
Duduk si tepian ranjang saat Jena telah usai melaksanakan kewajibannya, Agam tersenyum senang menatap wanitanya dalam balutan mukena.
"Betapa cantiknya jika kau mengenakan kerudung," gumam hatinya.
Ujung-ujung rambut bagian depan Agam terlibat basah, dan Jena menyadari sepulang dari mushola rambut pria itu dalam keadaan baik-baik saja.
Juga wajahnya yang basah, yang sedang tidak mengenakan kacamata. Ck! mengapa semakin terlihat menarik saja! Jena segera mengambil kacamatanya dan hendak memasangkan kembali.
Agam berkelit, menghindari sentuhan Jena.
"Kenapa?," hatinya merasa tercubit, mengapa pria ini menghindar darinya.
"Aku baru saja mengambil wudhu."
Kening wanita itu berkerut"Bukankah kau sudah sholat?."
"Aku lupa membaca surah Ar-rahman, pikiranku langsung tersita kepadamu selesai menunaikan sholat di mushola tadi," sedikit senyuman terbit di wajah Agam. Senyuman kecil itu mampu menenangkan kembali hati kecil Jena yang sempat tercubit.
"Mulutmu sangat pandai berkata manis," malu-malu, Jena menepuk dada pria nya.
Mundur selangkah berlagak terhuyung"Akh!," canda Agam memasang wajah kesakitan.
Jena menatap nya dengan senyuman"Sudah, jangan bercanda lagi. Ini tasbihmu, terimakasih sudah meminjamkannya padaku," tangan kecil itu meletakannya di atas meja.
"Ambillah, sudah cukup lama tasbih itu bersamaku. Sekarang aku berikan kepadamu, semoga kau selalu menggunakan dengan baik."
Jena tersenyum, jujur saja ini tasbih pertama yang dia miliki, sepanjang hidup nya. Selama ini Jena hanya sholat jika dia mau, dan setelah selesai melaksanakan sholatnya, Jena hanya berdoa dan segera menyudahi kegiatannya. Waktu belia, saat kedua kakek dan neneknya masih hidup, pernah beberapa kali Jena menggunakan tasbih milik sang nenek. Dan ketika sang illahi mengambil dua orang terkasih dan tersayangnya, Jena seolah membangun jarak antara dirinya dan maha pencipta.
"Terimakasih," serunya tersenyum lebar. Kedua mata cantik nya melengkung indah bak bulat sabit. Andai saja tidak dalam keadaan berwudhu, Agam sudah meraupnya kedalam pelukan.
Sembari mendengarkan Agam melantunkan surah Ar-rahman, Jena memandangi tasbih yang terbuat dari kayu itu. Aromanya sangat menenangkan, dan Jena menyukainya.
Merebahkan diri di ujung ranjang, Jena menimang-nimang benda itu di atas kepalanya, sembari sesekali mencium aromanya. Ingin rasanya segera bertanya terbuat dari kayu apa tasbih ini, namun Jena merasa sungkan untuk menyela sang suami yang begitu merdu membaca surah Ar-rahman.
"Shadaqallahul adzim," Agam menyudahi bacaannya.
Aroma khas tasbih itu, di tambah mendengarkan bacaan merdu sang suami sembari merebahkan diri, Jena terlelap tidur.
Masih mengenakan mukena, wajah cantik itu begitu teduh meski memejamkan kedua mata.
__ADS_1
Agam meletakan peci di atas nakas, mengambil bantal untuk di letakan di bawah kepala istrinya.
"Ng!," kau sudah selesai?," Jena terusik saat Agam mengangkat perlahan kepalanya.
"Hemm," sahut Agam. Jarak di antara mereka begitu dekat, bahkan hangat napas mereka saling terasa.
"Kau pakai parfum apa? aromanya manis sekali" memeluk pria itu begitu erat. Hingga membuat Agam menarik diri dan bergabung bersamanya di atas ranjang. Gagal memasang bantal, lengan kokoh itulah yang akhirnya menjadi bantal Jena.
"Tidak ada," ujarnya mengambil bantal dan memakainya sendiri.
"Jangan berdusta!."
"Sejak kapan aku menjadi seorang pendusta? aku benar-benar tidak memakai parfum.
"Tapi aromamu manis sekali, mustahil kau tidak memakai parfum sedikitpun."
Lagi-lagi Agam tersenyum, pria itu tersenyum simpul dengan hati berbunga-bunga"Aku memang manis, sayang. Jadi tidak heran jika aku memiliki aroma yang manis."
