemu Zafirah saat ini jua. Meski berbeda rute, Agam dengan senang hati membawa istrinya untuk bertandang ke kediaman kiyai Bahi, ayahanda Zafirah.
"Sebelum ke pondok pesantren Al-jannah, kamu mau mampir ke supermarket dulu? aku tidak yakin Gibran memiliki stok makanan yang memadai di rumah pantai," ujar Agam meletakan kacamata nya di atas dashboard.
Jena mengangguk saja, hati yang resah memangkas semangat dalam dirinya.
Mendapati wajah sendu sang istri, Agam menyentuh jemari tangannya lembut.
"Zafirah pasti baik-baik saja."
Jena memandangi jemari pria itu, membalik punggung tangannya hingga membuat mereka saling bergenggaman"Apa kau tahu, Zafirah datang tanpa di undang ke dalam hatiku, ketakutan akan kehilangan sahabat seolah sirna saat bercanda dan bergurau bersamanya."
Jena menarik napas perlahan"Sejujurnya, jika aku harus memilih antara kau dan Zafirah.....," kerongkongan Jena tercekat. Sungguh berat hatinya untuk melanjutkan kata-kata.
"Kau pasti akan memilih sahabatmu, Zafirah," sambung Agam. Pria itu membuat Jena menatap dengan perasaan bersalah.
Kembali saling memandang meski hanya sekilas, Agam mengurai senyuman pada wanita itu. seolah hati kecilnya tak terluka sedikit pun sebab istrinya lebih memilih sang sahabat ketimbang dirinya.
"Apa yang membuatmu tersenyum? aku menjeda kata-kata demi menjaga perasaanmu."
Agam justru tertawa"Meski kau memilih Zafirah, dengan ikatan pernikahan kita kau akan tetap kembali padaku. Jika sudah seperti itu, hal apa lagi yang harus ku takutkan?, lagi pula, Zafirah itu perempuan, akan berbeda ceritanya jika dia adalah laki-laki."
Jena memutar kedua mata jengah"Cih! aku hampir lupa bahwa kau satu spesies dengan Gibran."
"Hemmm," Agam menanggapi dengan senyuman"Beruntung Gibran di lahirkan dengan rupa yang tampan, setidaknya aku tidak merasa sedih di kategorikan sama seperti dirinya."
"Yang ku maksud bukan tentang rupa, tapi sikap kalian yang sama-sama terlampau percaya diri," sanggah Jena.
"Oh....," sahutnya singkat masih dengan senyuman.
Jena memandangi pria itu yang kembali fokus memacu kendaraan, kedua maniknya sempat melihat kacamata yang tidak dia kenakan.
"Kau tidak rabun?."
"ng?."
Bernada tanya, Agam meyadari Jena mempertanyakan kacamatanya"Oh, mataku baik-baik saja."
"Lantas, mengapa selama ini kau memakainya?."
"Emmmmm," seolah berpikir keras, Agam membuat Jena menunggu beberapa saat.
"Seberapa suka dirimu terhadap jeruk?," bukannya memberikan jawaban, Agam justru menanyakan hal itu tanpa terduga.
Meski sempat bingung, Jena tetap menjawab pertanyaan Agam tentang buah yang amat sangat dia sukai"Aku suka semua rasa jeruk, baik itu manis atau pun masam."
"Segala jenis makanan, jika memiliki cita rasa jeruk apa kau pasti akan memakannya?," tanya nya lagi.
__ADS_1
"Tentu saja, bahkan mencium aromanya saja membuatku merasa nyaman," sahutnya lagi.
Agam terlihat mengangguk, namun tidak lagi melontarkan pertanyaan.
Dengan kedua alis bertaut"Apa hubungan kacamata dengan jeruk?," Jena balik bertanya.
Menarik perlahan kacamata yang di kenakan Jena"Aku memakainya sebab aku menyukaimu."
Kedua mata Jena mengerjap, sebuah kode alami yang menyiratkan kegugupan pada wanita itu. Mulutnya hanya mampu berkata Oh, kemudian mengambil kacamatanya dari tangan Agam, memasangnya kembali sembari menyandarkan diri di bahu kursi.
Lagi-lagi hati kecil di dalam sana bergetar, bertahun-tahun pria ini memakai kacamata, dan alasannya hanya karena ingin menyamai dirinya.
*
*
*
*
Mengakhiri kegiatan pemotretan, Tiara meminta sang asisten menyerahkan ponsel yang di titipkan padanya.
"Aku ingin minuman dingin," pintanya pada sang asisten.
Dengan segera asisten itu mencari apa yang di butuhkan Tiara, meninggalkan wanita itu yang nampak kelelahan usai melaksanakan kewajibannya.
Sebuah file berisi bukti bahwa gadis pena adalah dirinya sungguh membuat jantung wanita itu berdetak keras, seketika tubuhnya melemas, keringat dingin perlahan bercucuran padahal saat itu tengah berada di ruangan ber AC.
Tiara menghubungi nomor tidak di kenal yang mengirimkan pesan tersebut, dan terdengarlah suara berat pria di ujung telepon.
