Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Pagi yang baru.


__ADS_3

Menjadi pusat perhatian, sungguh suatu hal yang sangat tidak di sukai seorang Jena. Berniat menyampaikan penolakan untuk mengadakan pesta pernikahan mereka, hati kecil wanita itu seketika menciut saat berhadapan dengan sang ibu mertua.


Tersenyum lebar mendapati Jena hadir di ruang makan"Menantu cantik, kemarilah," Arabella menarik kursi sembari berucap kepada Jena. Langkah kaki yang semula lambat mendadak melangkah cepat menghampiri sang ibu mertua.


"Selamat pagi bunda," tukas Jena.


"Pagi sayang," mengusap lembut pundak sang menantu.


Pagi pertama di kediaman suaminya, sikap dan prilaku Arabella tak jauh berbeda dengan sikap yang di tunjukan Jelita dahulu, saat dirinya pertama kali hadir dalam keluarga Dewa.


Kehangatan dan sikap lemah lembut, Jelita yang dahulu sangat jauh berbeda dengan Jelita di saat terakhir mereka berjumpa. Takut akan perubahan sikap Jelita juga terjadi kepada Arabella, Jena memilih memendam segala niatnya kala itu.


"Apa kau menyukai ikan bakar?," tanya Arabella mengingat Agam sang putra mendadak menyukai hidangan itu, sebab Jena yang memberikannya.


Nampak antusias, Jena mengangguk"Iya bunda," sahutnya sembari mengikuti tuntunan Arabella agar duduk di kursi yang dia sediakan.


"Selamat pagi ayah," ujarnya.


"Selamat pagi Jenaira," sahut Akhtar dengan senyum mengembang.


Akhtar mengambil piring kosong, mengambilkan nasi dan menyerahkannya kepada Jena"Nikmati sarapanmu menantuku."


Tersenyum kaku sembari menganggukan kepala, perlakuan ini membuat Jena terkejut"Terimakasih ayah."


"Jangan sungkan, sekarang kau adalah bagian dari keluarga Abdilla," ujar Akhtar lagi masih dengan senyuman yang tak memudar.


Melihat betapa di terimanya kehadiran wanita pujaannya, Agam tersenyum manis melangkahkan kaki bergabung bersama mereka.


Lirikan Arabella berisi tanya kepada Agam, senyuman nakal yang terukir di wajah sang bunda membuat Agam tersipu malu.


"Kenapa wajahmu bersemu?," celoteh Arabella.


Memegangi kedua pipinya"Agam habis berendam di bak air panas," kilahnya.


Alis kedua orang tua itu terangkat naik dengan bibir mencibir"Oh.....," sahut mereka bersamaan sembari menganggukan kepala. Tak ingin di goda oleh kedua orangtuanya, Agam tersenyum tanpa kembali melontarkan kata-kata.


Pemandangan yang tak biasa bagi Jena, dirinya terbiasa menyantap makanan sendiri, atau setidaknya bersama Gibran, kehangatan keluarga Agam membuat hatinya terenyuh.


"Kau beruntung Agam, kau memiliki ayah dan bunda yang sangat penyayang", lirih hati kecilnya.


"Sayang, apa yang kau lamunkan??? apa ikannya tidak sedap?," suara Arabella memecah lamunan wanita bersurai panjang itu. Membuatnya gelagapan hingga menjatuhkan sendok yang sedang dia pegang.


"Ma.....maaf bunda, aku akan mencucinya segera," ujarnya nampak panik.


"Tidak per.....,"


"Akh!!!," ucapan Akhtar terputus sebab jeritan Jena.


"Astaghfirullah," seru Agam dan Akhtar hampir bersamaan.


Agam segera menahan tubuh limbung sang istri, kedua tangan Jena memegang kening yang terasa berdenyut.


Akhtar berdiri untuk segera memeriksa keadaan Jena.


Keadaan menjadi gaduh, panik sebab sendok yang jatuh membuat Jena ingin segera memperbaiki keadaan. Namun saat merunduk keningnya mengenai tepian meja makan, dan...membuatnya meringis kesakitan.


"Ya Allah, apa kau terluka Jena??," pekik Arabella terdengar sangat khawatir.

__ADS_1


"Maaf bun......"


"Hanya sebuah sendok Jena, bunda tidak akan marah," seru Agam memegangi sang istri dengan erat.