Seketika Jena tersenyum penuh arti, bahkan, hidung wanita itu di buat berkerut"Kau sangat narsis," ujarnya meletakan jari di pipi Agam.
Mengambil alih jemari sang istri"Itu kenyataan sayang, kau sudah percaya bukan. Aku benar-benar tidak memakai parfum," mencium lembut jemari sang istri. Membuat desir di dalam dada semakin menjadi.
"Baiklah, kau yang termanis di jagad halu ini. Sekarang aku ingin bertanya, benda ini terbuat dari kayu bukan?."
Agam meletakan kepala Jena di atas bantal, sementara dirinya mengambil duduk di samping wanita itu.
"Iya, itu terbuat dari kayu kaukah. Memangnya kenapa?."
"Kayu jenis apa itu? aku baru mendengar namanya."
"Itu kayu dari timur tengah, kayu yang di sukai para nabi, kenapa kau bertanya?."
"Benarkah! sepertinya ini kayu yang istimewa. Aromanya menenangkan, aku suka."
Agam mengangguk"Lantas, apakah aku juga istimewa? kau bilang aku punya aroma yang manis."
Pria itu membuat Jena terkekeh"Aku baru tahu kau sangat pandai menyombongkan diri."
"Hanya di depanmu, dan hanya padamu," pria itu ikut tertawa.
__ADS_1
"Apa kau sebahagia ini hidup denganku?," tanya Jena membalas belaian lembut Agam di rambut nya. Mengacak lembut rambut pria itu justru membuatnya terlihat semakin tampan.
"Tentu saja."
"Sebahagia apa?."
Agam memutar bola mata, nampak berpikir seperti apa harus mengungkapkan perasaan cintanya kepada Jena. Namun, semakin di pikirkan jawaban itu semakin sulit di dapatkan.
"Aku tidak dapat mengungkapkannya, jika kau tanya seberapa besar, jelas sangat besar dari dunia..Jila kau tanya seberapa dalam, jelas lebih dalam dari samudera."
Blush!! rona merah muncul dan membuat hangat wajah Jena. Tidak di sangka, gombalan pria ini membuatnya senang bukan kepalang.
"Hemmmm, ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan," ujar Jena mengambil duduk. Kini mereka berdua duduk bersama di tepi ranjang.
"Katakan," ujarnya lagi.
Jena memandangi Agam lekat-lekat, menatap dua manik pekat pria itu"Apa kau pernah menyimpan rasa terhadap Zafirah?."
Seketika, pertanyaan itu membuat Agam terdiam. Bola matanya bergerak kesana-kemari, dapat di pastian pertanyaan itu membuat jantungnya berdetak abnormal.
Jena yang sempat trauma di khianati, sempat terpuruk dan di lukai, pasti akan sangat kecewa jika Agam berkata dusta kepadanya. Namun, bukan dirinya yang pernah penyimpanan rasa, tetapi Zafirah. Haruskah perasaan wanita itu di ketahui Jena?
Agam terlihat menggigit bibir, senyuman tak lagi ada di wajahnya. Pria itu nampak sedang berpikir keras.
"Kenapa kau diam? apa kau sedang menyusun kata untuk berbohong padaku?," bukan main-main, Jena sangat tahu betul gelagat orang yang sedang terpojok. Sebab, Dewa kerap seperti itu saat menyembunyikan sesuatu darinya.
Meraih jemari Jena dan menggenggam nya erat"Bukan aku, tapi Zafirah. Aku langsung menolak saat para orangtua akan menikahkan kami."
Sebuah kenyataan kembali terungkap, rasa penasaran begitu bergejolak di dalam dada, hingga membuat Jena bertanya langsung kepada Agam.
"Aku langsung menolak perasaannya," panik, Agam kembali mengulangi kata-kata nya.
Begitu baiknya seorang Zafirah, namun Agam dengan mudah menolak menjadi pendamping hidupnya. Kembali Jena teringat istilah jodoh adalah cermin, bukankah Agam dan Zafirah gambaran pria soleh dan wanita Solehah, mengapa mereka tidak bersatu dalam ikatan pernikahan?
"Kau menolak Zafirah yang solehah, dan melamarku yang buta akan agama," lirihnya. Sungguh, tak terbayang betapa hancurnya hati Zafirah melihat kedekatan dirinya dan Agam. Juga saat mereka makan malam bersama, karena jemari Agam terkena bara api, Jena dengan leluasa menyuapi sang suami. Di depan Zafirah, sahabatnya....
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1