"Siapa kau? kau berniat memfitnahku?," sentaknya dengan suara tertahan.
Alih-alih jawaban, Tiara hanya mendengar gelak tawa nan renyah dari pria itu.
Membawa diri pada ruangan tak berpenghuni, Tiara kembali berbicara pada lelaki misterius itu.
"Jangan main-main denganku? aku bisa menyeretmu ke kantor polisi."
"Benarkah? jangan mengancamku seperti itu, katakan saja kau ingin bertemu suamimu di penjara, jika ingin di temani, aku dengan senang hati akan menemanimu ke sana."
Rasa frustasi membuat Tiara memaki pria itu. Bukannya membalas dengan makian pula, pria di ujung telepon itu justru menambah rasa kesal di hati Tiara dengan cara berbeda.
"Ah aku lupa menyertakan satu file lagi padamu, hemmmm," pria itu sengaja menggantung kata-kata. Membuat Tiara semakin resah dengan keburukan lainnya yang mungkin saja di ketahuinya juga.
"Kau....siapa dirimu, hah?," pekiknya dengan napas memburu.
"Hahahah, kau tidak perlu tahu siapa diriku, aku hanya ingin memperingatkan bahwa hukum karma sangat nyata di dunia ini."
"Hukum karma apa?? aku tidak pernah melakukan kejahatan....."
__ADS_1
"Benarkah????," seru sang pria memotong kalimat Tiara.
"Lantas bagaimana dengan Id gadis pena itu?."
"Kau salah alamat, aku bahkan tidak tahu mengenai hal itu," ujarnya berbohong.
Lagi-lagi terdengar gelak tawa nan renyah"Hahahah, begitukah? oke baiklah, mari kita ketepikan identitas gadis pena itu, bagaimana dengan foto yang baru ku kirim?."
Dengan cepat Tiara membuka foto yang di kirim orang misterius itu, hatinya mengumpat! dari mana orang ini mendapatkan bukti bahwa dirinya hanyalah anak panti asuhan? sedangkan di media, Tiara mengaku kedua orang tuanya sedang tinggal di luar negeri sembari menjalankan bisnis mereka.
"Nona Tiara....," panggil orang misterius.
Tiara tak bersuara, pikirannya sangat kacau saat itu. Tubuh dan hati yang lelah di paksa bekerja siang dan malam oleh Jelita, di tambah bukti-bukti kejahatan dan kisah kelam di masa lalunya perlahan terkuak.
"Nona....."
"Katakan berapa yang kau mau?," sambar nya langsung menawarkan uang untuk menutup mulut.
Senyum terukir naik pada pria di ujung telepon"Hemmm akhir-akhir ini aku mulai bosan dengan mobilku, bisakah kau memberikan ku satu buah mobil baru?."
Tiara berdecak jengah, namun setelah dipikir-pikir mengeluarkan uang dalam jumblah besar mungkin bisa menyelamatkan nya dari pria misterius ini.
"Baiklah, aku akan memberikan 500 juta padamu, serahkan semua bukti-bukti dan segala yang kau tahu tentang masa laluku, dengan begitu urusan kita akan selesai."
"Duhai nona Tiara, 500 juta tidak akan cukup untuk membeli mobil. Ayolah, jangan pelit terhadapku, apa yang ku miliki tentangmu sangat tidak sebanding dengan 500 jutamu itu."
Tiara menarik napas, dada yang bergemuruh terasa sesak sekali. Pria misterius ini sangar serakah, meminta uang lebih dari 500 juta seperti meminta uang untuk membeli gorengan.
"Kau ini! kau sudah mendapatkan mobil mewah dengan uang 500 juta itu."
"Mobil jenis apa nona Tiara? tidak muluk-muluk aku hanya ingin membeli mobil sport berwarna hijau."
Kedua mata Tiara membulat besar, bola matanya terasa ingin keluar mendengar ocehan pria misterius itu, apakah sekarang dirinya tengah berurusan dengan orang gila?
"Kau....meminta Lamborghini untuk menukar semua rahasiaku yang ada padamu?," pekiknya ingin menangis.
"Yahhhh mau bagaimana lagi, kau pasti sudah tahu bukan, rahasia-rahasia mu sangat membahayakan dirimu sendiri. Ah! aku lupa, rahasiamu ini juga akan membahayakan selingkuhanmu, betul kan?," tukas pria itu begitu santai, seolah apa yang mereka bicarakan adalah hal yang sangat biasa.
Bastian!! apakah pria ini juga mengetahui rahasia Tian???
Demi memastikan, Tiara coba memancing informasi dari pria itu"Selingkuhan? aku tidak memiliki selingkuhan."
"Oh, benarkah? lantas siapa pria yang sedang mengumpulkan saham di perusahaan ipar nya sekarang ini? ku perhatikan, saham yang awalnya hanya 2% kini telah mengalami kenaikan. Dan hal itu tidak di ketahui oleh iparnya."
Tiara terdiam, tubuhnya bagai di hempas ke dalam lautan, tenggelam dan dadanya sangat sesak. Siapa pria ini? mengapa begitu banyak hal tentang dirinya dan Tian yang dia ketahui???
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1