"Tapi....."


Arabella memegang kedua tangan Jena, memeriksa keningnya yang nampak lebam"Astaghfirullah," lirih Arabella merasa nyeri.


"Ayo Jena, kau kembali ke kamar saja, bunda obati dulu keningmu. Lanjutkan sarapanmu di kamar saja," lanjutnya membantu Jena berdiri.


"Ayah telepon dokter saja," tukas Akhtar bergegas meraih ponsel di meja makan.


"Tidak apa-apa ayah, Jena obati sendiri saja. Lebih baik kalian lanjutkan sarapannya.


"Tidak!!! keningmu lebam sayang. Akh!! maafkan bunda, seharusnya bunda tidak membuatmu terkejut."


Sikap mereka membuat sang hati kembali terenyuh, membuatnya sadar bahwa dirinya cukup di hargai di sini. Teringatlah kembali kisah kelam di masa lalu, kehadiran Tiara memporak-porandakan rumah tangganya, perubahan Jelita yang kerap kasar dan menyakiti hatinya sungguh menyisakan keresahan di dalam dada. Saat Jena melakukan sedikit kesalahan saja, Jelita akan memarahinya dan mencaci makinya. Sebab itulah tubuhnya spontan mengejar sendok yang terjatuh tadi, takut amarah Arabella juga seperti amarah Jelita kepadanya dahulu.


Meski urung memanggil dokter, raut kekhawatiran jelas terlukis di wajah mereka. Dan, Arabella berniat mengobati kening sang menantu, namun sang menantu merasa tidak nyaman membuat kegaduhan hinggamembuat sarapan mereka terjeda.


Tak ingin keadaan semakin runyam....


"Agam yang akan mengobati lukanya, bunda dan ayah lanjutkan saja sarapannya."


Ucapan sang putra membuat Arabella lega, jika bukan dirinya pasti Agam lah yang lebih baik dalam hal merawat menantunya"Yah...segeralah balut keningnya, Agam," lirihnya masih memegangi kening Jena.


Maka, sembari memegang erat jemari Jena, Agam membawa wanita itu kembali ke kamar mereka.


Memandang ke luar jendela, Jena menunggu Agam mengambil kotak obat. Pemandangan di kediaman itu sangatlah asri, Arabella yang sangat gemar berkebun merawat pekarangan mereka dengan sepenuh hati, tidak heran berbagai macam bunga tumbuh dengan subur di kediaman itu.


Membawa diri menghampiri Agam di sofa"Keningku hanya sedikit nyeri, tidak perlu di perban," ujarnya melihat Agam mengeluarkan benda itu.


"Aku akan memastikannya, kau duduklah disini," menepuk pelan sofa panjang yang juga dia duduki.


Dengan patuh Jena mengambil duduk di dekat Agam, tubuhnya sedikit berjengkit saat pria itu menyibak rambut di keningnya.


Memandangi kening itu lekat-lekat, wajahnya yang mendekat membuat Jena perlahan mundur dari wajah tampan itu.


"Aish!!," desisnya sebab Agam menekan keningnya.


"Benar kata bunda, keningmu lebam. Mungkin beberapa saat kedepan akan semakin biru."


"Tidak mengapa, hanya lebam saja kan? tidak berdarah kan? jadi tidak perlu di perban kan?," tanya itu terlontar tanpa jeda.


Sudut bibir Agam terangkat naik"Iya Jena", usapnya lembut pada kening sang istri.


"Tapi akan lekas membaik jika ku oleskan salep di kening ini."


Kedekatan itu membuat Jena sulit bernapas, entah mengapa pasokan oksigen mendadak sulit untuk di terima.


"Emh....ba..baiklah, lekaslah kau oleskan."


Jika Jena perlahan mundur, pria itu justru perlahan semakin mendekat. Membuat punggung sang istri bersandar dengan sempurna di bahu sofa.


Sembari meniup lembut kening sang istri, Agam mengolesi obat dengan sangat hati-hati.


Sungguh sebuah pemandangan yang sangat sayang untuk di lewatkan, pahatan sang ilahi saat menciptakan rupa seorang Agam membuat Jena terpesona. Baru di sadarinya, bocah yang sejak lama di kenalnya ini sangatlah tampan.

__ADS_1


Beberapa saat masih terpana memandangi wajah itu yang begitu dekat, bahkan setelah Agam usai mengoleskan obat di keningnya Jena masih terpaku memandanginya, membuat Agam mengejar pandangan Jena hingga akhirnya beradu pandang.


Gelenyar asing tiba-tiba hadir di hati Jena dan Agam, semakin tenggelam saat beradu pandang menarik mereka untuk semakin mendekat.


Perlahan jemari-jemari Agam membelai lembut pipi mulus Jena, dalam keheningan, dengan degup jantung yang semakin kencang, hidung yang saling bersentuhan hampir sempurna memutus jarak di antara mereka.


"Cekrek!."


"Bagaimana kea......", tanpa mengetuk, Arabella muncul dari balik daun pintu, di iringi sang bibi dengan nampan berisi sarapan untuk Jena.


Seketika jarak kembali hadir di antara mereka, sedikit lagi!!! Agam terpejam hampir merutuki kedatangan Arabella. Nampak kikuk,Jena membenarkan duduknya sementara Agam menyibukkan diri membenahi kotak obat.


"Ups! maaf, seharusnya bunda mengetuk pintu,"sesal wanita itu.


...🌼🌼🌼🌼...


Di sebuah butik, Adila di temani Kanaya sedang memilah pakaian. Tanpa bertanya tentang kesediaan sang putri, Adila telah lebih dahulu mempersiapkan gaun yang akan dia pakai di hari pesta pernikahan Jena.


Demi sebuah rasa yang di sebut cinta, meski telah di wanti-wanti oleh Gibran, Kanaya yang polos dengan senang hati menerima ajakan Adila untuk pergi bersama ke butik itu.


"Mama aku galak, aku tidak yakin dia benar-benar tulus mengajakmu untuk bertemu."


Kanaya hampir melayangkan jitakan di kening Gibran, bagaimana bisa kekasihnya itu membangun citra buruk sang mama di hadapannya"Dia mama mu Gibran, ada apa dengan perkataan mu itu!," sentaknya tak percaya.


Senyuman nakal terbit di wajah Gibran"Sumpah, aku tidak bercanda. Mama aku pasti hanya ingin menguji kesabaranmu. Lebih baik aku ikut bersama kalian saja, ya sayang," celoteh Gibran sangat tidak tenang membiarkan Kanaya berduaan saja dengan Adila.


"Heem," menggelengkan kepala dengan pasti"Tidak perlu, aku yakin tante Adila tidak akan menyakiti ku."


Tak mampu menahan keinginan wanita yang di sayanginya, Gibran dengan pasrah mengantarkan Kanaya hingga akhirnya bertemu dengan sang mama.


"Cantik," bisik hati Adila saat akhirnya mereka berjumpa.


Pembawaan Kanaya yang ceria, kerap mengukir senyum di wajah Adila. Sejenak bersama mereka di butik tersebut, tak terdeteksi adanya pergerakan buruk dari Adila, akhirnya Gibran meninggalkan dua wanita itu di sana. Sementara dirinya kembali ke kota menemani Angga menjaga konter mereka.


Sepeninggalnya Gibran, Adila meminta dua jus jeruk kepada pelayan.


Mencoba berkali-kali gaun yang di rekomendasikan Adila, membuat Kanaya kelelahan dan menyesap jus jeruk itu dengan sangat nikmat.


Menatap aneh kepada Kanaya, Adila sungguh tak menyangka gadis di hadapannya ini mampu menghabiskan jus jerus yang dia berikan.


"Apa kau menyukainya," tanyanya saat hisapan terakhir Kanaya pada jus jeruk itu.


"Hemm", angguknya dengan senyuman lebar.


"Jadi, gaun mana yang akan tante pilih?," tanyanya kepada Adila. Mengingat wanita paruh baya itu juga telah mencoba banyak pakaian hari itu.


Sedikit hilang kendali"Emh...aku akan mencoba yang satu ini lagi," ujarnya menunjuk gaun cantik di sampingnya.


"Baiklah tante," begitu manis Kanaya tersenyum kepada Adila.


Di dalam kamar pas, Adila tidak menyangka dengan mudah Kanaya menghabiskan jus jeruk yang dia pesan.


"Ck....apa pelayan itu salah mengerti, jelas-jelas aku memintanya menambahkan banyak garam ke dalam minuman Kanaya, kenapa gadis itu terlihat menikmatinya??," gumamnya pada diri sendiri.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2